Home > Uncategorized > immortal

immortal

Bagian 14

Di sela-sela pergantian jam pelajaran, Ibnan menyempatkan diri menyelinap keluar menuju perpustakaan. Dia berpapasan dengan beberapa guru yang baru selesai mengejar, berganti ke kelas lain atau menuju ke ruang guru karena tidak ada lagi jam mengajar. Ibnan beruntung tidak bertemu wali kelasnya. Dia tidak ingin menemui orang itu sekarang. Ada sesuatu yang harus dikerjakannya, dan itu akan membantu dia percaya kebenarana mana yang akan dia pegang.

Beberapa siswa berkeliaran di depan perpustakaan. Dua siswi duduk di teras depan sambil menikmati cemilan, sepasang kekasih bersiap-siap masuk ke perpustakaan: perempuannya melepas sepatu sementara si laki-laki memegangi buku yang akan dikembalikan, tiga siswa di sudut luar bangunan sedang berbincang entah tentang apa.

Ibnan melepaskan sepatu lusuhnya, masuk ke dalam perpustakaan sederhana itu. Di dalam ruangan terdapat tiga rak bertingkat empat bersandar di dinding, membentuk leter U, sengaja menyisakan ruang kosong di tengah-tengah ruangan untuk menyimpan meja dan kursi tempat siswa berdiskusi. Di dekat pintu masuk terdapat meja petugas perpustakaan. Di belakangnya terdapat tedapat dua lemari besar tempat menyimpan beberapa buku tebal yang bukan termasuk mata peajaran sekolah. Ibnan mengincar salah satu buku dalam lemari itu.

Dia menghampiri meja petugas perpustakaan, menunggu giliran setelah dua orang di depannya selesai. Petugas perpustakaan itu, seorang ibu berusia pertangahan empat puluhan dengan tubuh gempal dan berkacamata, menengadah saat Ibnan menghampirinya tanpa menyerahkan buku untuk dikembalikan atau dipinjam.

“Ada apa?” tanya petugas itu.

“Buku di lemari itu boleh dipinjam, Bu?”

Dia membalikkan badan, mengamati koleksi buku di dalam lemari. “Boleh saja. Tapi buku-buku itu khusus disediakan untuk guru karena sebagian besar isinya teralu berat untuk anak SMA.”

Ibnan tersenyum. “Saya ingin meminjam salah satunya. Untuk pengetahuan tambahan saja.”

“Boleh,” ibu itu mengangguk. “Cari sendiri kartu perpustakaanmu.”

Karena perpustakaan sekolah itu masih menggunakan proses sirkulasi manual, kartu perpustakaan milik siswa disimpan meja petugas perpustakaan. Di sana disediakan dua tempat penyimpanan yang dibagi ke dalam 24 sekat, mewakili keseluruhan kelas yang ada di sekolah itu. Tempat pertama digunakan untuk kartu milik siswa yang sedang tidak meminjam, tempat satu lagi untuk kartu ilik siswa yang sedang meminjam. Pengaturan itu memudahkan petugas dalam mendata siswa yang terlambat mengembalikan buku untuk kemudian didenda sesuai hari keterlambatan.

Ibnan mencari di tempat pertama, di sekat dengan tulisan XI IPA 1. Dia mengeluarkan seluruh kartu yang ada di sana. Dia menyodorkan kartu miliknya begitu kartu itu ditemukan, sisanya kembali disimpan di kotak penyimpanan.

“Buku yang mana?”

Ibnan menunjuk sebuah buku dengan cover berwarna hijau yang lumayan tebal di tingkat ketiga. Dia menyebutkan judulnya. Petugas perpustakaan itu mengambil kunci dari laci di bawah mejanya, beranjak untuk membuka lemari itu, kemudian menarik buku yang disebutkan oleh Ibnan. Pintu lemari ditutup kembali.

“Buku ini?” dia memastikan.

Ibnan mengangguk. “Ada beberapa topik di dalamnya yang ingin saya pelajari.”

Petugas perpustakaan itu manggut-manggut. Dia mengisi kolom-kolom yang tersedia, menyerahkan buku itu ke tangan Ibnan. “Nah, kau sudah boleh membawanya. Banyak pengetahuan yang akan kau dapat, dan itu bisa menjadi nilai tambah bagimu.”

“Tentu saja, untuk itulah buku ditulis dan perpustakaan didirikan.”

Petugas perpustakaan itu tersenyum lebar. “Selamat membaca, Nak. Semoga kau menikmati dunia baru yang akan kau temukan di dalam buku ini.”

Ibnan menerima buku itu. “Terima kasih, Bu. Saya yakin saya akan menikmatinya.”

Ibnan meninggalkan perpustakaan. Misi rahasia akan segera dimulai. Dia harus melakukanya sendiri, karena kesendirian bisa membuat pikirannya menyusup lebih dalam ke pusat kebijaksanaan yang sulit dijangkau. Ketenangan akan membantu mempercepat proses berpikir, kesunyian bisa mengendapkan pengetahuan hingga melekat di ubun-ubun.

Guru sudah berada di kursinya ketika Ibnan masuk ke dalam kelas. Dia menyembunyikan buku di balik badannya, melangkah masuk sambil sedikit membungkuk untuk memberi hormat dan menunduk agar tidak terjadi kontak mata. Dia langsung memasukan buku itu ke dalam tas begitu tiba di tempat duduknya.

Guru berdiri di depan kelas, memulai pelajaran dengan sapaan kepada seluruh siswa. Dia menanyakan pelajaran pertemuan sebelumnya sebelum memberi materi pelajaran baru. Saat beberapa siswa ditanyai, Nita mencoba melirik melewati punggungnya ke kursi paling belakang. Sulit juga melihat tanpa membalikkan punggung. Dia tidak bisa meraih Ibnan dengan pandangan matanya. Untuk dapat mengubah sikap seseorang, kita harus menanamkan ide itu di benaknya. Dan agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan. Kalimat itu diungkapkan Anggun padanya tadi malam. Dia harus mencobanya karena Ibnan sudah mengalami banyak perubahan positif. Kecuali satu, tentu saja, dan itulah yang harus ditanamkan pada Ibnan…

“Nita?” panggil sang guru.

Nita tergugah. Dia menatap bingung ke arah gurunya, meminta penjelasan. “Ya, Pak?”

“Kau melamun, Nak. Kau tidak mendengar pertanyaan Bapak?”
Nita melirik Tika, memohon agar teman sebangkunya itu memberi tahu. Tika memalingkan mungka, berpura-pura tidak tahu. Dia tidak mau menanggung resiko ditegur gurunya karena membantu Nita. Sikap itu membuat Nita cemberut.

Sang guru menghampiri meja Nita. Kedua siswi itu langsung merasa tidak nyaman. “Kau tidak fokus. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eh, anu… itu… a…”

Guru itu membalikkan badannya menuju tempat duduknya. Kepalanya menggeleng seraya menggumamka kata-kata yang tak jelas. Sementara di belakangnya, Nita sadar dia telah membuat kesalahan. Mengingat posisi ibunya yang cukup berpengaruh di sekolah ini, dia tahu gurunya itu akan melaporkan kejadian hari ini. Bahkan untuk kesalahan sekecil itu dirinya akan mendapat kuliah tentang semangat belajar, kekuatan pikiran dan konsentrasi, menghormati guru, dan hal-hal semacam itu.
Di belakang, Ibnan tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Nita.

[***]

Pembicaraan kali ini hanya antara Sri Nuryani dan Samir di ruang Bimbingan dan Konseling. Dia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, meminta agar staff lain tidak mengganggu sementara keduanya berbicara empat mata. Keduanya duduk berhadapan, terpisah oleh meja interogasi yang bebas dari alat tulis apapun.

“Saya ingin situasinya diperjelas.”

“Apa maksudmu?”

“Ini masalah privasi, Bu. Seseorang telah merampok rahasia pribadi saya, menyebarkannya ke pihak luar tanpa kofirmasi, juga tanpa bukti yang kuat.”

“Kau sudah mengakuinya kemarin, bukan?”

“Pengakuan apa?” Samir angkat bahu.

Sri Nuryani geram. “Jangan mempermainkanku, anak muda. Kemarin kau menjawab pertanyaan kami—kepala sekolah—dengan jawaban ya. Tiba-tiba saja sekarang kau ingin menyangkalnya? Itu hanya akan menambah daftar kebusukanmu saja.”

“Saya menjawab sesuai dengan substansi pertanyaan…”

Sri menggelengkan kepalanya. “Oh, tidak. Jangan bermain masalah logika dan bahasa denganku. Tidak akan banyak membantu. Kau tidak bisa menghindar hanya dengan permainan kata-katamu. Aku tahu kau seorang penulis, dan karenanya kau lebih pandai memanipulasi kata-kata.”

Samir terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa Ibu tidak mencoba melihat posisi saya sebagai seorang korban ketimbang sebagai tertuduh? Mungkin itu bisa lebih membantu ibu memahami apa yang sedang terjadi.”

“Itu terdengar seperti memohon belas kasihan.”

“Tidak masalah bagi saya apapun sebutannya. Saya ingin tegaskan sekali lagi, situasi yang sebenarnya adalah saya seorang korban dari tetangga yang tidak bisa menjaga aib tetangganya. Apalagi tetangga itu pernah menginginkan sesuatu dari saya yang tidak bisa saya berikan karena saya tidak sanggup memenuhinya.”

Telinga staff BK itu berdiri. Pernyataan Samir menarik perhatiannya karena tidak diungkapkan dalam rapat tertutup kemarin. Dia mencondongkan tubuh sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. Suaranya terengar pelan. “Bisa kau perjelas?”

“Apa?”

“Bagian terakhir pernyataanmu barusan.” Sri mencoba mengulang sebisanya. “Pernah menginginkan sesuatu dari saya bla bla bla…”

“Amin pernah meminta saya untuk menikahi putrinya,” Samir meneruskan. “Beberapa kali, malah. Sampai membuat saya jengkel.”

Sri kembali menegakkan tubuhnya seraya menatap Samir lekat-lekat. Satu fakta baru yang disampaikan dari salah satu pihak bukanlah bukti kuat, tapi fakta itu membuatnya harus menelaah dari berbagai sisi. Samir mengatakan sesuatu tentang keluarga Amin mungkin untuk membela diri dan menghindari tuduhan yang sudah diakuinya kemarin. Tapi pengakuan itu tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat kejadian kemarin pun diawali berita dari satu pihak saja. Bukti itu memang sangat kuat karena berasal dari tetangga sekaligus penanggung jawab rumah Samir.

“Apa kau sedang berusaha mengalihkan perhatian?”

Bahu Samir melorot. Sejujurnya dia lelah mengatakannya, tapi dia harus tetap pada pendirian itu untuk menyelamatkan posisinya. “Situasinya, Bu, situasinya. Bisakah kita mencoba kemungkinan, sekedar mencoba saja antara kita berdua, untuk menempatkan saya pada posisi seorang korban?”

Guru senior itu menggigit bibir. “Kau mulai membuatku bimbang. Tidak. Hampir saja aku tertipu rayuanmu, ” tegasnya.

“Ayolah, Bu. Saya mohon. Kenapa ibu tidak mau memberi kesempatan sedikitpun?” Samir memelas. “Saya kira tidak ada ruginya.”

“Aku punya dua alasan,” suara Sri Nuryani penuh tekanan. “Pertama, kemarin kau mengakuinya, jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk mendengar alibi apapun lagi darimu. Kedua, kau mengungkapkan bahwa Amin pernah memintamu untuk menikahi putrinya, padahal pernyataan itu bisa saja pengalih perhatian untuk menjerumuskan keluarga Amin.”

“Maksud ibu, saya menjerumuskan keluarga Amin karena dendam setelah dia menyebarkan aib saya?”

Sri mengangguk sambil tersenyum tipis.

Samir menggeleng. “Kejadiannya terbalik, Bu.”

“Cukup!” sela staff BK.

“Tidak, Bu,” bantah Samir. Tubuhnya merapat ke meja dalam posisi siap berdebat. “Saya tidak bisa membiarkan ini terjadi.”
“Tapi kau sudah mengakuinya kemarin.”

“Baiklah,” kata Samir. “Kalau toh Ibu berkeras tentang jawaban saya kemarin, tolong ibu ingat-ingat lagi pertanyaan apa yang diajukan kemarin. Lalu, pertimbangkan bukti yang diajukan oleh putri Amin sebagai saksi kunci. Dia menguping pembicaraan saya. Hanya dia, tidak ada siapapun lagi. Apakah itu berarti sesuatu bagi ibu?”

Sri Nuryani mendengus, merasa kepasitasnya sebagai seorang guru senior digugat dengan pertanyaan itu. “Tentu saja. Dia saksi.”

“Bukan itu,” sela Samir. “Bagian dari metode ilmiah untuk memverifikasi data, melakukan crosschek informasi dari berbagai sumber untuk memperkuat kebenarannya. Secara teoritis satu sumber tidak cukup sebagai pembuktian, kecuali observasi menunjukkan bukti yang mendukung sumber itu.”

“Kau meracau.”

“Saya ingin Amin, atau Nurjanah, atau siapapun yang merasa berani menghadapi saya, datang ke sekolah untuk mendiskusikan masalah ini. Tempat ini netral, terdapat pihak ketiga yang bisa membantu menyelesaikan masalah. Kita lihat siapa yang bisa mengajukan bukti paling kuat.”

“Kau menantangku atau meragukan kapasitasku?”

“Dua-duanya benar sekaligus salah,” jawab Samir penuh keyakinan. “Saya menantang dan meragukan kapasitas, tapi bukan ibu yang saya ragukan. Ada beberapa orang di luar sana yang saya ragukan.”

“Keyakinanmu patut diacungi jempol. Baru kali ini aku melihatmu keras kepala seperti ini.”

Samir menelan ludah saat mengakui kebenaran kalimat seniornya. Memang selama ini dia tidak pernah berdebat dengan siapapun, memilih untuk duduk diam, kemudian datang beberapa hari setelah perdebatan sambil mengajukan solusi. Dia menyebutnya metode menahan napas: ambil napas dalam-dalam, tahan selama beberapa detik, lalu hembuskan. Dalam bahasa sederhana, itu disebut mencerna informasi untuk menghindari solusi asal dan terburu-buru.

Dia meminta kepastian.

Sri menggeleng. Dia tidak bisa memberi kepastian kepada guru muda itu. Bukan karena dia tidak mau, tapi ada kemungkinan Amin atau Nurjanah sendiri menghindari undangan mereka. Lagipula, Nurjanah terlihat rapuh sebagai gadis desa sederhana sementara Samir seorang guru yang pernah mengenyam pendidikan strata satu, di mana diskusi dan debat menjadi makanan sehari-hari. Keadaan itu tidak akan berimbang.

Lantas apa?

“Aku tidak janji, tapi akan mengusahakan sebaik mungkin. Sekarang, ada baiknya kau kembali ke kelas. Murid-muridmu pasti gelisah menunggu kau tidak datang.”

Samir bangkit, sedikit membungkuk untuk memberi hormat, kemudian berujar, “Saya rasa mereka akan gelisah jika saya hadir di kelas.”

Bagian 15

Samir berjalan sendiri melewati gerbang sekolah saat bayangan tubuhnya sama dengan tingginya yang sebenarnya. Di belakangnya, di tengah-tengah lapangan upacara, beberapa orang anggota Paskibra sedang melakukan latihan rutin baris-berbaris. Dia meninggalkan sekolah dengan setumpuk pikiran yang tak terelakan. Sebagian besar guru di sekolah sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menghindarinya, terlihat dari senyum kaku mereka, atau cara mereka memandangnya. Beberapa siswa sudah memberanikan diri menemui kepala sekolah untuk menyampaikan aspirasi mereka. Tuntutan dari garda depan putih abu itu jelas: depak guru Fisika itu dari sekolah.

Dalam kebimbangan yang menyelimutinya, Samir masih berharap bahwa takdir akan menunjukkan jalan terbaik baginya. Mungkin akan sulit dan lama, tapi pada akhirnya kebenaran tetap akan muncul—entah kebenaran versi siapa.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Samir tidak menyadari ada orang lain yang menguntit. Orang itu mengendap-endap di belakang Samir. Orang itu mempercepat langkahnya agar bisa menyusul si target.

“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, kalau Anda tidak keberatan,” bisik si penguntit saat dia sejajar dengan Samir.

Samir terkejut melihat Ibnan muncul di sampingnya, membisikan sesuatu seperti seorang agen intelijen sedang menghubungi kontaknya. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Tidak di sini,” jawab Ibnan, masih dengan suara berbisik. “Ikuti aku.”

Sepuluh menit kemudian, mereka berada di tribun gelanggang olahraga Kerkof. Keduanya duduk ditemani dua gelas es kelapa muda sambil menyaksikan beberapa anak mengenakan celana abu-abu bermain basket. Meskipun hari semakin sore, tampaknya mereka enggan pulang ke rumah.

“Ini tentang pertanyaan yang aku ajukan tempo hari,” Ibnan memulai. “Pertanyaan tentang ‘apakah wajar jika orang seperti aku jatuh cinta?’”

Samir sempat was-was muridnya itu berniat menginterogasi tentang berita yang telah menyebar di sekolah. Rupanya anak itu berniat membicarakan hal lain. “Aku rasa aku sudah menjawabnya.”

“Saat itu Anda tidak menanyakan padaku pada siapa aku jatuh cinta,” Ibnan melanjutkan. “Terhadap orang tertentu aku tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa aku mencintai dia. Ada banyak batasan yang tidak bisa dilanggar, ada banyak garis yang tidak paralel menimbulkan persimpangan.”

Samir menahan napas mendengar ungkapan remaja penyendiri itu. “Lagi-lagi kau mengungkapkan dengan cara yang berbeda. Berbelit-belit, agak sulit dimengerti kecuali bagi orang cerdas tipe tertentu.”

“Aku bukan orang pintar, Pak.”

“Aku tidak mengatakan kau pintar, aku bilang kau cerdas.”

“Lupakan,” tepis Ibnan sambil memasang wajah malas.

“Ya… ya… aku bisa menangkap maksud perkataanmu. Ada banyak garis yang tidak paralel. Mungkinkah ini kisah cinta terlarang?”

Ibnan menggeleng. “Bahkan aku tidak bisa meyakinkan diri sendiri apakah yang kurasa ini sebuah cinta atau hanya ilusi. Aku tidak tahu.”

Samir tersenyum. Dia mengulurkan tangan untuk memeluk pundak Ibnan. “Kau tidak yakin pada dirimu sendiri. Situasi seperti ini hanya akan membuatmu semakin tidak berdaya di hadapan orang yang kau cintai.” Keduanya bertukar pandang. “Lalu, kalau boleh tahu, siapa orang yang kau cintai itu?”

Ibnan menelan ludah. Tenggorokannya tercekik. Tidak satupun kata dari nama indah itu keluar dari mulutnya. Sang wali kelas menanti dengan sabar. Kelas pada dirinya sendiri, dia malah mengacak-acak rambutnya sambil menggeram.

“Apa aku mengenal orang itu? Apa kau malu jika ternyata aku mengenalnya?”

“Itu… aku…” dia menatap Samir. “Anda tidak akan tertawa, kan, jika aku menyebutkan namanya?”

Satu hal yang dipahami Samir dari anak itu: Ibnan adalah Samir di masa SMA. Mengenal bagaimana dirinya dulu, Samir tahu Ibnan pun tidak jauh beda. Anak itu pasti memiliki perasaan rendah diri akibat kondisi internal keluarga. Samir sadar akan hal itu, dia tidak boleh mengecewakan corner boy.

“Katakan padaku, dan aku jamin mulutku akan tertutup rapat.”
Ibnan menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tubuhnya terlihat lebih rileks sekarang. Dia pun buka suara. “Ni… ta… Fa… di… lah…”

Oh my God!

Sekarang Samir memahami alasan kenapa Ibnan sempat ragu mengatakan nama itu. Tidak ada garis yang paralel. Lebih rumit dari bangun ruang tiga dimensi dengan puluhan sekat. Benar kata Ibnan, ada banyak batasan yang tak bisa ditembus. Nita Fadilah, putri bungsu Sri Nuryani. Mendengar nama guru senior itu disebut, semua siswa di sekolah gentar. Bukan karena guru itu keras, tepai lebih karena kharismatiknya. Bahkan superstar kalangan putih abu belum tentu mendapat ijin untuk mendekati si bungsu.

“Anda tidak mengatakan sesuatu?”

“Jujur saja, aku tertegun. Kau mengambil pilihan dengan resiko kegagalan tinggi. Kau sendiri tahu siapa orang tua Nita, bagaimana ibunya begitu berwibawa di sekolah.” Samir melihat raut muka kecewa muridnya. “Tidak, tidak,” cepat-cepat dia mengoreksi pernyataannya. “Tidak banyak orang yang mau mengambil keputusan beresiko tinggi. Hanya orang bodoh, atau malah orang yang terlampau cerdas yang tidak peduli pada sebarapa banyak kegagalan akan mereka dapatkan. Jadilah Colombus, berlayarlah menuju dunia baru yang gemerlap!”

Ibnan mengertukan kening. “Membawa nama Colombus ke dalam pembicaraan ini sepertinya berlebihan.”

Samir terkekeh. Mereka jeda sejenak dari percakapan untuk masing-masing menikmati es kelapa muda. “Omong-omong tentang Colombus, kau tahu kenapa dia berani berlayar untuk mencari dunia baru?”

“Kalau tidak salah dengar, seseorang bernama Amerigo Vespuci menemukan rute menuju dunia baru itu. Berdasarkan rute itulah Colombus berani berlayar.”

“Rute, informasi, pengetahuan, ilmu. Ilmu pengetahuan yang agung telah membimbing para pelaut itu menuju dunia baru. Jika kau ingin mendapatkan cintamu—bahkan cinta yang mustahil kau dapatkan—raihlah dengan pengetahuanmu.”

Telinga Ibnan berdiri mendengar nasihat wali kelasnya. Keningnya berkerut. “Sejak kapan cinta diraih dengan pengetahuan?”

Samir tahu apa yang akan dikatakannya mungkin terdengar konyol. Tapi dia tidak ragu sedikitpun karena orang yang ada di sampingnya memiliki memiliki pemikiran yang jauh lebih gila dari dia. “Jangan salah, anak muda. Cinta tidak selamanya tentang perasaan. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan pernah mendapatkan cinta.”

Butuh beberapa detika bagi Ibnan untuk mencerna kalimat terakhir itu. Agak ganjil, sedikit tidak masuk akal, sulit dipahami. Dia menatap Samir, memohon penjelasan.

“Lihatlah dirimu, dan temukan jawabannya di sana. Dan, lihatlah dengan mata hati, karena kebenaran seringkali bersembunyi dari kejaran mata lahiriah.”

Lihatlah dirimu, Ibnan mengulangi dalam hatinya. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan mendapatkan cinta. Seolah mendapat pencerahan, mata Ibnan berbinar. Sekarang dia memahami apa yang dimaksud oleh gurunya itu. Tidak masuk akal, memang. Tapi nasihat filosofis seperti tiu tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah sesuai aslinya.

“Lalu, apakah Anda diperbudak perasaan sampai-sampai Anda memutuskan untuk menjadi seorang gay?”

[***]

Amin menyempatkan diri mampir di rumah seorang pemuka agama di kampungnya. Di rumah itu dia diterima oleh istri sang ustadz. Dia dipersilahkan duduk di ruang utama sambil menunggu orang yang akan ditemuinya dipanggil di kebun belakang rumah. Amin memperhatikan seisi rumah sambil berpikir apa saja yang akan dia katakan. Dia harus mengatakan hal tersebut sehalus mungkin, tanpa kesan provokasi. Dia tahu orang yang ditemuinya berpengetahuan luas, tidak akan mudah terpancing.

Ustadz Abdul Bashar muncul dengan tergesa-gesa dari pintu belakang, masih mengenakan kaos dan celana panjang berkebun. Ustadz itu lebih muda beberapa tahun daripada Amin, tapi pancaran wajahnya menegaskan kewibaan yang sangat kuat. Janggut pendek tipis menghiasi dagunya disertai kumis yang baru beberapa hari dicukur. Dia mengucapkan salam kepada Amin. Amin bangkit untuk menyambutnya seraya mengulurkan tangan.

“Maaf, tangan saya masih basah,” kata Ustadz Bashar.

“Tidak apa-apa, Ustadz.”

Pemuka agama itu mempersilahkan Amin untuk duduk.

“Mohon maaf kalau saya mengganggu pekerjaan Ustadz.”

“Ah, tidak apa-apa,” sahut Ustadz Bashar. “Saya hanya membersihkan rumput liar di belakang agar terlihat lebih rapi.” Istri ustadz itu datang membawa baki berisi dua gelas teh manis dan satu kotak kue. Setelah menaruhnya di meja, dia kembali ke belakang.

“Begini Ustadz,” Amin memulai, suaranya pelan. “Ada hal yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan perilaku yang menyimpang. Saya ingin meminta pendapat dari Ustadz, seandainya ada seseorang di kampung kita yang mengalami perilaku menyimpang, apa yang harus kita lakukan?”

Ustadz Bashar tersenyum menanggapi pertanyaan itu. “Tentu saja kita harus mengajaknya kembali ke jalan yang benar, Pak. Bukankah kita diperintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebenaran?”

“Jika kita tidak bisa mengubahnya?”

“Kita hanya bertugas memberi peringatan, mengajak, memberi tahu apa yang kita tahu tentang agama. Perkara dia mau berubah atau tidak, itu urusan dia dengan Allah.”

Amin bergumam.

“Memangnya ada apa, Pak? Siapa yang perilakunya menyimpang?”

Amin memaksakan diri tersenyum. Pemuka agama itu sudah masuk ke dalam permainannya. Dia harus menambah umpan yang lebih besar agar dapat memancing ikan yang lebih besar. Tapi tidak perlu terburu-buru, hanya akan merusak keseluruhan rencana yang sudah berjalan lancar ini. Dia perlu mengulur waktu agar Ustadz Bashar semakin penasaran.

“Kalau tidak salah ada ayat Al-Quran yang menceritakan perilaku zaman dulu di mana laki-laki menyukai laki-laki…”

“Kisah Nabi Luth,” Ustadz Bashar memotong.

“Apa yang terjadi pada mereka?” Amin bertanya seolah-olah dia tidak tahu.

“Allah membinasakan mereka dengan hujan batu dari langit karena mereka mengabaikan peringatan yang disampaikan Nabi Luth. Bahkan mereka mengejek Nabi Allah itu, berniat mengusirnya dari kampung. Itulah balasan bagi mereka yang tidak taat pada aturan Allah.”

Amin menampakkan wajah prihatin. “Mengerikan sekali.”
Ustadz Bashar masih belum memahami pembicaraan Amin yang terkesan melompat-lompat. “Memangnya kenapa dengan kisah Nabi Luth itu?”

Amin menengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua yang mendengar. Dia mencondongkan tubuhnya. Sikap itu menarik perhatian Ustadz Bashar untuk ikut mencondongkan tubuh. “Ada seorang warga kita yang mempunyai perilaku menyimpang seperti umat Nabi Luth, Ustadz.”

Pemuka agama itu tercengang. Dia menghepaskan tubuhnya sambil mengusap wajah. Mulutnya menggumamkan kalimat istighfar. Berita itu sama saja dengan petir di tengah siang bolong, saat hari cerah. Menggelegar. Ustadz Bashar menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Seorang laki-laki dengan perilaku menyimpang berada di kampungnya dan dia membiarkan laki-laki itu begitu saja.

“Siapa dia?” tanyanya setelah keterkejutannya hilang.

Amin terlihat ragu-ragu mengungkapkan nama itu.

“Katakan saja, Pak Amin. Kita tidak boleh membiarkan situasi seperti ini berlangsung lebih lama.”

Kali ini Amin terlihat sumringah. “Maksud Ustadz, kita akan mengusirnya?”

Pemuka agama itu mengibaskan tangannya. “Hus, tidak secepat itu, Pak. Pertama-tama kita harus menyadarkannya, membimbing dia kembali ke jalan yang benar.”

“Tapi, Ustadz, bukankah umat Nabi Luth dihancurkan gara-gara penyimpangan mereka?”

“Itu karena mereka tidak mau kembali ke jalan yang lurus.”

“Saya yakin orang ini pun tidak akan mau. Setahu saya tidak ada cara untuk mengembalikan perilaku menyimpang seperti itu.”

“Apapun bisa terjadi kalau kita punya kemauan, bukan begitu?” Ustadz Bashar tersenyum tulus. “Allah melarang kita berputus asa terhadap rahmat-Nya. Kita tidak akan tahu sebelum mencoba.”

Keadaan tidak sesuai dengan rencana. Pancingan dengan umpan yang lebih besar tidak menghasilkan ikan yang besar. Umpannya habis, ikannya tidak tertangkap. Amin mengalami kebuntuan. Lebih dari itu, rencananya memprovokasi pemuka agama untuk mengusir Samir dari kampung mereka ternyata tidak berhasil. Pemuka agama itu memilih memberi kesempatan si pendosa bertobat ketimbang langsunf mendepaknya.

“Sekarang, tolong beri tahu saya siapa orangnya. Saya harus menemui dia untuk mengajaknya kembali ke jalan lurus sebelum dia melenceng terlalu jauh.”

Dengan berat hati Amin menyebutkan nama itu. Ustadz Abdul Bashar berjanji akan menemui yang bersangkutan malam ini.

[***]

Amin menyibakkan tirai penutup jendela depan rumahnya. Dia mengintip di celah sempit itu. Ustadz Abdul Bashar sedang mengetuk pintu rumah kontrakan Samir. Sesaat kemudian wajah Samir muncul. Keduanya bersalaman, lalu menghilang ke dalam rumah. Amin kembali menutup tirai.

“Ustadz Abdul Bashar sudah masuk ke rumah itu,” Amin mengabarkan.

“Bagaimana Pak?” tanya istrinya. Semetara Nurjanah duduk di kursi memeluk lutut.

“Kita hanya bisa menunggu.”

Bagian 16

Lima kali aku menolaknya saat SMA dulu. Meskipun sebenarnya alasan penolakanku untuk kebaikan dia, tapi aku tidak pernah mengatakan hal itu padanya. Dia sakit hati karena aku… dia mengalami penyimpangan karena mengalami penolakan yang menyakitkan… olehku…

Jangan-jangan… akulah penyebab semua ini?

Nada membuka matanya. Suara memekakan telinga berasal dari lokomotiv dan benturan roda dengan rel membuatnya tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Nada menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sambil menegakkan kembali posisi tubuhnya di atas kursi. Di sampingnya Rani nampak tidur pulas. Satu pasangan muda duduk kursi di sebrangnya. Keduanya asyik berbincang sementara penumpang lain terlelap dalam mimpi masing-masing.

Tidak hanya suara-suara yang dihasilkan oleh kereta yang membuatnya tidak bisa tidur. Pikiran yang tidak bisa dikendalikan membuat tubuh tidak berada pada posisi terbaik. Dia tidak bisa diam begitu saja di sana sementara pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan seseorang di tempat lain.

Nada kembali ke Garut setelah menghubungi kedua orang tuanya untuk menjelaskan panjang lebar situasi yang sedang dia hadapi. Kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa mengingat kegelisahan Nada benar-benar nyata, dan meski mereka melarang gadis itu percuma saja karena dia tidak akan bisa dihentikan. Keduanya tidak mau melihat anak mereka tertekan dihantui perasaan bersalah. Mereka tahu satu-satunya cara untuk menghilangkan tekanan itu dengan menyingkirkan sesuatu yang menggangu pikiran putri mereka. Kembali ke tempat masalah terjadi dan menyelesaikannya.

Sulit memang. Masa lalu kelam yang dialami Samir ditambah penolakan darinya membuat laki-laki itu berubah drastis, memutar haluan. Faktor yang paling berpengaruh pastilah penolakan itu. Sebelum dia menolak Samir, Samir masih menyukainya—menyukai perempuan.

Cinta adalah kemewahan yang tidak pernah aku dapatkan.
Trauma masa lalu ditinggalkan ayah yang lebih memilih pergi dengan perempuan lain. Harga diri Samir jatuh, perkembangan mentalnya menyimpang. Sakit hati ditolak oleh perempuan yang dicintainya semakin memperburuk keadaaan. Mindset Samir terbentuk berdasarkan penolakan Nada dan perbuatan ayahnya.
Nada memegang keningnya. Rudal jarak jauh menghantamnya sekarang. Setelah sakit hati mendengar penolakan dan pengakuan Samir, kini dia dihantui perasaan bersalah. Pasti ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua ini meskipun sembilan tahun sudah berlalu sejak penolakan itu. Dia memandang ke luar jendela, menyaksikan kegelapan malam yang diterangi cahaya indah buatan manusia. Cahaya itu melesat pergi secepat kereta yang ditumpanginya bergerak menuju tempat tujuan. Jalur kereta yang terletak di pedesaan, kawasan hutan, diselingi pemukiman penduduk membentuk pola konstan: gelap, terang; gelap, terang.

Kegelapan memudar digantikan cahaya; cahaya redup dikalahkan kuasa kegelapan.

Aku yang memulai, aku juga yang harus menyelesaikan.

Setelah kemarin mereka tertahan karena Rani tidak mendapat ijin dari atasannya, malam ini mereka berdua meninggalkan Kebumen dengan tekad kuat. Keduanya menyamakan misi: menyelamatkan seseorang demi cinta. Bersama Rani yang siap membantu di sampingnya, Nada akan memulai perjuangan untuk mengembalikan orang yang pernah mencintainya—yang dia cintai. Paling tidak, bagi dia, ketika dulu dia pernah mengecewakan guru muda itu, dia ingin mengganti kesalahannya dengan memberi bantuan sukarela ini.

Sambil menyandarkan kepalanya di jendela kereta, Nada menyanyikan lagu dengan suara pelan.

When I see your smile
Tears run down my face I can’t replace
And now that I’m strong I have figured out
How this world turns cold and it breaks through my soul
And I know I’ll find deep inside me I can be the one

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

It’s okay. It’s okay. It’s okay
Seasons are changing
And waves are crashing
And stars are falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I’ll be the one

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

Cuz you’re my, you’re my, my, my true love, my whole heart
Please don’t throw that away
Cuz I’m here for you
Please don’t walk away and
Please tell me you’ll stay, stay

Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I’ll be okay
Though my skies are turning gray

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heave

[***]

“Ibu tidak yakin dengan pandangan ibu sendiri?”

Sri Nuryani mengangguk.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah, Nak. Ibu tahu Nurjanah tidak berbohong meskipun dia punya motif untuk melakukannya. Dia bukan orang yang bisa mengarang cerita seperti itu. Dia terlalu lugu untuk menghadapi akibat perbuatannya menyebarkan cerita bohong.”

Anggun menatap ibunya. Memang ada keraguan terpancar di mata sang ibunda. Dia tergerak untuk mengetahui lebih dalam kasus yang sedang beredar di sekolah ibunya. Kasus yang membuat guru senior seperti ibunya begitu bimbang.

“Bukannya membantah tuduhan dengan menunjukkan bukti yang lebih kuat, Samir malah memaksa ibu untuk melihat kembali permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Dia meminta ibu menempatkannya di posisi sebagai korban pelanggaran privasi, bukan sebagai tertuduh.”

“Dia tidak punya bukti kuat,” Anggun memberi komentar. “Tapi desakannya pada ibu menunjukkan bahwa dia ingin membuktikan dirinya tidak bersalah.”

“Bahkan dia bersikeras mengenai hal itu padahal selama ini ibu tahu dia tidak pernah berani berdebat secara langsung.”

Anggun tersenyum tipis. “Begitulah tingkah para penjahat. Selalu berteriak paling keras bahwa dirinya tidak bersalah.”

Sri Nuryani memelototi putri sulungnya. “Dia bukan penjahat, Sayang. Dia orang yang mengalami penyimpangan seksual. Dia tidak akan mengakuinya karena budaya negara kita tidak mendukung perilaku seperti itu. Agama mengecam keras. Tidak mungkin dia mengaku.”

“Kalau begitu kenapa ibu menjadi ragu?”
Sri mendesah panjang. Dia memijat-mijat keningnya sambil memikirkan alasan kenapa dia ragu. Tidak ada alasan yang bisa dia temukan. Sepertinya itu hanya perasaan saja. Subyektifitas seringkali tidak bisa didukung logika. Kalaupun ini merupakan perasaan pribadinya, Sri tidak mengerti kenapa dia meragukan jawaban Samir sekaligus mempercayai kesaksian Nurjanah. Dua perasaan saling berlawanan berperang dalam dirinya.

Anggun menggeser posisi duduknya. Dia merangkul bahu ibunya dengan lembut. Dia mendekap ibunya. “Seperti ada sesuatu dalam diri Pak samir yang membuat penilaian ibu tidak objektif. Tapi itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pada akhirnya kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Ibu harus terus mencarinya.”

Sri mengelus kepala Anggun. “Tentu saja, Sayang. Ibu tidak akan berhenti mencari kebenaran meskipun kita tidak memiliki kebenaran absolut.” Dia berhenti sejenak. “Tentang objektifitas, ibu rasa kau benar. Sepertinya sesuatu dalam diri anak muda itu mempengaruhi ibu.”

“Ibu tidak berpikir macam-macam, kan?”
Mata Sri membelalak. “Tentu saja tidak,” dia membantah, lalu mencubit kedua pipi Anggun. “Memangnya ibu ini perempuan apa?”

Anggun tertawa sekaligus meringis, meminta ibunya melepaskan cubitan itu. Dia mengusap pipinya yang berubah kemerahan. “Sakit,” rengeknya.

“Anak manja. Usiamu sudah 20 tahun masih saja seperti ini.”
“Itu karena ibu memanjakanku,” dia membela diri.

“Itu karena aku menyayangimu, menyayangi adikmu. Ibu tidak ingin perkembangan psikis kalian terganggu jika…”

Anggun menanti kalimat ibunya yang terhenti. Sri seperti tersengat listrik seribu volt, mendadak mematung dengan mulut menganga. Pasti ada gagasan baru masuk ke dalam pikirannya. Gagasan yang selama ini terlupakan padahal merupakan jawaban dari kasus yang dihadapinya.

“Ibu kenapa?” tanya Anggun sambil menggoyangkan bahu ibunya.

“Samir mengalami penyimpangan karena masa lalu yang dialaminya mengganggu perkembangan mental. Sesuatu yang bersifat psikis.”

“Apakah itu berarti sesuatu?”

“Kita harus membantunya,” kata Sri Nruyani tiba-tiba. “Dia menjadi seorang gay bukan karena keinginannya. Keadaan memaksa dia menjadi seperti itu. Kita harus membantunya dengan menciptakan situasi yang mendukung pemulihan mentalnya.”

Anggun menggeleng. “Itu tidak mudah, Bu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan keadaan mental seseorang. Lagipula, kenapa ibu menjadi tertarik untuk membantunya?”
Staff BK itu tidak menjawab.

“Subjektifitas,” gumam Anggun. “Sudah kuduga ada sesuatu dalam diri guru muda itu.”

“Dia seseorang yang berdedikasi, Sayang, juga memiliki kompetensi di atas rata-rata. Sulit untuk mempercayai dia sebagai seorang gay.” Sri kembali terdiam. Dia menatap putri sulungnya. “Bukti kuat yang dia minta. Sekarang ibu tahu. Dia memang tidak pernah terlihat membawa pasangan, atau bersama dengan seorang perempuan dalam situasi khusus. Tapi dia pun tidak pernah memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan sebagai seorang gay.”

“Bisa saja dia menyembunyikannya. Bukankah orang-orang seperti itu lihai menyembunyikan keburukan mereka?”

“Ibu berpikir hal lain,” tepis Sri. “Apakah kau yakin dengan kemampuan psikologimu?”

Anggun mengerutkan kening. Pertanyaan ibunya tidak masuk akal. Terksesan ingin mengalihkan topik pembicaraan. “Tentu saja, bu. Aku kuliah jurusan psikologi, sudah smester tujuh. Bagaimana mungkin aku tidak menguasai satu saja topik dalam psikologi.”

“Ibu senang kau begitu percaya diri. Kalau begitu, bantu ibu.”

Anggun menggelengkan kepala, semakin bingung dengan permintaan ibunya.

Bagian 17

Di depan pintu rumah berdaun ganda itu Ibnan tertegun. Tidak menyangka—tidak percaya, lebih tepatnya—dirinya sedang berdiri di depan pintu rumah Nita Fadilah, putri bungsu Sri Nuryani, guru matematika terbaik sekaligus satff Bimbingan dan Konseling di sekolahnya. Dia berharap guru senior itu akan bersikap diplomatis ketimbang menetapkan satu keputusan telak tentang hubungan mereka.

Jangan banyak berpikir tentang cinta. Kau akan menderita kalau memikirkannya terlalu banyak. Ungkapkan atau kau kehilangan dia untuk selamanya. Nasihat dari Samir Israr Rasyid, wali kelasnya yang sedang ditimpa kasus mengerikan mengenai penyimpangan seksual. Hal itu pulalah yang mendasari Ibnan memberanikan diri menemui Nita di rumahnya pada hari minggu. Alih-alih mengatakan perasaannya di sekolah, rumah adalah tempat yang lebih aman. Orang tua dan kakak perempuannya kemungkinan akan berkumpul di hari minggu. Baginya itu bisa menjadi nilai tambah, di mana dia bisa menerima lebih banyak masukan tentang hubungan percintaan.

Lagipula, mengatakan di depan orang tua bahwa kita mencintai putri mereka—meminta ijin membina hubungan dengan putri mereka—dirasa lebih terhormat daripada menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.

Cinta tidak selamanya tentang perasaan. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan pernah mendapatkan cinta.

Ibnan mengepalkan tangan, mengumpulkan kekuatan di otot-otot tangannya untuk menekan bel di samping pintu. Tetap saja tangan itu terasa berat untuk diangkat. Terjadi perang besar di tangan Ibnan: yang satu ingin menghalangi yang lain. Dia memblok pikirannya untuk menghentikan peperangan itu. Sesaat pikirannya kosong. Setelah tersadar kembali, gerakan tangannya lebih lancar.

Bel bergema ke seluruh ruangan. satu kali, tidak ada reaksi. Dua kali, masih tidak ada. Ketiga, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa diikuti dua ceklikan keras kunci pintu. Wajah seorang ibu berusia akhir tiga puluhan yang penuh keringat muncul dari balik pintu. Pakaiannya basah di beberapa bagian. Sekilas seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu tapi teralihkan oleh kedatangan tamu.

Ibnan mengerutkan kening. Dia tidak mengenal orang itu. Dia pernah bertemu dengan kakak Nita, tapi bukan itu. Lagipula kakak Nita masih muda.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya ibu itu melihat orang asing tertegun di depan pintunya.

“Ini kediaman Ibu Sri Nuryani, kan?”

Orang itu mengangguk. “Ada apa ya?”

“Anu… saya salah satu murid Ibu Sri, juga teman sekelas Nita. Kalau boleh tahu, Nita ada di rumah?”

“De Nita ada di rumah,” katanya sambil melirik ke belakang. “Lebih baik kamu masuk dulu, biar saya panggilkan dia.”

Ibnan tersenyum mendengar keramahan perempuan yang membuka pintu itu. Dia masuk sementara orang itu menunggu untuk menutup pintu. Setelah Ibnan duduk, orang itu berlalu dengan langkah tergesa-gesa, menghilang di balik pintu lain menuju ruang lain di rumah itu.

Ibnan memperhatikan sekeliling ruangan. Tempat di mana dia berada tidaklah terlalu besar. Berisi satu set furnitur: dua sofa panjang dan dua sofa untuk satu orang saling berhadapan, terpisah oleh meja kaca setinggi lutut di tengah-tengahnya. Di dinding ruangan menempel tiga foto yang diatur sedemikian rupa: foto keluarga di tengah, foto wisuda Sri Nuryani dan Zamhuri di kanan kirinya. Di sisi lain dinding terdapat hiasan berupa gambar Ka’bah yang dikelilingi oleh Asmaul Husna. Di sudut ruangan terdapat pintu yang tadi digunakan ibu itu menuju bagian lain di dalam rumah.

Setelah hampir dua menit menunggu, Nita muncul dari balik pintu itu. Inilah pertama kalinya Ibnan melihat Nita tidak mengenakan seragam sekolah. Ada kesan berbeda yang ditangkapnya. Dalam pakaian non-formal seperti itu Nita tampak lebih sederhana meskipun kehidupan ekonomi keluarganya di atas rata-rata. Ibnan tidak bisa melepaskan tatapannya dari Nita yang sedang berjalan ke arahnya dengan malu-malu.

Nita duduk di kursi di seberang Ibnan. “Hai,” Nita menyapa dengan pelan. “Mendadak sekali datang ke rumah. Pasti ada sesuatu yang sangat penting sampai-sampai kau nekad datang ke sini.”

Ibnan tertunduk malu. Saat dia hampir menjawab, ibu yang membukakan pintu untuknya muncul membawa dua gelas minuman dan dua kotak makanan kecil. Ibu itu meletakkannya di meja, memberi isyarat kepada Ibnan dan Nita melalui anggukan, kemudian pergi.

“Terima kasih, Bi.”

Ibnan memperhatikan punggung ibu itu saat berlalu, kemudian melirik Nita untuk meminta penjelasan.

“Ayahku menjadi dosen di Bandung, pulang seminggu sekali, bahkan terkadang sebulan sekali. Sementara ibu sibuk di sekolah. Kakakku mengerjakan tugas akhir kuliah, sementara aku hanya menangani bagianku sendiri. Sisanya, ibu menyerahkan pekerjaan kepada pembantu.”

Ibnan manggut-manggut. Wajar saja. Kedua orang tuanya pegawai negeri, hanya punya dua orang putri. Mereka punya dana berlebih untuk menggaji satu pembantu yang diambil dari salah satu tetangga mereka yang tidak punya pekerjaan.

“Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu, tapi aku perlu tahu alasanmu sampai datang ke rumah.”

Memikirkan pembantu itu, Ibnan hampir lupa pada pertanyaan yang diajukan Nita tadi. Jantungnya berdegup kencang begitu dia menyiapkan pernyataan untuk Nita. Saking kerasnya, suaranya bertalu-talu memenuhi ruangan. Ibnan kehilangan konsentrasi karena hal itu. Dia menggelengkan kepala untuk mengusir gangguan itu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nita dengan nada prihatin.
Ibnan mengangguk. “Aku baik-baik saja. Hanya saja… aku… kau tahu… apa yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu di kelas…”

Mata Nita membelalak mendengar Ibnan mengatakan hal itu. Dia kembali teringat kejadian di dalam kelas saat dia hendak mengembalikan sapu tangan Ibnan. Akulah yang bersalah karena menyukaimu, karena jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya aku cintai.

“Aku benar-benar minta maaf jika hal itu mengganggumu, tapi…” Ibnan menatap Nita yang masih terdiam, “kau tahu? Aku tidak bisa terus menerus menyimpannya dalam hatiku. Aku tidak ingin menderita karena ketakukan, aku tidak ingin membohongi diri sendiri. Jujur saja, aku bukan orang yang terbiasa hidup dengan cinta, dan karena itu aku ingin merasakannya paling tidak sekali saja dalam hidupku. Aku tidak bisa menunggu, aku harus mengejar cinta yang aku inginkan.”

Nita menelan ludah mendengar pengakuan Ibnan. Dalam satu hal kakaknya benar mengenai Ibnan. Corner boy memang menginginkan dan membutuhkan cinta setelah dicampakkan oleh ayahnya. Siswa penyendiri itu mengatakannya di hadapan Nita, yang bisa berarti bahwa dia meminta Nita untuk memberinya cinta yang dia butuhkan. Terbersit kebimbangan dalam benak Nita. Posisinya sangat tidak menguntungkan. Seseorang mengharapakan dia membantu, tapi dia tidak cukup tahu bagaimana cara membantu orang dengan kebutuhan khusus seperti itu.

Agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan.
Demikian yang dikatakan kakaknya, mahasiswi Psikologi Unpad. Kalimat itu meluncur ketika dia berdiskusi dengan kakaknya, ketika dia menyatakan bahwa dia ingin membantu corner boy keluar dari belenggu mematikan bernama kesendirian. Keinginan itu tulus adanya. Tapi ternyata, ketika kesempatan untuk membantu tiba, hatinya malah terombang-ambing oleh ketakutan akan kegagalan memenuhi janjinya.

Nita dididik oleh dua orang akademisi tingkat tinggi yang mengajarkannya untuk selalu membuat penghitungan sepuluh langkah ke depan sebelum langkah pertama diambil. Dia diajarkan untuk meminimalkan kegagalan dengan perencanaan matang. Sejauh ini dia memang tidak pernah mengalami kegagalan dalam menjalani kehidupannya. Kedua orang tuanya bergerak di bidang pendidikannya, maka pendidikan pula yang menjadi prioritas Nita.

“Maksudmu, kau ingin kau jadi… pacarku?”

Jantung Ibnan meledak seiring keluarnya pertanyaan dari mulut Nita. Tulang belulang yang menopang tubuhnya hancur berantakan. Tidak ada rangka, tidak ada otot. Tidak ada kekuatan untuk sekedar menegakkan posisi tubuhnya. “Aku tidak mengatakan kau harus menjadi pacarku. Aku hanya… aku…”
“Ibu tidak akan mengijinkan aku pacaran, kau pasti tahu itu.”

“Aku tahu. Karena itu aku memberanikan diri datang ke rumahmu untuk menjelaskan segala sesuatunya pada orang tuamu.” Ibnan berhenti sejenak, menarik napas agar dirinya kembali terkontrol. “Aku harus mengatakan kepada mereka perasaanku yang sebenarnya. Aku tahu kau memiliki kepentingan lain, orang tuamu menginginkan kau menjalani pendidikan yang baik. Aku pun setuju dengan pemikiran mereka. Aku hanya ingin mereka tahu.”

“Tentu saja mereka harus tahu,” Nita menimpali. “Usiaku baru enam belas tahun. Aku masih bergantung pada mereka dalam memutuskan sesuatu.”

“Kalau begitu, kenapa tidak kau panggil saja mereka.”

Nita menggeleng. “Ayah tidak pulang minggu ini. Sementara ibu berangkat bersama kakak ke rumah Pak Samir.”

Mendengar nama itu disebut, perhatian Ibnan teralihkan. Wali kelas yang sedang mendapat masalah. Bahkan Sri Nuryani harus menyusulnya ke rumah untuk membahas masalah tersebut. Dia tidak akan lupa bagaimana Nita menangis di dalam kelas karena tidak percaya pada berita itu. Bahkan dirinya pun menetaskan air mata dalam perjalanan pulang.

“Ada perkembangan baru tentang Pak Samir?”

“Aku tidak tahu. Aku masih tidak percaya Pak Samir orang seperti itu.”

“Kau akan percaya jika tahu alasannya.”

“Memangnya apa?”

Ibnan menahan diri untuk menjawab. Dia memilih membisu alih-alih menceritakan rahasia yang dipercayakan wali kelasnya kepadanya. Aku mengatakannya padamu karena aku percaya. “Entahlah,” kata Ibnan. “Aku hanya berpikir setiap orang punya alasan kenapa dia bersikap seperti itu. Seringkali kita baru memahami orang lain setelah kita mendengar penjelasan darinya.”

Sebuah alasan. “Tadi malam aku menguping percakapan ibu dan kakak. Ibu mengatakan penyimpangan yang terjadi pada Pak Samir diakibatkan oleh masa lalunya. Penyimpangan itu bersifat psikis. Karena itu dia mengajak kakak menemui Pak Samir dengan harapan bisa membantunya.”

“Penyimpangan bersifat psikis,” Ibnan mengulangi, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memegang kening, memusatkan perhatian pada sesuatu yang ingin diingatnya. “Apa kau tahu alamat rumah Pak Samir?” tanya Ibnan tiba-tiba.

“Tidak. Tapi ibuku punya buku berisi data semua guru yang mengajar di sekolah kita. Aku rasa alamat Pak Samir ada di dalamnya.” Dia menatap Ibnan, penasaran kenapa corner boy menanyakan alamat itu.

“Ambilkan buku itu, tuliskan alamat Pak Samir. Aku harus menyusul ke sana.” Suara Ibnan terdengar tegang.

“Memangnya untuk apa?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku harus pergi ke rumahnya.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Apa?” Ibnan terlonjak kaget.

“Aku akan menuliskn alamat Pak Samir untukmu dengan syarat kau mau membawaku ke sana.”

“Tapi… tapi… aku…”

“Kau bisa mengendarai sepeda motor?”

“Aku pernah mengendarai sepeda motor beberapa kali.”

“Bagus. Sepeda motor kakaku ada di belakang. Kita bisa menggunakannya.”

Ibnan tidak percaya melihat perubahan drastis pada diri Nita. Dia lupa begitu saja pada apa yang dikatakan Ibnan. Semangatnya menggebu-gebu, seperti sudah lama ingin bertemu dengan seseorang yang dirindukan. Apa boleh buat. Ibnan tidak bisa menolak syarat yang diajukan Nita karena tidak punya pilihan lain sejauh ini. Ibnan harus melupakan sejenak tentang Nita, tentang perasaannya. Ada pekerjaan besar yang harus dia lakukan: pekerjaan yang menuntut lebih banyak keberanian dibanding mengungkapkan perasaan kepada Nita.

[***]

Nada dan Rani menyusuri jalan setapak kecil yang diapit rumah-rumah penduduk. Tidak jauh dari tempat mereka berjalan membentang pegunungan dan hutan asri. Kawasan itu masih berbentuk seperti aslinya, dengan sedikit lahan gundul dijadikan lahan bercocok tanam para petani. Mereka tiba di sebuah rumah sederhana bercat putih, dibatasi pagar besi setinggi dada dengan pintu kecil di tengah-tengah. Rumah itu terlihat sepi tanpa aktivitas. Seorang guru muda tinggal di sana tanpa pendamping. Kesepian.

Nada membuka pintu pagar itu. Rani menyusul masuk. Dia mengetuk pintu, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya orang yang dia kenal membuka pintu.

Samir tertegun sejenak di ambang pintu. “Oh, hei. Kau kembali.”
“Hanya itu sapaanmu padaku?”

Samir harus menyembunyikan perasaan girang setelah Nada kembali datang ke rumahnya. Sesuatu pasti membawa sekretaris redaksi itu kembali. Entah apa. Yang jelas Samir merasa ini bukan waktu yang tepat bagi temannya itu untuk kembali. Masalah di sekolah belum selesai. Dia kesulitan menangani kasus itu.

“Kau tidak mempersilahkan kami masuk?” tanya seorang perempuan.

Samir tidak asing dengan wajah itu. Dia pernah melihatnya di suatu tempat di masa lalu. Bukan hanya melihat, mereka pernah melakukan bisnis gelap dalam proyek merebut hati Nada. Perempuan yang bersedia menjadi kurir baginya. “Rani?”

Rani tersenyum tipis. “Tega sekali kau melupakan perempuan paling berjasa ini.”

Samir tersipu mendengar teguran itu. “Ah, itu… maafkan aku. Sudah lama kita tidak bertemu jadi…”

“Ya, aku tahu,” Rani memotong. “Ada banyak hal berubah. Termasuk kau. Well, kulihat kau lebih dewasa dengan beberapa kerutan di dahimu.”

“Itu artinya dia bertambah tua,” sela Nada.

Samir mengangkat bahu menanggapi ocehan kecil dua temannya. Dia menatap jauh ke seberang rumahnya. Sekilas, tidak terlalu jelas, dia melihat tirai jendela depan rumah Amin tersibak. Seseorang pasti menguntit pertemuan mereka. “Aku kira kalian ingin masuk ke rumah sederhana ini.”

“Kau membiayainya dengan gajimu sendiri. Sesederhana apapun rumah ini, kebanggannmu ada di dalamnya.”

“Hei, sejak kapan kau menjadi sok filosofis seperti itu?”

“Aku belajar psikologi, ibu sekretaris. Tentu saja Filsafat mempengaruhi pemikiranku.”

“Ayolah, teman-teman,” Samir menyela. “Masuk atau aku tutup kembali pintu rumahku?”

Rani cengengesan demi mendengar ancaman itu. Dia melewati pintu mendahului Nada begitu Samir memberi ruang. Saat Nada melewati Samir, keduanya sempat bertukar pandang selama beberapa detik. Ada harapan terpancar di mata Nada, sementara Samir menunjukkan kekhawatiran. Begitu Nada masuk, dia menutup pintu sambil memastikan apakah penguntit di rumah Amin masih berada di sana.

Samir pergi ke dapur sementara Nada dan Rani duduk beristirahat. Mereka meletakan tas punggung di lantai. Tas milik Rani lebih berat karena dia membawa serta beberapa literatur sebagai referensi ketika mengamati penyimpangan pada diri Samir. Guru muda itu datang sambil membawa dua gelas air putih, meletakkannya di atas meja, lalu duduk di kursi yang berhadapanlan langsung dengan Rani.

“Hanya ada air putih. Tidak biasa menerima tamu, makanya tidak ada persiapan.”

Rani mengambil gelas itu dan meminum air hingga setengahnya. “Aku haus sekali. Perjalanan ini melelahkan. Apalagi aku datang dengan paksaan.” Dia menyeka mulutnya yang terasa basah.
“Kau merugikan dirimu sendiri dengan menerima paksaan itu.”

Rani menatap Nada yang duduk di kursi yang menghadap ke arah lain. “Sahabatku menelpon, mengatakan akan mampir di Kebumen padahal sudah lima tahun dia melupakan kampung halamannya. Dia memaksa aku menjemputnya di stasiun tengah malam karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Permintaan tolong, lebih tepatnya. Dan sebagai sahabat, aku tidak bisa membiarkan dia mematung tanpa jalan keluar.”

Samir menatap Nada tidak percaya. “Kau memaksanya datang ke sini? Untuk apa?”

“Hanya untuk memastikan bahwa aku bisa memperbaiki segala sesuatu yang telah terjadi akibat ketololanku di masa lalu.”

“Oh, sekarang giliranmu yang bicara ngawur,” kata Samir.

“Dia tidak ngawur, Pak Guru,” tukas Rani. “Boleh aku panggil kau Pak Guru? Ku dengar kau jadi seorang guru di sini.”

“Asalkan kau nyaman mengatakannya.”

“Baiklah, aku merasa nyaman.” Rani sedikit mencondongkan. Dagunya bertumpu di kedua tangan; kedua sikunya bertumpu di paha. “Perjalanan panjang ini sangat melelahkan, tapi akan semakin melelahkan jika aku menunda pernyataan alasan kami datang ke tempat ini. Saat tiba di rumahku, dia mengatakan segala sesuatu yang memaksanya memintaku pergi bersama dia ke sini. Alasan yang sederhana tapi tidak masuk akal.”

“Kau,” kata Nada pelan sambil melirik Samir.

“Ya, kau, Pak Guru. Aku rasa kau sudah tahu bahwa dia sesungguhnya mencintaimu di masa lalu tapi tidak bisa menjalin sebuah ikatan dengan alasan tertentu.”

Samir mengangguk. “Selalu ada alasan, meskipun tidak masuk akal.”

“Dan ketika dia menyusulmu sampai ke tempat ini, dia memiliki itikad baik untuk memulai segala sesuatunya dari awal. Dia bersedia memberi apa yang tidak bisa dia berikan di masa lalu. Sayangnya kau menolak dia karena…”

Samir menahan napas mengantisipasi kalimat Rani yang mengambang. Kedua bertukar pandang selama beberapa detik. Rani merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia membuang muka. “Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi untuk perkara besar itulah aku berada di sini.”

Samir menatap Nada, lalu Rani. “Jadi, kau sudah tahu?”

Rani menggeleng. “Sejujurnya, aku ke sini untuk mencari tahu, bukan karena aku sudah tahu. Sekedar mempromosikan gelarku, aku lulus dari Psikologi UGM. Meski tidak cum laude seperti rekan kita yang satu itu, aku yakin aku memiliki kompetensi memadai untuk melakukan analisis terhadap dirimu.”

Samir memaksakan diri tertawa mendengar penjelasan Rani. Tampak lucu baginya seorang teman semasa SMA yang kini menjadi psikolog datang kepadanya atas permintaan teman untuk melakukan analisis penyimpangan dalam dirinya. Tidak—dia tidak membutuhkan psikolog ataupun psikiater. Meskipun program studinya Pendidikan Fisika, Samir adalah maniak psikologi karena mempelajari teori psikologi membuatnya lebih memahami perbedaan dirinya dengan orang lain. Semasa kuliah dia melahap banyak buku psikologi di perpustakaan universitas, dan dia merasa yakin tidak membutuhkan kehadiran Rani.

Lagipula, bukanlah penyimpangan yang terjadi padanya melainkan kebohongan.

“’Aku berhasil mematikan rasa itu, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta, dan membuang hasratku terhadap perempuan’, itulah yang kau katakan padaku waktu itu. Mematikan rasa, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta karena seseorang pernah menyakitimu. Mekanisme pertahan diri untuk tetap mempertahankan keseimbangan ego.”

“Jadi karena itu kau membawa seorang psikolog?”

Sementara terjadi percakapan alot antara Nada dan Samir, diam-diam Rani memperhatikan penulis berbakat itu. Sejauh ini dia belum menemukan apapun yang berkaitan dengan penyimpangan seksual dari gerak-gerik Samir. Dalam beberapa kasus gerak tubuh bisa memberikan petunjuk, namun kali ini dia tahu itu tidak cukup. Harus ada observasi dengan serangkaian tes dan wawancara agar bisa diketahui diganosa yang paling tepat.

Perhatian mereka teralihkan oleh suara derit pintu pagar. Ada orang lain memasuki halam rumah kontrakan Samir. Dia berdiri untuk mencari tahu siapa tamunya. Sebelum mencapai pintu, dia sudah mendengar suara seseorang yang dikenalnya mengucapkan salam. Suara itu tidak asing baginya karena pemilik suara adalah orang yang dia hormati. Dia tidak akan melupakan suara berwibawa milik salah seorang yang menyidangnya di ruang kepala sekolah, milik seorang guru yang berdebat dengannya di ruang BK.

Samir membuka pintu. Sri Nuryani melempar senyum sambil menggandeng putri sulungnya.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: