Home > Uncategorized > immortal (lanjutan)

immortal (lanjutan)

Bagian 6

Di salah satu sudut ruang guru terdapat meja dan kursi khusus yang disediakan mereka yang mempunyai kepentingan tertentu dengan satu atau dua orang murid. Tempat itu memang terbuka, tidak menyediakan privasi bagian interogasi-interogasi guru terhadap muridnya, atau keluhan-keluhan yang dilontarkan murid kepada gurunya untuk diselesaikan. Samir sudah mempersiapkan kemungkinan itu. Dia memilih waktu setelah pulang sekolah, sekitar 45 menit sampai 60 menit setelah bel pulang berbunyi.
Awalnya Samir ragu Ibnan mau menunggu selama itu untuk menemuinya. Dia berpikir Ibnan lebih memilih untuk pulang daripada menghadapi interogasi wali kelasnya atas perbuatan-perbuatan yang tidak dia lakukan, atau nasihat-nasihat panjang berkaitan dengan nilai-nilai akademis yang tidak menarik perhatiannya. Guru muda itu ragu karena dia tahu muridnya itu tak lain adalah bayangan masa lalunya.
Sepuluh menit berlalu sejak waktu yang ditentukan. Dia memperhatikan arlojinya. Sudah dia duga. Beberapa buku dimasukan ke dalam tas. Keputusan sudah diambil. Muridnya tidak datang. Dia sendiri memilih untuk pulang, merenung di dalam kamarnya untuk memancing pemikiran-pemikiran lain yang akan dia tuangkan ke dalam teks.

Buku terakhir sudah masuk ketika terdengar ketukan di pintu masuk. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Sepenggal kepala menyembul di balik daun pintu, mecari sesuatu, atau mungkin seseorang yang akan ditemuinya.

“Masuk,” kata Samir. Dia bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut tamu mudanya itu—usia anak itu baru 16 tahun. Wajah kaku itu dipenuhi tanya yang tak diungkap, hanya menuruti apa yang akan diberikan padanya. Samir menarik kursi, meminta Ibnan untuk duduk. Dia duduk di kursi satunya lagi, di depan Ibnan. Keduanya kini terpisah meja kecil—meja yang biasa ada di kelas.

“Aku harap tidak mengganggu waktumu,” Samir berbasa basi.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Ibnan Wahdani. Mulutnya masih terkatup sementara kepalanya menggeleng.

“Aku kira kau tidak akan datang.”

Ibnan menatap wali kelasnya. Dia melihat sorot mata gurunya yang penuh harap agar dia bicara. Dia mengalah. “Awalnya memang tidak berniat datang,” ungkap Ibnan pelan. “Aku tidak terbiasa berbicara dengan guru karena tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Bagi mereka aku hanyalah salah satu dari sekian murid bodoh yang beruntung karena bisa sekolah, bahkan beberapa dari mereka mempertanyakan bagaimana mungkin aku bisa berada di kelas IPA.”

Senyum kecil tersungging di bibir Samir.

“Tiba-tiba saja ada seorang guru, kebetulan wali kelasku, mengatakan bahwa dia peduli dan ingin membantu. Jujur saja aku tidak tertarik dengan tawaran itu. Tapi guruku itu berhasil membujukku dengan satu kalimat telak.”

Senyum di wajah Samir bertambah lebar. Jawaban anak ini jujur dan lancar. Lebih dari itu substansinya luar bisa. Ada sesuatu yang tersembunyi dala diri anak ini yang harus dia keluarkan. Sesuatu yang mungkin bisa mengangkat dirinya ke puncak performa.
“Dengan sombongnya dia berkata padaku beberapa hari yang lalu: ‘ketika melihatmu aku seperti melihat diriku di masa lalu. Aku tahu kau memiliki kemampuan yang ingin kau tunjukkan, tapi kau tidak punya kepercayaan diri untuk melakukannya karena tidak ada yang percaya bahwa kau bisa. Aku percaya dan aku akan membuka jalan untukmu.’” Ibnan berhenti sejenak untuk menunggu apakah gurunya akan memberi komentar atau tidak. Rupanya tidak. Dia melanjutkan. “Aku tidak peduli pada masa lalunya, aku peduli pada kepercayaannya.”

“Sepertinya gurumu itu orang yang hebat.”

Ibnan mengangkat bahu. “Anda tidak perlu membangga-banggakan diri sendiri seperti itu.” Dia memandang jauh melalui jendela yang terbuka. “Ya, Pak. Aku akui Anda memang hebat.”

“Terima kasih.”

Setelah itu keheningan melanda ruangan selama beberapa detik. Periode kebisuan yang biasa terjadi untuk membiarkan pikiran menemukan apa yang harus dikatakan satu kepada yang lainnya. Sementara itu, melalui celah-celah jendal, terdengar suara berisik puluhan siswa yang sedang menjalani aktivitas ekstarkulikuler.

“Aku pikir kau memang layak untuk masuk IPA,” Samir mengomentari salah satu penyataan muridnya. “Kau sudah masuk di sana, artinya kau layak. Mungkin orang berprasangka terhadapmu, dan kau merasa terganggu pada prasangka itu. Tapi pelajaran pentingnya bukan itu.”

“Apa?”

“Pikiranmu tajam dalam beberapa hal, meskipun payah dalam analisis aljabar dan lambat dalam operasi aritmatik. Kecepatan bukan segalanya, ketepatan lebih penting. Kendali psikologis menentukan ketepatan pikiranmu.”

Ibnan tertegun mendengar semua itu. Sedikit yang bisa dia pahami dari pernyataan gurunya. Dia terpaksa mengatakan sesuatu agar dia bisa mengikuti arah pembicaraan itu. “Terima kasih untuk pujiannya.”

“Kau harus mampu mengendalikan dirimu agar mampu mengembangkan potensi dalam dirimu.”

Ibnan tertawa pelan, tawa yang dipaksakan. Ayah Ibnan pergi bersama perempuan lain saat usianya baru 6 tahun. Dia dibesarkan oleh ibunya, bersama dua adiknya, dengan susah payah. Terkadang saudara-saudara ibunya membantu, tapi tidak sering karena mereka pun perlu mengurusi keluarga mereka. Perjuangan keras ibunya menghidupi mereka menjejalkan ide-ide pesimis dalam pikiran Ibnan. Dia tidak pernah mengenal teori apapun tentang potensi diri. Dia tidak memerlukannya. Yang dia perlukan adalah ijazah yang akan mengantarkannya ke tempat kerja.

Dan sekarang seorang guru membual kepadanya tentang potensi diri.

“Maafkan aku, Pak. Bukan maksudku untuk meremehkan Anda. Tapi Anda tahu aku hanyalah anak broken home yang tidak memerlukan potensi. Aku tidak akan punya waktu memikirkan hal itu karena aku harus memikirkan masa depanku dan kedua adikku.”

“Karena itulah kau harus memiliki kemampuan agar kau bisa menjadi tulang punggung mereka.”

“Maksud Bapak?”

“Pernahkah terpikir olehmu hal apa yang paling ingin kau lakukan?”

Ibnan memberikan jawaban yang paling pertama terlintas di kepalanya. “Bekerja untuk membantu ibu dan adikku. Aku anak pertama dan aku bertanggung jawab setelah ayahku kabur bersama pelacur itu.”

“Terpikirkah pekerjaan seperti apa yang kau inginkan? Atau pekerjaan apa yang bisa kau kerjakan?”
Kali ini butuh waktu beberapa detik untuk menjawab. “Entahlah. Tapi aku bisa melakukan pekerjaan apapun karena aku akan mempelajarinya setelah aku mendapatkannya.”

Samir tersenyum penuh kemenangan. “Di sanalah poin pentingnya. Sebelum kau mendalami suatu pekerjaan, pelajarilah apapun yang paling bisa kau lakukan sejak sekarang. Usiamu baru 16 tahun, kau masih punya banyak waktu untuk menemukan potensimu.”
Ibnan menyerap nasihat itu baik-baik, menyimpannya secepat mungkin sebagai pesan berharga yang akan dia ingat suatu hari nanti. Pendekatan itu memberinya jalan untuk tidak sekedar pergi sekolah. Ada hal lain yang diajarkan di sekolah meski tidak masuk ke dalam kurikulum. Tidak hanya di sekolah, pelajaran itu bisa didapatkan di manapun.

“Tapi kenapa?” katanya tiba-tiba. Seketika itu pula Samir melihat keraguan di wajah Ibnan. “Kenapa mau repot-repot mengatakan ini padaku di sini padahal Bapak bisa mengatakannya di dalam kelas? Lebih dari itu, kenapa Bapak percaya padaku?!” suaranya meninggi. Ibnan menuntut penjelasan.

“Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah keintiman psikologis selalu lebih berhasil mempengaruhi pola pikir seseorang. Untuk pertanyaan kedua, aku rasa aku pernah mengatakannya padamu.”

Ibnan menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah mendengarnya.”
Samir mencondongkan tubuhnya ke meja. Sambil menekan meja dia berbisik kepada muridnya. “Aku sama denganmu.”

“Itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sama di sebelah mananya?”

Samir mendesah. Dia mengedarkan pandangan untuk memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Perhatiannya kembali pada Ibnan. Tatapan keduaya beradu. “Ayahku meninggalkan aku untuk menikah dengan wanita lain saat usiaku 10 tahun. Aku belajar untuk menjadi seorang laki-laki tanpa kehadiran laki-laki paling penting dalam hidupku. Lalu aku menemukan diriku dalam kesendirian, sama seperti aku menemukan dirimu di tempat duduk di sudut kelas empat bulan yang lalu.”

Mata Ibnan membelalak. Satu rahasia telah terkuak, dibongkar begitu saja dihadapan orang yang seharusnya tidak layak mengetahuinya. Dor! Itu sama saja dengan menarik pelatuk padahal moncong senapan mengarah ke kepala sendiri. Itu bunuh diri! Ibnan merasa dadanya sesak, tubuhnya seperti dihimpit sepuluh Gunung Cikuray sekaligus.

“Aku mengatakannya padamu karena aku percaya, kau ingat?”

Ibnan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan gurunya itu. Pikirannya terlalu kacau.

Samir tahu konsekuensinya. Perkiraan matang sudah disusun. Paling-paling interogasi dari beberapa murid usil, gosip-gosip berkeliaran di bawah permukaan. Tidak, guru-guru lain tidak akan bermasalah dengan statusnya, toh dia sekarang adalah seorang pria dewasa berusia 26 tahun yang harus merangkai masa depan ketimbang menyesali masa lalu. Seorang pria yang sudah mampu mengurus diri sendiri tanpa kehadiran ayahnya.

Terdengar ceklikan pintu. Seorang staff TU muncul dari balik pintu, memberi tahu Samir ada seorang perempuan mencari dirinya. Perempuan itu tidak menyebutkan nama, hanya mengatakan teman semasa SMA. Samir tidak curiga, tidak bisa menebak siapa di antara sedikit teman yang dikenalnya bisa melacak dia sampai ke tempat ini. Dia meminta meminta petugas itu untuk mengantar sang teman ke atas. Kemudian dia mengalihkan perhatian kepada anak broken home yang masih tidak percaya itu.

“Lain kali kita lanjutkan. Aku ada tamu.”

Ibnan mengangguk. “Terima kasih,” katanya kepada Samir tapi pandangannya tertuju pada meja. “Terima kasih karena bersedia memperhatikanku, karena mau percaya padaku. Aku akan menjaga rahasia Anda.” Ibnan beranjak tanpa pamit, bahkan untuk sekedar menatap wajah gurunya sebelum pulang. Baru beberapa meter, langkahnya terhenti. Kali ini berbalik dan menatap Samir.

“Boleh tanya sesuatu?”

Samir mengangguk.

Sejenak Ibnan terlihat ragu, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “Apakah wajar jika orang seperti aku jatuh cinta?”

Samir terkekeh. “Jangan banyak berpikir tentang cinta. Kau akan menderita kalau memikirkannya terlalu banyak. Ungkapkan atau kau kehilangan dia untuk selamanya.”

Senyum tipis terlihat di wajah Ibnan. Jawaban itu cukup jelas baginya. Sangat jelas, malah. Karena cinta bisa menjadi milik siapa saja, termasuk untuk seorang anak yang cintanya digantikan oleh perempuan lain. Ibnan berbalik, melangkah pergi seraya melambaikan tangan tanda perpisahan.

Samir menggelengkan kepala. Dasar tidak sopan.

Di tangga, Ibnan berpapasan dengan seorang perempuan muda. Orang itu asing baginya, tapi dai yakin itulah tamu yang sedang mencari wali kelasnya. Perempuan muda, teman dari masa SMA. Jangan-jangan? pikir Ibnan. Keduanya bertukar pandang saat Ibnan berada satu anak tangga di atas perempuan itu. Keduanya saling melewati—satu naik, satu turun.

Satu lagi rahasia dari sang guru muda akan terkuak.

[***]

Setelah terjebak kemacetan di hampir dua jam di sekitar pusat kota, Nada berhasil sampai di terminal Cicaheum. Di sana dia mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Satu jam kemudian dia mencari bis tujuan Garut. Beberapa orang di dalam terminal mengarahkannya ke dalam salah satu bis yang masih kosong, baru tiga orang termasuk dirinya yang ada di dalam bis. Dia hampir mati kebosanan menunggu bisa penuh untuk berangkat. Baterai mp3 player miliknya sudah habis. Baterai Li-ion itu bisa diisi ulang, tapi dia tidak menemukan tempat seperti itu di dalam tempat seperti ini.

Bis akhirnya berangkat, membawa harapannya yang membumbung seiring semakin dekat dengan tujuannya. Orang yang ditujunya berada di sebuah sekolah yang beralamat di Koropeak, sebuah nama wilayah di salah satu ruas jalan Ahmad Yani. Dia tidak tahu di mana letaknya, ini kunjungan pertama dia. Menghubungi Samir melalui telepon sekolah tidak hanya akan mengganggu pekerjaannya, tapi juga merusak kejutan yang akan dia berikan pada teman SMA itu.

Begitu tiba di terminal Guntur, dia beristirahat sejenak. Dia membutuhkan air minum untuk mengisi cairan tubuhnya, serta beberapa makanan ringan untuk mengisi masa istirahat singkatnya. Sambil membeli kedua hal tersebut, dia menanyakan alamat sekolah tersebut kepada pemilik warung. Pemiliknya bilang hanya perlu satu kali naik angkot, dengan harga yang sudah ditentukan. Kelak di dalam angkot dia hanya perlu menujukkan alamat tersebut kepada sopir angkot: itu adalah alamat sekolah dan sopir angkot yang melalui jalur itu pasti mengetahuinya.

Nada melintasi gerbang sekolah itu, tapi tidak tahu harus ke mana. Dia memasuki ruang Tata Usaha, menanyakan seorang guru bernama Samir Israr Rasyid. Orang yang ditanya mengenal nama itu, tapi ragu yang bersangkutan masih di sekolah atau sudah pulang. Petugas itu mencari ke ruang guru dan menemukannya. Dia menyampaikan pesan kepada orang itu, kemudian kembali dan memberi tahu si pencari untuk menemui teman lamanya di ruang atas.

Nada berterima kasih. Dia menuju tangga yang ditunjukkan oleh petugas itu. Saat menaiki tangga itu dia melihat seorang siswa, yang entah kenapa memicu ingatan tertentu dalam pikirannya. Siswa itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu. Bukan karena wajahnya mirip orang itu, tapi karena raut mereka, tatapan mereka, sinar wajah yang terpancar. Dia melewati siswa itu menuju tujuannya.

Pintu terbuka. Dua kawan yang lama tidak berjumpa itu saling menatap, sama-sama tidak percaya bisa kembali bertemu setelah berpisah selama sembilan tahun.

 

Bagian 7

Dinding yang mengitari ruangan itu runtuh. Atapnya menghilang entah ke mana, tapi sinar mentari yang terang itu tidak menyengat. Dengan satu atau lain cara sesuatu menghalangi pancaran ultraviolet menembus permukaan kulit. Lantai keramik putih berubah warna; bukan hanya berubah warna tapi juga berubah bentuk. Tidak ada keramik putih, yang ada hanyalah hamparan rumput hijau yang menyegarkan mata. Meja-meja dan kursi-kursi tidak lagi tampak seperti meja dan kursi, mereka menjadi tumbuhan yang sedang berbunga, serbuk sarinya beterbangan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Dedaunan kering berhamburan, terbang di jalur yang terletak di antara dua manusia yang saling pandang tanpa suara. Kupu-kupu berkeliaran memamerkan keindahan sayap-sayap mereka, para lebah penghasil madu hinggap di atas kelopak bunga yang terus bergerak karena angin sepoi-sepoi.

Dengan cepat waktu bergulir mundur membawa Samir menuju perpustakaan sekolah. Dia bisa melihat sepasang anak SMA berbincang dengan kaku. Dia juga bisa mendengar apa yang keduanya perbincangkan. Suara itu menggema di dalam perpustakaan, melesat keluar melewati lorong waktu. Suara miliknya sendiri di masa lalu menggema: Bisakah aku menuliskan namaku di hatimu?
“Hai,” suara perempuan membuyarkan seluruh lamunan indah itu. Suaranya pelan, lebih karena gugup ketimbang faktor gender.
Samir tertegun di tengah-tengah ruangan. Dia belum sampai ke mejanya setelah pertemuan dengan Ibnan ketika perempuan yang mengaku teman semasa sekolah itu masuk. Keduanya bertukar pandang dan Samir seperti terhipnotis. Tubuhnya berhenti bergerak, bahkan mungkin degup jantungnya juga berhenti.

“Na… Na… Na…” suaranya terputus-putus.

Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk. Dia melangkah mendekati laki-laki yang mati suri itu. Suara sepatunya yang pelan terdengar menghentak keras di ruangan besar itu. Dia mengamati seluruh ruangan. Tidak jauh beda dengan tempat kerjanya: meja-meja yang berantakan berisi tumpukan kertas atau dokumen. Tapi ada aura yang membedakan ruangan itu dengan tempat kerjanya. Ruangan itu terasa memiliki kekuatan magis bernama aura akademis. Nada merindukan saat-saat seperti pertempuran akademis yang sudah hampir empat tahun dia tinggalkan.

Keduanya berdiri berhadapan di tengah-tengah ruangan, terpisah dua petak keramik, saling memandang satu sama lain selama beberapa detik.

Samir tidak bisa mengedipkan mata. Berkali-kali batinnya menolak untuk percaya, cenderung menganggap apa yang dia alami tak lebih dari sekedar mimpi. Dia tahu itu bukan mimpi karena sejak tadi pagi dia tidak tertidur. Senyum yang ditujukkan perempuan itu padanya membuat dia semakin ini bukan mimpi.

“Aku kira tadi petugas TU memberi tahu kalau ada teman yang mencariku,” kata Samir tanpa memalingkan pandangannya. Kalimatnya lebih lancar sekarang.

“Tentu saja dia benar.”

Samir menggeleng. “Kau bukan temanku.”

“Tega sekali berkata begitu pada orang yang sudah jauh-jauh datang ke sini,” Nada mengeluh.

“Kau tamu spesial untukku.”

“Terima kasih. Itu membuatku merasa lebih baik.”

Sunyi.

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Tidak,” tukas Samir. “Tahan dulu. Aku tahu apa yang kau butuhkan.” Dia beranjak menuju meja kerja untuk mengambil tasnya.“Ayo,” ajaknya kepada Nada. “Aku rasa kau harus mandi agar terlihat lebih cantik.”

[***]

Naskah ini berasal dari Garut. Mungkin inilah teman sekolah yang dimaksud oleh orang tua Nada.

Apa yang diungkapkan Mutia kepadanya membuat Dani menggelengkan kepala. Pergi jauh meninggalkan pekerjaan hanya demi seorang teman SMA? Pasti lebih dari sekedar teman sampai-sampai Nada merelakan posisinya digantikan orang lain. Samir Israr Rasyid, demikian nama pengirim yang diberikan oleh Mutia. Nama itu jelas nama laki-laki. Ketika nama itu diungkap, Dani paham kenapa sekretaris redaksi itu memutuskan untuk pergi.

Tujuan utama perjalanan ini adalah permintaan maaf. Namun, ketika tahu Nada menyusul seorang laki-laki, timbul rasa penasaran dalam diri Dani. Laki-laki macam apa yang membuat Nada melakukan hal bodoh dalam hidupnya? Saat itu, entah kenapa muncul perasaan cemburu dalam dirinya. Semacam perasaan dongkol karena perempuan yang dekat dengannya pergi ke tempat laki-laki lain. Untuk apa seorang teman cemburu? Kecuali jika dia bukanlah teman biasa.

Batin Dani bergejolak. Apakah aku jauh cinta pada dia? Jika ya, kenapa tidak dari dulu perasaan ini muncul? Tentu saja tidak, karena kehadiran seseorang akan terasa berharga saat orang itu tidak ada.

Kali ini misi Dani berubah. Dia tidak hanya harus bertemu dengan Nada, tapi juga bertemu dengan laki-laki bernama Samir untuk membuktikan apakah laki-laki itu layak mendapatkan Nada atau tidak. Kalau perlu, dia akan membawa Nada pulang dan melamarnya begitu mereka kembali ke Yogyakarta.

Atas saran dari Mutia, Dani mengejar keberangkatan kereta api Argo Wilis tujuan Bandung yang berangkat pukul 12.30. Berbekal alamat yang diberikan Mutia, dia bersiap untuk menjemput Nada.

[***]

Cahaya kuning di panggung utama semakin memudar, layar hitam turun perlahan-lahan, satu babak dalam drama kehidupan manusia selesai untuk digantikan dengan babak lainnya. Para aktor yang telah bemain habis-habisan sepanjang babak pertama pasti merasa kelelahan, memilih untuk tidak ikut bermain di babak berikutnya. Sementara pada pemain babak berikutnya melakukan pemanasan, para aktor babak pertama bersiap-siap untuk keluar dari teater.

Samir tahu Nada baru saja menempuh perjalanan jauh, entah dari mana, dia belum menanyakan dan Nada sendiri belum bercerita. Dia membawa Nada ke rumah kontrakannnya, menyuruh dia membersihkan diri. Sementara itu dia menemui Nurjanah dan ibunya, menjelaskan situasinya kepada mereka, lalu meminta bantuan seperlunya. Saat kembali ke rumah dia mendapati Nada sudah mengenakan baju lain.

Rambut Nada masih basah, sebagian terurai sampai ke dada, sebagian lagi ke punggung. Rambutnya agak bergelombang di ujung. Bagian depan rambut itu mengarah ke sisi kanan, hampit menutupi matanya. Wajahnya sudah terlihat lebih cerah, meski tidak putih—kuning langsat lebih tepatnya. Matanya hitam menyala, menambah pesona perempuan itu. Di atas semua itu, bagi Samir, tidak ada perubahan mencolok pada Nada. Di matanya Nada tetaplah seorang gadis desa sederhana yang pernah satu sekolah dengannya, meskipun mungkin sekarang sudah menjadi orang sukses di kota besar.

Ketika itu juga dia menyuruh Nada untuk istirahat untuk memulihkan tenaganya, cerita bisa disimpan untuk malam hari. Salah satu dari dua kamar kosong di rumah itu sudah dirapikan dan Nada langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal.
Malam ini, sesudah menyantap makan malam yang dikirim Nurjanah, keduanya duduk di ruang utama rumah itu. Samir merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, kedua tangannya diletakkan di lengan kursi. Di hadapannya, terpisah oleh meja, Nada duduk sambil menyilangkan paha dan tangan kanannya menunpu dagunya di atas paha itu. Dia mengenakan sweater dan celana training biasa sebagai pakaian santainya. Di depan mereka dua gelas teh panas mengepul di tengah udara dingin pedesaan.

Pembicaraan diawali dengan saling bertanya kegiatan setelah lulus. Sementara Nada dan keluarganya hijrah ke Yogyakarta, Samir merantau ke Malang, kuliah di universitas negeri berbasis islam di sana. Nada sendiri mengambil Sastra Nusantara di perguruan negeri terbaik di Yogyakarta, lulus dengan pujian ditambahkan olehnya dengan nada bercanda. Samir lulus dengan predikat di bawah Nada dan kembali ke kampung halaman di Kebumen, namun hanya bertahan beberapa bulan sebelum pergi tanpa tujuan. Tuhan yang baik menghempaskannya ke sebuah sekolah di Kabupaten Garut, dan di sinilah sekarang dia berada.

“Jujur saja, aku penasaran kau bisa menemukanku,” katanya setelah meneguk teh yang semakin dingin itu. “Sembilan tahun sejak terakhir kali kita bertemu, tidak ada kontak, dan tiba-tiba kau muncul di sekolahku, bukannya di rumahku, yang artinya kau tahu apa pekerjaanku.”

“Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu.” Samir hanya melempar senyum. Nada melanjutkan. “Aku terkejut kau bekerja sebagai guru. Maafkan aku, tapi dulu kau sama sekali tidak pandai bicara. Jangankan di hadapan banyak orang, berdua denganku saja kau seperti tercekik.”

Samir mengangkat bahu, enggan menanggapi seperti apa dia dulu.

“Sebenarnya aku punya alamat rumahmu, tapi alamat sebuah instansi lebih mudah ditemukan. Jadi aku memilih datang ke sekolahmu.”

“Itu belum menjawab pertanyaanku,” dia mengingatkan.

“Oh, maaf.” Kini Nada merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. “Bukan bermaksud sombong. Sekarang aku bekerja sebagai sekretaris redaksi sebuah penerbit buku di Yogyakarta. Hampir tiga tahun. Jujur saja, pekerjaanku penuh tekanan dan saat seperti itulah aku tahu indeks prestasi yang didapat saat kuliah tidak banyak membantu. Aku banyak melakukan kesalahan dalam pekerjaan, bahkan mendapat peringatan pemecatan. Kemarin pagi hidupku berubah—aku merasa hidupku berubah. Aku menerima naskah baru dengan nama pengirim yang mengingatkanku kepada seorang teman SMA. Nama itu tidak biasa, lebih dari itu orangnya pun cukup eksentrik. Aku masih bisa mengingat teman itu dengan baik.”

Samir menatap perempuan itu di bawah lampu neon 20 watt yang menerangi ruangan itu. Jawaban Nada terlalu meyakinkan untuk dibantah. Selama ini tidak ada satupun teman yang tahu di mana keberadaannya. Kalau yang dimaksud Nada adalah naskah yang dia kirim lima hari lalu, artinya naskah itu sudah sampai ke penerbit, dan berkat naskah itu seorang teman lama menemukannya.
Samir tiba-tiba tersenyum. Dia teringat ada titik tertentu yang menyamakan kejadian di masa lalu dengan kejadian masa kini.

“Lagi-lagi tulisan mempertemukan kita.”

Nada mengangguk setuju. “Sudah kubilang ketika membaca nama itu pikiranku langsung tertuju padamu. Bagaimana mungkin aku lupa pada seorang siswa pecundang yang memberiku cerita pendek melalui teman dekatku? Yang lebih konyol lagi, si pecundang itu berkeras ingin menjadi kekasihku.”

Samir terkekeh, kemudian diikuti suara tawa Nada. Nada bisa melihat wajah si penulis memerah di bawah siraman cahaya lampu. “Hei, itu sudah lama berlalu. Tidak perlu dibahas. Seperti yang kau bilang, waktu itu aku memang bertingkah konyol.”
“Kau pasti tahu apa yang dikatakan Aristoteles tentang sebuah kebiasaan?”

“Bidang studiku Pendidikan Fisika, tapi kebetulan pernah mendapat mata kuliah Filsafat Ilmu.” Dia memutar otaknya untuk menerka-nerka kalimat mana yang dimaksud Nada. Dia mencoba salah satu yang diingatnya. “’Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Karena itu keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan.’ Itukah yang kau maksud?”

Nada terkesan dengan sisi akademis siswa yang semasa sekolahnya tidak banyak bicara itu. “Sepertinya kau mendapat nilai A untuk mata kuliah itu. Ya, itu yang aku maksud.”

“Sayangnya, sejauh ini aku tidak memahami maksudmu.”

“Itu karena kau sudah melupakan aku,” kata Nada penuh tekanan.

“Hei, ayolah. Kita semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya ada sedikit waktu untuk larut dalam kenangan masa lalu.”
Raut wajah Nada menunjukkan dia tidak setuju dengan Samir. “Kukira aku spesial bagimu.”

Kening samir mengerut. Kedatangan Nada ke tempatnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengajukan ratusan pertanyaan, kini Nada berbicara dengan bahasa-bahasa yang samar. Sulit untuk menerjamahkan kalimat seperti itu, salah tanggapan bisa berakhir luka di hati salah satu dari mereka. Samir tahu itu. Dia memilih untuk menunggu lawannya bicaranya menjelaskan.
“Seperti yang kau bilang, tulisan mempertemukan kita kembali,” Nada melanjutkan. “Dulu kita berkenalan karena kau terlebih dulu mengirimkan cerita pendek padaku melalui temanku. Kau mulai rutin membuatkan cerita untukku. Setelah beberapa kali barulah kau mengatakan maksudmu membuat semua cerita itu. Kau ingin aku menjadi kekasihmu.”

“Aku memintanya sampai lima kali, dan lima kali pula kau menolak permintaanku,” Samir menambahkan.

“Itulah maksudku menyinggung Aristoteles. Lima kali kau melakukannya. Itu sudah cukup untuk menanamkan dirimu di dalam sini,” tunjuk Nada pada dadanya sendiri. “Kau berkesan bagiku, Sam. Karena kau pernah menanamkan kesan itu.”

“Dulu kau tidak menerima permintaanku,” ujar Samir dingin. “Sekarang kau mengatakan aku berkesan bagimu.”

“Tentu saja. Sesuatu akan meninggalkan kesan setelah sesuatu itu tidak ada. Kita semua setuju akan hal itu.”

“Lalu kenapa dulu kau menolakku?” tanya Samir. Apa yang dikatakan Nada memicu kembali rasa sakit hati Samir bertahun-tahunlalu. Dia bisa saja meledak, melampiaskan semua kekesalan dalam hati yang lama dipendamnya. Tapi sejak dulu dia tidak pernah dendam pada Nada. Dia sakit hati, tapi hatinya terlalu sering mengalami kesakitan sampai menganggap kejadian itu bukan hal besar yang harus dipermasalahkan.

“Aku punya alasan,” sahut Nada datar. “Pertama, saat itu bukan hanya kau yang menyatakan perasaan padaku. Empat orang selain dirimu, kalau kau mau tahu. Akan jadi beban moral bagiku jika menerima salah satu dan menolak yang lainnya. Akan terjadi konfrontasi fisik, mungkin. Yang jelas aku memilih untuk tidak memilih.” Samir hampir saja berkomentar ketika Nada mengangkat salah satu tangannya untuk meminta Samir diam. “Alasan kedua, dan ini merupakan pertimbangan terbaikku untukmu. Dulu aku melihat betapa rapuhnya dirimu. Kau berharap menjadi pasanganku agar ada seseorang yang menopangmu. Aku tahu aku lebih sibuk dengan sekolahku, karenanya akan lebih sering mengabaikanmu. Kesimpulanku, kau akan lebih menderita menjalin hubungan denganku.”

“Jika tidak dicoba mana bisa tahu.”

“Hadapilah kenyataan; itu sudah bertahun-tahun lalu.”

Awalnya Samir tertegun, tapi kemudian mengangguk. “Ya… ya. Aku sudah melupakannya.”

“Begitu juga aku,” Nada menimpali. “Sampai kedatangan naskah atas namamu kemarin.”

“Aku memilih penerbit itu atas saran temanku. Aku tidak tahu kau bekerja di sana,” ungkap Samir.

“Tidak masalah siapa yang memberitahumu. Aku bersyukur ini terjadi karena akhirnya aku bisa membalas hutang yang harus aku bayar.”

“Seingatku, aku tidak pernah memberimu pinjaman,” tukas Samir seraya diikuti tawa kecil.

Nada memaksakan diri tersenyum. “Kau tidak meminjamkan uang, tapi aku pernah membuatmu sakit hati. Aku ingin memperbaiki diriku, belajar untuk memberikan apa yang tidak bisa aku berikan padamu dulu.”

“Sejak dulu aku sudah memaafkanmu, dan aku sudah melupakan semua itu.”
Nada membisu sejenak. Dia menatap laki-laki di seberangnya. Seorang guru muda yang telah banyak berubah. Orang itu tidak lagi pendiam, tidak hanya mengutarakan apa yang ada di pikirannya melalui tulisan. Dia pasti telah belajar banyak selama proses perkuliahan sebelum terjun menjadi seorang guru. Tubuhnya pun bertambah tinggi, meski pun tetap kurus seperti dulu. Rambutnya tidak lagi berantakan seperti dulu, tapi tersisir rapi dan hitam mengkilat.

“Kalau begitu, bisakah kita menjalin hubungan seperti yang pernah kau harapkan dulu?”

 

Bagian 8

Samir memejamkan matanya sambil berharap dirinya bisa memasukkan kedua gelas di atas meja ke dalam telinga untuk mencegah kalimat permohonan itu sampai di telinganya. Satu kalimat yang dibentuk dari 12 kata yang sebenarnya bisa disingkat menjadi 3 kata saja. Tidak, dia tidak peduli jumlahnya. Yang dia pedulikan adalah substansi kalimat itu. Empat, sepuluh, dua belas tidak ada bedanya karena baginya kalimat seperti rudal jarak jauh berhulu ledak nuklir.

Dia sudah berusaha menghindar dari pertanyaan yang bermaksud sama kemarin malam, diajukan oleh seorang pria paruh baya yang memberinya kontrak rumah. Pria itu cukup bijak  untuk tidak meneruskan percakapan. Situasinya berbeda jauh sekarang. Orang di hadapannya bukanlah pria tua bijak, tapi bukan pula orang yang bisa diabaikan begitu saja tanpa penjelasan mengingat pengorbanannya untuk sampai di tempat itu tidak mudah. Lebih dari itu, perempuan ini terobsesi untuk memperbaiki situasi di masa lalu dengan menawarkan kebaikan yang tidak bisa diberikannya semasa dulu.

Manusia akan lelah jika terus menerus lari dari kenyataan, dan pastinya bangkai akan semakin berbau busuk jika disimpan terlalu lama. Tebar wewangian di atas bangkai untuk sekedar menghilangkan baunya, dan kubur dalam-dalam untuk menghilangkan wujud dan bau. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah karena kebohongan hanya kan menyakiti diri sendiri, juga orang lain. Hasil akhirnya jauh lebih buruk ketimbang kejujuran yang menyakitkan.

“Maafkan aku, Nad,” Samir angkat bicara. Kepalanya tertunduk menatap kosong ke arah meja. “Maafkan aku jika harus mengecewakanmu setelah menepuh perjalanan jauh ini. Aku tahu kau berharap banyak tapi aku takut aku tidak bisa memberi sesuai yang kau harapkan.”

Secepat awan mendung menutup terang mentari, wajah Nada tiba-tiba berubah kuyu. Jawaban Samir belum selesai, dia tahu itu. Tapi itu sudah cukup untuk memberitahunya merpati putih yang sudah melesat hingga ke bulan harus terjun bebas tanpa sayap menuju permukaan bumi.

“Bagaimana bisa kau bicara seperti itu?” mata Nada menatap tajam. Dia merasa pandangannya mulai kabur karena butiran air mulai menerobos keluar dari pupil. Dia tertegun tidak berdaya: merpati putih tanpa sayap yang jatuh menghantam permukaan bumi.
“Aku bisa mengatakannya karena kau pun pernah melakukannya padaku.”

Bibir Nada bergetar. “Kejam sekali.”

Samir mencondongkan tubuhnya, berbicara dengan nada penuh tekanan. “Aku tidak kejam, Nad. Aku hanya berusaha bersikap realistis. Aku tidak memberimu harapan karena aku tidak mau kau berharap. Aku bukan lagi orang yang dulu kau kenal. Aku sudah berubah.”

“Semua orang memang berubah.”

“Ini bukan sesuatu yang bisa ditolerir olehmu, bahkan oleh orang-orang di sekitarku.”

“Bicaralah dengan jelas, Samir Israr Rasyid,” sembur Nada. Suaranya meninggi.

“Sudah sangat jelas: aku berbeda dengan diriku yang dulu.”

“Itu pembelaan yang lemah.”

Samir tahu pembelaan itu belum cukup untuk membuat Nada percaya. Alasan semacam itu terlalu umum, terlalu biasa. Sementara dia bertahan dengan komitemannya untuk tidak memberitahukan lebih dari ini… kecuali Nada tidak mau menyerah. Dia akan memutuskan kapan saat yang tepat untuk mengaku. Bahkan dia berharap tidak perlu mengaku agar rahasia itu tetap tersimpan dalam lemari besi berkunci ganda dalam hatinya.

Satu tetes air mata telah bergulir di pipi Nada. Meski begitu napasnya masih teratur, emosinya masih stabil. Dia belum memahami keseluruhan cerita yang disodorkan oleh Samir, karena itu dia harus tetap terkontrol. Tidak boleh ada kesalahpahaman dalam situasi seperti ini atau merpati putih itu tidak akan bertahan hidup lagi.

“Katakan padaku, Sam. Aku menunggu jawabanmu,” terdengar suara Nada yang mencoba menguatkan dirinya. “Katakan padaku apakah kau tidak lagi mencintaiku seperti dulu kau berusaha mati-matian mengejarku?” air mata kembali bergulir di pipi Nada.

Samir memejamkan matanya, berharap saat terbangun nanti dia mendapati ini hanyalah salah satu mimpi buruknya. Bukan, ini bukan mimpi. Dia membuka mata dan wajah Nada yang memohon penjelasan masuk dalam bidang pandang matanya. Dia menghela napas panjang. “Aku tidak lagi mencintaimu, Nad,” ungkapnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. “Maafkan aku. Segalanya sudah berubah.”

Nada tertegun mendengar jawaban itu. Batinnya ingin berteriak keras, tapi raga yang menampungnya sudah tidak punya semangat bahkan untuk sekedar bergerak. Ini terlalu menyakitkan, terlalu pahit. Tidak, dia tidak bisa menyalahkan Samir sepenuhnya karena guru muda itu tidak bersalah. Wajar jika cinta kepada seseorang bisa pudar. Sembilan tahun lebih waktu yang cukup untuk mengobati luka dan membangun hidup baru dengan cinta baru.

Cinta baru!

Bodoh! Nada mengutuk dirinya sendiri. Kenapa tidak pernah berpikir ke sana? Dia melupakan sama sekali kemungkinan itu ketika memutuskan untuk menyusul Samir ke Garut. Emosi positif, kegembiraan karena menemukan teman lama, dan kesibukannya mencari jalur menuju Garut membuat dia lupa bahwa orang yang dicarinya mungkin sudah lupa padanya, mungkin sudah memiliki pasangan, atau bahkan mungkin sudah berkeluarganya. Meskipun nyatanya Samir masih tinggal sendiri mengontrak sebuah rumah, guru muda itu mengaku sudah tidak lagi mencintainya.

“Kenapa?” dia bertanya. “Kenapa kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau sudah menemukan orang lain sebagai pendampingmu?”
Samir sudah menduga pertanyaan itu akan dilontarkan Nada. Jika dia mengatakan ya, kemungkinan besar Nada akan meminta pertemuan dengan orang yang bersangkutan. Jika dia mengatakan tidak, Nada akan mendesaknya untuk menjelaskan alasan perubahan dirinya. Dua-duanya pilihan sulit.

“Bukan,” jawab Samir singkat. Dia sudah memutuskan: kejujuran adalah jalan terbaik.

“Lalu apa?”

“Aku lebih tidak suka mengatakan alasannya.”

“Kau harus mengatakannya, Pak Guru. Kau mendidik muridmu untuk menyertakan alasan setiap kali mereka mengambil keputusan, atau setiap kali mereka memberi jawaban. Sekarang pun kau harus memberikan alasanmu.”

“Ini tidak semudah yang kau kira,” tukas Samir.

“Jangan menghindar dariku,” Nada tidak mau kalah. “Aku sudah mengatakan alasan kenapa dulu aku menolakmu. Bahkan untuk itu aku harus menempuh perjalanan panjang dengan resiko kehilangan pekerjaan. Aku sudah berkorban sebanyak itu untuk meminta maaf padamu.”

“Kau mengatakan alasanmu setelah semua itu berlalu selama sembilan tahun,” protes Samir dengan suara yang agak tinggi.

“Apa bedanya sekarang dengan sembilan tahun lagi? Kalau toh ujung-ujungnya kau tetap menolak, kenapa harus menunggu selama itu?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.”

“Aku mencintaimu, Sam, tapi aku tidak bisa memberimu ikatan karena aku tahu itu justru akan menyakitimu.”

“Mulia sekali.”

Nada menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisannya bertambah keras. Dia tidak bisa menahannya lagi. Lebih baik menangis melampiaskan segala kekecewaan. Menunggu Samir mengatakan alasannya hanya buang-buang waktu dan itu tidak akan mengubah keadaan. Dia sudah ditolak oleh orang yang dia tolak sebanyak lima kali sembilan tahun yang lalu. Meski alasan penolakannya dulu untuk kebaikan orang itu, tapi orang itu tidak mau mengerti.

Di seberang Nada, guru muda itu tidak bisa—tidak tega—membiarkan tamunya menangis. Dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjongkok di samping kursi Nada. Dia meraih tangan Nada, menjauhkan keduanya agar bisa melihat mata Nada yang sudah basah. Satu tangannya dia gunakan untuk menyeka air mata yang terus bergulir. “Aku mohon berhentilah menangis.”

Nada menatap mata teman masa lalunya itu. Tatapannya memancarkan kemarahan. “Kau meminta aku berhenti menangis sementara kau sudah menyakitiku.”

“Aku sudah meminta maaf.”

“Bukan itu,” tukas Nada. Kalimatnya di sela oleh isakan. “Kau tidak mau memberi tahu alasanmu tidak lagi mencintaiku hanya karena aku pernah melakukan hal yang sama padamu. Itu namanya balas dendam, dan itu membuatku sakit. Jika kau memaafkanku atas apa yang pernah aku lakukan dulu, seharusnya kau tidak membalas perbuatanku.”

“Aku tidak bermaksud membalas dendam.”

“Kau sudah melakukannya.”

“Baiklah… baiklah…” Samir menyerah kalah. Dia bangkit dari samping kursi, menarik salah satu kursi mendekati kursi Nada. Sekretatris redaksi itu tidak mau menyerah, membuat Samir kewalahan menanganinya. Dia tahu tidak lama lagi rahasia itu harus diungkapkan, bangkai busuk itu akan ketahuan. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dan memang tidak berniat menahannya lebih lama lagi. Amin berkali-kali mendesaknya untuk menikahi Nurjanah. Suatu hari nanti dia tidak akan bisa berbohong lagi pada petugas kebersihan itu. Tapi ternyata waktunya lebih cepat dari yang dia duga, dan orang yang akan pertama tahu tentang sisi gelap dalam dirinya adalah orang yang pernah dia cintai.

Ironis.

“Sembilan tahun lalu aku mencintai seorang perempuan tapi dia menolakku berkali-kali. Aku terlalu rapuh dan menjadikan pengalaman itu sebagai acuan dalam hidupku. Tapi aku tidak pernah menyimpan dendam pada perempuan itu karena kau tahu akulah yang tidak berharga untuk dicintai.”

Nada menelan ludah mendengar cerita yang diungkapkan secara dramatis itu.

“Aku tahu tidak akan ada perempuan yang tertarik pada pecundang sepertiku. Sejak saat itu aku belajar untuk menekan perasaanku sampai benar-benar tidak tersisa sedikit pun. Aku berhasil mematikan rasa itu, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta, dan membuang hasratku terhadap perempuan. Cinta adalah kemewahan yang tidak pernah aku dapatkan, karena itu aku tidak lagi berharap akan mendapatkannya dari perempuan manapun.”

Nada menahan napas demi mendengar kalimat terakhir itu. Lehernya seperti tercekik. Tidak ada oksigen yang masuk. Kepalnya mulai berputar-putar tak karuan.

“Sekarang kau mengerti kenapa aku tidak bisa mencintaimu lagi?”

Nada tidak bisa mendengar pertanyaan itu. Telinganya berdengung keras, kepalanya berputar semakin hebat, lampu neon di atasnya terlihat meredup, oksigen yang dia butuhkan tidak kunjung mengalir.

“Karena aku seorang gay,” lanjut Samir.

Satu kalimat itu mengakhiri segalanya.

Dunia gelap bagi Nada.

[***]

Nurjanah hampir saja memutar kenop pintu rumah kontrakan Samir ketika dia mendengar sedang ada percakapan serius antara dua teman yang lama tidak berjumpa itu. Dia tidak ingin mengganggu. Ketika memutuskan untuk berbalik meninggalkan pintu itu, langkah kakinya tertahan mendengar permohonan yang diucapkan oleh perempuan bernama Nada itu.

“Kalau begitu, bisakah kita menjalin hubungan seperti yang pernah kau harapkan dulu?”

Pertanyaan itu kurang lebih sama dengan pertanyaan selalu dia tanyakan dalam hatinya untuk guru muda itu. Pertanyaan itu kemudian disalurkan pada ayahnya yang semakin dekat dengan sang pujaan hati. Namun ayahnya selalu membawa jawaban yang sama, dengan berbagai alasan yang berbeda setiap waktunya. Maka, Nurjanah penasaran bagaimana jawaban Samir terhadap teman sekolahnya itu.

Dia menguping percakapan mereka selanjutnya, sambil berharap degupan jantungnya tidak benar-benar kencang hingga sampai terdengar melintasi pintu. Setiap kata dia cermati, setiap kalimat dia pahami. Percakapan itu berlangsung alot, saling tuding, saling membela diri tentang apa yang pernah terjadi di masa lalu. Percakapan mereka hampir berubah menjadi pertengkaran sebelum berubah dan diganti oleh suara tangis perempuan. Percakapan digantikan oleh suara yang lebih lembut, lebih pelan.Itu memaksanya memasang telinga tajam-tajam.

Matanya terbuka lebar, hampir melompat dari tempatnya. Dia menutup mulut yang menganga dengan tangannya. Dadanya semakin berdebar kencang. Sebuah rahasia penting telah diungkapkan, dan itulah alasan kenapa guru muda itu selalu menolaknya berulang kali. Seketika itu juga perasaan jijik menjalar di sekujur tubuh Nurjanah. Berkali-kali dia meminta melalui ayahnya, berkali-kali itu pula ditolak dengan alasan yang berbeda. Tapi semua alasan yang pernah diungkapkan Samir—belajar menjadi guru yang baik, dan sebagainya—itu semua bohong! Dan kebohongan itu menyakitkan baginya.

Nurjanah berang. Dia harus melakukan sesuatu. Harus. Ada balasan yang setimpal untuk orang yang sudah menolaknya dengan kebohongan. Pikirannya berpacu dengan aliran darah yang dipompa secara cepat oleh jantungnya. Dia menemukan rencana yang bisa membuat guru muda itu merasakan penolakan yang pernah dirasakannya.

Samir akan menerima balasan atas kebohongan dan rahasia gelap yang baru saja diakuinya.

 

Bagian 9

Nada tidak menyentuh sedikit pun sarapan pagi yang dihidangkan oleh Samir. Hatinya terlanjur berantakkan. Merpati putih itu tidak hanya jatuh dari langit setelah kehilangan kedua sayapnya, tapi juga hancur berkeping-keping dihantam meteorid seberat ribuan ton. Setelah terjatuh pingsan, Nada mendapati dirinya terbangun di dalam kamar bersama Nurjanah, orang yang membawakan makan malam untuk mereka. Saat itu dia ingin melarikan diri, tapi rencana itu bukan saja tolol tapi juga sama dengan misi bunuh diri. Dia berada di salah satu pelosok di Kabupaten Garut tanpa mengenal akses transprotasi. Itu akan menyulitkannya, membuatnya tersesat, bahkan mengumpankan diri pada psikopat jalanan tengah malam.

Di meja makan dia hanya menatap kosong ke arah piring, mengaduk-aduk isinya menggunakan sendok tanpa sekalipun menyuapnya. Padahal di sampingnya, Samir makan dengan lahap. Dia menoleh ke arah Samir, menatapnya selama beberapa detik. Benarkah laki-laki ini seorang gay? Sudahlah, lupakan saja. Kenyataan itu terlalu sakit untuk dipikirkan. Ada hal penting lain yang harus dia lakukan. Hari ini juga dia harus kembali ke Yogyakarta karena tidak mungkin terus tinggal di tempat ini. Tujuannya sudah tercapai meski luka yang didapat.

“Siang ini aku berangkat ke Bandung. Atasan menyuruh aku pulang untuk urusan penting.” Nada berpikir sejenak. “Kalau tidak salah ada kereta tujuan Malang berangkat pukul 15.30 dari Bandung. Aku akan naik kereta itu.”

Sendok yang sudah diambang mulut Samir berhenti. Dia menurunkan kembali sendok itu untuk kemudian menoleh pada Nada. “Secepat itu? Kau kan baru tiba kemarin siang.”

“Memangnya alasan apa yang bisa membuat aku tingal di sini satu hari lagi?”

“Paling tidak kau istirahat dulu.”

“Sudah kubilang atasanku menyuruh aku pulang. Dia membutuhkanku. Lagipula tujuanku menemuimu sudah terlaksana…” kalimat Nada mengambang. “Dan berakhir menyakitkan,” sambungnya dengan suara bergetar.

“Maafkan aku atas kejadian tadi malam.”

Nada menghela napas. Dia tidak ingin membalasa tatapan Samir yang terarah padanya. Dia meninggalkan kursinya. “Aku harus berkemas.”

“Ijinkan aku mengantarmu,” Samir menawarkan diri.

“Tidak usah,” sahut Nada dari kamarnya. “Aku sudah merepotkanmu dan tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Kita berangkat bersama dari sini, kau turun di sekolah. Sisanya biar aku sendiri.”

Samir menghela napas. Selera makannya sudah hilang. Dia meneguk sedikit air kemudian beranjak untuk bersiap-siap menuju sekolah. Dia hendak menemui Nurjanah untuk membereskan rumah, namun langkahnya tertahan di pintu. Seorang laki-laki asing berdiri di depan pintu pagar rumah kontrakan Samir.

[***]

“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu,” jawab Nada dengan sinis. Melihat wajah Dani membuatnya teringat kejadia beberapa malam yang lalu di restoran kecil itu. Kini Nada berada di antara dua laki-laki yang sudah menyakiti perasaannya.

“Aku ingin meminta maaf padamu, karena itu aku menyusulmu.”

“Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”

“Aku menelpon orang tuamu.”

“Mereka tidak tahu aku di sini.”

“Aku mendapat alamat ini dari Mutia.”

Nada menggigit bibir. Dia lupa bahwa setiap naskah yang masuka kan terlebih dahulu masuk ke dalam database melalui computer bagian informasi di lobi.

“Bisakah kita bicara di dalam saja?” sela Samir. “Tidak enak bagiku membiarkan dua tamu berbincang sambil berdiri di luar rumah.”
Dani menoleh ke arah Samir. Dengan tatapan seksama, dia memperhatikan guru muda itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apa yang dipikirkannya benar-benar jauh dari kenyataan. Bagi dia, laki-laki yang ditemui Nada tidak lebih dari pria kampung dengan berbusana udik dan wajah pas-pasan.

“Lebih baik jangan ikut campur. Ini antara aku dan Nada,” ancam Dani.

Nada tercengang. “Kau gila! Seharusnya kau yang tidak ikut campur. Kami berdua punya urusan yang lebih penting.”

“Aku menyusul ke sini untuk menjemputmu, Nad. Untuk apa kau tinggal bersama laki-laki ini?”

“Maafkan aku,” Samir menyela. “Kalau yang kau maksud kami memiliki hubungan di luar pernikahan, kau keliru.”

Dani menatap Samir dengan penuh kebencian. Hampir saja dia melangkah untuk menerjang Samir sebelum Nada menghalangi jalannya. “Tutup mulutmu, orang udik. Kau sama sekali tidak pantas untuk Nada.”

Plak!
Satu tamparan keras mendapat di pipi Dani. Rahang Nada mengeras. Dia berusaha mengendalikan amarahnya agar tidak meledak lebih keras lagi. Sudah cukup beban yang menimpanya tadi malam, dia tidak ingin menghabiskan energinya untuk pertengkaran yang sia-sia. “Pulanglah!” jari Nada menuding ke arah pintu pagar.

“Aku tidak akan pulang tanpamu.”

“Kalau begitu aku yang pergi.” Nada berbalik, tapi langkahnya terhenti.

Dani mencengkram erat tangan Nada. “Kau harus tetap di sini sampai kau menjelaskan kenapa kau berada di rumah laki-laki itu.”

“Itu bukan urusanmu,” sahut Nada tanpa memandang Dani.

“Tapi kau tinggal di dalam rumah dengan seorang laki-laki…”
Nada menyentakkan tanganya sekuat tenaga hingga terlepas dari cengkraman Dani. Dia kembali berbalik menghadap Dani, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir beradu. “Kalau kau berpikir aku menggadaikan diriku padanya, kau keliru,” suara Nada berbisik tapi penuh tekanan. ” Orang itu gay, dia tidak akan melakukan apapun terhadapku.” Nada beranjak ke dalam rumah tanpa peduli pada Dani yang menganga, kemudian menabrak bahu Samir yang berdiri di pintu.

Hanya tinggal Samir dan Dani. Keduanya saling memandang. Yang satu penuh pertanyaan, yang satu penuh kebencian. Yang penuh kebencian menghampiri yang penuh pertanyaan, melayangkan tangannya.

“Dia mencintaimu, mengorbankan pekerjaannya untuk menemuimu. Tapi kau menyia-nyiakan pengorbanannya! Dasar tidak tahu diri!”

Samir mengerang sambil memegang pipinya yang dihantam bogem Dani. Dia memejamkan mata menahan sakit. Belum sempat berpikir apa yang terjadi, laki-laki asing itu mengangkat kerah bajunya.

“Jangan coba-coba merebut Nada dariku,” ancam Dani dengan suara berbisik, “atau kuremukkan wajahmu.”

Samir menyeringai menanggapi ancaman itu.

Satu pukulan lain hampir saja mendarat di pipinya. Refleks tangan Samir lebih cepat. Kepalan tangan Dani ditahan oleh cengkraman tangan Samir. Secepat kilat Samir memuntir tangan Dani ke belakang punggungnya, membuat Dani mengerang kesakitan, jauh lebih keras dari erangan Samir. Suara itu memancing Nada kembali ke luar.

“Ada apa lagi ini?!” tanyanya ketika melihat Samir mengunci satu tangan Dani. “Lepaskan dia, Samir. Kalian seperti anak kecil saja!”

Samir mendorong Dani sampai hampir tersungkur di tanah. Dia kembali memegang pipinya yang masih berdenyut akibat pukulan tak terduga tadi. Dia menatap Nada saat hendak mengambil tas di dalam rumah. “Sepertinya orang yang bertingkah seperti pacarmu itu tidak tahu sopan santun.”

Nada angakt bahu. “Kau bisa mengajarinya, kalau kau mau.”

[***]

Satu celah kecil terbuka dan bendungan yang tebal itu meledak begitu saja untuk kemudian mengalirkan seluruh air menuju samudera yang luas. Apapun yang dilewatinya terkikis habis, hanyut tanpa mampu memberi perlawanan barang sedetik pun. Bukan hanya menghanyutkan tapi juga menarik perhatian banyak orang. Mereka yang berdiri jauh dari jangkauan hanya menjadi penonton, bergidig melihat kengerian itu, dan beruntung mereka tidak memiliki tampungan sebesar itu untuk dibendung.

Secepat meluncurnya air, secepat itu pula berita buruk menyebar. Pertama-tama di kalangan bawah sekolah. Seorang sumber berita dengan senang hati membagi-bagikan pengetahuan rahasia yang dimilikinya. Dia tidak berharap dikenal oleh kalangan lainnya, dia hanya tidak tahan lama-lama menahan diri. Ocehannya menggebu-gebu. Penonton yang menyaksikannya terpaku.

“Masya Allah,” gumam ibu pemilik kantin yang terletak di pojok sekolah. Matanya yang bulat hampir teloncat keluar. “Jadi karena itu dia selalu menolak permintaanmu.”

Amin mengangguk. Asap rokok mengepul dari tangan kanannya. “Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus diusut tuntas,” lanjutnya bersemangat.

“Memangnya mau diapakan?” tanya petugas kebersihan muda yang biasa dipanggil Odoy.

“Adukan ke kepala sekolah. Minta dia mengusir orang itu dari sini. Atau semacam itu.”

“Hus,” tepis Aceng, petugas kebersihan lain yang usianya hampir sama dengan Amin. “Harus ada bukti kuat. Kita tidak bisa seenaknya mengadukan dia begitu saja. Penjahat yang sudah bersalah saja masih diberi kesempatan membela diri.”

“Tapi dia bisa menjadi aib bagi kita, bagi sekolah,” sela ibu pemilik kantin. Apa jadinya sekolah ini kalau ketahuan ada gurunya yang memiliki kelainan seperti itu?”

“Tapi Pak Aceng benar, Bu. Kita harus punya bukti. Bapak kepala sekolah itu orang berpendidikan, paling tidak mengerti hukum. Bisa-bisa kita yang dimarahi karena menyebarkan berita bohong.”

Amin terlihat berpikir keras. Rupanya kemenangan tidak semudah yang dia bayangkan. Balas dendam tidak bisa terwujud begitu saja. Apa yang dikatakan dua rekannya memang masuk akal. “Putriku bisa jadi saksi,” cetusnya.

Pria bernama Aceng itu menggaruk dagunya. “Itu bagus. Lebih bagus lagi kalau lebih dari satu, akan lebih kuat.”

“Satu sudah cukup,” sergah Aceng.

“Kalau orang menuduh berzina kan harus empat orang, Pak,” ungkap ibu pemilik kantin, diikuti anggukan Aceng.

Mata Odoy berbinar seperti orang yang baru mendapat uang tunai dari dalam sabun mandi. “Kenapa tidak bawa sekalian saja perempuan itu. Itu, teman yang dating dari jauh itu.”

Aha!

Amin merasa dirinya bodoh. Celah berharga seperti itu luput dari perhatiannya. “Otakmu pintar juga. Seharusnya kau jadi pengacara saja, jangan jadi tukang sapu di sekolah.”

Pembicaraan yang dilakukan saat matahari sepenggalah naik itu tidak luput dari perhatian beberapa siswa yang sedang berkeliaran. Mereka pergi ke kantin disela-sela pergantian jam pelajaran. Beberapa ada yang ijin pergi ke toilet kemudian mampir di kantin. Isi pembicaraan yang mereka dengar memang buruk, tapi sisi buruk itulah yang menjadikan beritanya layak untuk diperbincangkan.

Kalian pikir bagaimana acara-acara gosip bisa laku?

Saat itu ada lima siswa yang menguping: dua dari kelas XI, tiga dari kelas X. Telinga kedua siswa kelas XI itu berdiri ketika nama guru yang mengajar di kelas mereka disebut-sebut. Yang kelas X, karena tidak mengenal guru itu, baru bereaksi ketika keburukan sang guru disebutkan. Dua kelompok siswa itu pergi dengan dia pikiran yang berbeda: yang satu bertanya-tanya mengenai kebenaran informasi itu, yang satu penasaran siapa guru yang memiliki kelainan itu. Satu-satunya hal yang menyamakan kedua kelompok itu adalah tujuan mereka: berita ini layak disebarkan!

Satu mulut ke mulut lainnya, satu kelas ke kelas lainnya. Dalam waktu kurang dari empat jam berita itu sudah tersebar di kalangan putih abu, belum menyentuh korps pegawai berkerah. Tidak masalah. Pasukan putih abu sudah cukup untuk menghancurkan citra pribadi yang bersangkutan. Guru sama halnya dengan orang tua bagi siswa. Mereka tentu marah jika orang tua mereka membohongi mereka dan menyembunyikan keburukannya dari mereka.

“Dasar penipu!”

“Dasar guru bejad!”

“Benarkah apa yang kalian katakan?”

“Yang mana sih orang nya?”

“Baru tahu ada guru seperti itu di sekolah ini.”

“Pecat saja! Guru seperti itu hanya menjadi aib bagi kita.”

Nita bergegas menemui ibunya di ruang konseling setelah memberitahu melalui pesan singkat mengenai kabar yang sedang beredar di kalangan siswa. Ruangan konseling terpisah dari ruang guru, letaknya di belakang ruang kepala sekolah. Wajah panik Nita muncul di balik pintu. Sri Nuryani menyuruhnya untuk masuk dan duduk di sofa di ruang tunggu.

“Ada apa, Sayang?” tanya Sri Nuryani saat duduk di samping Nita. Dia menggenggam tangan putri bungsunya itu.

“Pak Samir, Bu. Seisi sekolah sedang membicarakan Pak Samir,” ungkap Nita. Dia hampir menangis saat melanjutkan kalimatnya.

“Pak Samir seorang gay, Bu. Begitu kata mereka.”

Sri Nuryani menahan napas demi mendengar kabar itu. Lehernya tercekik. Petir menyambar di siang bolong, guntur yang mengikutinya menggelegar memekakkan telinga. Ini gila! Dia menatap kosong ke arah putrinya yang sudah mengucurkan air mata.

“Dari mana kamu tahu berita ini?”

“Semua siswa sedang membicarakannya, tapi Nita tidak tahu dari mana asalnya.”

Sebagai orang berpendidikan yang sudah malang melintang, dia tahu dirinya tidak boleh mengambil kesimpulan secepat itu. Terkejut, itu hal yang wajar. Tapi terbawa arah oleh hembusan angin tak berpangkal bukanlah pilihan bijak. Semasa kuliah dulu dia pernah diajarkanmenggunakan metode ilmiah, setelah menjadi guru dia mengajarkan metode itu kepada murid-muridnya. Meskipun situasi ini bukan permasalahan dalam ilmu pengetahuan, metode itu tetap saja berlaku meski dengan bahasa yang beda. Ilmuan menyebutnya hipotesis, ahli hokum menyebutnya praduga tak bersalah. Ilmuan harus melakukan observasi, para ahli hukum akan melakukan penyelidikan.

Sri Nuryani bangkit dari kursinya. Aliran informasi ini harus segera dibahas mengingat integritas institusi yang ditempatinya dipertaruhkan. “Kembalilah ke kelas. Usahakan untuk tidak ikut campur urusan ini. Ibu akan menemui kepala sekolah untuk membahas ini.”

Nita beranjak untuk memeluk ibunya. Dia masih menangis. Secara refleks Sri Nuryani mengelus kepala Nita. “Sudahlah, Sayang. Jangan bersedih. Semoga ini hanya karangan orang-orang kurang kerjaan.”

Nita melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata sebelum berkata kepada ibunya, “tolong bantu Pak Samir, Bu. Dia guru yang baik. Nita yakin dia tidak mungkin seperti itu.”

Sri Nuryani tersenyum lembut. “Akan ibu usahakan. Sekarang ibu harus pergi. Kembalilah ke kelasmu.”

[***]

Nita bukan satu-satunya orang yang terpukul mendengar berita itu. Seorang laki-laki menggeram di tempat duduk di sudut kelas. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal di atas meja. Urat nadi di tangannya menyembul keluar seperti hendak mengoyak kulitnya.

Brak!

Beberapa orang yang masih tersisa di kelas terkejut mendengar suara benturan keras itu. Mereka mendelik ke arah sumber suara. Rupanya corner boy, begitu istilah mereka untuk pria penyendiri itu, menghantam meja dengan kedua tangannya yang masih terkepal. Tidak ada yang menegur, hanya gerutuan pelan. Selang beberapa detik kemudian Nita masuk ke dalam kelas dalam keadaan menangis. Dari tempat duduknya, Ibnan memperhatikan setiap gerak Nita.

Dia tahu penyebab Nita menangis, dan itu membuat amarahnya kembali naik. Satu-satunya orang yang percaya padanya ternyata tak lebih dari orang kotor penuh dengan kebohongan. Dia tertipu, dengan polosnya dia percaya pada guru muda itu.
Kita memiliki masa lalu yang sama, kata wali kelasnya itu kemarin. Kalimat itu membuatnya terbujuk untuk percaya. Orang yang pernah mengalami hal yang sama bisa lebih memahami bagaimana situasi tersebut. Dia merasakan semangat menyala dalam dirinya karena itulah pertama kali sejak ditinggal ayahnya ada laki-laki dewasa yang mau berbagi dengannya.

Itu kemarin. Segalanya berubah dengan cepat hari. Berita yang membuat kuping panas itu menyebar tak terkendali di kalangan putih abu, termasuk dirinya. Kabar ini membuatnya berpikir, jangan-jangan dia dibujuk untuk percaya dan kelak dijadikan korban pelecehan seksual. Mungkin hal itu pulalah yang membuat Pak Samir begitu memperhatikan perkembangannya. Seperti sedang memainkan game balas jasa: aku sudah memberi padamu, giliranmu memberi padaku.

Persetan dengan permainan balas jasa! Ibnan mengumpat dalam hatinya. Dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu. Langkahnya sempat terhenti ketika melewati tempat duduk Nita. Dia mengeluarkan sapu tangan dari tasnya, menaruh sapu tangan itu di atas meja Nita, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia melangkah sambil menundukkan kepala di sepanjang koridor, bahkan sampai melintas keluar dari pintu gerbang.

Dalam diam, perlahan air matanya terurai.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: