Home > Uncategorized > immortal

immortal

Bagian 18

Melihat Samir menerima tamu, yang salah satunya sudah dikenal Amin sebagai teman SMA Samir, ide busuk muncul di kepalanya. Dia membiarkan kedua tamu Samir itu masuk terlebih dahulu sebelum beranjak keluar dari rumahnya. Setelah gagal membujuk pemuka agama di kampungnya untuk mengadili Samir, dia punya rencana baru yang lebih instan, lebih gila, dan lebih kejam. Luka yang ditorehkan Sami padanya terlalu dalam. Dia merasa tidak dihargai sebagai sorang ayah yang menginginkan anak perempuannya dinikahi pemuda itu, juga sebagai seorang wali pemilik rumah yang ditempati pemuda itu.

Kebusukan dibalas kebusukan.

Alih-alih menemui pemuka agama yang gagal dia bujuk tempo hari, dia menemui penjaga teritori kampung mereka untuk meminta bantuan. Orang seperti itu lebih mudah diprovokasi. Mereka tidak memiliki pengendalian diri, hanya ingin merusak dan menghancrukan. Karena itulah mereka menjadi penjaga teritori, seorang preman yang mempertahankan wilayahnya dari ancaman orang lain dengan kekerasan.

Amin menemukan pria bertubuh tinggi tegap dengan kepala plontos dan tato di beberapa bagian tubuhnya itu sedang bermain kartu di pos ronda kampung. Bersama preman berusia awal empat puluhan itu itu berkumpul lima orang, tiga diantaranya bermain kartu dengan Batak—demikian sebutan si penjaga teritori. Salah satu di antar mereka, seorang pemuda bertubuh tinggi ramping dengan luka jahitan di dahi akibat kecelakaan motor, menaru perhatian pada Nurjanah. Perhatian mereka teralihkan ketika pria separuh baya itu mendekat.

“Ada apa, Pak?” salah satu dari mereka yang tidak bermain menyapa.

Amin mengatur napasnya agar bisa berbicara dengan benar. “Aku ingin minta bantuan dari kalian. Ini tentang guru muda yang mengontrak di rumah saudaraku.”

Mau tidak mau Batak menghentikan sejenak permainan kartu mereka. Dia meletakkan kartu-kartu itu, menyuruh Amin untuk mendekat dan duduk di antara mereka.

Amin melirik sejenak ke arah Batak. Salah satu dari pengikut Batak, yang paling muda, dengan luka di kening itu, bisa dimanfaatkan untuk memprovokasi. Meskipun Amin pernah menolaknya berpacaran dengan Nurjanah, dia yakin Heri akan terpancing mendengar pujaan hatinya disakiti. Amin mengubah ekspresi wajahnya secepat hembusan angin membawa terbang sari-sari bunga.

“Laki-laki itu menyakiti Nurjanah.”

Seperti yang sudah diperkirakan Amin, Heri meledak. Dia melonjak dari tempat duduknya sambil menggeram, mengepalkan kedua tangan, memamerkan urat dan otot-ototnya yang berada dalam posisi siap tempur. Batak mencoba menenangkannya dengan menarik dia kembali ke tempat duduk.

“Jangan semborono, anak muda. Meskipun aku seorang preman, aku tidak akan bertindak tanpa alasan jelas karena itu akan menjerumuskan dirimu sendiri.”

Heri mendengus.

Amin menelan ludah mendengar ucapan Batak. Tidak seperti dia duga, rupanya preman ini punya pengendalian diri. Dia ingin tahu seberapa jauh pengendalian diri itu akan bertahan. “Dia menolak permintaanku untuk menikahi Nurjanah berkali-kali dengan alasan ingin menunaikan tugasnya sebagai guru. Tapi alasan itu ternyata bohong. Dia menolak putriku karena memiliki seorang simpanan.”

Mulai terlihat perubahan di wajah Batak. “Maksud Bapak?”

“Di KTP miliknya jelas tertulis bahwa statusnya belum kawin. Tapi beberapa hari yang lalu aku melihat dia membawa seorang perempuan ke rumahnya, menginap satu malam di sana.”

“Apa?!” teriak beberapa orang serentak. Kemudian terjadi gemuruh yang tidak terkendali. Masing-masing mengeluarkan komentar kepada orang di sampingnya.

“Bisakah kalian bayangkan apa yang terjadi jika laki-laki dan perempuan berada di dalam satu rumah?”

Gemuruh kembali terdengar. Sementara itu, Batak menghela napas sambil mencoba memahami situasi yang diceritakan Amin. Putri Amin ditolak oleh Samir dengan alasan ingin menjadi guru yang baik, sementara kenyataan menyatakan bahwa Samir membawa seorang perempuan ke rumahnya. Bagi Batak, tidak masalah seberapa sakit hati Amin dan putrinya. Tapi kelakuan guru muda itu sudah melewati batas. Mengotori kampung mereka.

“Aku juga melihatnya beberapa hari yang lalu,” salah satu dari mereka angkat suara. “Seorang perempuan keluar dari rumah yang ditempati Samir.”

“Guru itu berjinah.”

“Bagaimana mungkin seorang guru berkelakuan bejad seperti itu?”

“Kita harus bertindak sebelum dia mengotori kampung ini.”

“Dia harus membayar kebohongannya kepada Nurjanah,” seru Heri, yang kemudian diikuti teriakan setuju dari semua orang yang ada di sana. Amin berusaha menyembunyikan seringai liciknya.

“Kalian tenang dulu,” kata Batak sambil bangkit berdiri. “Kita akan membersihkan kampung ini, tapi dengan cara yang lebih halus dan pelan. Pelan-pelan, tanpa suara.”

“Kita juga membutuhkan lebih banyak orang,” lanjut Heri. “Kita, seluruh kampung ini, harus turut serta mengambil partsipasi dalam proses pembersihan ini.”

“Heri, Dodi, kalian kumpulkan para pemuda lainnya. Lakukan dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian guru muda itu. Jika dia tahu rencana kita dia bisa melarikan diri.”

“Baik.”

“Sekalian juga ibu-ibu,” Amin memberi saran. “Perempuan itu sedang ada di rumah Samir sekarang. Kita bisa sekalian menghukum mereka berdua.”

“Dendi, kau kumpulkan ibu-ibu kampung ini. Ingat, jangan sampai mereka heboh. Ini operasi pembersihan diam-diam.”

Dendi mengangguk.

“Sekarang kalian pergi.”

Ini operasi pembersihan diam-diam, Amin mengulangi kalimat Batak dalam hatinya. Dia tersenyum puas melihat mereka bergerak dengan sigap demi kepentingan kampung mereka—demi kepentingan pribadinya. Bensin telah ditumpahkan, pemantik api sudah disiapkan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai api yang besar menyala meleburkan dendam. Sementara mereka sibuk mengumpulkan masa, Amin memutar otak mengantisipasi hal-hal yang akan mengganggu usahanya. Pemuka agama di kampungnya. Dia harus menjauhkan orang alim itu dari sini agar tidak terusik dengan kegaduhan yang akan ditimbulkan oleh kerusuhan warga, yang berarti orang alim itu akan menghalangi rencana Amin.

Revenge is sweet.

[***]

Samir berdiri di sudut ruangan, bersandar ke dinding sambil melipat kedua tangan di dada, sementara keempat perempuan itu duduk di kursi. Sempurna sekali. Empat perempuan mengusung misi sama menghadapi satu orang pesakitan. Tentu saja ini tidak seimbang. Meskipun begitu, kehadiran keempat orang dengan niat baik mereka menunjukkan bahwa mereka peduli padanya. Tidak seperti yang dia duga selama ini, bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikan keberadaannya. Empat orang. Jumlah itu pula yang ditentukan oleh syariat sebagai persyaratan kuantitas saksi dalam kasus perjinahan.

Ide konyol Nada membawa serta Rani yang telah menjadi psikolog dirasa berlebihan, dan sekarang, guru senior itu berkunjung ke rumahnya membawa serta putri sulungnya yang kuliah di psikologi Unpad. Ada perasaan aneh yang mengalir dalam darah Samir, membuat tubuhnya bergejolak, ketika dia memperhatikan keempat perempuan itu. Sri Nuryani, seorang guru senior cerdas dan berwibawa, dengan dedikasi tinggi terhadap pendidikan, dan karena dia senior pengalamannya dalam mengajar menjadi nilai tambah. Anggun Azzahra, putri sulung Sri, memiliki mata jernih yang indah, dengan suara halus yang enak didengar. Prestasi akademiknya menambah daya tarik bagi para lelaki yang menginginkan dia sebagai pasangan mereka.

Rani Partiwi, teman sebangku Nada sewaktu SMA. Meskipun kadang tidak sopan jika berbicara, namun keganjilannya dalam hal itu membuat dia diterima banyak orang di sekitarnya. Tidak ada kata jaim—kata anak-anak gaul zaman sekarang—dalam kamus hidup Rani. Diri sendiri apa adanya.

Perempuan terakhir dalam ruangan itu, Ajeng Qotrunnada Sofia, merupakan sentral dari alam semesta yang semakin kacau ini. Sekretaris redaksi yang bersikap keras kepada dirinya sendiri untuk meraih masa depan cerah, bahkan mengorbankan masa-masa indah sekolahnya. Kini dia berusaha membayar apa yang tidak bisa dia bayar di masa lalu, dan itu menjadi fakta tak terbantahkan sebagai penyebab tunggal kenapa gugusan bintang dalam semesta buatan Samir mulai bertabrakan.

Mereka berempat memiliki daya tarik yang dibutuhkan untuk memikat laki-laki. Satu-satunya laki-laki dalam ruangan di mana mereka berkumpul tidak bisa menahan diri untuk tidak mengakui perasaannya. Laki-laki normal mana yang tidak tergiur dengan empat perempuan cantik di rumahnya? Kecuali laki-laki tidak normal, maka dia pasti munafik.

Hei, memangnya siapa yang abnormal?

Samir beranjak mendekati tempat duduk mereka, duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Dadanya berdegup kencang, gerakannya kaku, merasa salah tingkah menyadari keempatnya menghujamkan pandangan ke arah dia. Dia berdehem untuk membersihakn tenggorokannya yang tercekat. Satu kebohongan sudah menyebar seperti awam mendung menghalangi mentari memberi kehidupan. Apa salahnya dengan satu kebohongan lain? Mungkin akan muncul hujan badai yang menyapu kehidupan. Tidak masalah, toh bola salju sudah bergulir menyapu semua yang terlewati olehnya, menjadikannya raksasa putih mengerikan.

Satu kebohongan lagi, dan kebohongan lain akan menyusul untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Bagian 19

“Kalau tidak salah kau guru Fisika?” Rani memulai pembicaraan mendahului Samir, membuatnya terpaksa menahan diri untuk pengungkapan. “Aku anggap kau sudah memahami setepatnya bagaimana konsep relativitas berlaku. Postulat pertama Einstein mengatakan bahwa semua hukum fisika dapat dinyatakan dalam bentuk yang sama asalkan ditinjau dari keragka acuan yang sama.”

“Seratus untukmu karena menghafalnya dengan baik.”

“Karena itu kerangka acuan menjadi harga mutlak dalam relativitas.”

“Dan sejauh ini aku tidak memahami arah pembicaraanmu.”

“Ada beberapa pandangan yang harus aku kemukakan padamu. Seperti halnya kerangka acuan sebagai jantung relativitas, maka aku mengambil beberapa pandangan teoritis untuk menjelaskan fenomena yang sudah dijabarkan secara singkat oleh Nada padaku.”

“Oh, aku mendengar pakar teori berbicara.”

“Abnormalitas bisa dipandang dari beberapa kerangka acuan, yang kesemuanya memberi pandangan berbeda tapi mirip. Dalam pandangan statistik, abnormal berarti penyimpangan jauh dari rata-rata. Dalam pandangan budaya, abnormal bisa dikatakan sebagai penyimpangan radikal yang menyebabkan kekacauan pada individu dan orang-orang di sekitarnya. Dipandang dari pribadi yang bersangkutan, abnormal berarti kesulitan dan ketidakmampuan individu melakukan sesuatu. Bidang patologi dan psikologi memberi pandangan berbeda tentang abnormalitas: yang satu merujuk pada simtom-simtom penyakit tertentu, sementara yang terakhir mengatakan respon yang merugikan kepribadian dalam hubungan antarpribadi.”

Samir mulai bisa mengikuti pembicaraan Rani. “Kalau yang kau bicarakan itu aku, rasanya tidak ada satupun pandanan tentang abnormalitas melekat pada diriku.”

“Pengakuanmu sendiri bahwa kau tidak lagi berhasrat terhadap perempuan. Kau menyimpang secara statistik dan budaya.”

“Sekedar informasi,” sela putri sulung Sri. “Di beberapa negara, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai gangguan mental. Gejala ini tidak lagi dimasukkan ke dalam DSM sejak DSM III diterbitkan pada 1980.”

Samir tahu apa itu Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders. Semacam buku panduan yang disusun American Psychiatric Association yang berisi klasifikasi gangguan mental, penjelasan singkat mengenai penyakit tersebut, simtom-simtom, penyebab, juga diagnosa.

“Selain itu, telah banyak orang yang menyadari bahwa homoseksualitas bukanlah masalah kriminalitas, melainkan masalah psikiatrik,” lanjut Anggun.

“Dengan demikian ada kesempatan untuk merehabilitasi gangguan mental tersebut.”

Rani mengangguk setuju. “Tidak seperti gangguan kecemasan, depresi, atau skizofernia, gangguan penyimpangan seksual tidak memiliki efek yang melumpuhkan. Aku tidak tahu pasti bagaimana keseharian orang ini di sekolah,” katanya sambil melirik Samir, “tapi sepertinya dia terlihat baik-baik saja.”

“Orang ini punya dedikasi tinggi, kalau boleh aku berpendapat,” Sri menyela. “Biasanya orang bertambah bijak karena pengalaman mereka, sementara orang ini punya setumpuk pengetahuan yang membuatnya terlihat lebih berwibawa dibandingkan beberapa guru senior di sekolah kami. Lagipula dia masih muda, semangatnya masih bergelora.”

“Sepertinya Anda terlalu berlebihan menilai saya,” Samir merendah.
Sri menatap Samir. “Ini penilaian jujur, anak muda.”

“Sebagai permulaan,” suara Rani menggema seolah sedang berpidato di auditorium kampus, “aku merujuk pada ungkapan Francis Bacon. Tidak ada kaitannya dengan masalah kita, tapi hal tersebut adalah petunjuk yang tidak bisa diabaikan.”

Tidak ada satupun yang berkomentar. Mereka tidak tahu ungkapan mana yang dimaksud, mengingat banyak ungkapan yang disadur dari filosof Inggris itu. Rani tidak mau repot-repot menjelaskan. Itu hanya akan buang-buang waktu. Dia kembali mengarahkan perhatian pada Samir.

“Aku mengenal sedikit mengenai orang ini sewaktu SMA dulu. Seorang remaja broken home yang selalu menutup diri. Fakta bahwa rumah tangga orang tuanya hancur mungkin menimbulkan kesan yang melekat. Ditinggalkan ayah tercinta membuatnya merasa tidak berarti; bahwa dia dan keluarganya tidak layak untuk dicintai sampai-sampai pemimpin keluarga mereka pergi.”

Anggun teringat percakapan dengan Nita beberapa malam yang lalu. Kejadiannya kurang lebih sama. “Berarti, ini hanya masalah pola pengasuhan?”

Rani mengangkat bahu. “Bisa jadi. Pola pengasuhan mungkin hanya salah satunya.” Dia kemudian melirik sahabatnya, sang sekretaris redaksi yang membisu sejak kedatangan Sri dan putrinya. “Penolakan lain oleh lawan jenis. Itu memperkauat efeknya.”

“Maksudmu?”

“Perempuan itu pernah menolak Samir, kurang lebih sebanyak lima kali. Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?”

Anggun berpikir keras dengan pose telapak tangan menutupi sebagianmulut dan hidung. Dia menatap Samir, memerhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Aku harus mengetahui beberapa pandangan penyebab homoseksualitas. Sialnya, sejauh ini aku tidak mengingat detail itu.”

Rani menyeringai, seringai yang menandakan bahwa dia lebih unggul dibanding mahasiswi smester tujuh itu. “Aku sudah mempelajarinya sebelum datang ke sini. Aku harap ingatanmu bisa terpicu oleh pembicaraanku.”

Anggun mengangguk setuju. Dia melirik ibunya sejenak, memberi isyarat untuk tidak berkomentar sebelum mendapat ijin. Bagaimana pun juga ini adalah bidangnya.

“Kita bisa memandang dari pendekatan utama untuk melihat penyebab homoseksualitas: fisiologis dan psikologis. Keduanya harus melalui observasi melelahkan, tapi paling tidak kita bisa mengira-ngira beberapa hal dari pendekatan psikologis.”

“Identifikasi silang,” Anggun menyela. Suaranya pelan, lebih kepada diri sendiri. “Identifikasi dengan salah satu orang tua yang tidak sejenis. Perkembangan semacam ini sering terjadi apabila orang tua sejenis menolak anaknya, atau apabila keluarga itu retak karena perceraian atau kematian.”

“Ada beberapa lagi teori rumit yang dijabarkan para ahli psikoanalisis, seperti ketakutan akan kastrasi, fantasi Oedipal… lupakan saja. Kita hanya perlu menimbang beberapa faktor psikologis lain yang lebih sederhana dan jauh lebih berpengaruh. Bisa saja dia takut menikah karena melihat kehancuran keluarganya, atau takut akan hubungan dengan lawan jenis karena pernah menimbulkan frustasi dan memalukan, yang lebih sederhana, homoskesualitas terjadi karena terlalu lama berpisah dengan lawan jenis.”

“Lebih sederhana, lebih mengena. Mengingat penjabaranmu tadi, aku rasa situasinya memang tidak sulit. Pak Samir pernah mengalami masa lalu kelam setelah ayahnya meninggalkan mereka, lalu di masa SMA mengalami penolakan berkali-kali. Dia pasti menekan perasaannya sampai ke alam bawah sadar.”

“Manusia didorong untuk mereduksi tegangan, demikian kata Freud, dan represi adalah salah satu mekanisme pertahanan terbaik.”

“Lebih dari itu, inferioritas nampaknya mempengaruhi kehidupan masa remaja Pak Samir. Bukankah inferioritas bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap aspek kehidupan?”

“Ingatanmu tentang kompleks inferioritas Adler sangat tajam, nak,” Rani tersenyum bangga.

“Adler maupun psikoanalisis lain pasti sangat membantu dalam kasus ini. Tapi itu belum cukup,” Anggun menambahkan. “Menekan pengalaman menuju alam bawah sadar berarti melibatkan fungsi otak. Karenanya fungsi kognitif menjadi faktor paling penting dalam hal ini.”

Rani merasa tertantang mendengar opsi yang diajukan mahasiswi Unpad itu. “Bisa kau jelaskan?”

“Dengan senang hati, Ibu Psikolog. Seperti yang sudah kita ketahui, masalah kognitif adalah masalah dengan apa yang kita pikirkan. Bila kita memiliki informasi yang salah maka respon kita terhadap informasi itu juga mungkin salah, atau bisa kita sebut abnormal. Terus menerus kesalahan itu terjadi, sampai akhirnya terbentuk kemapanan kognitif tertentu.”

Rani manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Dia memperhatikan istilah kemapanan kognitif yang dibentuk oleh informasi yang terus menerus masuk. “Disinformasi yang terus menerus terjadi,” dia mengulangi dengan istilah lain. “Terdengar seperti classical conditioning bagiku. Pengkondisian seperti ini terjadi jika suatu stimulus yang mendatangkan respon tertentu selalu berpasangan dengan stimulus netral yang tidak mendatangkan respon, sampai akhirnya stimulus netral ini dianggap sebagai stimulus yang sama. Bahkan setelah sekian lama terjadi, stimulus yang sama sekali tidak berhubungan akan dianggap sebagai sumber stress.”

“Pendekatan itu lebih mudah lagi. Aliran psikologi yang lebih banyak digunakan di dunia pembelajaran ini memberi kita kemudahan untuk mengatasi beberapa gangguan mental. Bukan benar-benar kemudahan, tapi cara pandang yang membuat kita merasa lebih mudah mengatasi kesulitan. Ajaran dasar dari padangan behavioral adalah tingkah laku abnormal merupakan hasil dari belajar, karena itu bisa disembuhkan dengan proses belajar pula.”

Rani tergoda untuk memancing putri sulung guru senior itu. “Kaitannya dengan kita? Di mana pandangan itu bisa berlaku, kalau boleh aku tahu?”

“Kau bisa melihat kaitannya sendiri, Ibu Psikolog. Meskipun studi minorku psikologi klinis, kemampuanku masih belum teruji karena kurang pengalaman. Kau sendiri tahu bagaimana mahasiswa ingusan sepertiku bisa menimbulkan banyak masalah dan kesalahan jika dibiarkan mengambil diagnosa.”

“Kau terlalu merendah, nak. Ibumu sepertinya orang yang penuh percaya diri.”

Anggun menatap ibunya, yang kemudian memberi anggukan setuju. Tidak pedulia seberapa besar kesalahannya, bisa tertutupi dengan kebesaran hati untuk mempelajarinya.

“Aku tidak yakin, tapi… memberi Pak Samir seorang perempuan yang bisa menghargai perasaannya bisa membuat dia belajar untuk menghapus penyimpangan seksual yang terjadi padanya. Tentu saja itu tidak cukup. Sebuah gangguan mental tidak akan cukup diteliti hanya dengan satu pendekatan, kita harus mencoba semua pendekatan untuk memeroleh hasil maksimal.”

“Itu karena sebuah teori tidak pernah sempurna,” sambung Rani. “Setiap orang membangun teori berdasarkan pada apa yang mereka ketahui, dan bahwa pengetahuan setiap orang itu terbatas. Aku menyebutnya keagungan ilmu: bahwa kita tidak akan pernah mengetahui sesuatu secara keseluruhan…”

Brak!

Semua orang di dalam ruangan itu terlonjak kaget mendengar suara pintu didobrak. Untuk beberapa saat mereka berpikir ada serangan teroris. Tetapi ketika mereka serempak memusatkan pandangan ke sumber suara, mereka mendapati dua remaja berdiri di pintu memasang tampang penuh harap bisa bergabung dengan diskusi ilmiah yang membuat kepala berputar itu. Mereka sudah terlanjur datang, untuk apa dikesampingkan?

Samir bangkit menghampiri Ibnan dan Nita, mempersilahkan mereka masuk. Tapi keramahannya berbalas pahit. Corney boy menudingkan telunjuk, suaranya menggelegar.

“Dia seorang penipu!”

Mereka belum sepenuhnya reda dari kedatangan tiba-tiba dua anak muda itu, kini dihantam gelombang kejut kedua yang lebih mematikan. Tiga kata membentuk satu kalimat tuduhan, tidak ada makna ganda. Rani bertukar pandang dengan Nada, sementara Sri tidak mengedipkan mata demi melihat muridnya berdiri di sana menuding guru muda itu sebagai seorang penipu.

“Hentikan omong kosong kalian tentang teori psikologi yang rumit. Penjelasannya jauh lebih sederhana: dia berbohong pada kalian semua untuk alasan tertentu.”

Samir berdiri canggung mendengar tuduhan itu. Dia mati kutu, seperti seorang prajurit yang dikepung dari depan dan belakang. Kepala berputar, menyaksikan wajah marah Nada melalui punggungnya.

“Orang-orang hebat seperti kalian cenderung memandang sesuatu dengan cara yang rumit, sementara aku yang tidak tahu apa-apa melihat hal yang jauh lebih sederhana. Ada satu alasan kenapa aku bisa tahu kebohongannya.”
Semua orang terdiam demi mendengar kelanjutan kalimat Ibnan.

“Aku memiliki kehidupan yang sama dengan dia, karena itu aku lebih memahami apa yang terjadi padanya daripada kalian yang hidup bahagia di dalam sebuah keluarga.” Ibnan menoleh sejenak ke arah Nita yang tertunduk di sampingnya. Beberapa detik kemudian perhatiannya kembali pada para penonton yang penasaran. “Dia tidak punya kepercayaan diri yang tinggi untuk sekedar mengatakan bahwa dia mencintai perempuan itu. Percayalah padaku, wali kelasku itu tidak lebih dari seorang pecundang yang takut menghadapi penolakan.”

Nada bangkit dari tempat duduknya, bersiap menerkam Samir yang tidak mampu berkutik lagi.

Bagian 20

Di suatu siang yang cerah, saat semua siswa berkonsentrasi pada guru di depan kelas agar bisa menyerap materi pelajaran yang disampaikan. Cuaca panas di luar tidak banyak berpengaruh. Dua gunung raksasa dan serangkaian pegunungan yang mengeliling wilayah itu menjadikan hawanyatetap sejuk di tengah terik mentari. Di luar kelas, burung-burung kecil menukik tajam ke lapangan upacara berumput hijau terawat seperti lapangan sepakbola standar internasional. Suara mereka menenangkan, mendamaikan, karena mereka adalah harmoni alam yang agung ciptaan Tuhan.

Terjadilah.

Terdengar jentikan dari pengeras suara yang diaktifkan. Para guru yang sedang memberi penjelasan terdiam sejenak. Siswa yang sedang berkonsentrasi mengalihkan perhatian mereka ke pengeras suara yang dipasang di tiap kelas. Seakan hendak menyaingi harmoni alam yang agung karya Tuhan, dari pengeras suara itu muncul alunan gitar akustik memainkan intro sebuah lagu. Kening semua orang berkerut. Seseorang pasti membajak ruang piket dan menyabotase alat di sana.

Burung-burung kecil melesat dari tempat mereka di lapangan upacara, terbang sejauh mungkin meninggalkan arena yang sudah dirusak oleh suara buatan manusia yang jahat. Tidak. Bukan karena suara itu mahluk mungil itu menghentikan nyanyian mereka. Mereka pastilah sedang memberi jalan kepada makhluk cantik bernama perempuan yang memasuki arena itu ditemani oleh salah seorang perempuan berseragam sekolah. Perempuan cantik tak dikenal itu tertegun, jelas bahwa dia berkonsentrasi pada suara yang menggema ke seluruh lingkungan sekolah.

Suara laki-laki muncul mengikuti nada-nada yang dihasilkan alat petik itu.

When I was younger
I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart
And I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore that
She would never let herself forget
And that was the day that I promised
I’d never sing of love
If it does not exist

But darling,
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

Maybe I know, somewhere
Deep in my soul
That love never lasts
And we’ve got to find other ways
To make it alone
Keep a straight face

And I’ve always lived like this
Keeping a comfortable, distance
And up until now
I had sworn to myself that I’m
Content with loneliness

Because none of it was ever worth the risk

Well, you, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

I’ve got a tight grip on reality
But I can’t
Let go of what’s in front of me here
I know you’re leaving
In the morning, when you wake up
Leave me with some kind of prove it’s not a dream

Ohh—

You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

And I’m on my way to believing
Oh, And I’m on my way to believing

Di setiap kelas, ada beberapa siswa yang mengenal lagu itu dan kemudian ikut bernyanyi dengan laki-laki tak dikenal yang membajak ruang piket. Tidak peduli guru mereka mengawasi dari depan kelas, mereka tetap bernyanyi. Beberapa bahkan sambil memejamkan dan meletakan tangan kanan di dada kiri, meresapi setiap kata yang dipahami sebagai ungkapan kesedihan akan kejadian masa lalu dan harapan akan seseorang yang dicintainya.

Setelah lagu itu selesai, perempuan di tengah lapang upacara tertunduk. Dia mengetahui lagu itu, hapal keseluruhan liriknya, paham apa isi lagu itu. The Only Exception dari Paramore, ungkapan dari seseorang yang tidak mau mengenal cinta karena belajar dari pengalam pahit kedua orang tuanya. Sampai akhirnya menemukan seseorang yang menjadi pengecualian, menjadikan dirinya kembali ingin merasakan cinta yang sudah dia lupakan. Laki-laki di ruang piket itu memilih lagu yang tepat untuk dipersembahkan kepada sang perempuan, menusuknya dengan lagu penuh penghayatan hingga perempuan itu meneteskan air mata.

Alat itu mati. Semua orang penasaran siapa yang telah membajak ruang piket. Tanpa sadar, guru-guru yang mengajar berjalan ke pintu, mengalihkan pandangan mereka ke tengah lapangan upacara. Beberapa siswa merengsek menuju jendela, menempelkan wajah mereka di kaca, berebut untuk mencari tahu siapa laki-laki romantis yang berani menyiarkan curahan hatinya melalui lagu ke seluruh penjuru sekolah ini. Mereka melihatnya. Seorang laki-laki berjalan pelan menuju lapangan upacara. Mereka yang lokasinya cukup jauh dari pusat kejadian bertanya-tanya. Mereka yang berada di kelas yang berdekatan dengan lokasi bisa melihat dengan jelas siapa penyanyi dadakan itu.

Samir Israr Rasyid, guru mata pelajaran Fisika.

“Aku mencintaimu!” teriaknya, yang diikuti sorakan para penonton yang sudah membludak sampai ke koridor kelas. “Bukalah hatimu, dan biarkan aku menuliskan kisah terindah di dalamnya.”
Perempuan itu mendekat. Semua orang berharap akan ada adegan romantis tersaji. Jika itu terjadi, maka akan menjadi kejadian pertama di sekolah mereka, bahkan mungkin di wilayah mereka.

Tanpa diduga perempuan itu melayangkan tangannya.

Perempuan itu menampar Samir…

Samir membuka mata sambil mengusap pipinya yang terasa panas. Dia melihat wajah Nada berlinang air mata. Bukan di lingkungan sekolah, tapi di rumahnya. Tidak ada penonton yang bersorak atas keberaniannya menyanyikan sebuah lagu melalui pengeras suara ke seisi sekolah, yang ada hanyalah enam orang tamu. Tidak ada gitar dan nyanyian, yang ada hanyalah tangisan Nada.

Rupanya kejadian di sekolah tadi tak lebih dari angan-angan Samir yang tak terlaksana.

“Mengapa kau berbohong padaku, pecundang?” tuntut Nada dengan suara penuh amarah. Awan mendung berganti badai. Bola salju sudah bergulir. Air mata menjadi bagian dari kebohongan menyakitkan. Pecundang itu bertingkah melewati batas, dan karenanya dia harus mendapat hukuman. Satu tamparan keras tidaklah cukup. Nada menghantam dada Samir dengan kedua tangannya seperti orang sedang memukul bedug untuk memberi tahu waktu shalat. “Kenapa?! Kenapa?!”

Samir menangkap kedua tangan Nada, mencengkramnya erat-erat agar Nada tidak meronta. Perempuan itu tidak bisa mengalahkan tenaga laki-laki. Dia terisak dalam ketidakberdayaan, menunduk dalam kepedihan, tenggelam dalam air mata kepedihan. Laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang mencintainya di masa lalu, telah membohonginya, membiarkan dia kerepotan pulang pergi ke Kebumen untuk menjemput temannya demi menolong guru muda yang mengaku mengalami penyimpangan seksual itu. Dan sekarang, ketika empat orang berkumpul di rumahnya, ditambah dua orang murid yang salah satunya punya keberanian yang petut diacungi jempol, guru muda tidak tahu terima kasih itu mengatakan dengan wajah tanpa dosa bahwa dia bukan seorang gay seperti yang dikatakannya dulu.

Bukalah hatimu, dan biarkan aku menuliskan kisah terindah di dalamnya.

Nada tidak peduli pada kalimat itu. Dia ingin marah, marah sebesar-besarnya pada pecundang di hadapannya, seperti petir dan guntur membahana di langit kelam pertanda kemarahan Tuhan atas umat-Nya. Tapi Nada bukanlah Tuhan. Dia tidak punya kuasa menurunkan hujan badai, mengirimkan batu panas dari neraka, mengutus petir bertegangan jutaan volt. Dia menyerah pada amarahnya sendiri. Tidak ada gunanya lagi. Kepalanya terbenam di dada Samir.

Tangan Samir terulur perlahan-lahan untuk kemudian memeluk Nada. Dia membelai kepala Nada sehalus mungkin. Perempuan itu pastilah sangat terluka setelah perjuangannya dibalas dengan kebohongan. Laki-laki macam apa yang tega membohongi perempuan yang mencintainya dengan penuh ketulusan? Terkutuk! Dia pantas mendapat lebih dari sekedar sebutan pecundang dari Nada. Bajingan, bangsat, atau istilah rendahan apapun yang dia suka.

“Maafkan aku,” kata Samir pelan. “Maafkan aku karena melukaimu untuk sekedar mencari sensasi dan efek dramatis dalam kisah cinta kita.”

Maaf? Setelah semua ini terjadi dia hanya mengatakan maaf? Benar-benar tidak tahu diri!

“Tutup mulutmu,” hardik Rani. Suaranya lantang dan penuh amarah. “Kau mengatakan pada Nada bahwa dirimu adalah seorang gay agar Nada kembali ke Yogyakarta, lalu berencana memancing Nada agar kembali menemuimu di sekolah, dan di sana kau akan menyanyikan sebuah lagu yang disiarkan ke seluruh penjuru sekolah sebagai awal dari prosesi lamaranmu. Jujur saja, rencanamu sempurna sekali. Tapi, terkutuk, kau telah membuat hati perempuan ini kalang kabut karena mengkhawatirkan dirimu.”

“Bukan hanya itu,” sela Sri Nuryani dengan suara yang lebih pelan dan tenang. “Kau membuat sekolah bergejolak, membuat sekumpulan siswa berencana menyerbu masuk ke ruang guru untuk menghalaumu keluar dari sekolah. Kau bahkan membuat Kepala Sekolah kecewa padahal dia mengagumi dedikasimu. Kau ini bodoh atau apa? Sadarkah kah kau, rencana gilamu itu menimbulkan fitnah terhadap dirimu sendiri?”

“Jangan pikir aku tidak punya tuntutan,” Ibnan angkat suara. Pahlawan muda nan pemberani itu memperlihatkan posisi tubuh menantang seperti raja hutan yang siap mempertahankan daerah kekuasaannya. Dia menunjuk Nita yang berlindung di pelukan ibunya. “Anda telah membuat murid kesayangan Anda menangis, membuatku berpikir bahwa Anda hanya memanfaatkanku ketika Anda mengatakan Anda percaya padaku.”

“Sulit dipercaya, Pak. Anda menggali kuburan Anda sendiri,” gumam Anggun sambil menggelengkan kepala.

Samir memejamkan mata sambil menengadah. Dia menelan ludah, berusaha membersihakan tenggorokkan agar kalimat yang diucapkannya lancar. Kepalanya kembali turun hingga dagunya menyentuh kepala Nada yang masih terbenam dalam tangis. “Teruntuk orang yang aku cintai, Ajeng Qotrunnada Sofia. Aku, Samir Israr Rasyid, disaksikan orang-orang yang peduli pada nasibku, mengakui bahwa aku begitu bodoh karena membuat rencana gila yang menjatuhkan posisiku di hadapan semua orang. Ini semua tak lain adalah produk dari imajinasiku yang tak bisa dibendung. Aku adalah seorang penulis, dan karenanya aku punya khayalan melebihi kapasitas orang biasa.”

Dia berhenti bicara. Kedua tangannya tergerak untuk menjauhkan Nada. Keduanya bertukar pandang. Nada masih dengan mata berlinang, sementara tatapan Samir penuh penyesalan. Jari tangan Samir menyusuri wajah Nada, menyeka air mata yang terus bergulir. “Aku akan menulis untukmu, dan kau akan menerbitkannya untukku. Mari kita mulai hidup baru dengan harapan bahagia selamanya.”

Kalimat itu diakhiri dengan kecupan lembut di kening Nada. Kecupan yang menjadi awal kisah cinta mereka dalam keabadian.

Bagian 21

Gelombang tinggi dari kedalaman laut menunjukkan wujudnya. Bergulung-gulung menyapu apapun yang ditemuinya. Air dipercaya sebagai sumber kehidupan. Bentuknya berubah-ubah sesuai dengan tempat. Karena kelembutannya, air bisa menembus ke benda paling padat sekalipun. Bahkan, air yang secara konstan jatuh di satu titik pada batu bisa membuat titik itu menjadi berlubang—pecah, malah. Dan terkadang dalam hidup manusia, orang yang paling bersikap baik pada kita menjadi musuh paling sulit bagi kita di masa depan. Mereka yang mengetahui seluk beluk tentang kita punya strategi lebih jitu untuk menjatuhkan kita. Bahkan bisa jadi, orang paling pendiam menjadi orang paling pertama yang mengancurkan hidup kita karena kedalaman pikiran mereka yang tak terungkap berhasil mencuri celah tak terlihat.

Di balik keindahannya, laut menyembunyikan bahaya tak terduga.

Cerita cinta itu baru saja dimulai ketika sekumpulan warga beramai-ramai mendatangi rumah kontarakan Samir. Dipimpin oleh seorang pria paruh baya terkenal, mereka datang sambil membuat kegaduhan dengan wajah mengerikan yang tidak bersahabat. Semua orang di dalam rumah tidak hanya bertanya-tanya. Lebih dari itu, mereka diliputi ketakutan akan suatu kejadian yang sering mereka lihat dalam berita. Bukan cerita baru warga masyarakat melakukan parktik main hakim sendiri.

Amin yang pertama masuk ke dalam rumah. Dia menuding Samir sambil meneriakkan sebuah perintah. Dua orang bergegas menghampiri Samir. Berharap bisa tahu apa yang terjadi, Samir malah mendapat bogem tepat di hidungnya hingga mengucurkan darah. Kekacauan di mulai seketika itu juga.

Secara instingtif Nada meraih tubuh Samir yang sempoyongan. Namun usahanya dihalau oleh salah satu dari dua orang yang mengahmpiri Samir. Dia didorong hingga terjengkang tak berdaya ke lantai. Saat hendak bangkit untuk membuat perlawanan, dua orang perempuan mengunci tubuhnya. Sia-sia saja dia meronta. Tubuhnya yang tak berdaya itu digiring keluar dari rumah Samir. Dia berteriak sekuat tenaga, memohon dilepaskan, menyebut-nyebut nama Samir.

Setelah sempoyongan mendapat pukulan telak, Samir mengepalkan tinju untuk menghantam balik orang yang dia kenal sebagai Heri, pemuda kampung ini yang juga menaruh hati pada Nurjanah. Samir tahu dia tidak punya waktu untuk mengajukan pertanyaan. Insting bertahan hidup menyebabkan darah di dalam nadinya bergolak dan otot yang menempel di kerangka tubuhnya mengeras. Satu pukulan mendarat di pipi kiri Heri. Heri kehilangan keseimbangan. Itu memberinya waktu yang cukup untuk melanjutkan serangan. Kemudian, secara berturut-turut dia meninju pipi kiri Heri, menghantam ulu hati Heri, memegang kepala Heri, menariknya sementara dia mengangkat lutut kananya. Tempurung lutut Samir menghujam keras ke wajah Heri.

Begitu penyerangnya terkulai tak berdaya di lantai, Samir berbalik untuk menolong Nada yang didorong oleh orang kedua, Dendi. Dia menarik bagian atas kaus Dendi dari belakang lalu menyentakkannya hingga terjatuh di lantai. Samir bergerak dalam kecepatan penuh, memutar tubuhnya untuk kemudian duduk di atas dada Dendi dan menghantam pemuda kampung itu dengan kedua tangan yang direkatkan.
Si pemuda mengerang kesakitan.
Terlambat. Nada sudah dibawa keluar. Dia bangkit untuk mengejar Nada, tapi dua orang lain datang menghadangnya bahkan sebelum dia mengayunkan kaki. Orang pertama melayangkan tinju ke arah kepala, yang berhasil ditangkis Samir dengan tangannya. Dia mencengkram tangan orang itu, memuntirnya hingga orang itu berbalik arah. Di saat bersamaan, orang kedua menyerang. Samir mengarahkan tawanannya ke arah penyerang kedua, menggunakan orang itu sebagai perisai. Berhasil. Pukulan yang diarahkan padanya justru mengenai tawannya. Dia menggeser sedikit posisi tubuh tawanannya agar tercipta celah yang memungkinkan dia melayangkan tendangan. Celah itu terbuka, dan Samir menjejakkan tumitnya di lutut penyerang kedua.

Penyerang pertama mengerang kesakitan, berteriak mohon ampun. Dia bersikeras mengatakan bahwa tangannya patah akibat puntiran yang dilakukan Samir. Samir melingkarkan tangannya yang lain ke leher orang itu, melepaskan tangan yang satunya lagi untuk kemudian memuntir leher otang itu hingga dia jatuh perlahan-lahan ke lantai. Penyerang kedua, dengan kaki pincang setelah mendapat serangan di lutut, mencoba balas menyerang. Secepat kilat Sami mengangkat kakinya, menyerang orang itu sekuat tenaga tepat di dada. Tendangan keras itu membuat penyerang kedua terlempar keluar melalui jendela, memecahkan kacanya hingga berhamburan.

Ruangan kecil dari rumah sederhana itu telah berubah menjadi arena pertempura sepanas neraka. Ruang gerak sempit dengan beberapa orang di dalamnya menjadi arena itu bak kamp pembantaian tawanan perang. Orang-orang di dalam rumah berteriak histeris setiap kali pertempuran terjadi. Mereka berusaha mencari jalan keluar dari ruangan tanpa terluka meski tidak bisa. Sementara warga yang berdatangan tercengang karena empat kompatriot mereka dihajar habis-habisan. Entah keempat orang itu masih bernapas atau tidak. Mereka hanya melihat tubuh bergelimpangan tak berdaya.

Satu lawan empat. Secara kuantitas tidaklah seimbang. Namun hitungan matematis tidak berguna di sini. Satu orang dengan insting bertahan hidup yang kuat bisa menjatuhkan mereka semua. Keinginan Samir menolong Nada yang digusur paksa oleh warga tanpa terlebih dahulu membicarakan duduk permasalahan membuatnya berubah menjadi mesin pembunuh brutal. Empat oang dibabat habis, hanya beberapa yang tersisa. Bahkan sekarang Amin gentar melihat sosok guru muda itu. Dengan hidung berdarah, tanan terkepal, kuda-kuda terpasang, Samir terlihat lebih beringas dan bernyali. Jauh dari kesan bahwa dia adalah seorang guru muda berwibawa.

Jumlah tetaplah jumlah. Sekuat apapun keinginan Samir menemui Nada, pada akirnya dia harus mengaku kalah. Satu detik saja dia lengah, dan sebuah balok kayu menghantam kepalanya dari samping.

Dunia gelap bagi Samir.

[***]

Rani menjerit ketika melihat Samir ditinju tepat di hidungnya. Dia hampir saja beranjak menolong Samir ketika salah satu dari mereka menjatuhkan Nada. Dia belum sempat mencerna situasi ketika dua orang perempuan masuk ke dalam rumah untuk membawa paksa Nada keluar. “Hei, apa yang kalian lakukan?!”
Rani tergerak untuk mengikuti Nada keluar. Langkahnya terhenti oleh pertempuran Samir dengan dua pemuda kampung yang menyerangnya tadi. Alih-alih bergerak, Rani justru menciut memperhatikan perkelahian itu. Dia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Jujur saja, dia ingin menangis melihat orang-orang itu saling melukai untuk alasan yang tidak jelas. Bukan hanya tidak jelas, tidak ada sama sekali alasan yang diungkapkan kepada mereka kenapa warga berbondong-bondong menuju rumah kontrakan Samir. Lebih parah dari itu, tanpa basa-basi mereka menyerang Samir dalam keadaan tidak siap.

What the hell is going on here?

Rani menatap orang tua yang berdiri di ambang pintu. Orang itu memberikan perintah yang memulai seluruh kekacauan ini. Dia sumber informasi terpercaya. Rani harus menemuinya untuk meminta penjelasan. Tidak, dia tidak bisa bergerak. Perkelahian terlalu sengit. Kebrutalan di dalam ruangan itu membuat nyalinya ciut. Lututnya bergetar.

Mata Rani hampir melompat dari kelopaknya ketika dia melihat seorang anak muda melakukan hal yang ingin dia lakukan. Bahkan lebih parah. Jika dia hanya ingin mendekati orang pemberi perintah itu untuk meminta penjelasan, anak muda itu jsutru menghantamkan tinjunya tepat di hidung sasaran. Orang tua itu mengerang kesakitan, mengumpat sambil menutupi hidungnya. Dasar anak muda tidak sopan! Tapi baguslah. Dia punya tenaga kuli hingga membuat orang tua itu tak berkutik.

Rani salah menduga.

Satu isyarat melalui telunjuk mengakhiri semuanya. Anak muda itu diseret keluar dan pertarungan kedua terjadi di sana.

[***]

Sri Nuryani tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Orang yang dia kenal berdiri di ambang pintu untuk memberi perintah penyerangan terhadap Samir, menculik paksa Nada. Dia geram ketika Amin, dengan wajah tanpa dosa, sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat. Penghormatan macam apa itu? Dia tidak membutuhkannya. Dia ingin penjelasan kenapa Amin membawa segerombolan binatang buas ke dalam rumah kecil itu dan membuat kekacauan.

Sri tidak sempat melakukannya. Bagaimanapun juga telah terjadi pertempuran brutal di ruangan sempit itu. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah melindungi kedua putrinya, terutama si bungsu. Begitu insiden pemukulan terjadi, Nita langsung memeluk ibunya, seolah tidak ingin menyaksikan kekerasan itu. Sementara Anggun, salah satu anggota BKC sabuk merah, mengepalkan tinju untuk berjaga-jaga seandainya salah satu dari mereka berniat melukai dia dan keluarganya.

Nyatanya serangan itu terorganisir dengan baik. Tidak ada satupun yang menyentuh orang lain selain Samir dan Nada seolah-olah sasaran sudah ditentukan. Ambil keduanya, tinggalkan yang lain. Mirip operasi taktis militer Amerika dalam operasi pembersihan teroris.

Sepenggal kalimat muncul dalam benak guru senior itu. Amin pernah meminta saya untuk menikahi putrinya. Mengingat pernyataan itu, tidak perlu analisis panjang untuk sekedar menerka jawaban atas pertanyaan yang melintas di benak mereka. Pembalasan dendam karena Samir pernah menolak permintaannya. Satu kail dua ikan sekaligus. Amin benar-benar seorang pemancing handal.

“Hentikan semua ini, Amin! Kalian semua bisa terluka.”

Amin menggeleng. “Maafkan saya, Bu. Ini antara saya dengan pemuda itu.”

“Kenapa kau melakukan ini?”

Amin hampir saja menjawab ketika seseorang meninju wajahnya. Sri terlonjak kaget. Pemukul wajah Amin adalah seorang pemuda gagah berani. Kepalan tangannya kuat seperti seorang petinju kelas dunia. Otot-ototnya mengeras seperti atlet terlatih. Sayangnya, pemuda itu bertindak tanpa berpikir panjang. Dia melayangkan bogem kepada pemimpin operasi taktis, yang artinya orang yang memiliki bawahan lebih dari cukup untuk mengobrak-abrik seisi rumah. Dia ditarik keluar. Terjadi perkelahian sekunder di sana.

Sri tidak bisa membiarkan siswanya dikeroyok pemuda kampung.

[***]

Ibnan berada di posisi paling dekat ketika penyerangan terjadi. Dia melompat menghindari pintu yang terbanting ke dalam. Tidak ada yang menyadari keberadaannya. Dia memutuskan untuk bertahan di tempatnya, menyembunyikan diri dari penyerangan sepihak yang dilakukan penduduk kampung.

Tapi tunggu!

Dia melihat wajah pria tua yang tidak asing. Tentu saja. Setiap hari dia melihat pria itu membersihkan lingkungan sekolah dari sampah, menyusun properti milik sekolah di setiap kelas, di kantor-kantor. Ibnan tidak tahu kenapa orang itu ada di sini. Butuh beberapa detik untuk mengurai situasi mendadak ini. Sekumpulan warga muncul merengsek masuk, dua di antaranya menyerang Pak Guru atas petunjuk pria tua itu. Dua perempuan merengsek masuk dan membawa teman SMA Pak Guru keluar. Tidak ada yang disentuh selain mereka berdua.

Gerombolan…

Perintah penyerangan…

Ini antara saya dengan pemuda itu…

Segalanya menjadi semakin jelas ketika muncul pertanyaan dari guru seniornya. Kenapa kau melakukan ini?

Ibnan tidak perlu menunggu sampai jawaban lain muncul. Pria tua ini memiliki urusan dengan wali kelasnya—entah apa itu. Tapi caranya meyelesaikan urusan tidak bisa diterima. Benar-benar primitif dan kampungan—well, ini memang sebuah kampung di bawah kaki gunung. Amarah yang menguasai Ibnan membuatnya kehilangan kendali. Yang terpikir olehnya saat itu hanyalah pembalasan. Penyerangan tiba-tiba dibalas penyerangan tiba-tiba.

Kekuatan bukan masalah baginya. Hampir setiap pagi dia menjadi kuli panggul di pasar dekat rumahnya. Memukul wajah pria tua hanya seperti menekan sebuah tombol di remote control. Hatinya bersorak ketika dia mendengar erangan pria tua yang menjadi sasarannya.

Tapi perkiraanya meleset. Seorang pemuda lain menariknya keluar dan menyerangnya habis-habisan di halaman rumah. Pada pukulan ketiga, dia behasil menangkisnya. Satu celah terbuka. Ibnan menyerang balik melalui tendangan di perut. Orang itu terjengkang. Belum selesai. Bagaimanapun juga jumlah memberi keuntungan. Dia belum mempersiapkan kuda-kuda ketika seorang lain menghantam wajahnya dengan batu bata. Napasnya tercekat. Tubuhnya jatuh di atas tanah.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: