Home > Uncategorized > immortal

immortal

Bagian 10

Dani mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Nada yang langsung melesat begitu turun dari angkot. Dia berhasil meraih tangan Nada.

Nada geram. “Ada apa lagi?”

“Bisakah kau menungguku? Kita harus bicara.”

“Kau ingin bicara apa lagi?”
Terik mentari, polusi hasil pembakaran kendaraan bermotor, teriakan dari para kondektur, suara mesin meraung-raung; semuanya berakumulasi membentuk genangan bensin yang memicu meledaknya amarah. Terminal Bis Guntur terasa seperti neraka bagi Nada dengan kehadiran Dani.

“Aku ingin minta maaf karena telah mengecewakanmu.”

“Kau sudah mengatakannya tadi, dan aku sudah memaafkanmu.” Nada berbalik,
tapi Dani kembali menahannya.

“Aku mintaa maaf jika kedatanganku ke sini membuatmu marah.”

Nada menghela napas sambil berkacak pinggang. Dia membuang muka, memperhatikan apapun di kejauhan asalkan itu bukan wajah Dani. “Satu-satunya hal bodoh yang membuatku marah adalah pukulanmu terhadap Samir. Kekanak-kanakan sekali.”

Dani menunduk mengakui perbuatannya. “Aku tidak bisa menahan diri karena merasa kau telah disakiti.”

Nada memalingkan pandangannya kepada Dani. “Apa katamu?”

“Aku tidak bisa membiarkanmu disakiti, Nad,” Dani menegaskan.

“Memangnya apa yang kau tahu sampai bisa mengambil kesimpulan seperti itu?”
Dani menyerah pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Meskipun situasi sedang kacau balau, dia harus memanfaatkan setiap detik kebersamaannya dengan Nada untuk membuat Nada tahu bahwa perasaan dia telah berubah. “Sejujurnya, aku…”

“Bandung, Bandung, Bandung…” kondektur bis berteriak. “Bandung beragkat!”

“Aku pergi sekarang,” kata Nada tanpa menghiraukan kalimat Dani yang belum selesai.

Dani memukul kepalanya berkali-kali karena kesal. Niat hatinya masih belum tersampaikan. Dia harus menunggu. Tidak, dia tidak boleh menunggu. Bisa itu akan berangkat. Jika dia diam saja di sana, dia akan ditinggalkan oleh Nada. Tidak ingin tertinggal oleh bis yang sudah hampir mencapai pintu keluar. Dia berteriak sambil melambaikan tangan, meminta bi situ meunggu. Terlihat olehnya Nada sedang mencari tempat duduk di dalam bis.

Dani berhasil melompat ke dalam bis tepat saat pintu belakangnya mencapai gerbang. Dia berjalan mencari Nada, berharap tidak ada penumpang lain yang duduk bersamanya. Tapi, ketika di sudah mencapai kursi terdepan, tidak ada satupun wajah dari penumpang yang ada di sana dikenalnya. Ada sesuatu yang salah. Dia yakin tadi melihat Nada berjalan di dalam bis.

Lalu, ke mana dia?

Dani panik. Bis sudah berada jauh di luar area terminal, mulai mempercepat lajunya. Bahunya melorot. Untuk kedua kalinya, Nada pergi tanpa meninggalkan jejak. Tapi perjuangan belum berakhir. Dia bisa menunggu di terminal tujuan sambil melihat setiap bis yang dating dari Garut. Dia yakin bisa menemukannya.

[***]

Nada tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil meloloskan diri dari Dani. Saat Dani masuk lewat pintu belakang, Nada melompat keluar dari pintu depan, kemudian melesat menuju beberapa angkot yang sedang diparkir di pintu keluar terminal. Dia menyembunyikan dirinya selama beberapa menit, lalu keluar.

Setelah merasa yakin, dia masuk kembali ke dalam terminal untuk menunggu keberangkatan bis berikutnya. Di dalam terminal, dia bertanya kepada seorang petugas berseragam DLLAJ tentang jalur alternatif selain terminal Cicaheum. Petugas itu memberi dua laternatif. Pertama, naik bisa menuju Terminal Leuwipanjang lalu naik angkot ke Stasiun Bandung. Pilihan kedua, dia bisa turun di stasiun Cicalengka untuk kemudian naik kereta local menuju Stasiun Bandung.
Nada memilih alternatif yang kedua.

Empat puluh menit kemudian, bis berikutnya berangkat. Dia melompat masuk sambil menyiapkan diri melalui perjalanan pulang dalam kesendirian. Pergi dari tempat ini, lupakan semua yang terjadi. Demikian harapan Nada. Meski dia tidak yakin dia bisa melakukannya.

Buktinya, baru beberapa menit perjalanan, dia kembali memikirkan percakapan yag terjadi tadi malam antara dirinya Samir.

Aku tahu tidak akan ada perempuan yang tertarik pada pecundang sepertiku. Sejak saat itu aku belajar untuk menekan perasaanku sampai benar-benar tidak tersisa sedikit pun.

Sembilan tahun berpisah, Samir telah berubah menjadi seorang gay.

Di dalam bis itu dia hampir menangis. Dunia berputar begitu cepat baginya. Cepat dan tak terkendali. Setiap orang memiliki pilhan bagaimana harus menjalani hidupnya, tapi pilihan yang diambil Samir tampak tidak masuk akal. Itu seperti misi bunuh diri. Hanya karena ditolak oleh seorang perempuan, dia mengubah orientasi hidupnya berlawanan dengan norma agama dan norma budaya.
Kesalahan orang tua dalam mengasuh anak berpengaruh besar terhadap perkembangan mental. Jika kesalahan orang tua dalam mengasuh bisa seburuk itu, apalagi perceraian akibat salah satunya memilih hidup dengan orang lain. Keputusan itu sama saja dengan menganggap orang yang ditingaalkan tidak berharga untuk dicintai.

Inferioritas seperti itu pernah terlihat dalam diri Samir saat SMA dulu. Orang itu selalu menyendiri, menghindari kumpulan dengan kelompok tertentu seperti remaja pada umumnya. Terkadang suaranya tertahan saat berbicara; tanda bahwa dia tidak punya cukup kepercayaan diri untuk sekedar berhadapan satu lawan satu dengan orang lain.

Nada memandang keluar melalui jendela. Lika-liku jalan dengan tebing di sisi kanan dan kiri yang bisa roboh kapan saja. Sama seperti hidup manusia yang tidak lurus. Hidup penuh resiko, hidup dengan penuh petualangan baru, hidup dengan bebagai pengalaman berharga yang membuat hati menjadi kaya. Samir telah melewati berbagai hal yang membuat hidupnya berbeda dengan orang lain. Dia berbeda, dan dia mengakuinya dengan penuh keberanian pada Nada. Sulit untuk mengakui diri berbeda karena itu artinya aka nada banyak cemooh dan cibiran dari orang-orang di sekitar.

Berpikir tentang itu, tiba-tiba Nada mengkhawatirkan keadaan Samir. Konsekuensi dari jalan hidup yang dipilih Samir sangat rumit. Akan berakibat pada banyak hal, termasuk karir. Negara ini tidak akan mentolerir orang-orang seperti Samir dan akan cenderung menyisihkan mereka. Pada posisi seperti ini, meskipun Nada sendiri tidak setuju dengan jalan hidup seperti Samir, dia harus belajar menerima keadaan orang lain—menerima perbedaan karena tak satupun manusia diciptakan sama.

Nada yakin apa yang terjadi pada Samir tidak melulu karena kesalahannya memilih jalan. Sebagian besar teori Psikologi bertumpu pada hubungan orang tua-anak di masa pertumbuhan mereka. Luka menyakitkan di masa lalu tentang kepergian ayahnya yang memilih perempuan lain pasti sangat membekas. Perkembangan mentalnya terganggu, lalu terjadilah penyimpangan seksual…

Penyimpangan…

Perkembangan mental…

Psikologi…

Itu dia!

Penyimpangan seksual, termasuk di dalamnya homoseksualitas, termasuk ke dalam masalah psikologi karena berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Bagi Nada, itu berarti bahwa penyimpangan yang terjadi pada Samir bisa diluruskan kembali, meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu-satunya alasan dia menyusul Samir ke Garut, meninggalkan pekerjaannya di Yogyakarta dengan resiko dipecat, adalah untuk membayar kesalahan di masa lalu. Tekad itu tidak akan berubah hanya karena orang yang dituju sudah berubah. Masih ada cara untuk mengembalikan dia; masih ada cara untuk membuatnya kembali seperti semula.

Bis yang ditumpangi Nada memasuki tanjakan curam Nagreg. Tanjakan curam ini terkenal ke seluruh Indonesia, terutama saat musim mudik. Bahkan untuk mengurangi resiko kecelakaan di tanjakan panjang itu, telah dibuat Jalur Lingkar Nagerg yang sudah mulai dioperasikan. Panjang dan curam. Nada tahu jalan yang akan dilaluinya dalam memperbaiki situasi akan seperti tanjakan ini. Bukan hanya menelan banyak korban, bahkan mungkin dirinya sendiri menjadi korban.

Nada mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sudah dua hari ponsel itu dimatikan. Hari ini dia menyalakannya kembali karena harus menghubungi seseorang yang bisa membantunya menyelesaikan masalah ini.

Bagian 11

Rani memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket untuk menutupi bagian tubuhnya yang kedinginan. Kepalanya terasa berat, matanya lengket. Hanya beberapa detik waktu yang dibutuhkan sebelum segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi tidak berarti. Kebisingan perlahan-lahan hilang. Cahaya memudar berganti kegelapan total. Tidak ada lagi udara dingin yang menyakiti kulitnya. Hanya kedamaian yang terasa.

Sampai terusik oleh denting bel.

Rani terlonjak kaget. Kesadarannya kembali waspada. Tubuhnya yang mulai melemah kembali pada posisi siaga penuh. Kegelapan yang menyelimuti berganti cahaya terang. Kebisingan yang hilang menyerbu kembali. Perlahan-lahan Rani membuka matanya.

Seseorang mengumumkan melalui pengeras suara bahwa kereta api Malabar akan segera memasuki Stasiun Kebumen. Akhirnya datang juga, batin Rani. Dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke jalur satu agar terlihat oleh Nada. Siang tadi dia mendapat telepon mendesak dari teman lamanya, Ajeng Qotrunnada Sofia. Perempuan yang bekerja sebagai sekretaris redaksi itu memaksa dijemput di Stasiun Kebumen karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tidak biasanya Rani keluar dari rumah selewat pukul 9 malam. Malam ini, demi seorang sahabat, dia rela kedinginan di stasiun sampai pukul setengah sebelas malam.

Cahaya terang dari lampu sorot kereta mulai terlihat. Gemuruh di rel semakin terdengar. Beberapa penyedia jasa angkutan yang masih bertahan di stasiun menyerbu masuk untuk menyambut siapa pun penumpang yang turun. Kereta semakin dekat, kecepatannya semakin menurun. Rani bisa merasakan getaran di lantai dan hembusan angin di udara saat gerbong-gerbong itu melintas. Kereta berhenti total.

Pintu kereta terbuka. Beberapa orang yang turun dari gerbong langsung disambut para penyedia jasa angkutan. Hanya sedikit orang yang turun di stasiun ini, dari sedikit orang itu Rani menemukan teman lamanya. Perempuan itu menolak tawaran para penyedia jasa angkutan, dan malah menghampiri Rani.

Nada mengulurkan tangan, mencium pipi kanan dan kiri Rani. Dia memeluk Rani sejenak. Setelah merasa puas, dia melepaskan pelukannya. “Kau terlihat lelah.”

“Aku merelakan diriku kedinginan di stasiun pada pukul setengah sebelas malam hanya untuk menjemputmu. Aku tidak bisa mengabaikan teman yang menelpon dengan cara mengatakan ada sesuatu mendesak yang harus diceritakan, dan membutuhkan bantuanku.” Rani terdiam. Dia menatap Nada. Seketika itu juga dia tidak lagi merasakan kantuk dan dingin yang menyerangnya. “Kau juga kelelahan, Sayang. Sebaiknya kita bergegas pulang. Tunda dulu urusan pentingmu itu.”

“Sayangnya urusanku tidak bisa menunggu.”

“Memangnya kau mau membicarakan masalah penting itu di sini?”

Nada menggeleng.

“Kalau begitu ikut aku tanpa harus mengeluarkan komentar.”

Dua puluh menit kemudian mereka duduk di dalam kamar Rani ditemani susu panas dan satu toples biskuit. Nada sudah membersihkan dirinya, mengganti baju dengan baju milik Rani karena dia tidak membawa banyak persediaan pakaian ganti. Orang-orang di rumah Rani sudah terlelap sehingga sedikit kemungkinan seseorang menguping pembicaraan penting mereka.

“Kau berkeras memintaku menemuimu. Sejak kau lulus lebih dulu dari Fakultas Ilmu Budaya, kau bahkan tidak pernah menemuiku. Sekarang mendadak datang sambil membawa kabar yang tidak enak didengar. Sepertinya masalah serius?”

Nada tersipu malu mendengar pernyataan sabahatnya. Memang, dia dan Rani satu kampus beda fakultas, dan Nada lulus lebih cepat dari Rani. Sementara Rani masih mengerjakan tugas akhir, Nada sudah sibuk bekerja. Keduanya hampir tidak punya waktu, bahkan saat Rani resmi menerima gelar sebagai psikolog, Nada tidak datang untuk memberi selamat.

“Ini sangat serius. Jujur saja hanya kau orang yang terpikir bisa membantuku.”

“Kenapa berpikir aku bisa membantumu?”

“Pertanyaan bodoh. Tentu saja karena kau temanku. Dan, bidang yang kau tekuni bisa membantuku memecahkan masalah serius ini.”

“Ceritakanlah. Kita lihat apakah aku bisa berbuat sesuatu untuk membantumu.”

“Aku rasa kau masih ingat tentang Samir.”

“Tentu saja. Aku tidak akan lupa orang yang selalu menitipkan cerpen padaku agar diteruskan padamu. Memiliki kesulitan berkomunikasi lisan tapi berbakat dalam dunia menulis.”

“Aku baru saja bertemu dengannya.”

“Apa?” Rani menggeleng tidak percaya. “Anak itu memang populer menjelang akhir masa sekolah, tapi tetap saja tidak banyak orang yang mengenalnya secara pribadi. Tidak ada yang tahu di mana dia berada.”

“Kau pikir aku berbohong?” tantang Nada sambil memasang tampang cemberut.

“Bukan begitu. Aku hanya terkejut kau bisa menemukan dia.”

“Bukan aku yang menemukan dia, tapi tulisannya yang menemukan aku.”

Rani tertawa. “Bahasamu seperti seorang penyair saja.” Dia mengangkat tangan seperti orang yang berusaha menjangkau langit. Suaranya dibuat seperti sedang pembaca puisi romantis, mengulangi apa yang baru saja dikatakan Nada. “Bukan aku yang menemukan dia, tapi tulisannya yang menemukan aku.”

Nada meraih salah satu tangan Rani kemudian menariknya sampai rani tersentak. “Kau ingin mendengarkan ceritaku atau ingin meledekku?”

“Aku mendengarkan ceritamu,” sahut Rani dalam sisa tawanya.

“Kalau begitu berhentilah tertawa,” pinta Nada. Dia melepaskan tangan Rani. “Dia mengirimkan naskah ke kantor penerbit di mana aku bekerja. Awalnya akau ragu itu dia, tapi biodata yang disertakan dalam naskah menunjukkan kesamaan dengan orang yang pernah aku kenal. Aku ingin menemuinya agar bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kau sendiri tahu bagaimana perasaanku sebenarnya pada dia. Berhubung aku sedang bertengkar dengan atasanku, aku memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu kantor.”

“Bodoh. Kau bisa dipecat.”

“Aku bisa mencari kerja di tempat lain.”

“Percaya diri sekali.”

“Kembali ke Samir,” sela Nada. “Aku menyusulnya berdasarkan alamat pengirim yang tertera pada amplop. Mengejutkan sekali melihat siswa pendiam itu mengenakan pakaian rapi di tengah-tengah ruang para pejuang garda depan pendidikan.”

“Memangnya apa pekerjaan dia?”

“Guru. Bisa kau bayangkan?”

Rani menggeleng, lebih karena terkejut daripada menjawab pertanyaan Nada. “Aku kira tadi kau mengatakan tulisannya menemukanku. Bukankah itu artinya dia seorang penulis?”

“Tentu saja dia menjalani keduanya: menjadi guru yang pandai menulis.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

Nada mendesah panjang. Terlihat jelas bahwa dia enggan membahas hal itu. Tapi justru di sanalah poin penting yang harus disampaikan kepada Rani agar Rani bisa membantunya. Dia berusaha menguatkan hatinya memulai cerita menyayat hati itu. Dia harus sangat kuat untuk bisa mengubah keadaan yang telah bergulir seperti bola salju ini.

“Dia baik-baik saja. Sikapnya sedikit berbeda, lebih lugas. Tugas sebagai guru pasti telah mempengaruhinya untuk bisa berkomunikasi dengan lancar agar bisa diterima murid-muridnya. Yang mengejutkan, dia masih hidup menyendiri tanpa pasangan.”

“Bukankah itu bagus untukmu? Kau menyusul dia ke sana untuk menuntaskan apa yang tidak tuntas di masa lalu, mengorbankan pekerjaanmu sendiri di Yogyakarta.”

Nada menggeleng. “Tidak bagus jika kau tahu alasan dia masih hidup melajang.”

Jawaban Nada memancing rasa penasaran Rani. Laki-laki itu pernah muncul sebagai pecundang dalam kehidupan sahabatnya, menarik hati sahabatnya, meskipun kemudian tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagai pasangan muda di masa SMA. Sudah sembilan tahun berlalu, laki-laki itu masih melajang. Jika bukan karena setia menunggu Nada, alasan apa yang membuatnya bertahan melajang?

“Alasan itu pula lah yang membawaku kembali ke Kebumen untuk meminta bantuan, mengabaikan perintah atasan yang menyuruhku untuk segera kembali ke Yogyakarta. Kau tahu? Rasanya sudah lama aku tidak berada di sini berbincang berdua denganmu tentang cinta.”

“Tahan dulu pembicaraan nostalgianya. Kau harus mengatakan padaku alasan Samir masih melajang, alasan kenapa kau mengabaikan perintah atasanmu pulang ke Yogyakarta dan malah pergi ke Kebumen?”

Nada menatap mata temannya. Dia membisu selama beberapa detik, menggigit bibir, kemudian menggelengkan kepala. Kedua tangannya menutupi wajah yang ditekuk. Dia bisa merasakan sentuhan tangan Rani di pundaknya, mendorong dia untuk kembali duduk tegak. Rani memberi isyarat agar dia memeberi tahu alasan Samir masih melajang.

“Dia seorang gay.”
Rani menutup mulutnya yang menganga dengan tangan. Matanya tidak berkedip menatap teman lamanya itu. Dia menahan diri untuk beraksi secara berlebihan. Apa yang dikatakan Nada harus dicerna agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dia mengulang berkali-kali kalimat tadi dalam hatinya, berharap menemukan kesalahan. “Dia seorang gay.”

Nada menengadah seperti orang yang sedang membiarkan wajahnya tersapu air hujan. “Sulit untuk menerimanya, tapi itulah yang dia katakan.”

“Dia seorang gay,” Rani kembali mengulangi. Dia pasti shock dan berusaha menepis berita itu.

“Karena itulah aku menemuimu. Kau seorang psikolog. Kau lebih memahami situasi seperti ini dibandingkan aku.” Nada menggoyangkan tubuh Rani yang masih tertegun. “Aku mohon tolong dia. Aku tahu ada jalan keluar untuk membantunya kembali menjadi orang normal.”

“Kau keliru,” kata Rani. “Melakukan terapi bukanlah tugas psikolog, itu tugas psikiater. Aku rasa aku tidak bisa membantumu.”

“Aku mohon, Ran,” Nada merengek. “Dulu aku mencintainya, tapi tidak bisa memberi dia kebahagiaan yang dia harapkan. Sekarang aku bersedia, tapi dia mengalami trauma berat yang membuatnya menjadi pibadi berbeda. Paling tidak pergilah denganku untuk menemui dia dan cari tahu separah apa situasinya. Sisanya serahkan padaku.”

“Kau gila?”

“Aku frustasi—mungkin juga gila. Tapi aku yakin dia masih bisa berubah.”

“Bukan itu,” tukas Rani. “Mengajakku menemui Samir adalah ide gila. Aku punya pekerjaan di sini. Tidak mungkin aku pergi…”

“Demi seorang sahabat,” potong Nada.

Rani memejamkan mata. Permintaan tidak masuk akal dari sahabatnya membuat dia harus mengambil keputusan sulit. Demi sahabat. Demi cinta seorang sahabat terhadap orang yang dicintainya.

Cinta, cinta, cinta.

Bisakah kita menghentikan omong kosong tentang cinta?

“Kau sahabatku,” kata Rani saat membuka mata. “Dia juga temanku. Aku setuju untuk pergi.”

Nada bersorak sambil memeluk Rani erat-erat. Rani berusaha melepaskan diri dari pelukan Nada yang membuatnya merasa sesak.

“Kau tidak boleh senang dulu. Kalau aku dipecat dari pekerjaanku, kau harus menyediakan dana untukku sampai aku menemukan pekerjaan.”

[***]

Setelah Nada tertidur pulas, Rani mengeluarkan kembali beberapa literatur yang dia miliki mengenai perilaku-perilaku menyimpang dari lemari penyimpanan di kamarnya. Dia menemukan beberapa buku, membawanya ke tempat tidur. Dia duduk di samping tubuh Nada yang terbaring. Saat itu dia menatap wajah kelelahan Nada, sahabatnya itu pergi jauh ke Garut menyusul orang yang pernah mencintainya, untuk kemudian sakit hati karena orang itu mengalami penyimpangan. Terlanjur pergi dari pekerjaannya di Yogyakarta, perempuan itu malah mampir di Kebumen, tempat asalnya yang sudah ditinggalkan selama lima tahun, untuk membujuk dia ikut ke Garut menemui Samir.

Paling tidak pergilah denganku untuk menemui dia dan cari tahu separah apa situasinya.

Rani tersenyum pahit mengingat kembali kalimat itu. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu mencari tahu—selalu ingin tahu. Meskipun permintaan Nada hanya sebatas menganalisis situasi, Rani merasa dia tidak bisa membiarkan kasus ini berlalu begitu saja dari hadapannya. Lima tahun kuliah di jurusan Psikologi sudah cukup memberinya arahan untuk selalu mempertajam naluri keingintahuan. Meskipun kapasitasnya sebagai psikolog hanya terbatas pada serangkaian tes kejiwaan, dia tidak ingin berhenti sampai di sana berkaitan dengan Samir. Dia tahu sahabatnya yang sedang terlelap tidur mencintai laki-laki itu dari sisi yang tidak biasa: laki-laki pendiam yang menyimpan ketulusan. Karena itu sang sekretaris memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk menemui sang pujaan hati.
Karena telah bersedia menolong, Rani memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Bekerja tidak boleh setengah-setengah, karena cara kerja seperti itu tidak akan pernah memberitahu kita seberapa tanggung kita telah berubah. Itu benar. Rani merasa dirinya tertantang untuk menguji sebarapa jauh batas kemampuannya. Setelah lulus kuliah dia hanya menghadapi rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja. Dia butuh tantangan seperi yang sering dia dapatkan dulu dalam diskusi ilmiah di kelas. Dengan begitu dia merengkuh dua pulau dalam satu kali dayung.

Bahkan menjelang pagi, dia masih terjaga dengan tumpukan buku di sampingnya.

Demi sahabat, demi cinta.

Cinta lagi, cinta lagi.

Bagian 12

Ruangan kepala sekolah sudah diset untuk keperluan mendadak. Tiga meja yang biasa digunakan di kelas diletakan memanjang, saling menyambung. Enam kursi tersedia di balik ketiga meja itu. Satu meter di depan meja itu disediakan satu kursi. Ada dua kursi lagi, sejajar dengan kursi tadi, tapi berada di samping. Akan ada rapat tertutup yang melibatkan beberapa orang.

Kabar miring itu sudah tidak terbendung lagi di hari kedua. Penyebarannya sudah menyentuh para pegawai teras. Kepala sekolah segera mengambil tindakan—bukan keputusan. Dia harus menetralisir keadaan sebelum keadaan kacau di dalam sampai ke luar sekolah. Berdasarkan informasi yang diberikan Sari Nuryani kemarin siang sebelum dia pulang, bapak kepala sekolah memutuskan untuk menggelar rapat darurat dengan agenda mendengar kesaksian dan klarifikasi dari pihak yang bersangkutan.

Sri Nuryani, dengan ketajaman pikiran dan kecermatannya dalam memilah informasi, berhasil menemukan sumber pertama informasi ini. Dia merenung di ruang Bimbingan dan Konseling selama beberapa menit untuk mendefinisikan masalah yang sedang beredar di kalangan putih abu. Definisi itu dibagi ke dalam beberapa kata kunci. Bukannya mencari siapa yang pertama menyebarkan di kalangan siswa, analisis Sri lebih tertuju kepada siapa orang yang bisa dikonfirmasi mengenai Samir. Satu-satunya orang yang cukup mengenal Samir adalah Amin. Sri berniat menemui Amin untuk meminta konfirmasi ketika sebuah gagasan terlintas dalam benaknya. Berita tentang Samir sangatlah vital dan bersifat pribadi. Siapa lagi yang bisa mengatakan hal pribadi tentang Samir selain orang yang hidup dengannya?

Binggo!

Niat hati mencari telur, ayam penghasil telur yang didapat.

Hot news itu sampai ke telinga Samir tadi pagi ketika dia tiba di sekolah. Nita mendatanginya di ruang guru dengan wajah tertekuk. Sapaan Samir tidak dijawab. Dia hanya menyodorkan secarik kertas yang dilipat rapi kemudian pergi tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Samir tertegun. Penasaran dengan isi kertas itu, dia membukanya.

For God’s sake!

Samir tidak mengedipkan mata demi membaca tulisan di dalam kertas itu. Terdiri dari beberapa kalimat yang menunjukkan kekecewaan, atau mungkin permintaan klarifikasi. Kalimat terkakhir membuat Samir mengerti kenapa muridnya itu membisu, kenapa muridnya tidak mau bicara dan malah memberikan selembar kertas berisi tulisan tangannya.

Saya tidak percaya Bapak seorang gay.

Kertas di tangan Samir bergetar. Tatapannya tepaku ke arah kertas itu, tapi itu hanya berupa tatapan kosong. Pikirannya berlari meninggalkan tubuhnya, pergi jauh ke sebuah rumah kecil di desa. Di sana rahasia itu terungkap beberapa malam yang lalu. Di sana semua berawal. Tapi tidak mungkin bisa bocor sampai ke sekolah karena itu hanya percakapan dua orang saja!

Sekolah…

Dua orang di dalam rumah…

Tetangga…

Amin Sudrajat…

Samir membiarkan kertas itu jatuh ke meja sementara dirinya merebahkan tubuh di sandaran kursi. Desah napasnya terdengar keras. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, menggerakan kedua tangannya ke atas kepala. Berkali-kali dia mengumpat dalam hati. Dia menggeleng-gelengkan kepala untuk menepis kegelisahan yang mulai menjalar di dalam tubuhnya. Dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Beberapa guru yang sudah datang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Histeria itu belum sepenuhnya hilang ketika Sri Nuryani muncul dari balik pintu. Riasan yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang dialami Sri. Langkahnya berat, terdengar dari hentakan hak sepatu membentur lantai. Dia berhenti di meja Samir, kemudian bicara dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Pertemuan penting di ruang kepala sekolah setelah jam pelajaran usai. Aku harap kau punya argumentasi kuat untuk membela dirimu.”

Samir mendongak. Sri Nuryani langsung meninggalkannya tanpa memberi dia kesempatan untuk mengatakan apapun.

Terjadilah.

[***]

Kepala Sekolah duduk di kursi paling tengah, didampingi Ketua Komite Sekolah yang sengaja diminta hadir untuk menyampaikan pandangannya, dua staff Bimbingan dan Konseling, Kepala TU dan sekretarisnya. Si tertuduh duduk di satu kursi di depan keenam orang itu. Dari sekian banyak pikiran yang memenuhi kepalanya, yang paling dia pikirkan adalah kehadiran informan pertama di ruangan itu. Dia yakin prang-orang penting di hadapannya harus menghadirkan orang itu sebagai saksi kunci. Kalau bukan Amin, mungkin Nurjanah. Siapapun di antar keduanya yang hadir, dia sudah mempersiapkan benteng kokoh untuk melindungi dirinya dari serangan itu.

Kepala sekolah yang pertama kali membuka suara. “Sangat disayangkan terjadi kericuhan yang tidak diinginkan di sekolah kita tercinta ini. Selalu ada hal tak terduga dalam hidup, dan kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Aku mengakui dedikasimu di sekolah ini, pengabdianmu untuk murid-muridmu, tapi aku tidak bisa menutup mata dan telinga mengenai keadaan di sekolah yang aku pimpin. Aku belajar untuk tidak mudah percaya pada apa yang nampak di permukaan, begitu juga kau—aku yakin akan hal itu. Karena itu kehadiranmu di sini, pembicaraan kita di sini, akan sangat menentukan apakah tegangan permukaan menunjukkan adanya gejolak di permukaan paling dasar.”

Sri Nuryani berbicara sebagai staff Bimbingan dan Konseling. “Aku tidak bisa mengabaikan informasi yang mengalir begitu cepat di kalangan siswa. Tapi bukan caranya yang menjadi permasalahkan—isinya. Aku khawatir sebagian kalangan menyimpulkan dengan cara yang salah—menghasilkan kesimpulan yang salah. Sebelum itu terjadi aku mengusulkan untuk menghadirkanmu di sini, beserta beberapa orang yang rasanya patut untuk hadir.”

“Saya mengerti kenapa saya duduk di sini sekarang,” ungkap Samir. Suaranya pelan tapi mantap. Dia menatap Sri Nuryani. “Saya terkejut pagi ini murid kesayangan saya datang memberikan selembar kertas berisi tulisan yang membuat saya hampir menangis. Dia tidak ingin mempercayai apa yang dia dengar, dan saya bersyukur ada orang yang masih mau percaya pada saya sebelum saya mengucapkan apapun.” Dia berhenti sejenak, kemudian menatap kepala sekolah. “Saya ucapkan terima kasih karena Anda bersedia mendengar penjelasan saya tanpa menjatuhkan asumsi tak berdasar. Sebagai tanda hormat saya atas kebaikan Anda, saya bersedia bekerja sama agar semua ini menjadi kembali seperti semula.”

“Baiklah. Langsung ke pokok permasalahan,” Kepala Sekolah kembali bicara. “Ada berita mengejutkan yang membuat sekolah bergejolak. Aku sendiri gerah mendengar berita itu. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, demikian peribahasa mengatakan. Satu titik saja. Satu titik itu sudah jatuh namun kita bisa mengeruknya secepat mungkin sebelum melebur.”

“Kami di sini memerlukan pengakuanmu. Pengakuan jujur dan semua selesai,” Sri menambahkan.

“Saya tidak bisa mengaku jika tidak tahu apa yang dituduhkan pada saya.”
Ketua Komite sekolah tertawa mendengar jawaban itu. Wajah tuanya terlihat lebih cerah ketika tertawa. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk tangan kanannya. “Jawaban yang cerdas, anak muda. Boleh aku tahu dari mana kau berasal?”

“Saya lahir dan besar di pelosok Kebumen, Pak. Mendapat gelar sarjana dari UIN Malang.”

“Terima kasih,” sahut ketua Komite. “Dan sekarang kita harus mendiskusikan apa yang sedang beredar mengenai dirimu. Jujur saja, anak muda, aku tidak melihat sedikit pun wajah culas dalam dirimu, tapi aku tahu penampilan bisa menipu. Bantahlah tuduhanku: kau seorang gay?”

Hening.

Samir memberanikan diri menatap ketua Komite Sekolah berusia awal enam puluhan itu. “Saya tidak akan membantah secepat itu. Tapi, ijinkan saya bertanya, dari mana gerangan Anda mendapat informasi itu?”

“Ah, anak muda. Kau membuatku berpikir keras.” Dia memberi isyarat kepada Sri Nuryani untuk menjawab.

Sri Nuryani mengangguk pelan. Tatapannya menghujam kepada tertuduh. “Kemarin putriku datang ke ruang BK dalam keadaan menangis. Mengejutkan! Dia menangis karena mendengar seorang guru yang disayanginya digosipkan mempunyai kelainan seksual. Dia tidak tahu dari mana berita itu berasal. Aku hanya punya satu orang untuk dikonfirmasi dan dia mengakuinya.”

Samir memberi anggukan pelan sebagai tanda agar seniornya itu melanjutkan.
“Aku menginterogasi petugas kebersihan itu. Dia mengaku bergosip di pagi hari di kantin sekolah bersama dua orang sesama petugas kebersihan. Saat itu memang terlihat beberapa siswa berkeliaran di sekitar kantin. Dia tidak tahu kalau siswa-siswa itu menguping.”

“Kau harus menanggapinya,” sela ketua Komite Sekolah.

“Saya sedang berpikir, Pak. Beri saya waktu.” Dia memejamkan mata. “Ini situasi sulit bagi saya. Meski versi saya agak berbeda. Bukan masalah apa isi pesannya, tapi bagaimana pihak pertama itu mendapat informasinya. Di sini saya melihat ada batasan tertentu yang telah dilanggar. Saya merasa dirugikan. Lebih dari itu, dia tidak mendiskusikan dengan saya terlebih dahulu dan malah membuat sekolah geger.”

“Kami membutuhkan jawabanmu,” Kepala Sekolah mengingatkan. “Ya atau tidak?”
Samir menggigit bibirnya. “Bagaimana jika saya menolak menjawab?”

“Itu hakmu,” sela Komite. “Tapi itu artinya kau membiarkan dirimu berada di posisi abu-abu yang jelas merugikan. Sebagian besar siswa, semua siswa maksudku, sudah mendengar berita itu dalam waktu kurang dari empat jam. Hari ini giliran ruang guru tidak berhenti bergemuruh. Besok?” ketua Komite mengangkat bahu.

“Mereka akan mendesakmu, bahkan mungkin melakukan tindakan provokatif. Siswa jaman sekarang sudah punya nyali untuk melakukannya,” kata Sri Nuryani. “Katakan ya, maka kami akan mengurus segala sesuatunya untukmu, atau katakan tidak dan kita akan meredakan ketegangan di kalangan bawah.”

“Apakah itu artinya saya akan didepak jika mengatakan ya?”

Ketua Komite dan Kepala Sekolah bertukar pandang tanpa mengeluarkan suara. Komite memberi isyarat kepada Kepala Sekolah untuk menjawab. Dia menatap tertuduh, berbicara setenang mungkin. “Posisimu berada di bawah tanggungan negara, anak muda. Kau punya serangkaian digit angka, yang dengan angka itu negara mengenalmu. Dalam hal ini, selain keputusan dari birokrat kalangan atas atau pengajuan dari dirimu sendiri yang dietujui oleh mereka, kau tidak akan ke mana-mana. Aku tidak bisa menjamin, tapi secara administratif begitulah aturannya.”

“Tolonglah, Pak Guru. Kau sudah bilang bahwa kau bersedia bekerja sama.”

“Ini perkara besar, Pak. Saya tidak bisa menangani ini sendiri dan saya perlu waktu.” Suara Samir bergetar, wajahnya menunjukkan kebingungan dan kegelisahan. “Saya tersudut, dihantam oleh dua pukulan telak: satu menghancurkan citra saya, satu merusak kepercayaan saya sebagai tetangga dan rekan kerja. Yang terpikir dalam kepala saya justru informan itu. Kenapa dia bisa mendapatkannya dan untuk apa dia menyebarkannya sebelum dia mengkonfirmasi kepada saya.” Samir melirik Sri Nuryani. “Ada celah yang bisa membuat saya bebas dari tuduhan. Motif orang itu.”

Staff BK itu melirik atasannya untuk meminta persetujuan. Kepala sekolah mengangguk pelan. Sri branjak dari kursinya, melangkah menuju pintu. Beberapa detik ruangan hening sebelum akhirnya Sri datang bersama bersama seorang perempuan muda yang dikenal Samir.

“Nurjanah,” bisiknya pelan, tertegun melihat putri petugas kebersihan ada di sini. Nurjanah duduk di kursi yang telah disediakan.

“Kalau yang kau maksud meminta kehadiran saksi, kamu sudah mempersiapkannya.”
Nurjanah menundukkan kepala. Jelas sekali dia tidak berani menatap langsung ke arah Samir. Cara duduknya memperlihatkan kegelisahan yang sedang bergejolak. Tangannya bergetar; dia memainkan jari-jarinya agar getaran itu tidak terlihat. Di sampingnya, Sri Nuryani berdiri sambil memegang pundaknya.

“Kami sengaja menjemputnya,” ungkap staff BK itu. Kedua tangannya menyilang di dada. Posisi siap tempur.

Samir mempertahankan posisinya sebisa mungkin. Hatinya bergejolak, menuntur dirinya menembakkan artileri berat ke arah Nurjanah. Tidak, dia tidak boleh melakukan itu sebelum perempuan lugu itu memberinya penjelasan.

“Certikanlah.”

Nurjanah memulai cerita sambil tetap menundukkan kepala. Awal cerita dimulai dengan suara pelan, terputus-putus. Sri Nuryani terpaksa mengulanginya dengan suara yang lebih keras agar semua orang bisa mendengar. Beberapa orang yang hadir manggut-manggut tanpa memberi komentar. Samir sendiri menatap tajam ke arah Nurjanah, berusaha sebaik mungkin mendengar cerita itu untuk menemukan celah untuk membongkar pertahanan Nurjanah.

Cerita selesai. Sri Nuryani maju menghalangi Nurjanah dari pandangan Samir. “Pertanyaan pertama. Siapa perempuan yang diceritakan Nurjanah? Dia menginap di rumahmu padahal kalian belum memiliki ikatan sah.”

“Dia teman SMA. Sengaja datang dari Yogyakarta untuk membicarakan sesuatu. Dia tidak punya siapa-siapa di sini, jadi saya meminta dia menginap di rumah saya dengan ditemani Nurjanah agar tidak terjadi salah paham.”

“Jawabanmu harus lebih spesifik lagi. Membicarakan sesuatu terlalu umum untuk orang yang datang sejauh itu.”

“Bukan bermaksud mengelak, tapi pembicaraan ini benar-benar pribadi.”

Mata Sri Nuryani membesar seperti mengeluarkan cahaya. “Ceritakan!” suara Sri tegas.

Samir mengangkat bahu seraya memutar bola matanya. “Baiklah… baiklah… kami berteman sejak SMA. Dia datang padaku untuk memberikan apa yang tidak bisa dia berikan padaku dulu…”

“Artinya?” Sri memotong.

Samir mendesah, menundukkan kepala. Interogator senior itu mulai membuatnya jengkel. Dia menengadah. “Dulu dia menolak cinta saya. Sekarang dia berubah pikiran dan bersedia menerima cinta saya.”

“Dan kau menolaknya?”

Samir membuang muka, enggan menjawab pertanyaan itu.

“Alasanmu menolak dia karena kau memiliki penyimpangan seksual?”

Samir tidak bergeming.

“Ya atau tidak, anak muda!” suara Kepala Sekolah menggelegar.

Samir memejamkan mata, berusaha mendinginkan kepalanya sebisa mungkin sebelum memutuskan apakah dia harus menjawab atau bertahan membisu. Sudah cukup cinta masa lalunya menderita karena pengakuan itu, murid kesayangannya terluka karena rahasia mengerikan itu. Dia tidak ingin melukai orang lebih banyak lagi. Dia teringat pada pernyataan Sri Nuryani beberapa saat yang lalu. Jika dia mengaku semuanya akan diurus oleh mereka. Meski Kepala Sekolah mengatakan keputusan berada di tangan birokrat, dia yakin dirinya akan didepak. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu. Ajeng Qotrunnada Sofia. Nada benar, Tuhan lah yang mengirimkan dia kembali pada Samir, memicu serangkaian kejadian tak teralakan di sini. Artinya, Tuhan memang mempunyai rencana untuk mengungkap rahasia ini. Samir tahu dia tidak bisa melawn arus; dia harus mengikuti skenario agung Tuhan seperti yang pernah dikatakan oleh Seneca. Apapun jawabannya, sekarang sudah tidak berpengaruh. Citra dirinya sudah hancur. Tidak masalah jika dia harus didepak. Tidak masalah. Hidup tidak akan berhenti hanya karena kehilangan satu pekerjaan.
Dia menegakkan kepala, menatap atasan yang menanti jawabannya. “Ya. Saya menolak cinta teman saya dengan alasan yang disebutkan Ibu Sri.”

Guntur menggelegar di siang bolong. Suaranya yang memekakkan telinga memporak-porandakkan seisi ruangan. Siapapun yang ada di dalam ruangan itu berharap bisa menutup telinga untuk menangkal pengakuan menyakitkan itu. Mereka ingin mendengar jawaban sejak tadi, bahkan memaksa, tapi begitu jawab itu keluar sikap mereka seolah-olah tidak mengharapkan jawaban itu muncul. Kontardiksi yang menarik. Samir menyeringai puas. Untuk kesekian kalinya dia meledakkan gendang telinga orang lain.

Apa peduliku dengan konsekuensi?! Berita itu sudah terlanjur menyebar. Aku hanya bisa mempercepat penyebarannya.

“Satu pertanyaan,” Samir memecah keheningan. “Apa alasan yang bersangkutan menyebarkan cerita yang dia dengar dengan cara tidak sopan itu kepada orang lain? Mohon jawab dengan jujur. Saya yakin jawaban itu akan membantu saya menunjukkan pada Anda semua bahwa saya duduk di sini sebagai korban, bukan sebagai tertuduh.”

[***]

Setelah semua orang meninggalkan kelas, Nita menghampiri Ibnan di sudut ruangan. tidak ada orang di sana, di luar pun sudah sepi. Nita melangkah pelan, ragu-ragu dengan keputusannya menghampiri siswa pendiam itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika Ibnan menyadari kedatangn Nita dan menatapnya. Nita tesentak. Langkahnya terhenti. Dia kebingungan. Tatapan Ibnan entah kenapa membuat dirinya gugup.

“Seharusnya kau pulang dengan teman-temanmu yang lain.”

“Itu… aku… mmm…” tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Nita selesai sebagai kalimat.

“Kau bisa mendapat masalah jika ibumu tahu kau berdua denganku di dalam kelas.”
Nita menggelengkan kepalanya. “Ibuku sedang rapat penting,” sahutnya, kali ini lebih lancar.

“Siswa lain bisa memergoki dan melaporkanmu pada ibumu.”
Nita menggigit jempol tangan kananya sambil berusaha menghindari kontak mata dengan Ibnan.

“Kalau kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi.” Ibnan mengambil tas di atas meja lalu bangkit.

“Tidak, tunggu!” sergah Nita.

Ibnan tertegun. “Apa?”

“Itu… anu… aku…” Nita kembali gagap.

“Hei, bisakah kau bicara dengan jelas,” tegur Ibnan.

Nita memejamkan matanya, mengumpulkan keberanian. Dia menelan ludah. “Terima kasih,” katanya. “Terima kasih sudah memberiku sapu tangan.”

“Aku yakin kau tidak menggunakannya. Mana mungkin kau mau memakai barang pemberian dari siswa rendahan sepertiku.”

Nita menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu. Kau memberiku sapu tangan, dan aku mengartikan hal itu secara simbolik. Kau tidak ingin aku menangis, kan?”

Ibnan memandang jauh ke luar jendela. “Percaya diri sekali.”

“Yang penting aku sudah berterima kasih,” kata Nita. Dia melepaskan tasnya, mengeluarkan sapu tangan itu, menyodorkannya ke arah Ibnan. “Terima kasih.”

Ibnan melirik sapu tangan itu, kemudian menatap Nita. “Bawalah. Aku pikir kau masih membutuhkannya.”

Perlahan-lahan Nita menarik tangannya. “Kau marah padaku?”

“Tidak. Untuk apa?”

“Karena aku putri seorang guru sementara kau bukan.”

Ibnan memaksakan diri tersenyum. “Entahlah. Aku tidak yakin.”

“Tapi itu bukan salahku,” Nita membela diri. “Aku tidak minta dilahirkan sebagai putri dari seorang guru senior yang dihormati di sekolah ini.”

“Aku tahu. Tapi bukan itu alasan utama aku marah padamu.”

“Lalu apa? Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan padamu.”

“Tidak,” tepis Ibnan. “Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak bersalah. Akulah yang bersalah karena menyukaimu, karena jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya aku cintai.”

Mata Nita membelalak, hampir meloncat keluar dari tempatnya. Dia yakin telinganya masih berfungsi. Dia tidak salah mendengar. Tapi itu tidak mungkin. Siswa pendiam yang itu memang dia perhatikan, tapi itu untuk alasan yang berbeda. Nita ingin berteman dengan Ibnan yang selalu sendiri seolah-olah tak memiliki teman. Nita ingin si corner boy tertawa bersama yang lain, atau paling tidak bersama dirinya. Hari ini, saat dia belum mengutarakan keinginannya, Ibnan lebih dulu mematahkan pertahanannya.

“Sudahlah, lupakan.” Ibnan melangkah. Saat melewati Nita yang masih tertegun, dia berbisik. “Wali kelas kita sedang mendapat masalah. Kau harus memikirkan cara untuk membantunya, jangan memikirkan perkataanku.”

Ibnan berlalu meninggalkan Nita yang mematung tak berdaya di dalam kelas.

Bagian 13

Samir duduk bersila di atas kursi di ruang tengah tempat dia dan Nada pernah berbincang. Keputusan menyakitkan yang membuatnya terjebak di tengah pusaran angin ribut yang meluluhlantahkan apapun di sekitarnya. Tangan kanan Samir memegang gelas setengah isi air putih. Dia mengangkat gelas itu tepat di depan matanya, memperhatikan dengan seksama air putih yang bergoyang di daalamnya.

Benda yang paling lembut bisa menembus benda yang paling kuat.

Air, karena kelembutannya, bisa menembus kerasnya bebatuan, bahkan membelah batu karang sekalipun. Kelebihan lainnya, air bisa mengikuti bentuk tempat di mana dia berada.

Samir menggigit bibir, menahannya agar tidak bergetar. Siang tadi dia berhasil menahan amrahanya, meskipun sebagian besar orang menangkap keliru jawaban yang diberikanya sehingga akan berakibat fatal pada karirnya sebagai seorang pendidik. Konsekuensi dari jawaban itu masih akan berlanjut entah sampai kapan, dan dia harus mempersiapkan antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Dia menurunkan kakinya ke lantai yang dingin seraya meletakkan gelas di meja. Pikirannya terarah ke Nurjanah. Perdebatan tidak seimbang antara dirinya dengan Nurjanah tidak bisa dilanjutkan. Sri Nuryani mendapat perintah dari atasannya untuk melindungi saksi kunci mereka. Nurjanah dibawa keluar saat Samir membutuhkan penjelasan

Penjelasan.

Samir heran kenapa Nada tidak meminta penjelasan panjang lebar padanya seperti orang-orang penting di sekolah. Nada justru jatuh pingsan, mungkin terlalu berat untuk menerima kenyataan itu. Dia memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dengan alasan sederhana tapi masuk akal, meskipun bagi Samir bisa saja itu hanya taktik untuk menghindar darinya. Wajar saja. Siapa juga yang mau berteman dengan seorang laki-laki yang tidak berselera pada perempuan?

Terpikir olehnya untuk menghubungi Nada melalui telepon kantor. Hanya saja ini urusan pribadi. Tidak etis rasanya menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan yang benar-benar pribadi. Keinginan untuk menyusul Nada ke Yogyakarta, seperti yang Nada lakukan untuk menemuinya, terganjal dengan kasus di sekolah. Jika dia pergi di saat situasi bergejolak seperti sekarang, kepergiannya akan dianggap sebagai pelarian dari masalah. Situasinya akan lebih bertambah buruk.

Samir menghela napas. Dia bangkit dari kursi menuju tempat tidurnya untuk merenungkan kembali perjalanan hidupnya selama ini.

[***]

Putra bungsu Amin tiduran di atas tikar, kepalanya berada di pangkuan ibunya. Amir sendiri duduk di samping sang istri, menatap layar kaca yang menampilkna sinetron di televisi swasta yang tidak kunjung selesai meski sudah melewati beratus-ratus episode, cerita terus menerus diperpanjang meski jelas-jelas tidak bermutu. Tapi sebagian besar rumah menonton tayangan seperti itu.

Nurjanah duduk di atas kursi di belakang mereja. Lututnya terlipat, satu tangan memegang remote. Dia tidak memperhatikan dengan seksama cerita di layar. Telinganya seperti teredam oleh sesuatu sampai-sampai suara yang dihasilkan televisi itu tidak terdengar. Ketika sinetron di sela iklan, Amin meminta Nurjanah mengganti saluran, layar tidak kunjung berganti. Amin dan istrinya menoleh untuk mencari tahu. Rupanya anak mereka mematung seperti zombie.

Amin duduk di samping putrinya. Dia merebut remote itu. Gerakan tersebut memicu kembali kesadaran Nurnajah. Dia tersentak kaget, mengusap-usap dadanya.

“Kenapa kau melamun?”

“Ini tentang Samir, Pak.”

“Kau masih memikirkan dia?”

“Bukan itu. Tapi… bagaimana kalau seandainya dia marah pada Nur dan melakukan sesuatu yang buruk?”

Amin bertukar pandang dengan istrinya. “Dia benar, Pak,” kata istrinya. “Bagaimana kalau sampai dia melakukan sesuatu terhadap keluarga kita?”

“Dia tidak akan berani,” tepis Amin. “Siapa dia sampai berani melakukan hal itu? Dia hanya tamu di sini. Kita bahkan menyediakan rumah kontrakan untuknya.”

“Dia terlihat sangat marah tadi siang,” sela Nurjanah. “Sepertinya dia ingin menyerang Nur, tapi dihalangi oleh Ibu Sri.”

“Yang benar?” ibu Nurjanah khawatir

Nurjanah semakin meringkuk di kursi. “Nur melihatnya, Bu.”

“Kita harus bertindak, Pak.”

Amin mengangguk. “Ya. Kita harus bertindak sebelum terjadi sesuatu.”

“Usir saja dia dari rumah itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Bukankah Nur sudah menemukan caranya,” sahut si istri

Mata Amin berbinar. Ide itu tidak terpikir olehnya sejak awal. Dia malah sibuk membicarakan rumor itu di sekolah, sementara di tempat tinggalnya sendiri terlewatkan. Kepala sekoah sudah mendapat jawaban dari Samir, dan ada kemungkinan guru muda itu akan didepak dari sekolah dalam jangka waktu enam bulan. Sebelum itu, Amin bisa lebih dulu mengusirnya. Dia bisa menghasut warga sekitar tentang kebusukan yang disembunyikan Samir yang bisa mencemari kampung mereka. Amin yakin bisa menyulut amarah warga, lebih mudah daripada memprovokasi pihak sekolah karena terhalang birokrasi yang rumit.

[***]

Nita duduk menghadap kakaknya di atas tempat tidur di kamar kakaknya. Dia memeluk guling, menatap kakak perempuannya untuk meminta petunjuk. Usia kakaknya empat tahun lebih tua, artinya punya pengalaman empat tahun lebih banyak daripada Nita—bisa berarti ribuan pengalaman lebih atau mungkin lebih banyak lagi. Paling tidak kakaknya pernah mengalami masa-masa SMA yang bergejolak, penuh lika-liku persabatan dan cinta, atau ketidakpastian dalam pencarian jati diri. Nita ingin memanfaatkan kelebihan pengalaman kakaknya agar dia tidak mengambil langkah keliru.

“Kau ingin berteman dengan dia, sementara dia mengatakan dia menyukaimu?”
Nita mengangguk. “Dia mengatakannya dengan cara yang sedikit menyinggung masalah status Nita sebagai putri dari guru senior sementara dia bukan siapa-siapa.”

“Orang itu memiliki perasaan rendah diri yang kuat,” Anggun berkomentar.

“Dia memang penyendiri,” Nita membenarkan. “Nita dengar dia ditinggalka ayahnya sejak masih kecil. Ayahnya pergi dengan perempuan lain, meninggakan keluarga mereka.”

“Mungkin dia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.”

“Entahlah.”

“Coba pikir,” kata Anggun. “Orang yang seharusnya mendapat kasih sayang dan bimbingan dari ayah, justru ditinggakan dan disia-siakan. Anak kecil dalam situasi itu ketika tumbuh sebagai remaja akan menemukan kenyataan bahwa dirinya tidak berharga untuk dicintai siapapun. Dia akan merujuk pada kejadian masa lalu di mana ayahnya meninggakan dia dan keluarganya demi perempuan lain.”

Nita tertegun mendengar penjelasa itu. “Maksud kakak?”

“Orang itu cenderung menunggu seseorang datang mencintainya ketimbang mengejar orang yang disukainya untuk membuktikan bahwa dia berharga bagi orang lain.”

“Tapi dia yang mengatakan pada Nita kalau dia menyukai Nita.”

“Dia menyangkalnya, bukan? Mengatakan bahwa dia tidaklah pantas menyukaimu, atau alasan semacam itu. Itu artinya dia merasa dirinya tidak berharga. Terlebih dia selalu sendiri di dalam kelas. Situasi itu membuatnya merasa semakin tidak berharga.”

Nita menunduk menatap guling yang dipeluknya. Hatinya miris mendengarkan penjelasan Anggun. Dia mulai merasakan bagaimana penderitaan psikis Ibnan. Kesepian, tidak punya panutan, tidak mendapat perhatian, tidak dihargai. Satu-satunya hiburan bagi corner boy adalah pujian dari beberapa guru tentang peningkatan prestasi belajarnya akhir-akhir ini.

“Paling tidak dia beruntung karena tidak sampai menjerumuskan dirinya ke dalam dunia gelap obat-obatan terlarang. Kalau hanya masalah kepercayaan diri, kau bisa membantu dia lebih mudah ketimbang membantu dia keluar dari kecanduan obat-obatan.”

“Maksud kakak, Nita harus membantu dia?”

Anggun mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut adiknya. “Adik baik, membantu sesama itu perbuatan yang mulia. Kau sendiri yang bilang ingin berteman dengannya.”

“Tapi, kak, Nita tidak tahu apa yang harus Nita lakukan.”

“Kau hanya belum siap.”

“Lalu?”

“Mulai sekarang biasakan dirimu menyapa dia, menemani dia kalau perlu, berbincang hal-hal tidak penting. Ya semacam itulah.” Anggun menerawang untuk mengingat-ingat pelajaran penting yang pernah dia dapat. “Untuk dapat mengubah sikap seseorang, kita harus menanamkan ide itu di benaknya. Dan agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan.”

Nita menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan gagasan itu. “Nanti teman-teman menyangka Nita pacaran dengan dia.”

Anggun terkekeh. “Apa salahnya kalau kau pacaran dengan dia?” Dia memegang pundak adiknya. “Ketika kau bisa memahami dia, saat itulah cinta bisa muncul, meskipun kau tidak pernah jatuh cinta padanya. Perasaan cinta yang tanpa didahului perasaan jatuh cinta ituah yang bisa tumbuh menjadi cinta sejati.”

“Memangnya bisa?”

“Tentu saja, adik kecil. Ayah dan ibu mencintaimu tanpa jauh cinta padamu, mengerti? Dan itulah cinta yang sebenarnya.”

Nita termangu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Cinta tanpa perasaan jatuh cinta. Bagi anak baru gede seperti dia kalimat itu terau tinggi untuk dipahami sampai ke akar-akarnya. Contoh yang diberikan oleh Anggun sedikit membantu untuk memahami logika itu. Seandainya dia memutuskan untuk benar-benar membantu Ibnan, dan kelak dia bisa memahami Ibnan apa adanya, bisa jadi dia akan menemukan cinta seperti yang dikatakan kakaknya.

Orang bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Lalu, bagaimana rasanya cinta tanpa perasaan jatuh cinta?

Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah menjalaninya. Dan Nita sudah mengambil keputusan penting dalam hatinya.

[***]

Di bawah lampu kamar yang buram, Ibnan meneliti ulang persamaan-persamaan yang diperoleh dari analisis gerak menggunakan Hukum II Newton. Setelah tiga kali mengulangi, dia masih keliru mendapatkan hasil akhir. Selalu tidak sesuai dengan jawaban yang sudah disediakan di lembar soal. Dia memutuskan untuk berhenti karena matanya sudah terasa perih.

Ibnan meletakan pensil di atas buku tulisnya, menutup buku itu, menyimpannya di samping tas punggung miliknya. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kapuk yang tidak memakai ranjang. Cat dinding kamarnya sudah memudar, bahkan beberapa bagian sudah mengelupas seperti kulit pohon yang diiris. Dia menatap langit-langit kamar yang tertutup bilik bambu.

Entah bagaimana caranya, bilik bambu itu bisa menayangkan bayangan wajah Nita Fadilah, seorang siswi kelas XI IPA 1 yang juga seorang putri dari guru senior di sekolah. Wajah itu menunduk untuk menghindari pandangan langsung. Terkadang suaranya tidak jelas, terkadang lancar seperti semburan air mancur.

Ibnan berpikir mengenai pernyataannya siang tadi. Dia tahu Nita tumbuh di lingkungan keluarga harmonis yang serba terbuka, di mana komunikasi adalah kunci kebersamaan keluarga. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Nita meneritakan kejadian tadi siang kepada ibunya. Bagaimana kelak dia ketika bertemu dengan Ibu Sri Nuryani di sekolah? Hanya bisa menunduk malu, itu sudah pasti. Kalaupun guru senior itu mempunyai sikap toleran, orang yang tidak memandang pihak lain berdasarkan status, dia yakin Ibu Sri tidak akan mengijinkan putrinya berpacaran dengan alasan usia dan pendidikan. Usia mereka baru enam belas tahun. Apa yang akan dilakukan anak usia enam belas tahun kalau mereka sudah diijinkan pacaran? Mungkin merusak moral dirinya sendiri.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengampun memaafkan kita semua.

Ibnan memaksa dirinya untuk berpikir realistis. Orang berpendidikan seperti itu pasti lebih mementingkan pendidikan bagi anaknya ketimbang membiarkan anaknya berduaan dengan laki-laki yang bahkan tidak tahu siapa dirinya. Padahal kaidah umum orang bijak mengajarkan untuk mengenali diri sendiri sebelum mengenal orang lain. Bisa saja itu berarti seseorang harus bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebelum memikul beban orang lain. Artinya, Ibnan tidak memenuhi kualifikasi untuk memikul tanggung jawab itu.

Sudahlah, dia mendesah. Aku punya prioritas lain.

Dia memejamkan matanya.

[***]

Dani tertegun mendengar pemberitahuan dari orang tua Nada bahwa putri bungsu mereka belum kembali ke Yogyakarta. Yang lebih mencengangkan lagi, dia diberitahu bahwa Nada mampir di Kebumen untuk kemudian kembali lagi ke Garut. Masalah belum terselesaikan, dan Nada tidak akan pulang sebelum masalah itu benar-benar selesai.

Dani pamit pada orang tua Nada, menolak ajakan mereka untuk mampir sebentar sekedar minum teh. Pikirannya sedang kacau, kegiatan seperti itu tidak akan membantu. Dia butuh tempat agar bisa melampiaskan tekanan yang menyerang dirinya. Tiba-tiba saja sesuatu yang berhubungan dengan Nada membuatnya merasa menderita. Kenyataan bahwa sekretaris itu berniat kembali ke Garut untuk menyelesaikan masalah membuktikan bahwa laki-laki itu memang punya sesuatu yang membuat Nada terpesona. Bahkan setelah tahu laki-laki itu gay, Nada tetap menemuinya.

Dani ingin berteriak. Betapa dia menderita memikirkan Nada. Padahal biasanya Nada tak lebih dari sekedar teman bercerita. Situasinya bergerak dengan sangat cepat.

Inilah cinta.

Hanya dalam sekejap, seseorang dibuat gila olehnya.

Dani bertekad. Aku akan membuktikan bahwa aku layak untukmu.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: