Home > Uncategorized > immortal

immortal

PROLOG

“Sebagai permulaan,” suara Rani menggema seolah sedang berpidato di auditorium kampus, “aku merujuk pada ungkapan Francis Bacon. Tidak ada kaitannya dengan masalah kita, tapi apa yang diungkapkan Bacon adalah petunjuk yang tidak bisa diabaikan.”

Tidak ada satupun yang berkomentar. Mereka tidak tahu ungkapan mana yang dimaksud, mengingat banyak ungkapan yang disadur dari filosof Inggris itu. Rani tidak mau repot-repot menjelaskan. Itu hanya akan buang-buang waktu.

Ada lima orang di dalam ruang tamu sederhana di rumah kontrakan itu. Empat orang perempuan, satu laki-laki. Satu-satunya laki-laki dalam ruangan itu menjadi pesakitan, disidang oleh empat perempuan sekaligus. Empat lawan satu; bukan pertandingan yang seimbang. Laki-laki itu hanya bisa terdiam mendengar dirinya dibombardir tanpa henti.

“Aku mengenal sedikit mengenai orang ini sewaktu SMA dulu. Seorang remaja broken home yang selalu menutup diri.”

Anggun teringat percakapan dengan adiknya beberapa malam yang lalu. Kejadiannya kurang lebih sama. “Berarti, ini hanya masalah pola pengasuhan?”

Rani mengangkat bahu. “Pola pengasuhan mungkin hanya salah satunya.” Dia kemudian melirik sahabatnya, sang sekretaris redaksi yang masih membisu. “Penolakan lain oleh lawan jenis. Itu memperkuat efeknya.”

“Maksudmu?”

“Perempuan itu pernah menolaknya, kurang lebih sebanyak lima kali. Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?Ada beberapa lagi teori rumit yang dijabarkan para ahli psikoanalisis,” Rani melanjutkan, “seperti ketakutan akan kastrasi, fantasi Oedipal… lupakan saja. Kita hanya perlu menimbang beberapa faktor psikologis lain yang lebih sederhana dan jauh lebih berpengaruh. Bisa saja dia takut menikah karena melihat kehancuran keluarganya, atau takut akan hubungan dengan lawan jenis karena pernah menimbulkan frustasi dan memalukan.”

“Mengingat penjabaranmu tadi, aku rasa situasinya tidak sesulit yang dibayangkan. Pernah mengalami masa lalu kelam setelah ayahnya meninggalkan mereka, lalu di masa SMA mengalami penolakan berkali-kali. Dia pasti menekan perasaannya sampai ke alam bawah sadar.”

“Manusia didorong untuk mereduksi tegangan, begitu kata Freud, dan represi adalah salah satu mekanisme pertahanan terbaik.”

“Lebih dari itu, inferioritas nampaknya mempengaruhi kehidupan masa remajanya. Bukankah inferioritas bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap aspek kehidupan?”

“Ingatanmu tentang kompleks inferioritas Adler sangat tajam, nak,” Rani tersenyum bangga.

“Adler maupun psikoanalisis lain pasti sangat membantu dalam kasus ini. Tapi itu belum cukup,” Anggun menambahkan. “Menekan pengalaman menuju alam bawah sadar berarti melibatkan fungsi otak. Karenanya fungsi kognitif menjadi faktor paling penting dalam hal ini.”

Percakapan yang meliuk-liuk itu terus berlanjut. Dari empat orang perempuan yang ada di sana, hanya dua yang terus saling melempar argumen. Dua lainnya membisu. Sementara itu, si laki-laki berharap percakapan keduanya selesai karena dia memiliki pembelaan yang harus diungkapkan. Percakapan itu memang berhenti, bukan karena mereka kehabisan argumen. Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Pintu rumah itu didobrak…

Bagian 1

Nada berhenti mengunyah makanan di mulutnya ketika mendengar permintaan tidak masuk akal dari Dani. Seketika itu pula dia menjatuhkan sendok dan garpu. Dentingan yang terjadi antara sendok-garpu dengan piring menarik perhatian beberapa pengunjung restoran itu. Mereka semua memandang ke sudut ruangan tempat suara berasal. Keduanya kikuk, melemparkan senyum kepada semua orang untuk menegaskan tidak ada kejadian buruk yang terjadi.

Setelah semua orang kembali menikmati makan malam mereka, Nada mencondongkan tubuhnya ke meja. Suaranya berbisik. “Jangan konyol, Dani. Bagaimana mungkin kau tega membohongi keluargamu dengan cara seperti itu? Apalagi ibumu.”

Wajah gusar Dani terlihat jelas dalam temaram lampu di sudut restoran. “Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sudah berjanji pada ibuku seminggu yang lalu, dan sekarang semuanya berantakan. Dara pergi dariku, mencampakkan aku begitu saja padahal ibuku sangat ingin bertemu dengan dia.”

Nada memejamkan mata sejenak sebelum berkata, “dan kau memintaku untuk menjadi Dara di depan keluargamu? Demi Tuhan, ide gila macam apa itu?!” Nada murka, tapi suaranya ditahan sepelan mungkin.

“Sudah kubilang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” sergah Dani mempertahankan volume suaranya. “Aku sedang kalut, pikiranku kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.”

Nada menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi sambil tetap menatap tajam pada laki-laki itu. “Konyol,” Nada mendesis. “Kau ini seorang laki-laki, seharusnya bisa mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dibanding sundal yang sudah mencapakkanmu itu.Lihat sekelilingmu, banyak perempuan lajang yang menunggu pangeran impian mereka. Kenapa tidak memilih salah satu dari mereka?”

Dani menggeleng dengan wajah putus asanya. “Hanya kau orang yang terpikir olehku.”

“Kalau kau bermaksud merayuku, seharunya kau menggunakan kalimat yang lebih persuasif.”

“Aku mohon, Nad. Tolonglah aku.”

Mata Nada waspada seperti kucing hutan sedang memburu mangsa. Kemurkaan Nampak di wajahnya. “Aku tidak bisa membantu orang yang sudah melecehkanku.”

“Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura bodoh,” tepis Nada dengan sinis.

“Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu.”

“Pikirkan saja sendiri.”

“Ayolah, Nad…”

Merasa terus diprovokasi, Nada akhirnya meledak. “Bagaimana mungkin kau meminta aku berpura-pura menjadi orang yang mencintaimu di hadapan orang tuamu, padahal aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapmu?!”

Teriakan Nada lebih dari keras untuk kembali menarik perhatian para pengunjung. Beberapa dari mereka berhenti berbincang demi mendengarkan pertengkaran itu. Sebagian mendadak berhenti mengunyah. Mereka yang agak jauh dari tempat duduk Nada mengangkat kepala agar pandangan mereka bisa sampai ke lokasi pertengkaran. Dua pelayan laki-laki bersiaga seandainya benar-benar terjadi pertengkaran; pandangan keduanya tidak lepas dari Nada dan Dani.

Jelas sekali Nada tidak peduli lagi pada situasi di sana. Setiap mata tertuju padanya, tapi itu bukan masalah bagi dia. Tidak ada satupun di antara mereka yang mengenalnya, juga mengenal Dani. Artinya, tidak ada pembicaraan heboh di kantor besok pagi. Berbeda dengan Dani yang menciut, berusaha menyembunyikan dirinya. Seandainya dia bisa membalikkan meja, dia tentu akan menggunakannya untuk membuat benteng pertahanan yang melindungi wajahnya dari jepretan fotografis mata manusia.

Nada bangkit dari kursinya. “Aku tidak mau berpura-pura menjadi orang lain, apalagi berpura-pura menjadi sundal murahan.” Dia berbalik meninggalkan Dani sendiri yang semakin terbenam di atas meja. Langkahnya cepat diikuti setiap pasang mata yang ada di sana. Dia berjalan menuju kasir, menanyakan total pembayaran. Kasir yang masih tercengang itu memberitahunya. Dia membayar semuanya, termasuk makanan Dani, kemudian bergegas menuju pintu keluar.

Begitu melewati pintu, ponsel di tas tangan Nada berdering. Awalnya dia enggan mengangkat dengan asumsi Dani menelpon untuk minta maaf. Tapi prasangka seringkali terbukti salah jika kita tidak benar-benar mengetahui keseluruhan informasi. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Wajahnya tercengang melihat nomor yang memanggil.

Itu nomor salah satu orang penting dalam bisnis tempat Nada bekerja.

Ada masalah.

Nada geram pada dirinya sendiri. Melupakan janji penting adalah hal terbodoh yang dilakukan oleh seorang sekretaris.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: