Home > Uncategorized > immortal

immortal

Bagian 22

Arak-arakan warga bergerak seperti sekumpulan semut menyerbu toples berisi gula. Seorang perempuan tidak berdaya diseret menuju tanah lapang di depan balai desa. Diikuti oleh sekumpulan pemuda memanggul tubuh Samir yang pingsan akibat pukulan balok kayu di samping kepalanya. Tubuh itu digeletakkan begitu saja di tegah lapang. Batak memandang dengan ekspresi jijik sekaligus kagum. Guru muda itu berhasil merobohkan empat orang pentolannya. Dia tidak tahu apakah anak buahnya selamat. Kalaupun ya, mereka pasti mengalami cicdera parah.

Nada meronta. Sambil menguraikan air mata dia memohon untuk dilepaskan. Tubuh Samir yang tidak berdaya dicampakkan begitu saja di depannya. Lebih dari itu, mereka menyakiti laki-laki yang menjadi kekasih pertamanya. Ketakutannya beralasan. Semenjak kejadian pemukulan di ruang tamu rumah kontrakan Samir, dia tidak mengetahui apa yang terjadi karena dievakuasi oleh orang-orang tidak dikenal. Sementara dia ditahan, tidak ada satupun orang yang memberi penjelasan kenapa semua ini terjadi. Bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan bahasa miliknya.

Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Rani. Psikolog itu menghilang entah ke mana. Guru senior yang membawa serta putrinya juga tidak terlihat. Apalagi dua anak SMA yang datang kemudian mengungkapkan kebohongan Samir. Tidak ada siapapun di sana. Hanya dia di tengah kerumunan orang tak dikenal.

Seorang pria tua menghampiri Nada. Dia ingat siapa orang itu. Orang yang memberi perintah untuk menyerang Samir. Nada menatapnya dengan ekpresi jijik ketimbang marah. Pria tua menyedihkan ini pasti memanfaatkan orang-orang di kampungnya untuk membatu dia.

“Kenapa, anak muda? Ceritakan padaku kenapa aku harus membiarkanmu selamat.”

Jantung Nada berdegup kencang. Pertanyaan macam apa itu? Diucapkan dengan suara pelan yang penuh penekanan, mirip ancaman para interogator dalam staf khusus kepada para teroris. “Saya tidak yakin saya memahami pertanyaan Anda, Pak. Siapa Anda bagi saya? Dan kenapa melakukan ini terhadap saya? Ada kesalahpahaman yang harus diluruskan…”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Nada. Amin mengeraskan rahangnya. Terdengar suara gemelutuk giginya, bukan karena kedinginan, tapi karena amarah membuncah yang tak bisa dikendalikan.

“Kau masih saja mengelak setelah semua ini terlihat jelas. Lihat kami,” katanya dengan suara menggelegar. “Ada puluhan orang di sini. Pria, wanita, tua, muda, anak-anak. Lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kalian berdua telah menjalin hubungan gelap di luar pernikahan.”

Nada menggelengkan kepalanya. Tuduhan itu benar-benar tidak masuk akal. Jika yang dimaksud oleh orang itu adalah dia menginap di rumah Samir beberapa malam yang lalu, itu karena ada seorang perempuan lain yang menemaninya. Gadis muda yang menurut pengakuannya adalah putri dari saudara pemilik rumah kontrakan itu. Dia mengingat gadis itu. Tapi di mana orang itu sekarang?

Dia melihat sekeliling. Yang terlihat olehnya hanya wajah-wajah penuh amarah layaknya memendam dendam berpuluh-puluh tahun. Sekarang dia mengerti kenapa orang-orang ini membawanya ke sini, kenapa mereka berkerumun di tempat ini. Tuduhan perjinahan telah diajukan pada hakim. Entah siapa hakimnya, yang jelas pria tua itulah yang terlihat paling berkuasa. Di tengah tanah lapang ini, di tengah kerumunan orang-orang ini, eksekusi akan dilakukan. Melihat situasi yang ada, Nada memperkirakan hukuman yang akan dijatuhkan pada mereka adalah rajam: dilempar batu di tengah tanah lapang oleh kerumunan warga.

“Saya bisa membuktikan, Pak. Beri saya kesempatan. Ada seorang perempuan yang ikut menginap di rumah itu. Saya masih ingat namanya. Nur…”

“Satu orang tidak cukup!” Amin memotong untuk menyembunyikan fakta bahwa putrinya adalah saksi kunci itu. “Bisa saja kau memberinya beberapa nominal uang untuk agar orang itu mau bekerja sama.”

Nada menggeleng. Tuduhan lain yang tidak masuk akal. Siapa sebenarnya orang ini? tanya dia dalam hati. Orang ini meminta alasan, tapi menolak apa yang baru saja dikatakannya. Nada sering melihat tokoh-tokoh seperti itu dalam film. Mereka adalah pribadi antagonis yang menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisinya. Ambisi apa? Lagi-lagi Nada tidak tahu.

“Sudah jelas bahwa dia tidak punya bukti,” kata Amin dengan suara menggelegar seraya memperhatikan sekelilingnya. Semua orang menyahut kompak, memberi dukungan kepada Amin. Itu membuatnya melambung. Sekarang dia tahu kenapa para pemimpin enggan lengser dari kursi mereka. “Seret dia ke tengah lapang bersama laki-laki busuk itu. Kita harus membersihkan kampung kita dari para pendosa seperti mereka.”

“Hajar saja, jangan beri ampun!”

“Jangan beri dia kesmepatan berbicara. Dia pasti akan mencari kebohongan untuk melindungi dirinya!”

“Bersihkan kampung ini dari para pendosa!”
Satu per satu dari mereka meneriakan kata-kata hujatan, provokatif, penuh amarah. Dalam situasi seperti ini kebenaran menjadi semakin kabur: objektivitas tak lebih dari subyektivitas dalam bentuk jamak.

Kerumunan warga kembali bersorak. Dua perempuan yang memegang Nada menyeretnya ke tengah lapang. Dia didorong hingga tersungkur di samping tubuh Samir. Dia bangkit, menaruh kepala Samir di pangkuannya. Pelipis guru muda itu masih mengeluarkan darah. Nada menyeka darah yang masih mengucur itu, lupa bahwa air matanya juga masih mengalir.

“Sam, bangun,” bisiknya sambil menggoyangkan pundak Samir. “Hei. Bangun.” Tidak ada reaksi. Ketakutan menyerbu dia dari segala arah. Dia merasa terjadi reaksi di perutnya, reaksi yang tidak wajar atas ketakutan nyata melihat kerumunan warga yang bisa berbuat brutal kapan saja terhadap dia yang tidak berdaya. Tidak ada Rani, tidak ada guru senior dengan putrinya. Samir masih tidak berdaya.

Aku tidak bisa melewati ini sendirian.

Nada menunduk. Air matanya jatuh mengenai wajah Samir. Keajaiban terjadi.
[***]
Pria berkepala plontos itu menghantamkan balok kayu ke pelipisnya, dan segalanya gelap bagi Samir. Kegelapan total menyelimutinya tanpa celah sedikitpun. Dia seperti semut hitam di atas arang di dalam tungku tanpa api di sebuah ruangan yang sedang mati lampu pada tengah malam.

Dalam beberapa waktu Samir merasa dirinya terjebak di tengah-tengah gua. Tanpa cahaya yang memandu, dia tidak berdaya. Tidak berani untuk melangkahkan satu pun kakinya. Jangankan jalan, dia bahkan tidak bisa melihat jemari yang diangkat setara dengan wajahnya. Sesekali terdengar suara, yang, meskipun suara itu biasa saja, terdengar mengerikan di tengah kegelapan. Terdiam di tengah kegelapan, betapa mengerikan. Seperti inikah alam kubur setelah semua manusia meninggal? Jika ya, seharusnya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan penerang di alam kubur.

Samir merasakan sensasi dingin di kulit wajahnya. Sesuatu yang lembut. Air! Ada air menetes di tengah kegelapan? Ini aneh. Samir menengadah untuk mencari tahu—meskipun dia tahu itu sia-sia. Satu tetes air jatuh. Kali ini mengenai matanya. Secara refleks kelopak mata Samir menutup. Ketika dia membukanya secara perlahan, yang dia lihat bukan lagi kegelapan. Di hadapannya terpancar cahaya dari wajah seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuknya.

Malaikat yang dikirim Tuhan itu sedang menangis. Kenapa? batin Samir. Dia mengangkat tangannya, menyeka air mata yang terus bergulir di pipi malaikatnya. “Kau menangis,” kata Samir pelan. “Bukankah kau malaikat yang dikirm Tuhan untukku? Kenapa kau menangis?”

Nada tersenyum getir mendengar ungkapan Samir. Dia terhibur, tapi kenyataan mengerikan yang sedang dia hadapi-mereka hadapi—terlalu berat untuk sekedar dihadapi dengan senyuman. Pikiran liarnya sudah menduga ke arah mana pergerakan kerumunan warga. Tidak ada jalan keluar, tidak ada cara untuk membuktikan dirinya dan Samir tidak bersalah. Ini adalah negara demokrasi—katanya, dan karenanya rakyat memegang kendali—mereka yang lebih banyak memegang kendali. Nada membayangkan bagaimana Sokrates menghadapi tuduhan dan vonis mati setelah mayoritas suara menyatakan dia bersalah.

Mayoritas!

Sokrates menghadapi kematiannya dengan tersenyum karena yakin akan immortalitas; lebih dari itu dia mengatakan bahwa para penuduhnya tidak akan bias menyakiti dia meskipun mereka membunuhnya. Nada bukanlah Sokrates yang bijak, tapi setidaknya dia bisa tersenyum. Dia tidak tahu apakah mereka benar-benar akan menghukumnya sampai mati atau membiarkannya hidup penuh luka. Hanya saja, keberadaan Samir di pangkuannya benar-benar memperingan ketakutan yang menjalar di tubuhnya.

Nada meraih tangan Samir yang digunakan untuk menyeka air matanya. Dia menggenggam erat tangan itu, sangat erat, enggan melepaskannya lagi.

“Kenapa peri kecilku?” tanya Samir, masih sempat menggoda Nada. Dia merasakan denyutan mengerikan di kepalanya. Kesadaran yang telah pulih seluruhnya membuat dia mengingat semua kejadian mengerikan di rumah kontrakan beberapa saat yang lalu. Sekelompok warga menyerang rumahnya, dipimpin oleh Amin. Amin. Sejak desas-desus di sekolah menyebar dia sudah tahu bahwa penjaga sekolah itu punya dendam pribadi karena penolakan berkali-kali. “Kau tidak perlu takut. Bukankah kau akan menjagaku, malaikatku?”

Mendengar perkataan Samir, Nada semakin erat menggenggam tangan Samir. Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu, katanya pada Samir tempo hari. Guru muda itu benar. Dia tidak boleh lemah karena dia harus menjaga sang pujaan hati. Tanpa sadar Nada merapalkan lagu yang indah dengan suara pelan, cukup untuk bisa didengar Samir:

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you is sends me to heaven

Satu perintah dari Amin, eksekusi pun dimulai.
[***]
Dani Prasteya melewati jalan yang sama yang pernah dilaluinya. Dia sempat merasa tegang ketika melintasi kerumunan warga yang sedang menghakimi dua pesakitan. Sebagai warga asing, dia enggan ikut campur. Dia mempercepat langkahnya menuju rumah yang pernah ditempati Nada.

Sesampainya di sana, dia merasa perutnya dihantam bogem Chris John. Rumah itu kosong, salah satu kaca jendelanya pecah, seorang remaja tergeletak dengan kening berdarah. Sepertinya telah terjadi pertempuran di sini. Dia teringat pada kerumunan massa yang tadi dilewatinya, berpikir bahwa kejadian tadi berkaitan. Tidak ada waktu untuk berpikir. Dia harus menolong anak itu.

Dani membungkuk untuk memeriksa kondisi anak itu. Nadinya masih berdenyut, napasnya masih berhembus. Dia mengeluarkan ponsel untuk menelpon ambulans. Saat itu, seorang pria berpakaian rapi masuk ke halaman rumah. Pria itu sama terkejutnya dengan Dani ketika melihat kondisi rumah. Tapi, berbeda dengan Dani, pria itu tahu apa yang sedang terjadi. Dia bergegas pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun menuju medan persidangan brutal sambil berharap dirinya belum terlambat.

Bagian 23

Upacara bendera senin pagi kali ini berbeda dari upacara biasanya, bahkan mungkin inilah pertama kali dalam sejarah mereka ada upacara bendera seperti itu. Dalam suasana haru biru di tengah pagi yang cerah itu tidak ada satupun siswa berani cengengesan, mengobrol, apalagi pura-pura sakit untuk sekedar mendapat pelayanan teduh di ruang PMR ketimbang tersiram panas mentari. Semua tertunduk malu merenungkan keberadaan mereka di sana, alasan kenapa mereka berdiri di lapangan itu sementara orang lain tidak. Di hadapan mereka, Sri Nuryani berbicara mewakili pihak sekolah. Di antara sekian guru dan staff yang berdiri di sana dialah yang paling memahami situasinya.

Di barisan XI IPA 1, Nita tidak bisa menahan diri untuk mengucurkan air mata. Barisan itu berantakan lantaran Diah dan Tika keluar untuk kemudian berdiri di samping Nita. Tika menyerahkan tissue untuk menyeka air mata Nita, sementara Diah memeluk pundak Nita sambil membisikan kata-kata penghibur. Di barisan laki-laki kelas itu, Ibnan tertunduk malu. Malu pada diri sendiri, malu pada Nita, malu pada wali kelasnya. Yang terakhir yang membuatnya paling sedih hingga mengucurkan air mata. Dia masih berdiri di tengah lapang sementara orang itu tidak. Meskipun dia datang ke sekolah dengan kepala diperban setelah mendapat tiga jahitan di pelipis kanan akibat hantaman batu bata, dia merasa apa yang dialami orang itu jauh lebih tragis darinya.

Bahkan Sri Nuryani tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Sesekali dia sesenggukan, bahkan berhenti bicara untuk sekedar menghela napas menahan tangis. Dia memahami betapa Tuhan tidak pernah bisa ditebak. Betapa Dia menuliskan scenario agung-Nya dengan sangan rapi. Satu kejadian memicu serangkaian kejadian lain yang berakhir di titik nol. Satu kebohongan, menimbulkan kebohongan lain, dengan resiko fatal tak terkira. Bukan hanya si pembohong, orang yang dibohongi ikut mendapat getah.

Dia menyampaikan klarifikasi kepada seluruh siswa yang telah mendengar kebohongan itu. Seluruh kebenaranan, seluruh detail kejadian. Sri benar-benar menceritakan keseluruhannya untuk menghapus kesalahpamahan. Segalanya sudah berakhir, dan dia ingin akhir yang penuh kedamaian.

Setelah selesai menyampaikan pidato, dia turun dari podium menghampiri dua peti di hadapan para siswa, terletak di samping tiang bendera. Tiga orang dari pasukan pengibar bendera kembali masuk ke lapangan untuk menurunkan bendera—bendera setengah tiang. Sri tidak melepaskan pandangannya dari dua peti mati itu, dalam hati mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya kepada seorang kader berdedikasi yang telah pergi mendahuluinya. Pergi karena kebodohannya sendiri mengatakan sesuatu yang tabu. Meskipun kemudian eksekusi atasnya dilakukan denga tuduhan lain, tetap saja pemicunya adalah kebohongan itu.

Samir Israr Rasyid meninggal karena pendarahan fatal di kepalanya. Luka akibat hantaman balok kayu ditambah lemparan batu dari penduduk. Kematian tragis, sekaligus juga indah mengingat seorang gadis cantik menyerupai malaikat memeluknya ketika menghembuskan napas terakhir. Sang malaikat, Ajeng Qotrunnada Sofia, menyusul beberapa menit kemudian setelah salah satu lemparan batu warga mematahkan tulang rusuknya dan menusuk jantungnya sendiri. Keduanya baru dievakuasi ketika pemuka agama kampung itu, Ustadz Abdul Bashar, membubarkan mereka sambil menghardik sifat hewani warganya.

“Tahu apa kalian tentang hukum agama?! Karena ulah orang-orang tolol seperti kalian mengatasnamakan agama dalam setiap tindakan, citra agama menjadi rusak. Aku saja yang sudah belajar agama berpuluh-puluh tahun tidak berani memvonis orang sembarangan, bahkan sampai membunuhnya.”

Mayat keduanya dievakuasi ke RSUD dr. Slamet untuk diautopsi demi kepentingan penyelidikan pihak kepolisian—pemuka agama itu berinisiatif memanggil aparat penegak hukum. Polisi mengusut kasus tersebut dengan memanggil beberapa saksi sampai akhirnya memutuskan seorang tersangka: Amin Sudrajat.

Keluarga Nada sudah dihubungi oleh Rani. Meskipun dia tidak bisa melihat reaksi orang yang dihubunginya, dia bisa merasakan ada kehancuran total dari orang tua Nada—terutama ibunya. Orang tua mana yang tidak hancur mendengar anaknya meninggal dengan cara tragis jauh dari pelukannya demi laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya? Rani tidak bisa menghibur mereka, dia bahkan tidak bisa menghibur dirinya sendiri. Bagaimana pun juga adalah sahabat terdekatnya sejak SMA. Sekarang dia kehilangan sahabat itu di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Rani berdiri sendiri di salah satu sudut sekolah, mendengar apa yang dikatakan Sri melalui pengeras suara. Tubuhnya disandarkan ke dinding untuk menjaga agar tidak jatuh. Sementara Dani duduk tak berdaya di atas lantai sambil memeluk lutut. Dia berusaha menahan air mata yang jatuh, tapi tidak berhasil. Tetes demi tetes air jatuh darinya, dari Rani, dan dari semua orang. Air itu seperti berubah menjadi samudera tanpa batas yang menelan mereka dalam ketidakberdayaan, tanpa kekuatan. Kedua orang yang baru bertemu itu mengalami kehilangan yang sama, dan keduanya tidak bisa melakukan apa-apa.

Dani belum sempat membuktikan pada Nada bahwa dirinya layak untuk menjadi pendamping Nada. Dia ingin membuktikan bahwa permintaanya di restoran tempo hari bukan karena ingin melecehkan Nada, tapi berdasarkan perasaannya yang terdalam. Dia menyesali kejadian saat dirinya tidak turun dari bis ketika sadar Nada tidak ada. Seandainya dia turun, kembali ke terminal untuk mencari Nada, mungkin keadaanya akan berbeda.
Kesadaran mereka tergugah ketika suara dari pengeras suara itu berhenti.

Sri Nuryani, guru yang berniat baik itu bersikeras mendatangkan jenazah Samir dan Nada dalam upacara bendera senin pagi dengan harapan bisa mengiring kepergian keduanya sebagai persembahan terakhir. Rani tahu upacara bendera akan berakhir dan peti mati akan dibawa ke rumah sakit untuk proses administrasi sebelum dibawa ke tempat tinggal masing-masing.
Rani mengulurkan tangan pada Dani, meminta desiner grafis itu berdiri. Dani menyambut uluran tangan Rani.

“Terima kasih,” katanya sambil menyeka air mata. Mereka berdua berjalan pelan mendekati lapangan upacara. Rupanya, semua siswa, dikomado oleh Sri, menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta.

Sembilan tahun berpisah dalam kerinduan, menahan gelora asmara di dada. Begitu bertemu, ajal menjemput keduanya secara bersamaan. Bahkan mereka tidak sempat merasakan semerbak harum cinta yang mereka tabur sejak lama. Apa boleh buat, takdir tetaplah takdir. Meskipun mereka tidak berjodoh di dunia, mungkin Tuhan telah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka huni berdua di surga sebagai sepasang kekasih. Mereka layak mendapat gelar cinta sehidup semati.

Raga boleh dikubur, tapi cinta akan tetap bersatu di keabadian.
Di posisi terdepan, Sri menyelesaikan doanya. Dia menengadah ke angkasa seakan berbicara dengan orang di atasnya:

“Selamat jalan, cucu Adam-Hawa. Meskipun tidak pernah merasakan indahnya cinta di dunia, semoga cinta kalian tumbuh abadi, seabadi surga itu sendiri.”
[***]
Di atas sana, bertengger dengan manis di atas awan, sepasang kekasih yang telah menjalin ikatan dalam keabadian. Mereka berdua duduk di atas awan dengan kaki terjulur ke bawah seperti sedang duduk di tepi atap, yang satu memeluk pundak yang lain. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki.

“Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya,” kata perempuan itu. “Menyandarkan kepala di bahu laki-laki. Rasanya aneh.”

“Maksdumu?”

“Entahlah. Mungkin karena ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Seperti sedang tidur di atas bantal paling empuk di dunia.”

Laki-laki itu terkekeh. “Kau belebihan. Tapi, kalau kau merasa nyaman, aku akan lebih sering mengajakmu bersandar di pundakku.”

“Benarkah? Aku kira kau seorang pecundang yang tidak berani mengungkapkan perasaan, apalagi bersikap romantis pada pasangan.”

Laki-laki itu melepaskan pelukannya, kemudian menatap tajam pada kekasih hatinya itu. “Kau meragukanku?”

“Coba saja kalau kau bisa,” si perempuan mencibir.

“Bagaimana kalau ini,” katanya. Dia menahan napas, mengulur waktu agar pasangannya penasaran.

“Apa?”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kau telah memberiku cinta yang abadi, karena kau membawaku menuju tempat paling indah yang tidak bisa dikalahkan tempat manapun. Kaulah malaikatku.”

Perempuan itu tersipu malu. Sikapnya serba salah sementara laki-laki itu memandanginya terus dengan tatapan yang indah. Dia memberanikan diri menatap pasangannya, menunggu apa yang akan terjadi.

“Terima kasih,” kata laki-laki itu.
Pasangannya mengangguk. Perhatian mereka kemudian teralihkan pada orang-orang di bawah mereka. Mereka melihat seorang perempuan menengadah ke atas, seperti berbicara kepada mereka.

“Selamat jalan, cucu Adam-Hawa. Meskipun tidak pernah merasakan indahnya cinta di dunia, semoga cinta kalian tumbuh abadi, seabadi surga itu sendiri.”

Si sekretaris menutup mulut yang menganga dengan kedua tangannya. Dia terkesan dengan apa yang diucapkan perempuan di bawah sana. Semoga cinta kalian tumbu abadi, seabadi surga itu sendiri. Dia pernah melihat perempuan itu, meskipun tidak sempat mengenal lebih jauh. “Dengar apa yang dia katakan?”

Si guru muda mengangguk.

“Begitu indah.”

Dia tersenyum sambil memeluk erat malaikat yang telah membawanya menuju keabadian. Tidak, dia tidak akan pernah melepaskan lagi perempuan yang dicintainya itu, bahkan demi sebuah kejutan konyol. Dia akan menjaga kekasih hatinya seperti dia menjaga buku-bukunya yang paling berharga.

Omong-omong tentang buku, sebuah ide terlintas di benak sang guru. “Kau lihat orang-orang berseragam putih abu itu?”

“Ya, tentu saja. Aku bahkan berharap bisa mengenakan kembali seragam itu.”

“Kau bisa saja mengenakan seragam itu, tapi kau tidak bisa merasakan sensai yang sama dengan yang pernah kau rasakan dulu.”

“Yang penting kan pakai seragam,” si sekretaris tidak mau kalah.

“Kalau begitu, pakailah seragam putih abu. Kalau kau ingin merasakannya, aku bisa membuatmu merasakannya.”

“Memangnya bisa?”

“Aku ini guru, kekasihku yang cantik. Aku bisa mengajarimu apa yang ingin kau ketahui.”

“Kau ingin mengajariku?” dia mengulangi dengan sinis. “Apa aku tidak salah dengar?”

Guru muda itu terkekeh. “Ayo kita bangun sekolah di sini.”

Sekretaris itu mengerutkan kening.

“Aku jadi gurumu, kau jadi muridku.”

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: