Home > Uncategorized > IMMORTAL

IMMORTAL

Bagian 2

“Berapa kali harus aku katakan padamu? Jangan pernah mencatat hal-hal penting di lembaran kertas!” bentak Hasan, pimpinan redaksi yang marah karena janji temu dengan salah satu penulis senior batal. Pembatalan itu karena hal sepele: Ajeng Qotrunnada Sofia, sekretarisnya, menulis janji temu itu di selembar kertas yang menghilang entah ke mana, dan dia lupa janji temu itu tadi malam. Pembatalan itu berakibat fatal: penulis senior marah besar karena dibiarkan menunggu dan merasa janjinya diingkari.

“Maafkan saya, Pak,” kata Nada pelan sambil membungkukkan setengah badan. “Sepertinya saya tidak sengaja membuang kertas itu ke dalam tempat sampah.”

Hasan mencondongkan tubuhnya ke tepi meja. Dia menatap tajam ke arah Nada yang tertunduk malu. “Maaf katamu? Berapa kali kau melakukan kesalahan yang membuatku malu seperti ini? Lalu seenaknya saja kau meminta maaf?”

Dalam hatinya Nada mengakui hal tersebut. Bukan hanya sekali ini dia melakukan kesalahan. Sebagian besar kesalahannya terjadi akibat kebiasaan menuliskan sesuatu yang penting pada lembaran kertas, bukannya mencatat di buku atau note blok atau di kalender. Sesekali dia melakukan kesalahan menuliskan jam rapat dewan redaksi sehingga atasannya datang terlambat dan mendapat teguran keras.

Bodohnya lagi, tadi malam dia malah menghabiskan waktu dengan Dani yang justru berakhir dengan kesimpulan menyakitkan.
“Anda tidak bisa berkata seperti itu, Pak. Saya tahu saya melakukan banyak kesalahan yang membuat Anda berada pada posisi sulit. Tapi Anda tidak bisa mengabaikan permintaan maaf dari seseorang.”

Pria berusia empat puluh tahun itu menajamkan padangannya. “Apa salahnya jika aku tidak menghargai permintaan maafmu? Sikapmu sendirilah yang membuat aku tidak bisa menerima permintaan maaf itu. Semua ini kembali padamu,” tuding Hasan.

“Saya salah, dan saya sudah minta maaf. Tapi Anda membuat situasinya menjadi lebih rumit karena tidak menerima permintaan maaf saya.”

“Maksudmu, aku juga bersalah?” bisik Hasan penuh tekanan. “Kau menyalahkanku? Demi Tuhan, sekretaris macam apa kau ini?”
Nada terkejut mendengar kalimat itu. Dia merasa seperti direndahkan. Kesalahannya memang buruk, tapi itu bukan berarti atasannya juga tidak melakukan kesalahan. Dia tidak bisa menerima sikap Hasan yang merasa paling benar.

“Kita semua pernah melakukan kesalahan, Pak. Apa bleh buat, kita manusia yang penuh keterbatasan.”

“Jangan berceramah di depanku,” sergah Hasan. “Aku tahu semua manusia melakukan kesalahan. Hanya saja kau sudah berlebihan. Kau sama seperti keledai bodoh yang terperosok pada lubang yang sama puluhan kali.”

Nada menahan napas demi mendengar pernyataan keras atasannya. Dia tidak terima dengan sebutan keledai bodoh itu. Rahangnya mengeras saat menggeram pelan. Otot-otot tangannya menyuruh dia bergerak, melemparkan tumpukan kertas di tangan ke muka atasannya. Dia  bisa membayangkan reaksi atasanya menerima perlakuan seperti itu.

“Keluar dari ruanganku!” teriak Hasan, jarinya menuding ke arah pintu. “Aku harus memberimu peringatan keras agar melekat dalam kepalamu. Sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku tidak segan-segan menyuruh orang lain yang lebih berpengalaman untuk mengambil alih posisimu.”

Nada menghela napas. Dia selamat, tapi hanya satu kesempatan tersisa untuknya. Satu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Dia pun tidak ingin membantah lebih banyak lagi. Yang dia butuhkan adalah udara segar atau alunan musik lembut untuk menenangkan dirinya. Dia membungkuk untuk memberi hormat, lalu keluar dari ruangan atasannya.

Telepon di meja Nada berdering begitu dia tiba di meja kerjanya. Dia meletakkan tumpukan kertas yang dibawanya. Satu tangannya yang lain terulur untuk menjangkau telepon.

“Ya?”

“Petugas dari kantor pos membawa satu naskah untuk dipertimbangkan atasan kita.” terdengar suara Mutia, salah seorang staff di lobi kantor. “Sebentar lagi aku akan mengantarnya ke ruanganmu.”

“Terima kasih sudah memberi tahu,” sahut Nada. Gagang telepon diletakan kembali. Dia membereskan beberapa dokumen yang berserakan di atas mejanya sambil menunggu kedatangan Mutia.

Ajeng Qotrunnada Sofia, demikian namanya, bertugas sebagai sekretaris redaksi. Lulus dengan pujian dari salah satu universitas top di Yogyakarta membuatnya langsung diterima sebagai sekretaris redaksi dari perusahaan penerbit buku di kota itu. Di usia yang muda, tidak mudah menjadi seorang sekretaris. Tugasnya sehari-hari lumayan berat, termasuk menginventarisir berbagai tawaran naskah yang masuk sebelum diajukan pimpinan redaksi. Tekanan pekerjaan seperti itulah yang membuatnya berkali-kali melakukan kesalahan.

Ketukan pintu terdengar. Dia menyuruh siapapun yang mengetuk untuk masuk. Rupanya Mutia. Perempuan itu menyodorkan amplop berwarna cokelat besar dan tebal, juga agak berat.

“Sepertinya ada penulis baru yang ingin menjajal kemampuannya,” kata Mutia saat memberikan amplop itu.

Nada menerimanya seraya memaksakan diri tersenyum. Bagaimanapun juga, peringatan keras dari Hasan masih melekat dalam benaknya. “Itu bagus. Artinya mereka mempercayai kita.”

Mutia melirik ke seberang ruangan, melintasi jendela pemisah ruangan Nada dengan ruangan atasannya. Dia melihat atasannya a yang sedang mondar-mandir sambil menelpon dengan ekspresi penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi. “Tampaknya dia sedang tidak baik.”

Nada mengangkat bahu. “Aku menghancurkan relasinya, tentu saja dia tidak baik.”

Mutia terkekeh. “Terkadang kau begitu hebat sampai membuat atasan kita kalang kabut.”

“Sudahlah, Mut. Aku sedang tidak ingin memicarakannya sekarang.”

“Kalau begitu, selamat bekerja.” Mutia pamit meninggalkan ruangan. “Jaga dirimu, jangan sampai dia menerkam saat kau lengah,” sambung Mutia sebelum menutup pintu.

Nada meletakkan naskah itu di atas mejanya. Dia merebahkan diri sejenak di sandaran kursi. Kata-kata yang dilontaskan Hasan berdengung kembali di kepalanya, melesat-lesat seperti pesawat jet sedang memburu kawanan teroris. Dia membuka laci mejanya, mengeluarkan headphone, meyambungkan headphone itu ke CPU, kemudian memutar beberapa lagu yang bisa menenangkan dirinya. Mulutnya ikut bernyanyi ketika lagu Your Guardian Angel dari The Red Jumpsuit Apparatus diputar media player komputernya. Alunan musik terbukti mengalihkan perhatiannya. Beberapa penilitian ilmiah membuktikan pengaruh music terhadap bayi, terhadap suasana hati. Tapi, alih-alih mempercayai teori rumit mengenai kerja otak yang berhubungan dengan musik, Nada meyakini inti teori itu adalah pengalihan perhatian: ketika kau mendengarkan musik, pikiranmu akan tertuju pada lagu; masalah terlupakan dan tubuh menjadi rileks.

Sambil mendengarkan lagu, dia memeriksa naskah yang baru tiba itu. Saat melihat alamat pengirim yang tertera di belakang amplop, Nada tertegun mendapati huruf-huruf yang terangkai menjadi sebuah nama yang dikenalnya. Nama yang khas, nama yang mengingatkannya pada seorang pecundang yang pernah dia kenal di sekolah. Seseorang yang selama sembilan tahun ini menghilang dari hidup Nada, lalu datang tiba-tiba melalui satu bundel tulisan.

Tuhan memang tidak bisa ditebak.

Dia mengerjapkan matanya untuk memastikan pandangannya tidak keliru. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Nama itu tetap sama seperti pertama kali dia melihatnya. Dia tahu matanya masih normal, bahkan dia tidak membutuhkan alat bantu penghilahatan untuk melihat nama itu. Tapi sesuatu yang datang di masa lalu membuatnya tidak yakin pada apa yang dia lihat. Apa mungkin dia? Pikirnya. Seketika itu pula bayangan masa lalu melesat-lesat dalam matanya, seperti lorong waktu yang sedang bekerja setelah disetting menuju waktu tertentu.

Seorang siswa menghampiri Nada yang sedang menyelesaikan tugas di perpustakaan. Siswa itu duduk di seberang Nada. Dia menatap siswa itu. Tiba-tiba keduanya terjebak dalam suasana kaku yang tidak bisa dijelakan. Sebagai perempuan, Nada menunggu laki-laki itu mengatakan sesuatu padanya. Tapi laki-laki itu malah tertunduk malu, menggerak-gerakkan kaki di bawah meja.

“Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Nada memberanikan diri bertanya lebih dulu.

Laki-laki itu masih gugup. Jari-jari tangannya tidak berhenti bergerak. “Aku… itu…” dia mencondongkan tubuhnya kemudian membisikan sesuatu yang membuat Nada tertegun. “Bisakah aku menuliskan namaku di hatimu?”

Nada tersadar dari lamunan singkat itu. Dia melirik ke ruangan Hasan. Pimpinan redaksi itu sedang membenamkan diri di kursinya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan. Nampaknya pimpinan redaksi itu sedang menenangkan pikiran setelah mendapat pukulan telak akibat keteledoran Nada. Kesalahan yang mendatangkan pertengkaran, juga peringatan pemecatan bagi Nada. Tentu saja pria itu bosan dengan kesalahan yang berulang-ulang, seperti halnya manusia jenuh pada rutinitas mereka. Harus ada sutu waktu dalam hidup untuk menetralisir suasana. Harus ada satu waktu di mana segala permasalahan tentang pekerjaan yang membosankan dilupakan sepenuhnya.

Dia menatap alamat pengirim pada amplop, lalu melirik ke arah ruangan Hasan. Amplop, ruangan Hasan. Amplop, ruangan Hasan. Apa peduliku dengan dia, umpat Nada dalam hati. Kalaupun dipecat, aku masih bisa mencari pekerjaan lain.
Dia membuka file Microsoft Word baru, mengetikan alamat yang tertera pada amplop. Di bawah alamat itu, dia menuliskan nama dan alamat institusi tempat temannya bekerja. File itu dicetak. Sementara menunggu hasilnya keluar, Nada membuka fasilitas internet yang dimiliki kantornya. Dia mencari tahu jadwal keberangkatan kereta. Dia mengambil hasil print out di sudut meja kerjanya, kemudian menuliskan jadwal yang dia perlukan.

Nada menyeringai.

Bagian 3

Samir Israr Rasyid berjalan keluar dari ruang kelas, diikuti para siswanya yang berhamburan. Di udara terdengar suara menggema ke seluruh area sekolah melalui pengeras suara yang dipasang di setiap kelas dan di sudut-sudut tertentu lingkungan sekolah. Waktu istirahat tiba, sejenak untuk melepaskan kepenatan selama hampir tiga jam terjebak di dalam ruang kelas. Bukan hanya siswa yang butuh istirahat. Para guru pun membutuhkannya. Mereka perlu menenangkan diri, mengganti strategi pembelajaran yang tidak berhasil diterapkan di kelas sebelumnya.

Samir menyusuri koridor, melewati beberapa siswa yang berkerumun di depan kelas masing-masing. Beberapa siswa yang mengenalnya melemparkan senyum. Dia membalasnya, meski dia merasa senyumnya itu kaku. Beberapa lagi menyalaminya. Sebagian ada yang menanyakan masalah tugas. Dia menjawab seperlunya, kemudian bergegas melewati anak tangga menuju ruang guru yang terletak di lantai dua.

Ruangan yang panjang itu masih lenggang. Hanya ada tiga orang guru yang sedang mengoreksi tugas siswa di meja masing-masing. Ada sekitar tiga puluh meja disusun sedemikian rupa, satu meja untuk satu orang guru. Dia melangkah menuju mejanya, berharap bisa merebahkan tubuhnya untuk meredakan kepenatan di kepalanya.

Saat itu dia terpikir tentang nasib naskahnya. Lima hari yang lalu dia mengirimkan naskah itu ke sebuah penerbit di Kota Yogyakarta. Pemilihan penerbit itu atas saran dari salah seorang rekannya yang pernah mengirimkan naskah ke sana dan diterima. Dia berharap tulisan miliknya bisa tembus, paling tidak itu bisa jadi penghasilan tambahan baginya. Meski dia menyadari usaha pertama tidak akan langsung membuahkan hasil. Bagaiamana pun juga kegiatan menulis yang selama ini dia jalani adalah untuk meengekspresikan diri. Dan karena itu merupakan ekspresi diri, tidak semua orang bisa menerima ekspresi dirinya.

Dua orang siswi menghampiri meja Samir. “Bapak memanggil saya?” tanya salah satu dari mereka. Namanya Nita.

Samir mengangguk. Dia membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas, menyodorkan kertas itu kepada Nita. “Beritahukan kepada teman-temanmu untuk mengerjakan soal-soal ini. Besok dikumpulkan.”

“Soalnya di tulis atau di-foto copy?”

“Lebih baik foto copy. Soal yang asli kembalikan pada Bapak.”

Nita mengangguk, kemudian meninggalkan Samir sendirian. Sebagai wali kelas XI IPA 1, dia punya pekerjaan berat menangani keempat puluh siswanya. Dia berkeinginan memajukan murid-muridnya dalam mata pelajaran yang ditakuti oleh hampir seluruh siswa: Fisika. Itu tugas yang sulit. Pola pikir mereka sudah terpasung dan faktor itulah yang menghancurkan derajat ilmu Fisika. Padahal, kalau dipikir ulang, tidak ada satupun dari mata pelajaran di sekolah yang bisa dengan gampang andai tidak dipelajari. Untuk itu dia memberikan banyak pekerjaan rumah kepada murid-muridnya di XI IPA 1 dengan harapan mereka terbiasa melatih ketajaman pikiran mereka.

Tapi, kalau dirunut lagi ke belakang, dia sendiri bukanlah orang yang menyukai pelajaran itu saat di sekolah. Dia tidak termasuk siswa cemerlang, bahkan mungkin tidak dikenal di sekolah jika bukan karena menjuarai lomba menulis resensi. Satu trofi untuk sekolah sudah cukup membuat namanya terukir di sana. Sebagian besar siswa menganggap dia sombong karena jarang bergaul. Tentu saja bukan karena sombong, hanya kesulitan berkomunikasi. Ketika lulus, entah kenapa dia memutuskan menjadi Guru Fisika. Dia memang ingin menjadi guru, tapi Guru Fisika?

Takdir Tuhan tidak bisa ditolak.

“Bagaimana naskahmu?” suara seorang perempuan separuh baya membuyarkan lamunan Samir.

Dia menoleh. Rupanya Sri Nuryani, guru senior di sekolah itu, juga orang tua Nita. “Oh, Ibu,” katanya sambil tersenyum. “Saya sudah mengirimkannya ke penerbit lima hari yang lalu. Mungkin tiga bulan lagi baru ada kabar.”

Sri Nuryani duduk di mejanya. Meja itu terpisah satu meja dari meja Samir, di samping kanannya. Tidak ada orang di meja yang memisahkan mereka. “Baguslah. Semoga bisa masuk penerbit. Sebagai seorang pengajar kita harus bisa memacu kreativitas, salah satunya dengan menulis.”

“Saya hanya menjalani apa yang saya sukai,” ungkap Samir.

“Kecintaanmu pada menulis bisa menjadi nilai tambah bagimu. Menulis itu tidak mudah, perlu mengolahnya dengan pikiran yang matang. Lebih dari itu, menulis menunjukkan siapa dirimu. Karena itu kau tidak boleh sembarangan dalam menulis.”

Samir mengangguk mantap menyambut nasihat itu. “Hanya orang arogan yang mengatakan menulis itu mudah, kecuali itu tulisan komersil yang hanya akan bertahan paling lama dua tahun. Sulit, memang, tapi saya berusaha untuk tidak menjadi seperti itu. Saya ingin mengikuti jejak para pemikir besar yang karya-karyanya bertahan hingga berabad-abad.”

Sri Nuryani mengangkat alis. Wajahnya berbinar mendengar gagasan hebat guru muda itu. “Suatu saat kamu bisa melakukannya.”
“Mudah-mudahan,” Samir menimpali. Dia memandang kertas-kertas ulangan yang belum diperiksa di atas meja Sri Nuryani kemudian teringat pada tugas yang diberikan pada Nita. “Tadi saya memberikan pekerjaan rumah untuk anak-anak XI IPA 1, termasuk Nita, tentu saja. Beberapa soal Fisika. Mungkin ini terdnegar kejam, tapi saya berusaha menanamkan kebiasaan itu kepada murid-murid saya.”

“Itu bagus,” guru senior itu berkomentar. “Aku pun melakukan hal yang sama pada murid-muridku. Kami para guru menyebutnya metode pencil and papper.”

“Seperti pesan Ammer Sommerfeld pada Werner Heissenberg,” Samir menimpali.

Sri Nuryani penasaran. “Oya?”

Dengan lancar Samir mengucapkan pesan yang dimaksud.

Sri Nuryani menyetujui hal itu. Dia kemudian mengalihkan perhatian pada buku-buku miliknya. Beberapa kertas ulangan belum dia periksa padahal mereka sudah menanyakan hasilnya. Dia mendesah berat menghadapi pekerjaannya.

Waktu istirahat hanya beberapa menit lagi. Setelah ini tidak ada jam mengajar untuk Samir. Dia berpikir di mana dia akan menghabiskan waktu sampai jam sekolah berakhir. Dia bisa saja pulang, tapi dia sudah berjanji kepada Nita dan beberapa temannya untuk memberikan sedikit bimbingan selepas pulang sekolah.

Dia bangkit, memberi tanda kepada guru seniornya bahwa dia hendak keluar. Dia menuruni tangga menuju ruang tata usaha di lantai satu, berharap bisa menemukan inspirasi dalam tumpukan koran yang tersedia di sana.

[***]

Satu matahari di puncak kepala sudah cukup untuk mengubah susunan gen dalam kromosom di tengah inti sel manusia, apalagi Sembilan? Sebagian besar orang memilih untuk menghindari radiasi ultraviolet itu demi kepentingan kesehatan, juga kecantikan. Di daerah tertentu, meski terik mentari begitu menyengat, suasana di dalam ruangan bisa sangat dingin meski tanpa bantuan alat pendingin. Daerah-daerah seperti itu biasanya berada di perbukitan, dikelilingi deretan pegunungan.

Demikian pula yang dirasakan Samir. Kegiatan di dalam kelas setelah pulang sekolah saat matahari berada di puncak menjadi alternatif untuk menghindari panas. Sebagian besar kursi di ruangan kelas itu sudah diangkat ke masing-masing meja. Hanya ada enam kursi yang masih di bawah, menandakan enam siswa yang mengikuti jam tambahan pelajaran Fisika.

Tangan kanan Samir menggenggam boardmarker. Dia menghadapi murid-muridnya sebelum mulai menulis. Satu per satu dia menatap keenam orang itu, mengidentifikasi mereka. Nita, sang juara kelas; Tika, teman sebangku Nita; Diah, pesaing utama Nita dalam perebutan juara kelas; Risty, punya semangat tinggi meski tidak masuk dalam anggota lima besar; Budi, atlet basket sekolah yang tergila-gila pada Fisika.

Masih ada satu orang lagi. Dia duduk di sudut, tempat biasa dia duduk selama jam belajar sekolah.
“Tidakkah kau berminat untuk duduk di depan?” itu lebih terkesan sebagai bujukan ketimbang pertanyaan. Seketika itu pula kelima orang lainnya menoleh ke belekang.

“Saya merasa lebih nyaman duduk di tempat ini,” sahutnya tanpa ekspresi.

“Kau bisa mendengar suaraku?” Samir meyakinkan.

“Sangat jelas.”

“Baiklah, kalau kau memang merasa nyaman di sana dan bisa mendengar suaraku.” Samir berbalik menghadapi papan tulis. Dia menulis sebuah pertanyaan yang dilengkapi dengan gambar sebagai bantuan untuk mempermudah analisis. Dia kembali menghadapi murid-muridnya begitu selesai menulis soal. “Ini hanya salah satu soal sederhana dalam Ilmu Fisika yang rumit. Sebegitu rumit sampai sebagian besar anak sekolah tidak menyukainya, bahkan cenderung menghindarinya.”

“Bagi saya Fisika menyenangkan, Pak,” sela si atlet basket.

Samir tersenyum mendengar deklarasi salah satu muridnya. “Dalam banyak hal, kita tidak bisa menghindar dari fisika. Untuk membangun gedung, para konstruktor menggunakan penghitungan mekanika statik, di mana fokus utamanya adalah kelembaman.”
Kening Risty berkerut saat mendengar kata terakhir diucapkan. Dia mengacungkan tangan. “Apa yang dimaksud dengan kelembaman?”

“Sebuah konsep sederhana yang berlaku secara universal,” sahut Samir. “Kelembaman bisa diartikan sebagai kemampuan sebuah benda untuk mempertahankan posisinya. Hal sederhana seperti itu harus diperhitungkan untuk menjaga sebuah bangunan dengan ketinggian tertentu bisa tetap berdiri kokoh.”

“Bukankah itu tugas untuk arsitek?” Tika bertanya.

“Arsitek yang merancang isi gedung, fisikawan yang membuat gedung itu berdiri kokoh.”

“Konstruksi jembatan,” kata Diah. “Pesawat terbang, kapal laut, jadwal perjalanan kereta api; itu semua hanya sebagian kecil dari konsep dasar fisika yang berpengaruh dalam kehidupan.”

“Jangan lupakan elektronika,” sambung Budi dengan penuh semangat. “Elektronika adalah salah satu produk fisika di mana listrik menjadi jantung bagi dunia modern.”

“Terima kasih, teman-teman—boleh aku panggil teman-teman?”

Mereka semua mengangguk setuju, kecuali satu orang di sudut yang tidak bereaksi terhadap apapun.

“Kembali ke soal yang sudah aku tulis di sana,” tunjuk Samir ke arah papan tulis. “Itu adalah soal mekanika sederhana namun terkesan rumit. Kesan, itulah yang membuat fisika begitu menakutkan. Kalian berasumsi sebelum kalian merasakan, lalu membuat keputusan untuk tidak terlibat dalam kesulitan.”

Nita, yang sejak tadi membisu, menggerakkan pensil di tangannya secepat mungkin. Dia membuat analisis sederhana di atas bukunya, mencari berbagai kemungkinan jawaban.

“Sekilas, orang akan menganggap soal ini rumit. Padahal seseorang yang duduk di sudut sana bisa mengerjakanya dalam waktu kurang dari satu menit.”

Semua orang kembali menoleh ke belakang.

“Aku tidak yakin,” jawabnya dingin.

“Konsep dasarnya memang sederhana,” sela Nita. Kali ini perhatian tertuju ke arahnya. “Sifat fisisnya lebih mudah dianalisis jika menggunakan konsep energi potensial dan energi kinetik untuk kemudian.”

“Hukum konservasi energi,” sahut Budi mendahului gurunya.

“Ketinggian,” sambung Diah. “Lintasan dalam soal berbentuk setengah lingkaran. Itu bisa dianggap sebagai ketinggian, di mana jari-jari lingkaran bisa dianggap sebagai ketinggian. Dengan demikian konsep energi potensial berlaku.”

Samir tersenyum bangga. Dia mengepalkan kedua tangan seperti seorang pelatih yang sedang memberi semangat pada atlitnya yang sedang bertanding. “Lebih cermat lagi!” suaranya menggema di tengah ruangan sepi itu, menyebar menuju seluruh penjuru sekolah. “Ada beberapa konsep sederhana yang belum kalian temukan!”

“Energi kinetik,” Risty mengulangi apa yang sudah dikatakan Nita. “Partikel bergerak dari keadaan diam.”

“Hubungan energi kinetik dengan energi potensial. Pada ketinggian maksimum kecepatanya nol; saat ketinggian minimum, kecepatan mencapai maksimum.”

Samir mengacungkan dua jempol untuk Nita. “Terima kasih. Tepuk tangan untuk kalian semua.” Budi bertepuk tangan sambil bersorak seperti baru saja mencetak tiga angka dalam kondisi kritis. Risty dan Tika bertepuk tangan karena kekaguman mereka terhadap diskusi rumit itu. Wajah Diah berbinar setelah hatinya dipenuhi perasaan puas karena naluri ilmuannya terangsang. Nita merasa lebih bebas karena situasi informal seperti ini member keleluasaan lebih banyak untuk belajar ketimbang jam-jam sekolah.
“Aku sudah mengatakannya pada kalian. Soal ini bisa dikerjakan dalam waktu kurang satu menit. Kalian bisa mengindetifikasi beberapa fenomena fisis dari partikel yang bergerak itu. Tapi kenapa kalian masih kesulitan menyelesaikanya?”

“Kesan, mungkin. Seperti yang Bapak bilang tadi,” jawab Diah.

“Malas berlatih,” si atlet basket bekomentar.

“Tidak pernah belajar,” kali ini Risty yang bicara.

“Kesalahan sistem, mungkin,” Nita mengira-ngira.

“Operasi aljabar dan aritmatika,” kata sebuah suara di belakang. Semua orang menoleh ke sana. Siswa di sudut kelas itu akhirnya berbicara juga. “Fisika dibangun di atas sekumpulan fenomena fisis, dan dia membutuhkan matematika sebagai fondasinya. Karena itulah kenapa selalu ada matematika dalam fisika tapi tidak pernah ada fisika dalam matematika.”

Mendadak ruangan menjadi hening seolah semua suara tersapu ke dalam lubang hitam. Bahkan suara hembusan angin terdengar jelas ketika mereka membisu. Semua orang tercengang, lebih karena tidak percaya siswa di sudut itu mau berkomentar padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun mengungkapkan pendapat, baik itu di ruang kelas maupun saat tugas kelompok. Bahkan Samir tertegun mendengar jawaban itu.

“Kau mengungkapkannya dengan cara yang tepat, Nak,” puji Samir, memecah keheningan. “Fisika menjadi hidup karena persamaan matematis yang menyertai fenomena fisisnya. Terkadang di sanalah kita mengalami kesulitan.” Samir melirik sejenak pada Nita. “Bahkan aku lebih membenci matematika daripada fisika.”

Bahkan Nita yang merupakan putri dari seorang guru matematika mengangguk setuju dengan pernyataan Samir.

Bagian 4

Nada memandang keluar jendela taksi yang membawanya menuju Stasiun Tugu. Sambil menopang dagu dengan tangan, dia memikirkan perdebatan dengan kedua orang tuanya terkait keputusan konyol itu. Orang tua mana yang rela melepaskan putri bungsu mereka pergi jauh sekedar mencari seorang laki dari masa lalu? Bahkan dengan ancaman pemecatan dari atasannya setelah melakukan kesalahan besar kemarin malam, anak bungsu itu tetap pergi.

“Apa kata orang nanti kalau kamu pergi mengejar laki-laki? Bukankah seharusnya dia yang datang menemuimu kalau dia mencintaimu,” kata sang ayah memulai pidatonya. “Meskipun kamu hidup di jaman modern, kamu harus tetap memperhatikan batasan tertentu. Ini bukan lagi tentang cinta, ini tentang kehormatanmu sebagai seorang perempuan.”

“Kehormatan apa, ayah?” tanya Nada selembut mungkin agar tidak menambah amarah ayahnya.

“Tempat yang akan kamu tuju jauh, Nak. Kamu tidak punya siapa-sapa di sana. Bagaimana kalau kamu tersesat dan tidak bisa pulang.” Kali ini giliran ibunya yang khawatir.

Nada berusaha meredakannya. “Nada sudah 26 tahun, bu. Bukan lagi anak kecil yang tidak tahu harus berbuat apa saat sendirian di sebuah tempat asing.”

“Tetap saja ayah tidak terima. Hubungi dia, suruh dia menemui ayah di sini. ”

Nada tidak bisa memberitahu bahwa dia akan memberikan kejutan kepada temannya itu. Jika dia menghubungi orang itu lewat telepon, dia tidak bisa melihat ekspresi yang dia harapkan. Dia mencari cara lain, cara yang biasanya berhasil dilakukan oleh anak-anak saat permintaan mereka tidak dipenuhi.

Pembiokotan!

Nada ngeloyor pergi menuju kamarnya, membanting pintu sekeras mungkin agar kedua orang tuanya tahu bahwa dia marah. Dia memanfaatkan posisinya sebagai anak bungsu. Selama ini Nada selalu melakukan apapun yang dikatakan orang tuanya, terlebih lagi ibiunya. Bahkan larangan untuk mengontrak rumah dan tinggal sendiri pun dipatuhi Nada. Sejauh ini dia belum meminta imbalan, dan inilah saat untuknya meminta balas jasa.

Cara itu licik, tapi berhasil.
Dia berangkat setelah ibunya membujuk sang ayah agar mengizinkan dia pergi beberapa hari atau mereka akan kehilangan si bungsu selamanya. Tiga hari atau selamanya? Tentunya tiga hari.

Semakin mendekati stasiun, pikirannya teralihkan oleh tempat tujuan dan orang yang akan dituju. Perasaannya berbunga-bunga, diiringi hentakan jantung yang cepat. Bahagia bercampur tegang. Bagaimana pun juga inilah perjalanan jarak jauh pertamanya tanpa ditemani siapapun.

Garut? pikirnya. Dia sempat tertegun ketika membaca isi biodata itu tadi siang, sebelum akhirnya meyakinkan diri sendiri bahwa si pengirim naskah adalah temannya di masa lalu. Tidak lain karena pada kolom tempat dan tanggal lahir, di sana tertulis nama kota dan tanggal yang sangat dikenal oleh Nada. Perasaan haru kembali menyusup ke dalam hatinya. Matanya berbinar, mulutnya seolah ingin bersorak. Saat membaca kolom pekerjaan, dia kembali terdiam.

Guru? Anak pendiam itu jadi guru? Pikir Nada tidak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hidup benar-benar misterius!
Seperti apa dia sekarang?

Pertanyaan itu terlintas dalam benak Nada. Tentu saja dia penasaran. Seandainya Samir tahu bahwa yang menerima naskahnya adalah Nada, dia pun pasti akan penasaran terhadap Nada. Rasa penasaran menuntut untuk dipuaskan. Rasa ingin tahu harus disalurkan. Hanya ada satu jalan untuk melakukannya: menyusul Samir ke Garut.

Itu ide gila!

Tapi dunia cinta memang gila.

Taksi melewati Tugu, ikon Kota Yogyakarta, sebuah monumen mistis yang berada pada satu garis lurus Merapi-Keraton-Laut Kidul. Begitu taksi berhenti di areal parkir stasiun, dia membayar tarif dan bergegas turun menuju tempat penjualan tiket. Satu tiket Lodaya Malam tujuan akhir Bandung meluncur ke tangan Nada.

[***]

Di rumah sederhana itu Samir tinggal, salah satu desa di wilayah Kecamatan Sukawening. Rumah itu milik saudari Amin, salah satu petugas kebersihan di sekolah Samir. Saudari Amin menjadi TKW, sementara suami dan anak-anak pemilik rumah berada di kampung halaman mereka di Garut bagian selatan. Jadilah rumah itu dikontrakan kepada Samir. Amin sendiri tinggal di depan rumah itu bersama istri dan dua anak, terpisah oleh jalan setapak kecil selebar satu meter. Dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota.

Salah satunya, Nurjanah, sering membantu Samir membersihkan rumah jika dia tidak sempat melakukannya. Perempuan itu berusia dua puluh tahun, wajah lugu khas pedesaan. Senyumnya menawan. Amin melarang anaknya pergi merantau ke kota karena khawatir dengan keadaan kota. Jadilah dia terjebak di sana menunggu arjuna membawanya pergi.

Samir sedang mempelajari catatan mengenai salah satu murid yang paling dia perhatikan. Dia menemukan keganjilan pada siswa itu ketika pertama kali masuk sebagai wali kelasnya. Perasaan itu begitu dia kenal karena dia pernah mengalaminya dulu. Muridnya itu butuh bantuan dan dia menawarkannya. Sejak saat itu secara berkala dia memperhatikan berbagai catatan mengenai anak itu dari semua guru yang mengajar di kelasnya. Catatan itu memberikan gambaran adanya perubahan positif pada siswa itu.

Pintu rumahnya diketuk. Kemudian terdengar suara Amin yang sudah sering didengarnya. Dia bergegas menuju pintu untuk mempersilahkan Amin masuk. Amin datang sambil membawa segelas kopi yang masih mengepul. Dia masuk, kemudian duduk di kursi di ruang utama rumah itu. Sebuah ruangan sederhana yang hanya berisi satu kursi panjang dan tiga kursi pendek mengitari sebuah meja kayu.

Samir mengikutinya. Dia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Amin.

“Mau kopi?” pria berusia pertengahan lima puluhan itu menawari Samir. “Kalau mau, biar kusuruh Nurjanah membuatkan untukmu.”

Samir menggeleng sambil tersenyum. “Tidak usahlah, Pak. Malu aku merepotkan dia terus.”

“Tidak usah malu. Kau adalah tamu di sini, harus diperlakukan dengan baik.”

“Tapi saya sudah tiga tahun di sini, Pak. Saya sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri.”

Mendengar kalimat itu, Amin tersenyum. Sorot matanya menunjukkan dia memiliki gagasan yang bagus. “Jujur saja, Nak, usiamu sudah cukup untuk memiliki pasangan. Kau jauh dari orang tuamu, kau tinggal sendiri, kau sibuk bekerja. Harus ada seseorang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.”

Samir mengerti arah pembicaraan itu. “Saya tahu itu. Saya pun terkadang merasa kerepotan. Tapi saya masih mampu menangani semua ini sendiri.”

“Tidakkah terpikir olehmu untuk menikah?”

Pertanyaan itu menusuknya. Jawabannya mudah, antara ya atau tidak. Tapi alasan dari jawaban itulah yang sulit untuk diungkapkan. Tidak semua orang mengerti jawaban yang akan diungkapkannya. Terkadang dia sendiri tidak mengerti kenapa dia memilih jalan hidup itu.

Samir menghela napas. “Saya sudah memikirkannya, hanya saja saya harus memikirkan hal lain terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memulai hidup baru.” Dia berhenti sejenak, menatap wajah petugas kebersihan itu untuk mengetahui reaksinya. “Itu sesuatu yang sulit bagi saya. Saya yakin suatu hari nanti saya harus memutuskan, tapi tidak sekarang.”

“Kamu tidak boleh menunda-nunda, tidak baik,” katanya. Dia mengambil gelas yang ditaruhnya di atas meja, kemudian menyeruput kopi di dalamnya.

“Ada sesuatu yang membuat saya harus menunda,” Samir membela diri.

Amin menatap anak muda di hadapannya. “Memangnya kau tidak tertarik pada perempuan? Putriku, Nurjanah, banyak yang memperebutkan dia untuk jadi kekasihnya. Sementara kau, setiap hari dia ada di hadapanmu, tidak sedikit pun kau menunjukkan ketertarikanmu.”

Dada samir berdegup kencang. Dia khawatir sisi gelap dalam dirinya terungkap, membuat dia dipermalukan di hadapan banyak orang. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia harus menemukan alasan untuk menghindar secepat mungkin. Dia tidak menemukan alasannya. Ketakutan mulai mengerubungi dirinya.

Amin menyadari keanehan itu. Dia kembali meletakan gelas di atas meja. “Apa yang terjadi denganmu?”

Samir menggeleng. “Tidak ada,” katanya gugup.

“Dasar anak aneh,” Amin mencibir. Suasana hening sejenak. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka. Amin mencoba mencari cara membujuk Samir untuk menikahi putrinya. Bagi dia, meskipun Samir tidak setampan dan segagah Bertrand Antolin, tapi kejujuran yang nampak di wajah pemuda itu menarik perhatiannya. Terkadang guru muda itu begitu hemat kata sehingga memancing rasa penasaran orang: apa yang sedang ada dalam pikirannya. Lebih dari itu, posisinya yang sudah diakui sebagai pegawai negeri dengan gaji tetap setiap bulan bisa menjamin kehidupan rumah tangga seandainya mereka berdua menikah.

“Saya masih harus banyak belajar menjadi guru yang baik, mengurus murid-murid agar mereka bisa sukses di kemudian hari. Jujur saja itu tugas yang berat.”

“Itu memang tugas yang berat. Karena itu guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa.”

Itu dulu. Sekarang, jangankan disebut pahlawan tanpa tanda jasa, sebgian guru muda bahkan tidak punya wibawa, hanya asal menjadi guru agar menjadi PNS. Mereka mengabaikan kompetensi sebagai guru, lebih mengandalkan keuangan mereka untuk memuluskan jalan menjadi seorang PNS, hanya demi tunjangan pensiunan. Yang lebih tragis, dalam sinetron-sinetron tidak bemutu buatan anak bangsa sendiri, sosok-sosok guru direndahkan. Mereka digambarkan sebagai sosok tidak berdaya yang menjadi bahan ledekan siswa-siswanya.

Sungguh tidak tahu diri!

“Kau butuh seseorang untuk memikul beban berat itu,” kata Amin dengan suara yang lebih pelan. Dia mulai serius. “Kenapa kau tidak menikahi putriku saja?”

Samir menatap petugas kebersihan itu untuk beberapa saat. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan kosong tanpa makna. Kemudian ketakutan kembali menyebar dalam dirinya. Apa yang harus aku  katakan? Dia berpikir untuk waktu yang lama. Jawabannya adalah tidak ada. Dia hanya harus diam.

Amin mengambil gelasnya, menyeruput isinya, kemudian bangkit. “Sudahlah. Kalau kau tidak bisa menjawabnya, lain kali saja. Sebaiknya kau selesaikan pekerjaann-pekerjaanmu, jangan sampai besok terlambat ke sekolah.” Amin pamit, lalu pergi meninggalkan Samir sendiri di rumah itu.

Sepeninggal Amin, Samir tertegun. Dia tidak menyangka pertanyaan itu akan diajukan padanya. Pertanyaan tak terduga yang menusuk dirinya, menggoyang sisi gelap dari masa lalu yang bertahan hingga kini di dalam dirinya, yang selama ini berhasil dia sembunyikan. Ada banyak konsekuensi yang menyertai hal itu, dan dia tidak ingin itu terjadi padanya. Dia harus menutupi semua itu. Bukankah pakaian diciptakan untuk menutupi bagian tubuh yang tidak layak? Wajar rasanya jika dia berbuat baik untuk menutupi bagian dirinya yang tidak pantas dikenal. Meskipun dia tahu bagian gelap itu tidak akan bertahan lama.
Samir beranjak dari tempat duduknya. Amin benar. Dia harus kembali pada pekerjaannya. Menjadi seorang guru bukan tugas yang mudah, dan dia tidak boleh berleha-leha.

Bagian 5

Hampir delapan jam berlalu sejak keberangkatan Lodaya Malam dari Yogyakarta. Kereta itu sudah memasuki wilayah Bandung, kurang dari 15 menit lagi tiba di tujuan akhir. Nada mempersiapkan dirinya. Dia bangkit dari kursi kemudian menuju toilet. Dia harus membersihakn wajahnya setelah tertidur selama beberapa jam di dalam kereta. Selain itu dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Kulitnya terasa lengket; dia ingin mandi. Tapi itu tidak mungkin. Dia harus menunggu sampai tiba di tempat tujuan.
Dia menatap wajahnya di cemin buram di toilet kereta. Wajah putihnya tersapu kelelahan akibat perjalanan panjang. Tidak masalah. Toh dia yakin Samir bisa mengenalinya meski wajahnya dalam keadaan kusam sekalipun. Dia kembali ke tempat duduk, mengambil tas dari bagasi, membereskan mp3 player yang sejak malam dia pakai, memasukkannya ke dalam tas. Dia mengeluarkan jaket dari dalam tasnya, menegenakan jaket itu, lalu kembali duduk menunggu kereta memasuki stasiun Bandung.

Kereta berhenti di jalur dua.

Para penumpang beranjak dari tempat duduk mereka, bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang malah sudah berdesakan di pintu, menunggu giliran untuk keluar. Karena ini stasiun terakhir, Nada tidak memaksakan diri untuk langsung turun berdesakan dengan penumpang lainnya. Dia memilih untuk menunggu sampai lorong pintu kosong, kemudian melompat keluar.
Selamat datang di Kota Bandung, kata Nada kepada dirinya sendiri. Dadanya berdegup kencang. Perjalanan pertama yang dia lalui sendirian. Lebih dari itu dia tidak punya siapa-siapa di sini, tidak mengenal seorang teman pun. Dia harus melaluinya sendiri.
Pertama-tama, jangan pernah tunjukan bahwa kau dalam kebingungan. Menyatulah dengan keramaian seolah-olah kau adalah bagian dari arena itu.

Nada berjalan menuju Pintu Keluar Ktara, demikian yang tertulis di papan penunjuk arah.
Kedua, jangan tanya alamat, atau jalur menuju tempat tujuan kepada penyedia jasa angkutan. Kecuali kau ingin mereka membawamu berputar-putar tanpa arah dan menarik tarif tinggi untuk layanan itu.
Berbekal fakta itu, dia memilih bertanya pada salah satu pedagang koran dan majalah beberapa meter sebelum pintu keluar. Dia mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh ibu penjual koran itu. Beberapa kali dia mengulangi instruksi tadi agar tidak terjadi kesalahan. Dia juga menanyakan berapa perkiraan ongkos yang perlu dia keluarkan agar tidak membuang uang secara percuma. Setelah yakin, dia pamit pada pedagang koran itu, tak lupa membeli satu koran agar ibu itu tidak merasa dirugikan. Dia melintasi menuju pintu selatan stasiun Bandung, bukannya pintu utara seperti tujuan awalnya, mencari angkot yang akan membawanya ke pusat kota—alun-alun. Dari sana dia akan mencari bis kota menuju terminal Cicaheum, lalu melanjutkan perjalanan ke Garut.

[***]

Mentari pagi sudah menampakan diri di horizon, tanda bagi manusia untuk memulai aktifitas mereka. Embun sisa penurunan suhu tadi malam mulai menguap seiring kembali memanasnya suhu di bumi. Anak sekolah, ibu rumah tangga, petani, guru; semua orang beranjak dari tempat peristirahatan mereka untuk menikmati hidup yang indah ini.

Samir sudah berpakaian rapi: celana panjang bahan berwarna gelap dipadu kemeja lengan pendek cokelat bergaris-garis, ikat pinggang dengan gesper sederhana menguatkan lingkaran celananya. Tas kerjanya sudah dipenuhi beberapa buku pelajaran dan berkas-berkas penting yang harus dibawa ke sekolah. Dia membuka pintu dan mendapati Nurjanah baru saja masuk melewati pintu pagar rumah.

Nurjanah mendekat ke arah Samir dengan perlahan-lahan. Terlihat wajah malu-malu. Dia sengaja menghindari tatapan langsung dengan Samir. Dia memainkan jari-jari tangannya untuk menghilangkan kegelisahan, tapi justru semakin terlihat bahwa ada sesuatu dalam pikirannya.

“Kau kenapa?”

Cepat-cepat Nurjanah menggeleng. “Tidak… tidak ada apa-apa. Aku hanya… anu… itu…”

“Tolong sekalian kuras bak mandinya. Aku belum sempat membersihkannya,” Samir memotong.
Nurjanah mengangguk pelan. dia memberanikan diri menatap guru muda itu. Seorang pria sederhana yang tidak banyak tingkah dan tidak banyak bicara, laki-laki yang membuatnya penasaran kenapa tidak memperebutkan dirinya seperti para pemuda lain dikampung.

“Jangan memandangku seperti itu,” tegur Samir. “Aku merasa tidak nyaman.”

“Oh, itu… anu… maaf.”

“Sudahlah. Aku harus berangkat ke sekolah. Jangan lupa bak mandinya. Sekalian kalau ibumu sudah pulang dari pasar, taruh saja titipanku di dapur dengan tagihannya. Aku akan membayar setelah pulang dari sekolah.”

Nurjanah kembali mengangguk.

“Maaf merepotkanmu,” katanya dengan nada menyesal.

Nurjanah menggeleng seraya tersenyum. “Tidak… tidak apa-apa. Toh aku juga tidak bekerja.”

Setelah memastikan semua hal yang dia butuhkan diberitahukan kepada Nurjanah, Samir beranjak dari rumahnya. Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan besar, jalan setapak yang terasa panjang seiring pikiran-pikiran yang merasukinya. Dia merasa tegang begitu melihat Nurjanah. Perasaan itu yang menghantuinya, merasa bersalah karena sepertinya perempuan itu, seperti halnya ayahnya, berharap bisa bersanding di pelaminan bersamanya.

Dia tidak habis pikir kenapa orang yang telah memberinya kontrakan rumah itu tidak menikahkan putrinya dengan orang lain saja. Banyak yang memperebutkan dia untuk jadi kekasihnya, demikian kata Amin tadi malam, kalau dia tidak salah ingat. Kenapa tidak menerima saja salah satu dari mereka? Entahlah. Dia tidak perlu repot-repot menanyakannya. Dia punya pekerjaan lain yang harus dilakukan.

[***]

Dani Prasetya berjalan pelan saat melintas di depan ruang kerja Nada. Dia ingin memastikan temannya baik-baik saja setelah pertengkaran di restoran kemarin malam. Staff desain grafis itu belum sempat minta maaf kemarin. Dia menunggu agar Nada lebih tenang. Barulah hari ini dia bermaksud melakukannya.

Mata Dani menangkap sosok perempuan yang berbeda di tempat yang sama. Tidak ada sekretaris muda nan cantik yang dia kenal, yang ada hanyalah seorang ibu berusia pertengahan puluhan mengenakan kacamata sedang terpaku pada monitor. Dani menajamkan pandangannya melintasi jendela ruangan, berharap menemukan kesalahan dalam pandangannya. Perempuan di dalam ruangan itu menoleh ke arah Dani. Ketahuan memperhatikan orang lain, Dani berpura-pura mengikat tali sepatunya. Dia bangkit, sejenak melirik kembali ke dalam ruangan, kemudian pergi sambil bersiul.

Pikirannya dipenuhi tanda tanya. Tidak biasanya Nada bolos kerja. Mungkin ada urusan keluarga, atau bahkan mungkin sakit. Dani terus mengira-ngira sambil berjalan menuju lobi kantornya. Ketika tiba di meja lobi, dia melihat Mutia sedang melayani tamu yang hendak bertemu dengan salah satu staff kantor. Begitu tamu itu pergi kea rah yang ditunjukkan Mutia, Dani menghampirinya.

Dia menangkupkan tangan di atas meja lobi. Tatapannya tertuju pada Mutia. “Siapa perempuan di ruang sekretaris redaksi? Sepertinya dia orang baru.”

Mutia mendongak. “Dia memang orang baru. Baru dating beberapa menit yang lalu. Orang itu menggantikan posisi Ajeng Qotrunnada Sofia yang mangkir entah ke mana.”

Dani mengerutkan kening. “Mangkir katamu?”

“Ini hari pertama dia tidak masuk tanpa pemberitahuan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Mungkin ancaman pemecatan dari Pak Hasan membuat dia pergi.”

“Tidak mungkin, Nada bukan orang seperti itu.”

“Aku tahu Nada bukan pecundang seperti itu. Tapi itulah kemungkinan yang paling besar karena sehari sebelum dia pergi…” Mutia tidak meneruskan kata-katanya.

“Apa?” Dani penasaran melihat wajah petugas lobi itu mencoba mengingat sesuatu.

Mutia memusatkan perhatiannya ke arah monitor. Dia membuka kembali informasi yang masuk ke dalam database perusahaan kemarin. hanya ada satu informasi masuk ke prusahaan mereka. Sebuah naskah dari penulis baru yang hendak mengadu peruntungan. Mutia mengingat kembali bagaimana situasi kemarin. Nada baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda dia akan pergi dari atasannya. Berarti ada sesuatu dalam naskah itu yang membuat Nada merelakan pekerjaannya digantikan orang lain.

Tapi kemudian Mutia menepis pemikirannya. Bagaimana mungkin seseorang bisa pergi meninggalkan pekerjaannya hanya karena sebuah naskah. Sejujurnya, dia sendiri merasa penasaran kenapa Nada tiba-tiba menghilang.

“Hei,” suara Dani menggugah lamunan Mutia. “Kau kenapa?”

Mutia menggeleng. “Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu.”

“Apakah itu berkaitan dengan Nada? Kalau ya, katakana padaku apa yang kau pikirkan.”

“Kenapa aku harus memberi tahumu?”

Dani menelan ludah saat mendengar pertanyaan itu. Kenapa? Tentu saja karena dia harus minta maaf. Mau tidak mau dia harus menceritakan kejadian memalukan kemarin malam kepada Mutia agar bisa mendapatkan informasi sekecil apapun tentang Nada.

“Ada kejadian antara aku dan Nada kemarin malam, dan aku belum sempat meminta maaf.”

“Kau dan Nada? Kemarin malam?”

“Hei, hei, kau tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak… ah sudahlah. Beritahu aku apa yang kau pikirkan,” tepis Dani. “Aku harus menemui dia untuk meminta maaf.”

Mutia mengangkat bahu. Hampir saja dia mengatakan apa yang dipikirkannya ketika terlintas ide lain dalam benaknya. “Hubungi saja orang tuanya. Tanyakan kepada mereka ke mana Nada pergi.”

“Kenapa tidak kau saja yang menghubungi mereka?”

Mutia memelototi Dani.

“Baiklah, baiklah. Berikan aku nomor yang bisa dihubungi.”

Mutia mengetikan serangkaian perintah pada keyboard, menekan mouse beberapa kali, mengambil secarik kertas dari laci di bawah meja, mengambil ballpoint di atas meja, kemudian menuliskan serangkaian digit angka. Dia menyodorkan kertas itu kepada Dani.
Staff desain grafis itu menerimanya sambil melemparkan senyum. Dia menjauh dari meja itu, mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi nomor yang baru saja diberikan Mutia. Suara lembut dari seorang ibu paruh baya menyambut. Terjadi percakapan selama beberapa menit yang diselingi dengan ekspresi terkejut di wajah Dani. Cepat-cepat dia pamit menutup telpon, lalu kembali ke meja Mutia.

“Dia pergi dari rumah tadi malam, menyusul teman sekolahnya yang kini tinggal di Garut.” Mendengar kata Garut, Mutia baru sadar bahwa perkiraannya benar. “Aku pikir aku harus menyusulnya juga.”

“Kau gila! Tempat itu jauh.”

“Nada bisa pergi ke sana, kenapa aku tidak?”

“Dia memiliki alamat, sementara kau tidak. Bagaimana dengan itu?”

Dani menghela napas. Apa yang dikatakan Mutia ada benarnya. Dia tidak bisa begitu saja menyusul Nada tanpa tahu di mana lokasi Nada setepatnya. “Aku bisa menelpon dan menanyakan di mana dia berada.”

“Pak Hasan menyuruhku melakukan hal yang sama tadi. Berkali-kali aku mencoba, tapi tidak bisa. Sepertinya ponsel Nada mati.”
Dani mulai kehabisan akal. Dia berpikir untuk menyerah dan menunggu sampai Nada kembali dari Garut. Saat itu dia akan menemui Nada dan meminta maaf.

“Apa kau benar-benar ingin menemui dia?”

“Apa maksudmu?”

“Sepertinya kau sangat berharap bertemu dengan Nada.”

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku harus meminta maaf padanya.”

“Ceritakan padaku kenapa kau harus meminta maaf padanya.”

Dengan enggan, Dani balas bertanya. “Kenapa aku harus menceritakannya padamu?”

Mutia menyeringai. “Agar aku bisa memberimu alamat yang dituju oleh Nada.”

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: