immortal

January 13, 2011 Leave a comment

Bagian 22

Arak-arakan warga bergerak seperti sekumpulan semut menyerbu toples berisi gula. Seorang perempuan tidak berdaya diseret menuju tanah lapang di depan balai desa. Diikuti oleh sekumpulan pemuda memanggul tubuh Samir yang pingsan akibat pukulan balok kayu di samping kepalanya. Tubuh itu digeletakkan begitu saja di tegah lapang. Batak memandang dengan ekspresi jijik sekaligus kagum. Guru muda itu berhasil merobohkan empat orang pentolannya. Dia tidak tahu apakah anak buahnya selamat. Kalaupun ya, mereka pasti mengalami cicdera parah.

Nada meronta. Sambil menguraikan air mata dia memohon untuk dilepaskan. Tubuh Samir yang tidak berdaya dicampakkan begitu saja di depannya. Lebih dari itu, mereka menyakiti laki-laki yang menjadi kekasih pertamanya. Ketakutannya beralasan. Semenjak kejadian pemukulan di ruang tamu rumah kontrakan Samir, dia tidak mengetahui apa yang terjadi karena dievakuasi oleh orang-orang tidak dikenal. Sementara dia ditahan, tidak ada satupun orang yang memberi penjelasan kenapa semua ini terjadi. Bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan bahasa miliknya.

Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Rani. Psikolog itu menghilang entah ke mana. Guru senior yang membawa serta putrinya juga tidak terlihat. Apalagi dua anak SMA yang datang kemudian mengungkapkan kebohongan Samir. Tidak ada siapapun di sana. Hanya dia di tengah kerumunan orang tak dikenal.

Seorang pria tua menghampiri Nada. Dia ingat siapa orang itu. Orang yang memberi perintah untuk menyerang Samir. Nada menatapnya dengan ekpresi jijik ketimbang marah. Pria tua menyedihkan ini pasti memanfaatkan orang-orang di kampungnya untuk membatu dia.

“Kenapa, anak muda? Ceritakan padaku kenapa aku harus membiarkanmu selamat.”

Jantung Nada berdegup kencang. Pertanyaan macam apa itu? Diucapkan dengan suara pelan yang penuh penekanan, mirip ancaman para interogator dalam staf khusus kepada para teroris. “Saya tidak yakin saya memahami pertanyaan Anda, Pak. Siapa Anda bagi saya? Dan kenapa melakukan ini terhadap saya? Ada kesalahpahaman yang harus diluruskan…”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Nada. Amin mengeraskan rahangnya. Terdengar suara gemelutuk giginya, bukan karena kedinginan, tapi karena amarah membuncah yang tak bisa dikendalikan.

“Kau masih saja mengelak setelah semua ini terlihat jelas. Lihat kami,” katanya dengan suara menggelegar. “Ada puluhan orang di sini. Pria, wanita, tua, muda, anak-anak. Lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kalian berdua telah menjalin hubungan gelap di luar pernikahan.”

Nada menggelengkan kepalanya. Tuduhan itu benar-benar tidak masuk akal. Jika yang dimaksud oleh orang itu adalah dia menginap di rumah Samir beberapa malam yang lalu, itu karena ada seorang perempuan lain yang menemaninya. Gadis muda yang menurut pengakuannya adalah putri dari saudara pemilik rumah kontrakan itu. Dia mengingat gadis itu. Tapi di mana orang itu sekarang?

Dia melihat sekeliling. Yang terlihat olehnya hanya wajah-wajah penuh amarah layaknya memendam dendam berpuluh-puluh tahun. Sekarang dia mengerti kenapa orang-orang ini membawanya ke sini, kenapa mereka berkerumun di tempat ini. Tuduhan perjinahan telah diajukan pada hakim. Entah siapa hakimnya, yang jelas pria tua itulah yang terlihat paling berkuasa. Di tengah tanah lapang ini, di tengah kerumunan orang-orang ini, eksekusi akan dilakukan. Melihat situasi yang ada, Nada memperkirakan hukuman yang akan dijatuhkan pada mereka adalah rajam: dilempar batu di tengah tanah lapang oleh kerumunan warga.

“Saya bisa membuktikan, Pak. Beri saya kesempatan. Ada seorang perempuan yang ikut menginap di rumah itu. Saya masih ingat namanya. Nur…”

“Satu orang tidak cukup!” Amin memotong untuk menyembunyikan fakta bahwa putrinya adalah saksi kunci itu. “Bisa saja kau memberinya beberapa nominal uang untuk agar orang itu mau bekerja sama.”

Nada menggeleng. Tuduhan lain yang tidak masuk akal. Siapa sebenarnya orang ini? tanya dia dalam hati. Orang ini meminta alasan, tapi menolak apa yang baru saja dikatakannya. Nada sering melihat tokoh-tokoh seperti itu dalam film. Mereka adalah pribadi antagonis yang menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisinya. Ambisi apa? Lagi-lagi Nada tidak tahu.

“Sudah jelas bahwa dia tidak punya bukti,” kata Amin dengan suara menggelegar seraya memperhatikan sekelilingnya. Semua orang menyahut kompak, memberi dukungan kepada Amin. Itu membuatnya melambung. Sekarang dia tahu kenapa para pemimpin enggan lengser dari kursi mereka. “Seret dia ke tengah lapang bersama laki-laki busuk itu. Kita harus membersihkan kampung kita dari para pendosa seperti mereka.”

“Hajar saja, jangan beri ampun!”

“Jangan beri dia kesmepatan berbicara. Dia pasti akan mencari kebohongan untuk melindungi dirinya!”

“Bersihkan kampung ini dari para pendosa!”
Satu per satu dari mereka meneriakan kata-kata hujatan, provokatif, penuh amarah. Dalam situasi seperti ini kebenaran menjadi semakin kabur: objektivitas tak lebih dari subyektivitas dalam bentuk jamak.

Kerumunan warga kembali bersorak. Dua perempuan yang memegang Nada menyeretnya ke tengah lapang. Dia didorong hingga tersungkur di samping tubuh Samir. Dia bangkit, menaruh kepala Samir di pangkuannya. Pelipis guru muda itu masih mengeluarkan darah. Nada menyeka darah yang masih mengucur itu, lupa bahwa air matanya juga masih mengalir.

“Sam, bangun,” bisiknya sambil menggoyangkan pundak Samir. “Hei. Bangun.” Tidak ada reaksi. Ketakutan menyerbu dia dari segala arah. Dia merasa terjadi reaksi di perutnya, reaksi yang tidak wajar atas ketakutan nyata melihat kerumunan warga yang bisa berbuat brutal kapan saja terhadap dia yang tidak berdaya. Tidak ada Rani, tidak ada guru senior dengan putrinya. Samir masih tidak berdaya.

Aku tidak bisa melewati ini sendirian.

Nada menunduk. Air matanya jatuh mengenai wajah Samir. Keajaiban terjadi.
[***]
Pria berkepala plontos itu menghantamkan balok kayu ke pelipisnya, dan segalanya gelap bagi Samir. Kegelapan total menyelimutinya tanpa celah sedikitpun. Dia seperti semut hitam di atas arang di dalam tungku tanpa api di sebuah ruangan yang sedang mati lampu pada tengah malam.

Dalam beberapa waktu Samir merasa dirinya terjebak di tengah-tengah gua. Tanpa cahaya yang memandu, dia tidak berdaya. Tidak berani untuk melangkahkan satu pun kakinya. Jangankan jalan, dia bahkan tidak bisa melihat jemari yang diangkat setara dengan wajahnya. Sesekali terdengar suara, yang, meskipun suara itu biasa saja, terdengar mengerikan di tengah kegelapan. Terdiam di tengah kegelapan, betapa mengerikan. Seperti inikah alam kubur setelah semua manusia meninggal? Jika ya, seharusnya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan penerang di alam kubur.

Samir merasakan sensasi dingin di kulit wajahnya. Sesuatu yang lembut. Air! Ada air menetes di tengah kegelapan? Ini aneh. Samir menengadah untuk mencari tahu—meskipun dia tahu itu sia-sia. Satu tetes air jatuh. Kali ini mengenai matanya. Secara refleks kelopak mata Samir menutup. Ketika dia membukanya secara perlahan, yang dia lihat bukan lagi kegelapan. Di hadapannya terpancar cahaya dari wajah seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuknya.

Malaikat yang dikirim Tuhan itu sedang menangis. Kenapa? batin Samir. Dia mengangkat tangannya, menyeka air mata yang terus bergulir di pipi malaikatnya. “Kau menangis,” kata Samir pelan. “Bukankah kau malaikat yang dikirm Tuhan untukku? Kenapa kau menangis?”

Nada tersenyum getir mendengar ungkapan Samir. Dia terhibur, tapi kenyataan mengerikan yang sedang dia hadapi-mereka hadapi—terlalu berat untuk sekedar dihadapi dengan senyuman. Pikiran liarnya sudah menduga ke arah mana pergerakan kerumunan warga. Tidak ada jalan keluar, tidak ada cara untuk membuktikan dirinya dan Samir tidak bersalah. Ini adalah negara demokrasi—katanya, dan karenanya rakyat memegang kendali—mereka yang lebih banyak memegang kendali. Nada membayangkan bagaimana Sokrates menghadapi tuduhan dan vonis mati setelah mayoritas suara menyatakan dia bersalah.

Mayoritas!

Sokrates menghadapi kematiannya dengan tersenyum karena yakin akan immortalitas; lebih dari itu dia mengatakan bahwa para penuduhnya tidak akan bias menyakiti dia meskipun mereka membunuhnya. Nada bukanlah Sokrates yang bijak, tapi setidaknya dia bisa tersenyum. Dia tidak tahu apakah mereka benar-benar akan menghukumnya sampai mati atau membiarkannya hidup penuh luka. Hanya saja, keberadaan Samir di pangkuannya benar-benar memperingan ketakutan yang menjalar di tubuhnya.

Nada meraih tangan Samir yang digunakan untuk menyeka air matanya. Dia menggenggam erat tangan itu, sangat erat, enggan melepaskannya lagi.

“Kenapa peri kecilku?” tanya Samir, masih sempat menggoda Nada. Dia merasakan denyutan mengerikan di kepalanya. Kesadaran yang telah pulih seluruhnya membuat dia mengingat semua kejadian mengerikan di rumah kontrakan beberapa saat yang lalu. Sekelompok warga menyerang rumahnya, dipimpin oleh Amin. Amin. Sejak desas-desus di sekolah menyebar dia sudah tahu bahwa penjaga sekolah itu punya dendam pribadi karena penolakan berkali-kali. “Kau tidak perlu takut. Bukankah kau akan menjagaku, malaikatku?”

Mendengar perkataan Samir, Nada semakin erat menggenggam tangan Samir. Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu, katanya pada Samir tempo hari. Guru muda itu benar. Dia tidak boleh lemah karena dia harus menjaga sang pujaan hati. Tanpa sadar Nada merapalkan lagu yang indah dengan suara pelan, cukup untuk bisa didengar Samir:

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you is sends me to heaven

Satu perintah dari Amin, eksekusi pun dimulai.
[***]
Dani Prasteya melewati jalan yang sama yang pernah dilaluinya. Dia sempat merasa tegang ketika melintasi kerumunan warga yang sedang menghakimi dua pesakitan. Sebagai warga asing, dia enggan ikut campur. Dia mempercepat langkahnya menuju rumah yang pernah ditempati Nada.

Sesampainya di sana, dia merasa perutnya dihantam bogem Chris John. Rumah itu kosong, salah satu kaca jendelanya pecah, seorang remaja tergeletak dengan kening berdarah. Sepertinya telah terjadi pertempuran di sini. Dia teringat pada kerumunan massa yang tadi dilewatinya, berpikir bahwa kejadian tadi berkaitan. Tidak ada waktu untuk berpikir. Dia harus menolong anak itu.

Dani membungkuk untuk memeriksa kondisi anak itu. Nadinya masih berdenyut, napasnya masih berhembus. Dia mengeluarkan ponsel untuk menelpon ambulans. Saat itu, seorang pria berpakaian rapi masuk ke halaman rumah. Pria itu sama terkejutnya dengan Dani ketika melihat kondisi rumah. Tapi, berbeda dengan Dani, pria itu tahu apa yang sedang terjadi. Dia bergegas pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun menuju medan persidangan brutal sambil berharap dirinya belum terlambat.

Bagian 23

Upacara bendera senin pagi kali ini berbeda dari upacara biasanya, bahkan mungkin inilah pertama kali dalam sejarah mereka ada upacara bendera seperti itu. Dalam suasana haru biru di tengah pagi yang cerah itu tidak ada satupun siswa berani cengengesan, mengobrol, apalagi pura-pura sakit untuk sekedar mendapat pelayanan teduh di ruang PMR ketimbang tersiram panas mentari. Semua tertunduk malu merenungkan keberadaan mereka di sana, alasan kenapa mereka berdiri di lapangan itu sementara orang lain tidak. Di hadapan mereka, Sri Nuryani berbicara mewakili pihak sekolah. Di antara sekian guru dan staff yang berdiri di sana dialah yang paling memahami situasinya.

Di barisan XI IPA 1, Nita tidak bisa menahan diri untuk mengucurkan air mata. Barisan itu berantakan lantaran Diah dan Tika keluar untuk kemudian berdiri di samping Nita. Tika menyerahkan tissue untuk menyeka air mata Nita, sementara Diah memeluk pundak Nita sambil membisikan kata-kata penghibur. Di barisan laki-laki kelas itu, Ibnan tertunduk malu. Malu pada diri sendiri, malu pada Nita, malu pada wali kelasnya. Yang terakhir yang membuatnya paling sedih hingga mengucurkan air mata. Dia masih berdiri di tengah lapang sementara orang itu tidak. Meskipun dia datang ke sekolah dengan kepala diperban setelah mendapat tiga jahitan di pelipis kanan akibat hantaman batu bata, dia merasa apa yang dialami orang itu jauh lebih tragis darinya.

Bahkan Sri Nuryani tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Sesekali dia sesenggukan, bahkan berhenti bicara untuk sekedar menghela napas menahan tangis. Dia memahami betapa Tuhan tidak pernah bisa ditebak. Betapa Dia menuliskan scenario agung-Nya dengan sangan rapi. Satu kejadian memicu serangkaian kejadian lain yang berakhir di titik nol. Satu kebohongan, menimbulkan kebohongan lain, dengan resiko fatal tak terkira. Bukan hanya si pembohong, orang yang dibohongi ikut mendapat getah.

Dia menyampaikan klarifikasi kepada seluruh siswa yang telah mendengar kebohongan itu. Seluruh kebenaranan, seluruh detail kejadian. Sri benar-benar menceritakan keseluruhannya untuk menghapus kesalahpamahan. Segalanya sudah berakhir, dan dia ingin akhir yang penuh kedamaian.

Setelah selesai menyampaikan pidato, dia turun dari podium menghampiri dua peti di hadapan para siswa, terletak di samping tiang bendera. Tiga orang dari pasukan pengibar bendera kembali masuk ke lapangan untuk menurunkan bendera—bendera setengah tiang. Sri tidak melepaskan pandangannya dari dua peti mati itu, dalam hati mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya kepada seorang kader berdedikasi yang telah pergi mendahuluinya. Pergi karena kebodohannya sendiri mengatakan sesuatu yang tabu. Meskipun kemudian eksekusi atasnya dilakukan denga tuduhan lain, tetap saja pemicunya adalah kebohongan itu.

Samir Israr Rasyid meninggal karena pendarahan fatal di kepalanya. Luka akibat hantaman balok kayu ditambah lemparan batu dari penduduk. Kematian tragis, sekaligus juga indah mengingat seorang gadis cantik menyerupai malaikat memeluknya ketika menghembuskan napas terakhir. Sang malaikat, Ajeng Qotrunnada Sofia, menyusul beberapa menit kemudian setelah salah satu lemparan batu warga mematahkan tulang rusuknya dan menusuk jantungnya sendiri. Keduanya baru dievakuasi ketika pemuka agama kampung itu, Ustadz Abdul Bashar, membubarkan mereka sambil menghardik sifat hewani warganya.

“Tahu apa kalian tentang hukum agama?! Karena ulah orang-orang tolol seperti kalian mengatasnamakan agama dalam setiap tindakan, citra agama menjadi rusak. Aku saja yang sudah belajar agama berpuluh-puluh tahun tidak berani memvonis orang sembarangan, bahkan sampai membunuhnya.”

Mayat keduanya dievakuasi ke RSUD dr. Slamet untuk diautopsi demi kepentingan penyelidikan pihak kepolisian—pemuka agama itu berinisiatif memanggil aparat penegak hukum. Polisi mengusut kasus tersebut dengan memanggil beberapa saksi sampai akhirnya memutuskan seorang tersangka: Amin Sudrajat.

Keluarga Nada sudah dihubungi oleh Rani. Meskipun dia tidak bisa melihat reaksi orang yang dihubunginya, dia bisa merasakan ada kehancuran total dari orang tua Nada—terutama ibunya. Orang tua mana yang tidak hancur mendengar anaknya meninggal dengan cara tragis jauh dari pelukannya demi laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya? Rani tidak bisa menghibur mereka, dia bahkan tidak bisa menghibur dirinya sendiri. Bagaimana pun juga adalah sahabat terdekatnya sejak SMA. Sekarang dia kehilangan sahabat itu di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Rani berdiri sendiri di salah satu sudut sekolah, mendengar apa yang dikatakan Sri melalui pengeras suara. Tubuhnya disandarkan ke dinding untuk menjaga agar tidak jatuh. Sementara Dani duduk tak berdaya di atas lantai sambil memeluk lutut. Dia berusaha menahan air mata yang jatuh, tapi tidak berhasil. Tetes demi tetes air jatuh darinya, dari Rani, dan dari semua orang. Air itu seperti berubah menjadi samudera tanpa batas yang menelan mereka dalam ketidakberdayaan, tanpa kekuatan. Kedua orang yang baru bertemu itu mengalami kehilangan yang sama, dan keduanya tidak bisa melakukan apa-apa.

Dani belum sempat membuktikan pada Nada bahwa dirinya layak untuk menjadi pendamping Nada. Dia ingin membuktikan bahwa permintaanya di restoran tempo hari bukan karena ingin melecehkan Nada, tapi berdasarkan perasaannya yang terdalam. Dia menyesali kejadian saat dirinya tidak turun dari bis ketika sadar Nada tidak ada. Seandainya dia turun, kembali ke terminal untuk mencari Nada, mungkin keadaanya akan berbeda.
Kesadaran mereka tergugah ketika suara dari pengeras suara itu berhenti.

Sri Nuryani, guru yang berniat baik itu bersikeras mendatangkan jenazah Samir dan Nada dalam upacara bendera senin pagi dengan harapan bisa mengiring kepergian keduanya sebagai persembahan terakhir. Rani tahu upacara bendera akan berakhir dan peti mati akan dibawa ke rumah sakit untuk proses administrasi sebelum dibawa ke tempat tinggal masing-masing.
Rani mengulurkan tangan pada Dani, meminta desiner grafis itu berdiri. Dani menyambut uluran tangan Rani.

“Terima kasih,” katanya sambil menyeka air mata. Mereka berdua berjalan pelan mendekati lapangan upacara. Rupanya, semua siswa, dikomado oleh Sri, menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta.

Sembilan tahun berpisah dalam kerinduan, menahan gelora asmara di dada. Begitu bertemu, ajal menjemput keduanya secara bersamaan. Bahkan mereka tidak sempat merasakan semerbak harum cinta yang mereka tabur sejak lama. Apa boleh buat, takdir tetaplah takdir. Meskipun mereka tidak berjodoh di dunia, mungkin Tuhan telah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka huni berdua di surga sebagai sepasang kekasih. Mereka layak mendapat gelar cinta sehidup semati.

Raga boleh dikubur, tapi cinta akan tetap bersatu di keabadian.
Di posisi terdepan, Sri menyelesaikan doanya. Dia menengadah ke angkasa seakan berbicara dengan orang di atasnya:

“Selamat jalan, cucu Adam-Hawa. Meskipun tidak pernah merasakan indahnya cinta di dunia, semoga cinta kalian tumbuh abadi, seabadi surga itu sendiri.”
[***]
Di atas sana, bertengger dengan manis di atas awan, sepasang kekasih yang telah menjalin ikatan dalam keabadian. Mereka berdua duduk di atas awan dengan kaki terjulur ke bawah seperti sedang duduk di tepi atap, yang satu memeluk pundak yang lain. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki.

“Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya,” kata perempuan itu. “Menyandarkan kepala di bahu laki-laki. Rasanya aneh.”

“Maksdumu?”

“Entahlah. Mungkin karena ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Seperti sedang tidur di atas bantal paling empuk di dunia.”

Laki-laki itu terkekeh. “Kau belebihan. Tapi, kalau kau merasa nyaman, aku akan lebih sering mengajakmu bersandar di pundakku.”

“Benarkah? Aku kira kau seorang pecundang yang tidak berani mengungkapkan perasaan, apalagi bersikap romantis pada pasangan.”

Laki-laki itu melepaskan pelukannya, kemudian menatap tajam pada kekasih hatinya itu. “Kau meragukanku?”

“Coba saja kalau kau bisa,” si perempuan mencibir.

“Bagaimana kalau ini,” katanya. Dia menahan napas, mengulur waktu agar pasangannya penasaran.

“Apa?”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kau telah memberiku cinta yang abadi, karena kau membawaku menuju tempat paling indah yang tidak bisa dikalahkan tempat manapun. Kaulah malaikatku.”

Perempuan itu tersipu malu. Sikapnya serba salah sementara laki-laki itu memandanginya terus dengan tatapan yang indah. Dia memberanikan diri menatap pasangannya, menunggu apa yang akan terjadi.

“Terima kasih,” kata laki-laki itu.
Pasangannya mengangguk. Perhatian mereka kemudian teralihkan pada orang-orang di bawah mereka. Mereka melihat seorang perempuan menengadah ke atas, seperti berbicara kepada mereka.

“Selamat jalan, cucu Adam-Hawa. Meskipun tidak pernah merasakan indahnya cinta di dunia, semoga cinta kalian tumbuh abadi, seabadi surga itu sendiri.”

Si sekretaris menutup mulut yang menganga dengan kedua tangannya. Dia terkesan dengan apa yang diucapkan perempuan di bawah sana. Semoga cinta kalian tumbu abadi, seabadi surga itu sendiri. Dia pernah melihat perempuan itu, meskipun tidak sempat mengenal lebih jauh. “Dengar apa yang dia katakan?”

Si guru muda mengangguk.

“Begitu indah.”

Dia tersenyum sambil memeluk erat malaikat yang telah membawanya menuju keabadian. Tidak, dia tidak akan pernah melepaskan lagi perempuan yang dicintainya itu, bahkan demi sebuah kejutan konyol. Dia akan menjaga kekasih hatinya seperti dia menjaga buku-bukunya yang paling berharga.

Omong-omong tentang buku, sebuah ide terlintas di benak sang guru. “Kau lihat orang-orang berseragam putih abu itu?”

“Ya, tentu saja. Aku bahkan berharap bisa mengenakan kembali seragam itu.”

“Kau bisa saja mengenakan seragam itu, tapi kau tidak bisa merasakan sensai yang sama dengan yang pernah kau rasakan dulu.”

“Yang penting kan pakai seragam,” si sekretaris tidak mau kalah.

“Kalau begitu, pakailah seragam putih abu. Kalau kau ingin merasakannya, aku bisa membuatmu merasakannya.”

“Memangnya bisa?”

“Aku ini guru, kekasihku yang cantik. Aku bisa mengajarimu apa yang ingin kau ketahui.”

“Kau ingin mengajariku?” dia mengulangi dengan sinis. “Apa aku tidak salah dengar?”

Guru muda itu terkekeh. “Ayo kita bangun sekolah di sini.”

Sekretaris itu mengerutkan kening.

“Aku jadi gurumu, kau jadi muridku.”

Categories: Uncategorized

immortal

January 2, 2011 Leave a comment

Bagian 18

Melihat Samir menerima tamu, yang salah satunya sudah dikenal Amin sebagai teman SMA Samir, ide busuk muncul di kepalanya. Dia membiarkan kedua tamu Samir itu masuk terlebih dahulu sebelum beranjak keluar dari rumahnya. Setelah gagal membujuk pemuka agama di kampungnya untuk mengadili Samir, dia punya rencana baru yang lebih instan, lebih gila, dan lebih kejam. Luka yang ditorehkan Sami padanya terlalu dalam. Dia merasa tidak dihargai sebagai sorang ayah yang menginginkan anak perempuannya dinikahi pemuda itu, juga sebagai seorang wali pemilik rumah yang ditempati pemuda itu.

Kebusukan dibalas kebusukan.

Alih-alih menemui pemuka agama yang gagal dia bujuk tempo hari, dia menemui penjaga teritori kampung mereka untuk meminta bantuan. Orang seperti itu lebih mudah diprovokasi. Mereka tidak memiliki pengendalian diri, hanya ingin merusak dan menghancrukan. Karena itulah mereka menjadi penjaga teritori, seorang preman yang mempertahankan wilayahnya dari ancaman orang lain dengan kekerasan.

Amin menemukan pria bertubuh tinggi tegap dengan kepala plontos dan tato di beberapa bagian tubuhnya itu sedang bermain kartu di pos ronda kampung. Bersama preman berusia awal empat puluhan itu itu berkumpul lima orang, tiga diantaranya bermain kartu dengan Batak—demikian sebutan si penjaga teritori. Salah satu di antar mereka, seorang pemuda bertubuh tinggi ramping dengan luka jahitan di dahi akibat kecelakaan motor, menaru perhatian pada Nurjanah. Perhatian mereka teralihkan ketika pria separuh baya itu mendekat.

“Ada apa, Pak?” salah satu dari mereka yang tidak bermain menyapa.

Amin mengatur napasnya agar bisa berbicara dengan benar. “Aku ingin minta bantuan dari kalian. Ini tentang guru muda yang mengontrak di rumah saudaraku.”

Mau tidak mau Batak menghentikan sejenak permainan kartu mereka. Dia meletakkan kartu-kartu itu, menyuruh Amin untuk mendekat dan duduk di antara mereka.

Amin melirik sejenak ke arah Batak. Salah satu dari pengikut Batak, yang paling muda, dengan luka di kening itu, bisa dimanfaatkan untuk memprovokasi. Meskipun Amin pernah menolaknya berpacaran dengan Nurjanah, dia yakin Heri akan terpancing mendengar pujaan hatinya disakiti. Amin mengubah ekspresi wajahnya secepat hembusan angin membawa terbang sari-sari bunga.

“Laki-laki itu menyakiti Nurjanah.”

Seperti yang sudah diperkirakan Amin, Heri meledak. Dia melonjak dari tempat duduknya sambil menggeram, mengepalkan kedua tangan, memamerkan urat dan otot-ototnya yang berada dalam posisi siap tempur. Batak mencoba menenangkannya dengan menarik dia kembali ke tempat duduk.

“Jangan semborono, anak muda. Meskipun aku seorang preman, aku tidak akan bertindak tanpa alasan jelas karena itu akan menjerumuskan dirimu sendiri.”

Heri mendengus.

Amin menelan ludah mendengar ucapan Batak. Tidak seperti dia duga, rupanya preman ini punya pengendalian diri. Dia ingin tahu seberapa jauh pengendalian diri itu akan bertahan. “Dia menolak permintaanku untuk menikahi Nurjanah berkali-kali dengan alasan ingin menunaikan tugasnya sebagai guru. Tapi alasan itu ternyata bohong. Dia menolak putriku karena memiliki seorang simpanan.”

Mulai terlihat perubahan di wajah Batak. “Maksud Bapak?”

“Di KTP miliknya jelas tertulis bahwa statusnya belum kawin. Tapi beberapa hari yang lalu aku melihat dia membawa seorang perempuan ke rumahnya, menginap satu malam di sana.”

“Apa?!” teriak beberapa orang serentak. Kemudian terjadi gemuruh yang tidak terkendali. Masing-masing mengeluarkan komentar kepada orang di sampingnya.

“Bisakah kalian bayangkan apa yang terjadi jika laki-laki dan perempuan berada di dalam satu rumah?”

Gemuruh kembali terdengar. Sementara itu, Batak menghela napas sambil mencoba memahami situasi yang diceritakan Amin. Putri Amin ditolak oleh Samir dengan alasan ingin menjadi guru yang baik, sementara kenyataan menyatakan bahwa Samir membawa seorang perempuan ke rumahnya. Bagi Batak, tidak masalah seberapa sakit hati Amin dan putrinya. Tapi kelakuan guru muda itu sudah melewati batas. Mengotori kampung mereka.

“Aku juga melihatnya beberapa hari yang lalu,” salah satu dari mereka angkat suara. “Seorang perempuan keluar dari rumah yang ditempati Samir.”

“Guru itu berjinah.”

“Bagaimana mungkin seorang guru berkelakuan bejad seperti itu?”

“Kita harus bertindak sebelum dia mengotori kampung ini.”

“Dia harus membayar kebohongannya kepada Nurjanah,” seru Heri, yang kemudian diikuti teriakan setuju dari semua orang yang ada di sana. Amin berusaha menyembunyikan seringai liciknya.

“Kalian tenang dulu,” kata Batak sambil bangkit berdiri. “Kita akan membersihkan kampung ini, tapi dengan cara yang lebih halus dan pelan. Pelan-pelan, tanpa suara.”

“Kita juga membutuhkan lebih banyak orang,” lanjut Heri. “Kita, seluruh kampung ini, harus turut serta mengambil partsipasi dalam proses pembersihan ini.”

“Heri, Dodi, kalian kumpulkan para pemuda lainnya. Lakukan dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian guru muda itu. Jika dia tahu rencana kita dia bisa melarikan diri.”

“Baik.”

“Sekalian juga ibu-ibu,” Amin memberi saran. “Perempuan itu sedang ada di rumah Samir sekarang. Kita bisa sekalian menghukum mereka berdua.”

“Dendi, kau kumpulkan ibu-ibu kampung ini. Ingat, jangan sampai mereka heboh. Ini operasi pembersihan diam-diam.”

Dendi mengangguk.

“Sekarang kalian pergi.”

Ini operasi pembersihan diam-diam, Amin mengulangi kalimat Batak dalam hatinya. Dia tersenyum puas melihat mereka bergerak dengan sigap demi kepentingan kampung mereka—demi kepentingan pribadinya. Bensin telah ditumpahkan, pemantik api sudah disiapkan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai api yang besar menyala meleburkan dendam. Sementara mereka sibuk mengumpulkan masa, Amin memutar otak mengantisipasi hal-hal yang akan mengganggu usahanya. Pemuka agama di kampungnya. Dia harus menjauhkan orang alim itu dari sini agar tidak terusik dengan kegaduhan yang akan ditimbulkan oleh kerusuhan warga, yang berarti orang alim itu akan menghalangi rencana Amin.

Revenge is sweet.

[***]

Samir berdiri di sudut ruangan, bersandar ke dinding sambil melipat kedua tangan di dada, sementara keempat perempuan itu duduk di kursi. Sempurna sekali. Empat perempuan mengusung misi sama menghadapi satu orang pesakitan. Tentu saja ini tidak seimbang. Meskipun begitu, kehadiran keempat orang dengan niat baik mereka menunjukkan bahwa mereka peduli padanya. Tidak seperti yang dia duga selama ini, bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikan keberadaannya. Empat orang. Jumlah itu pula yang ditentukan oleh syariat sebagai persyaratan kuantitas saksi dalam kasus perjinahan.

Ide konyol Nada membawa serta Rani yang telah menjadi psikolog dirasa berlebihan, dan sekarang, guru senior itu berkunjung ke rumahnya membawa serta putri sulungnya yang kuliah di psikologi Unpad. Ada perasaan aneh yang mengalir dalam darah Samir, membuat tubuhnya bergejolak, ketika dia memperhatikan keempat perempuan itu. Sri Nuryani, seorang guru senior cerdas dan berwibawa, dengan dedikasi tinggi terhadap pendidikan, dan karena dia senior pengalamannya dalam mengajar menjadi nilai tambah. Anggun Azzahra, putri sulung Sri, memiliki mata jernih yang indah, dengan suara halus yang enak didengar. Prestasi akademiknya menambah daya tarik bagi para lelaki yang menginginkan dia sebagai pasangan mereka.

Rani Partiwi, teman sebangku Nada sewaktu SMA. Meskipun kadang tidak sopan jika berbicara, namun keganjilannya dalam hal itu membuat dia diterima banyak orang di sekitarnya. Tidak ada kata jaim—kata anak-anak gaul zaman sekarang—dalam kamus hidup Rani. Diri sendiri apa adanya.

Perempuan terakhir dalam ruangan itu, Ajeng Qotrunnada Sofia, merupakan sentral dari alam semesta yang semakin kacau ini. Sekretaris redaksi yang bersikap keras kepada dirinya sendiri untuk meraih masa depan cerah, bahkan mengorbankan masa-masa indah sekolahnya. Kini dia berusaha membayar apa yang tidak bisa dia bayar di masa lalu, dan itu menjadi fakta tak terbantahkan sebagai penyebab tunggal kenapa gugusan bintang dalam semesta buatan Samir mulai bertabrakan.

Mereka berempat memiliki daya tarik yang dibutuhkan untuk memikat laki-laki. Satu-satunya laki-laki dalam ruangan di mana mereka berkumpul tidak bisa menahan diri untuk tidak mengakui perasaannya. Laki-laki normal mana yang tidak tergiur dengan empat perempuan cantik di rumahnya? Kecuali laki-laki tidak normal, maka dia pasti munafik.

Hei, memangnya siapa yang abnormal?

Samir beranjak mendekati tempat duduk mereka, duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Dadanya berdegup kencang, gerakannya kaku, merasa salah tingkah menyadari keempatnya menghujamkan pandangan ke arah dia. Dia berdehem untuk membersihakn tenggorokannya yang tercekat. Satu kebohongan sudah menyebar seperti awam mendung menghalangi mentari memberi kehidupan. Apa salahnya dengan satu kebohongan lain? Mungkin akan muncul hujan badai yang menyapu kehidupan. Tidak masalah, toh bola salju sudah bergulir menyapu semua yang terlewati olehnya, menjadikannya raksasa putih mengerikan.

Satu kebohongan lagi, dan kebohongan lain akan menyusul untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Bagian 19

“Kalau tidak salah kau guru Fisika?” Rani memulai pembicaraan mendahului Samir, membuatnya terpaksa menahan diri untuk pengungkapan. “Aku anggap kau sudah memahami setepatnya bagaimana konsep relativitas berlaku. Postulat pertama Einstein mengatakan bahwa semua hukum fisika dapat dinyatakan dalam bentuk yang sama asalkan ditinjau dari keragka acuan yang sama.”

“Seratus untukmu karena menghafalnya dengan baik.”

“Karena itu kerangka acuan menjadi harga mutlak dalam relativitas.”

“Dan sejauh ini aku tidak memahami arah pembicaraanmu.”

“Ada beberapa pandangan yang harus aku kemukakan padamu. Seperti halnya kerangka acuan sebagai jantung relativitas, maka aku mengambil beberapa pandangan teoritis untuk menjelaskan fenomena yang sudah dijabarkan secara singkat oleh Nada padaku.”

“Oh, aku mendengar pakar teori berbicara.”

“Abnormalitas bisa dipandang dari beberapa kerangka acuan, yang kesemuanya memberi pandangan berbeda tapi mirip. Dalam pandangan statistik, abnormal berarti penyimpangan jauh dari rata-rata. Dalam pandangan budaya, abnormal bisa dikatakan sebagai penyimpangan radikal yang menyebabkan kekacauan pada individu dan orang-orang di sekitarnya. Dipandang dari pribadi yang bersangkutan, abnormal berarti kesulitan dan ketidakmampuan individu melakukan sesuatu. Bidang patologi dan psikologi memberi pandangan berbeda tentang abnormalitas: yang satu merujuk pada simtom-simtom penyakit tertentu, sementara yang terakhir mengatakan respon yang merugikan kepribadian dalam hubungan antarpribadi.”

Samir mulai bisa mengikuti pembicaraan Rani. “Kalau yang kau bicarakan itu aku, rasanya tidak ada satupun pandanan tentang abnormalitas melekat pada diriku.”

“Pengakuanmu sendiri bahwa kau tidak lagi berhasrat terhadap perempuan. Kau menyimpang secara statistik dan budaya.”

“Sekedar informasi,” sela putri sulung Sri. “Di beberapa negara, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai gangguan mental. Gejala ini tidak lagi dimasukkan ke dalam DSM sejak DSM III diterbitkan pada 1980.”

Samir tahu apa itu Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders. Semacam buku panduan yang disusun American Psychiatric Association yang berisi klasifikasi gangguan mental, penjelasan singkat mengenai penyakit tersebut, simtom-simtom, penyebab, juga diagnosa.

“Selain itu, telah banyak orang yang menyadari bahwa homoseksualitas bukanlah masalah kriminalitas, melainkan masalah psikiatrik,” lanjut Anggun.

“Dengan demikian ada kesempatan untuk merehabilitasi gangguan mental tersebut.”

Rani mengangguk setuju. “Tidak seperti gangguan kecemasan, depresi, atau skizofernia, gangguan penyimpangan seksual tidak memiliki efek yang melumpuhkan. Aku tidak tahu pasti bagaimana keseharian orang ini di sekolah,” katanya sambil melirik Samir, “tapi sepertinya dia terlihat baik-baik saja.”

“Orang ini punya dedikasi tinggi, kalau boleh aku berpendapat,” Sri menyela. “Biasanya orang bertambah bijak karena pengalaman mereka, sementara orang ini punya setumpuk pengetahuan yang membuatnya terlihat lebih berwibawa dibandingkan beberapa guru senior di sekolah kami. Lagipula dia masih muda, semangatnya masih bergelora.”

“Sepertinya Anda terlalu berlebihan menilai saya,” Samir merendah.
Sri menatap Samir. “Ini penilaian jujur, anak muda.”

“Sebagai permulaan,” suara Rani menggema seolah sedang berpidato di auditorium kampus, “aku merujuk pada ungkapan Francis Bacon. Tidak ada kaitannya dengan masalah kita, tapi hal tersebut adalah petunjuk yang tidak bisa diabaikan.”

Tidak ada satupun yang berkomentar. Mereka tidak tahu ungkapan mana yang dimaksud, mengingat banyak ungkapan yang disadur dari filosof Inggris itu. Rani tidak mau repot-repot menjelaskan. Itu hanya akan buang-buang waktu. Dia kembali mengarahkan perhatian pada Samir.

“Aku mengenal sedikit mengenai orang ini sewaktu SMA dulu. Seorang remaja broken home yang selalu menutup diri. Fakta bahwa rumah tangga orang tuanya hancur mungkin menimbulkan kesan yang melekat. Ditinggalkan ayah tercinta membuatnya merasa tidak berarti; bahwa dia dan keluarganya tidak layak untuk dicintai sampai-sampai pemimpin keluarga mereka pergi.”

Anggun teringat percakapan dengan Nita beberapa malam yang lalu. Kejadiannya kurang lebih sama. “Berarti, ini hanya masalah pola pengasuhan?”

Rani mengangkat bahu. “Bisa jadi. Pola pengasuhan mungkin hanya salah satunya.” Dia kemudian melirik sahabatnya, sang sekretaris redaksi yang membisu sejak kedatangan Sri dan putrinya. “Penolakan lain oleh lawan jenis. Itu memperkauat efeknya.”

“Maksudmu?”

“Perempuan itu pernah menolak Samir, kurang lebih sebanyak lima kali. Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?”

Anggun berpikir keras dengan pose telapak tangan menutupi sebagianmulut dan hidung. Dia menatap Samir, memerhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Aku harus mengetahui beberapa pandangan penyebab homoseksualitas. Sialnya, sejauh ini aku tidak mengingat detail itu.”

Rani menyeringai, seringai yang menandakan bahwa dia lebih unggul dibanding mahasiswi smester tujuh itu. “Aku sudah mempelajarinya sebelum datang ke sini. Aku harap ingatanmu bisa terpicu oleh pembicaraanku.”

Anggun mengangguk setuju. Dia melirik ibunya sejenak, memberi isyarat untuk tidak berkomentar sebelum mendapat ijin. Bagaimana pun juga ini adalah bidangnya.

“Kita bisa memandang dari pendekatan utama untuk melihat penyebab homoseksualitas: fisiologis dan psikologis. Keduanya harus melalui observasi melelahkan, tapi paling tidak kita bisa mengira-ngira beberapa hal dari pendekatan psikologis.”

“Identifikasi silang,” Anggun menyela. Suaranya pelan, lebih kepada diri sendiri. “Identifikasi dengan salah satu orang tua yang tidak sejenis. Perkembangan semacam ini sering terjadi apabila orang tua sejenis menolak anaknya, atau apabila keluarga itu retak karena perceraian atau kematian.”

“Ada beberapa lagi teori rumit yang dijabarkan para ahli psikoanalisis, seperti ketakutan akan kastrasi, fantasi Oedipal… lupakan saja. Kita hanya perlu menimbang beberapa faktor psikologis lain yang lebih sederhana dan jauh lebih berpengaruh. Bisa saja dia takut menikah karena melihat kehancuran keluarganya, atau takut akan hubungan dengan lawan jenis karena pernah menimbulkan frustasi dan memalukan, yang lebih sederhana, homoskesualitas terjadi karena terlalu lama berpisah dengan lawan jenis.”

“Lebih sederhana, lebih mengena. Mengingat penjabaranmu tadi, aku rasa situasinya memang tidak sulit. Pak Samir pernah mengalami masa lalu kelam setelah ayahnya meninggalkan mereka, lalu di masa SMA mengalami penolakan berkali-kali. Dia pasti menekan perasaannya sampai ke alam bawah sadar.”

“Manusia didorong untuk mereduksi tegangan, demikian kata Freud, dan represi adalah salah satu mekanisme pertahanan terbaik.”

“Lebih dari itu, inferioritas nampaknya mempengaruhi kehidupan masa remaja Pak Samir. Bukankah inferioritas bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap aspek kehidupan?”

“Ingatanmu tentang kompleks inferioritas Adler sangat tajam, nak,” Rani tersenyum bangga.

“Adler maupun psikoanalisis lain pasti sangat membantu dalam kasus ini. Tapi itu belum cukup,” Anggun menambahkan. “Menekan pengalaman menuju alam bawah sadar berarti melibatkan fungsi otak. Karenanya fungsi kognitif menjadi faktor paling penting dalam hal ini.”

Rani merasa tertantang mendengar opsi yang diajukan mahasiswi Unpad itu. “Bisa kau jelaskan?”

“Dengan senang hati, Ibu Psikolog. Seperti yang sudah kita ketahui, masalah kognitif adalah masalah dengan apa yang kita pikirkan. Bila kita memiliki informasi yang salah maka respon kita terhadap informasi itu juga mungkin salah, atau bisa kita sebut abnormal. Terus menerus kesalahan itu terjadi, sampai akhirnya terbentuk kemapanan kognitif tertentu.”

Rani manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Dia memperhatikan istilah kemapanan kognitif yang dibentuk oleh informasi yang terus menerus masuk. “Disinformasi yang terus menerus terjadi,” dia mengulangi dengan istilah lain. “Terdengar seperti classical conditioning bagiku. Pengkondisian seperti ini terjadi jika suatu stimulus yang mendatangkan respon tertentu selalu berpasangan dengan stimulus netral yang tidak mendatangkan respon, sampai akhirnya stimulus netral ini dianggap sebagai stimulus yang sama. Bahkan setelah sekian lama terjadi, stimulus yang sama sekali tidak berhubungan akan dianggap sebagai sumber stress.”

“Pendekatan itu lebih mudah lagi. Aliran psikologi yang lebih banyak digunakan di dunia pembelajaran ini memberi kita kemudahan untuk mengatasi beberapa gangguan mental. Bukan benar-benar kemudahan, tapi cara pandang yang membuat kita merasa lebih mudah mengatasi kesulitan. Ajaran dasar dari padangan behavioral adalah tingkah laku abnormal merupakan hasil dari belajar, karena itu bisa disembuhkan dengan proses belajar pula.”

Rani tergoda untuk memancing putri sulung guru senior itu. “Kaitannya dengan kita? Di mana pandangan itu bisa berlaku, kalau boleh aku tahu?”

“Kau bisa melihat kaitannya sendiri, Ibu Psikolog. Meskipun studi minorku psikologi klinis, kemampuanku masih belum teruji karena kurang pengalaman. Kau sendiri tahu bagaimana mahasiswa ingusan sepertiku bisa menimbulkan banyak masalah dan kesalahan jika dibiarkan mengambil diagnosa.”

“Kau terlalu merendah, nak. Ibumu sepertinya orang yang penuh percaya diri.”

Anggun menatap ibunya, yang kemudian memberi anggukan setuju. Tidak pedulia seberapa besar kesalahannya, bisa tertutupi dengan kebesaran hati untuk mempelajarinya.

“Aku tidak yakin, tapi… memberi Pak Samir seorang perempuan yang bisa menghargai perasaannya bisa membuat dia belajar untuk menghapus penyimpangan seksual yang terjadi padanya. Tentu saja itu tidak cukup. Sebuah gangguan mental tidak akan cukup diteliti hanya dengan satu pendekatan, kita harus mencoba semua pendekatan untuk memeroleh hasil maksimal.”

“Itu karena sebuah teori tidak pernah sempurna,” sambung Rani. “Setiap orang membangun teori berdasarkan pada apa yang mereka ketahui, dan bahwa pengetahuan setiap orang itu terbatas. Aku menyebutnya keagungan ilmu: bahwa kita tidak akan pernah mengetahui sesuatu secara keseluruhan…”

Brak!

Semua orang di dalam ruangan itu terlonjak kaget mendengar suara pintu didobrak. Untuk beberapa saat mereka berpikir ada serangan teroris. Tetapi ketika mereka serempak memusatkan pandangan ke sumber suara, mereka mendapati dua remaja berdiri di pintu memasang tampang penuh harap bisa bergabung dengan diskusi ilmiah yang membuat kepala berputar itu. Mereka sudah terlanjur datang, untuk apa dikesampingkan?

Samir bangkit menghampiri Ibnan dan Nita, mempersilahkan mereka masuk. Tapi keramahannya berbalas pahit. Corney boy menudingkan telunjuk, suaranya menggelegar.

“Dia seorang penipu!”

Mereka belum sepenuhnya reda dari kedatangan tiba-tiba dua anak muda itu, kini dihantam gelombang kejut kedua yang lebih mematikan. Tiga kata membentuk satu kalimat tuduhan, tidak ada makna ganda. Rani bertukar pandang dengan Nada, sementara Sri tidak mengedipkan mata demi melihat muridnya berdiri di sana menuding guru muda itu sebagai seorang penipu.

“Hentikan omong kosong kalian tentang teori psikologi yang rumit. Penjelasannya jauh lebih sederhana: dia berbohong pada kalian semua untuk alasan tertentu.”

Samir berdiri canggung mendengar tuduhan itu. Dia mati kutu, seperti seorang prajurit yang dikepung dari depan dan belakang. Kepala berputar, menyaksikan wajah marah Nada melalui punggungnya.

“Orang-orang hebat seperti kalian cenderung memandang sesuatu dengan cara yang rumit, sementara aku yang tidak tahu apa-apa melihat hal yang jauh lebih sederhana. Ada satu alasan kenapa aku bisa tahu kebohongannya.”
Semua orang terdiam demi mendengar kelanjutan kalimat Ibnan.

“Aku memiliki kehidupan yang sama dengan dia, karena itu aku lebih memahami apa yang terjadi padanya daripada kalian yang hidup bahagia di dalam sebuah keluarga.” Ibnan menoleh sejenak ke arah Nita yang tertunduk di sampingnya. Beberapa detik kemudian perhatiannya kembali pada para penonton yang penasaran. “Dia tidak punya kepercayaan diri yang tinggi untuk sekedar mengatakan bahwa dia mencintai perempuan itu. Percayalah padaku, wali kelasku itu tidak lebih dari seorang pecundang yang takut menghadapi penolakan.”

Nada bangkit dari tempat duduknya, bersiap menerkam Samir yang tidak mampu berkutik lagi.

Bagian 20

Di suatu siang yang cerah, saat semua siswa berkonsentrasi pada guru di depan kelas agar bisa menyerap materi pelajaran yang disampaikan. Cuaca panas di luar tidak banyak berpengaruh. Dua gunung raksasa dan serangkaian pegunungan yang mengeliling wilayah itu menjadikan hawanyatetap sejuk di tengah terik mentari. Di luar kelas, burung-burung kecil menukik tajam ke lapangan upacara berumput hijau terawat seperti lapangan sepakbola standar internasional. Suara mereka menenangkan, mendamaikan, karena mereka adalah harmoni alam yang agung ciptaan Tuhan.

Terjadilah.

Terdengar jentikan dari pengeras suara yang diaktifkan. Para guru yang sedang memberi penjelasan terdiam sejenak. Siswa yang sedang berkonsentrasi mengalihkan perhatian mereka ke pengeras suara yang dipasang di tiap kelas. Seakan hendak menyaingi harmoni alam yang agung karya Tuhan, dari pengeras suara itu muncul alunan gitar akustik memainkan intro sebuah lagu. Kening semua orang berkerut. Seseorang pasti membajak ruang piket dan menyabotase alat di sana.

Burung-burung kecil melesat dari tempat mereka di lapangan upacara, terbang sejauh mungkin meninggalkan arena yang sudah dirusak oleh suara buatan manusia yang jahat. Tidak. Bukan karena suara itu mahluk mungil itu menghentikan nyanyian mereka. Mereka pastilah sedang memberi jalan kepada makhluk cantik bernama perempuan yang memasuki arena itu ditemani oleh salah seorang perempuan berseragam sekolah. Perempuan cantik tak dikenal itu tertegun, jelas bahwa dia berkonsentrasi pada suara yang menggema ke seluruh lingkungan sekolah.

Suara laki-laki muncul mengikuti nada-nada yang dihasilkan alat petik itu.

When I was younger
I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart
And I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore that
She would never let herself forget
And that was the day that I promised
I’d never sing of love
If it does not exist

But darling,
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

Maybe I know, somewhere
Deep in my soul
That love never lasts
And we’ve got to find other ways
To make it alone
Keep a straight face

And I’ve always lived like this
Keeping a comfortable, distance
And up until now
I had sworn to myself that I’m
Content with loneliness

Because none of it was ever worth the risk

Well, you, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

I’ve got a tight grip on reality
But I can’t
Let go of what’s in front of me here
I know you’re leaving
In the morning, when you wake up
Leave me with some kind of prove it’s not a dream

Ohh—

You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

And I’m on my way to believing
Oh, And I’m on my way to believing

Di setiap kelas, ada beberapa siswa yang mengenal lagu itu dan kemudian ikut bernyanyi dengan laki-laki tak dikenal yang membajak ruang piket. Tidak peduli guru mereka mengawasi dari depan kelas, mereka tetap bernyanyi. Beberapa bahkan sambil memejamkan dan meletakan tangan kanan di dada kiri, meresapi setiap kata yang dipahami sebagai ungkapan kesedihan akan kejadian masa lalu dan harapan akan seseorang yang dicintainya.

Setelah lagu itu selesai, perempuan di tengah lapang upacara tertunduk. Dia mengetahui lagu itu, hapal keseluruhan liriknya, paham apa isi lagu itu. The Only Exception dari Paramore, ungkapan dari seseorang yang tidak mau mengenal cinta karena belajar dari pengalam pahit kedua orang tuanya. Sampai akhirnya menemukan seseorang yang menjadi pengecualian, menjadikan dirinya kembali ingin merasakan cinta yang sudah dia lupakan. Laki-laki di ruang piket itu memilih lagu yang tepat untuk dipersembahkan kepada sang perempuan, menusuknya dengan lagu penuh penghayatan hingga perempuan itu meneteskan air mata.

Alat itu mati. Semua orang penasaran siapa yang telah membajak ruang piket. Tanpa sadar, guru-guru yang mengajar berjalan ke pintu, mengalihkan pandangan mereka ke tengah lapangan upacara. Beberapa siswa merengsek menuju jendela, menempelkan wajah mereka di kaca, berebut untuk mencari tahu siapa laki-laki romantis yang berani menyiarkan curahan hatinya melalui lagu ke seluruh penjuru sekolah ini. Mereka melihatnya. Seorang laki-laki berjalan pelan menuju lapangan upacara. Mereka yang lokasinya cukup jauh dari pusat kejadian bertanya-tanya. Mereka yang berada di kelas yang berdekatan dengan lokasi bisa melihat dengan jelas siapa penyanyi dadakan itu.

Samir Israr Rasyid, guru mata pelajaran Fisika.

“Aku mencintaimu!” teriaknya, yang diikuti sorakan para penonton yang sudah membludak sampai ke koridor kelas. “Bukalah hatimu, dan biarkan aku menuliskan kisah terindah di dalamnya.”
Perempuan itu mendekat. Semua orang berharap akan ada adegan romantis tersaji. Jika itu terjadi, maka akan menjadi kejadian pertama di sekolah mereka, bahkan mungkin di wilayah mereka.

Tanpa diduga perempuan itu melayangkan tangannya.

Perempuan itu menampar Samir…

Samir membuka mata sambil mengusap pipinya yang terasa panas. Dia melihat wajah Nada berlinang air mata. Bukan di lingkungan sekolah, tapi di rumahnya. Tidak ada penonton yang bersorak atas keberaniannya menyanyikan sebuah lagu melalui pengeras suara ke seisi sekolah, yang ada hanyalah enam orang tamu. Tidak ada gitar dan nyanyian, yang ada hanyalah tangisan Nada.

Rupanya kejadian di sekolah tadi tak lebih dari angan-angan Samir yang tak terlaksana.

“Mengapa kau berbohong padaku, pecundang?” tuntut Nada dengan suara penuh amarah. Awan mendung berganti badai. Bola salju sudah bergulir. Air mata menjadi bagian dari kebohongan menyakitkan. Pecundang itu bertingkah melewati batas, dan karenanya dia harus mendapat hukuman. Satu tamparan keras tidaklah cukup. Nada menghantam dada Samir dengan kedua tangannya seperti orang sedang memukul bedug untuk memberi tahu waktu shalat. “Kenapa?! Kenapa?!”

Samir menangkap kedua tangan Nada, mencengkramnya erat-erat agar Nada tidak meronta. Perempuan itu tidak bisa mengalahkan tenaga laki-laki. Dia terisak dalam ketidakberdayaan, menunduk dalam kepedihan, tenggelam dalam air mata kepedihan. Laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang mencintainya di masa lalu, telah membohonginya, membiarkan dia kerepotan pulang pergi ke Kebumen untuk menjemput temannya demi menolong guru muda yang mengaku mengalami penyimpangan seksual itu. Dan sekarang, ketika empat orang berkumpul di rumahnya, ditambah dua orang murid yang salah satunya punya keberanian yang petut diacungi jempol, guru muda tidak tahu terima kasih itu mengatakan dengan wajah tanpa dosa bahwa dia bukan seorang gay seperti yang dikatakannya dulu.

Bukalah hatimu, dan biarkan aku menuliskan kisah terindah di dalamnya.

Nada tidak peduli pada kalimat itu. Dia ingin marah, marah sebesar-besarnya pada pecundang di hadapannya, seperti petir dan guntur membahana di langit kelam pertanda kemarahan Tuhan atas umat-Nya. Tapi Nada bukanlah Tuhan. Dia tidak punya kuasa menurunkan hujan badai, mengirimkan batu panas dari neraka, mengutus petir bertegangan jutaan volt. Dia menyerah pada amarahnya sendiri. Tidak ada gunanya lagi. Kepalanya terbenam di dada Samir.

Tangan Samir terulur perlahan-lahan untuk kemudian memeluk Nada. Dia membelai kepala Nada sehalus mungkin. Perempuan itu pastilah sangat terluka setelah perjuangannya dibalas dengan kebohongan. Laki-laki macam apa yang tega membohongi perempuan yang mencintainya dengan penuh ketulusan? Terkutuk! Dia pantas mendapat lebih dari sekedar sebutan pecundang dari Nada. Bajingan, bangsat, atau istilah rendahan apapun yang dia suka.

“Maafkan aku,” kata Samir pelan. “Maafkan aku karena melukaimu untuk sekedar mencari sensasi dan efek dramatis dalam kisah cinta kita.”

Maaf? Setelah semua ini terjadi dia hanya mengatakan maaf? Benar-benar tidak tahu diri!

“Tutup mulutmu,” hardik Rani. Suaranya lantang dan penuh amarah. “Kau mengatakan pada Nada bahwa dirimu adalah seorang gay agar Nada kembali ke Yogyakarta, lalu berencana memancing Nada agar kembali menemuimu di sekolah, dan di sana kau akan menyanyikan sebuah lagu yang disiarkan ke seluruh penjuru sekolah sebagai awal dari prosesi lamaranmu. Jujur saja, rencanamu sempurna sekali. Tapi, terkutuk, kau telah membuat hati perempuan ini kalang kabut karena mengkhawatirkan dirimu.”

“Bukan hanya itu,” sela Sri Nuryani dengan suara yang lebih pelan dan tenang. “Kau membuat sekolah bergejolak, membuat sekumpulan siswa berencana menyerbu masuk ke ruang guru untuk menghalaumu keluar dari sekolah. Kau bahkan membuat Kepala Sekolah kecewa padahal dia mengagumi dedikasimu. Kau ini bodoh atau apa? Sadarkah kah kau, rencana gilamu itu menimbulkan fitnah terhadap dirimu sendiri?”

“Jangan pikir aku tidak punya tuntutan,” Ibnan angkat suara. Pahlawan muda nan pemberani itu memperlihatkan posisi tubuh menantang seperti raja hutan yang siap mempertahankan daerah kekuasaannya. Dia menunjuk Nita yang berlindung di pelukan ibunya. “Anda telah membuat murid kesayangan Anda menangis, membuatku berpikir bahwa Anda hanya memanfaatkanku ketika Anda mengatakan Anda percaya padaku.”

“Sulit dipercaya, Pak. Anda menggali kuburan Anda sendiri,” gumam Anggun sambil menggelengkan kepala.

Samir memejamkan mata sambil menengadah. Dia menelan ludah, berusaha membersihakan tenggorokkan agar kalimat yang diucapkannya lancar. Kepalanya kembali turun hingga dagunya menyentuh kepala Nada yang masih terbenam dalam tangis. “Teruntuk orang yang aku cintai, Ajeng Qotrunnada Sofia. Aku, Samir Israr Rasyid, disaksikan orang-orang yang peduli pada nasibku, mengakui bahwa aku begitu bodoh karena membuat rencana gila yang menjatuhkan posisiku di hadapan semua orang. Ini semua tak lain adalah produk dari imajinasiku yang tak bisa dibendung. Aku adalah seorang penulis, dan karenanya aku punya khayalan melebihi kapasitas orang biasa.”

Dia berhenti bicara. Kedua tangannya tergerak untuk menjauhkan Nada. Keduanya bertukar pandang. Nada masih dengan mata berlinang, sementara tatapan Samir penuh penyesalan. Jari tangan Samir menyusuri wajah Nada, menyeka air mata yang terus bergulir. “Aku akan menulis untukmu, dan kau akan menerbitkannya untukku. Mari kita mulai hidup baru dengan harapan bahagia selamanya.”

Kalimat itu diakhiri dengan kecupan lembut di kening Nada. Kecupan yang menjadi awal kisah cinta mereka dalam keabadian.

Bagian 21

Gelombang tinggi dari kedalaman laut menunjukkan wujudnya. Bergulung-gulung menyapu apapun yang ditemuinya. Air dipercaya sebagai sumber kehidupan. Bentuknya berubah-ubah sesuai dengan tempat. Karena kelembutannya, air bisa menembus ke benda paling padat sekalipun. Bahkan, air yang secara konstan jatuh di satu titik pada batu bisa membuat titik itu menjadi berlubang—pecah, malah. Dan terkadang dalam hidup manusia, orang yang paling bersikap baik pada kita menjadi musuh paling sulit bagi kita di masa depan. Mereka yang mengetahui seluk beluk tentang kita punya strategi lebih jitu untuk menjatuhkan kita. Bahkan bisa jadi, orang paling pendiam menjadi orang paling pertama yang mengancurkan hidup kita karena kedalaman pikiran mereka yang tak terungkap berhasil mencuri celah tak terlihat.

Di balik keindahannya, laut menyembunyikan bahaya tak terduga.

Cerita cinta itu baru saja dimulai ketika sekumpulan warga beramai-ramai mendatangi rumah kontarakan Samir. Dipimpin oleh seorang pria paruh baya terkenal, mereka datang sambil membuat kegaduhan dengan wajah mengerikan yang tidak bersahabat. Semua orang di dalam rumah tidak hanya bertanya-tanya. Lebih dari itu, mereka diliputi ketakutan akan suatu kejadian yang sering mereka lihat dalam berita. Bukan cerita baru warga masyarakat melakukan parktik main hakim sendiri.

Amin yang pertama masuk ke dalam rumah. Dia menuding Samir sambil meneriakkan sebuah perintah. Dua orang bergegas menghampiri Samir. Berharap bisa tahu apa yang terjadi, Samir malah mendapat bogem tepat di hidungnya hingga mengucurkan darah. Kekacauan di mulai seketika itu juga.

Secara instingtif Nada meraih tubuh Samir yang sempoyongan. Namun usahanya dihalau oleh salah satu dari dua orang yang mengahmpiri Samir. Dia didorong hingga terjengkang tak berdaya ke lantai. Saat hendak bangkit untuk membuat perlawanan, dua orang perempuan mengunci tubuhnya. Sia-sia saja dia meronta. Tubuhnya yang tak berdaya itu digiring keluar dari rumah Samir. Dia berteriak sekuat tenaga, memohon dilepaskan, menyebut-nyebut nama Samir.

Setelah sempoyongan mendapat pukulan telak, Samir mengepalkan tinju untuk menghantam balik orang yang dia kenal sebagai Heri, pemuda kampung ini yang juga menaruh hati pada Nurjanah. Samir tahu dia tidak punya waktu untuk mengajukan pertanyaan. Insting bertahan hidup menyebabkan darah di dalam nadinya bergolak dan otot yang menempel di kerangka tubuhnya mengeras. Satu pukulan mendarat di pipi kiri Heri. Heri kehilangan keseimbangan. Itu memberinya waktu yang cukup untuk melanjutkan serangan. Kemudian, secara berturut-turut dia meninju pipi kiri Heri, menghantam ulu hati Heri, memegang kepala Heri, menariknya sementara dia mengangkat lutut kananya. Tempurung lutut Samir menghujam keras ke wajah Heri.

Begitu penyerangnya terkulai tak berdaya di lantai, Samir berbalik untuk menolong Nada yang didorong oleh orang kedua, Dendi. Dia menarik bagian atas kaus Dendi dari belakang lalu menyentakkannya hingga terjatuh di lantai. Samir bergerak dalam kecepatan penuh, memutar tubuhnya untuk kemudian duduk di atas dada Dendi dan menghantam pemuda kampung itu dengan kedua tangan yang direkatkan.
Si pemuda mengerang kesakitan.
Terlambat. Nada sudah dibawa keluar. Dia bangkit untuk mengejar Nada, tapi dua orang lain datang menghadangnya bahkan sebelum dia mengayunkan kaki. Orang pertama melayangkan tinju ke arah kepala, yang berhasil ditangkis Samir dengan tangannya. Dia mencengkram tangan orang itu, memuntirnya hingga orang itu berbalik arah. Di saat bersamaan, orang kedua menyerang. Samir mengarahkan tawanannya ke arah penyerang kedua, menggunakan orang itu sebagai perisai. Berhasil. Pukulan yang diarahkan padanya justru mengenai tawannya. Dia menggeser sedikit posisi tubuh tawanannya agar tercipta celah yang memungkinkan dia melayangkan tendangan. Celah itu terbuka, dan Samir menjejakkan tumitnya di lutut penyerang kedua.

Penyerang pertama mengerang kesakitan, berteriak mohon ampun. Dia bersikeras mengatakan bahwa tangannya patah akibat puntiran yang dilakukan Samir. Samir melingkarkan tangannya yang lain ke leher orang itu, melepaskan tangan yang satunya lagi untuk kemudian memuntir leher otang itu hingga dia jatuh perlahan-lahan ke lantai. Penyerang kedua, dengan kaki pincang setelah mendapat serangan di lutut, mencoba balas menyerang. Secepat kilat Sami mengangkat kakinya, menyerang orang itu sekuat tenaga tepat di dada. Tendangan keras itu membuat penyerang kedua terlempar keluar melalui jendela, memecahkan kacanya hingga berhamburan.

Ruangan kecil dari rumah sederhana itu telah berubah menjadi arena pertempura sepanas neraka. Ruang gerak sempit dengan beberapa orang di dalamnya menjadi arena itu bak kamp pembantaian tawanan perang. Orang-orang di dalam rumah berteriak histeris setiap kali pertempuran terjadi. Mereka berusaha mencari jalan keluar dari ruangan tanpa terluka meski tidak bisa. Sementara warga yang berdatangan tercengang karena empat kompatriot mereka dihajar habis-habisan. Entah keempat orang itu masih bernapas atau tidak. Mereka hanya melihat tubuh bergelimpangan tak berdaya.

Satu lawan empat. Secara kuantitas tidaklah seimbang. Namun hitungan matematis tidak berguna di sini. Satu orang dengan insting bertahan hidup yang kuat bisa menjatuhkan mereka semua. Keinginan Samir menolong Nada yang digusur paksa oleh warga tanpa terlebih dahulu membicarakan duduk permasalahan membuatnya berubah menjadi mesin pembunuh brutal. Empat oang dibabat habis, hanya beberapa yang tersisa. Bahkan sekarang Amin gentar melihat sosok guru muda itu. Dengan hidung berdarah, tanan terkepal, kuda-kuda terpasang, Samir terlihat lebih beringas dan bernyali. Jauh dari kesan bahwa dia adalah seorang guru muda berwibawa.

Jumlah tetaplah jumlah. Sekuat apapun keinginan Samir menemui Nada, pada akirnya dia harus mengaku kalah. Satu detik saja dia lengah, dan sebuah balok kayu menghantam kepalanya dari samping.

Dunia gelap bagi Samir.

[***]

Rani menjerit ketika melihat Samir ditinju tepat di hidungnya. Dia hampir saja beranjak menolong Samir ketika salah satu dari mereka menjatuhkan Nada. Dia belum sempat mencerna situasi ketika dua orang perempuan masuk ke dalam rumah untuk membawa paksa Nada keluar. “Hei, apa yang kalian lakukan?!”
Rani tergerak untuk mengikuti Nada keluar. Langkahnya terhenti oleh pertempuran Samir dengan dua pemuda kampung yang menyerangnya tadi. Alih-alih bergerak, Rani justru menciut memperhatikan perkelahian itu. Dia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Jujur saja, dia ingin menangis melihat orang-orang itu saling melukai untuk alasan yang tidak jelas. Bukan hanya tidak jelas, tidak ada sama sekali alasan yang diungkapkan kepada mereka kenapa warga berbondong-bondong menuju rumah kontrakan Samir. Lebih parah dari itu, tanpa basa-basi mereka menyerang Samir dalam keadaan tidak siap.

What the hell is going on here?

Rani menatap orang tua yang berdiri di ambang pintu. Orang itu memberikan perintah yang memulai seluruh kekacauan ini. Dia sumber informasi terpercaya. Rani harus menemuinya untuk meminta penjelasan. Tidak, dia tidak bisa bergerak. Perkelahian terlalu sengit. Kebrutalan di dalam ruangan itu membuat nyalinya ciut. Lututnya bergetar.

Mata Rani hampir melompat dari kelopaknya ketika dia melihat seorang anak muda melakukan hal yang ingin dia lakukan. Bahkan lebih parah. Jika dia hanya ingin mendekati orang pemberi perintah itu untuk meminta penjelasan, anak muda itu jsutru menghantamkan tinjunya tepat di hidung sasaran. Orang tua itu mengerang kesakitan, mengumpat sambil menutupi hidungnya. Dasar anak muda tidak sopan! Tapi baguslah. Dia punya tenaga kuli hingga membuat orang tua itu tak berkutik.

Rani salah menduga.

Satu isyarat melalui telunjuk mengakhiri semuanya. Anak muda itu diseret keluar dan pertarungan kedua terjadi di sana.

[***]

Sri Nuryani tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Orang yang dia kenal berdiri di ambang pintu untuk memberi perintah penyerangan terhadap Samir, menculik paksa Nada. Dia geram ketika Amin, dengan wajah tanpa dosa, sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat. Penghormatan macam apa itu? Dia tidak membutuhkannya. Dia ingin penjelasan kenapa Amin membawa segerombolan binatang buas ke dalam rumah kecil itu dan membuat kekacauan.

Sri tidak sempat melakukannya. Bagaimanapun juga telah terjadi pertempuran brutal di ruangan sempit itu. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah melindungi kedua putrinya, terutama si bungsu. Begitu insiden pemukulan terjadi, Nita langsung memeluk ibunya, seolah tidak ingin menyaksikan kekerasan itu. Sementara Anggun, salah satu anggota BKC sabuk merah, mengepalkan tinju untuk berjaga-jaga seandainya salah satu dari mereka berniat melukai dia dan keluarganya.

Nyatanya serangan itu terorganisir dengan baik. Tidak ada satupun yang menyentuh orang lain selain Samir dan Nada seolah-olah sasaran sudah ditentukan. Ambil keduanya, tinggalkan yang lain. Mirip operasi taktis militer Amerika dalam operasi pembersihan teroris.

Sepenggal kalimat muncul dalam benak guru senior itu. Amin pernah meminta saya untuk menikahi putrinya. Mengingat pernyataan itu, tidak perlu analisis panjang untuk sekedar menerka jawaban atas pertanyaan yang melintas di benak mereka. Pembalasan dendam karena Samir pernah menolak permintaannya. Satu kail dua ikan sekaligus. Amin benar-benar seorang pemancing handal.

“Hentikan semua ini, Amin! Kalian semua bisa terluka.”

Amin menggeleng. “Maafkan saya, Bu. Ini antara saya dengan pemuda itu.”

“Kenapa kau melakukan ini?”

Amin hampir saja menjawab ketika seseorang meninju wajahnya. Sri terlonjak kaget. Pemukul wajah Amin adalah seorang pemuda gagah berani. Kepalan tangannya kuat seperti seorang petinju kelas dunia. Otot-ototnya mengeras seperti atlet terlatih. Sayangnya, pemuda itu bertindak tanpa berpikir panjang. Dia melayangkan bogem kepada pemimpin operasi taktis, yang artinya orang yang memiliki bawahan lebih dari cukup untuk mengobrak-abrik seisi rumah. Dia ditarik keluar. Terjadi perkelahian sekunder di sana.

Sri tidak bisa membiarkan siswanya dikeroyok pemuda kampung.

[***]

Ibnan berada di posisi paling dekat ketika penyerangan terjadi. Dia melompat menghindari pintu yang terbanting ke dalam. Tidak ada yang menyadari keberadaannya. Dia memutuskan untuk bertahan di tempatnya, menyembunyikan diri dari penyerangan sepihak yang dilakukan penduduk kampung.

Tapi tunggu!

Dia melihat wajah pria tua yang tidak asing. Tentu saja. Setiap hari dia melihat pria itu membersihkan lingkungan sekolah dari sampah, menyusun properti milik sekolah di setiap kelas, di kantor-kantor. Ibnan tidak tahu kenapa orang itu ada di sini. Butuh beberapa detik untuk mengurai situasi mendadak ini. Sekumpulan warga muncul merengsek masuk, dua di antaranya menyerang Pak Guru atas petunjuk pria tua itu. Dua perempuan merengsek masuk dan membawa teman SMA Pak Guru keluar. Tidak ada yang disentuh selain mereka berdua.

Gerombolan…

Perintah penyerangan…

Ini antara saya dengan pemuda itu…

Segalanya menjadi semakin jelas ketika muncul pertanyaan dari guru seniornya. Kenapa kau melakukan ini?

Ibnan tidak perlu menunggu sampai jawaban lain muncul. Pria tua ini memiliki urusan dengan wali kelasnya—entah apa itu. Tapi caranya meyelesaikan urusan tidak bisa diterima. Benar-benar primitif dan kampungan—well, ini memang sebuah kampung di bawah kaki gunung. Amarah yang menguasai Ibnan membuatnya kehilangan kendali. Yang terpikir olehnya saat itu hanyalah pembalasan. Penyerangan tiba-tiba dibalas penyerangan tiba-tiba.

Kekuatan bukan masalah baginya. Hampir setiap pagi dia menjadi kuli panggul di pasar dekat rumahnya. Memukul wajah pria tua hanya seperti menekan sebuah tombol di remote control. Hatinya bersorak ketika dia mendengar erangan pria tua yang menjadi sasarannya.

Tapi perkiraanya meleset. Seorang pemuda lain menariknya keluar dan menyerangnya habis-habisan di halaman rumah. Pada pukulan ketiga, dia behasil menangkisnya. Satu celah terbuka. Ibnan menyerang balik melalui tendangan di perut. Orang itu terjengkang. Belum selesai. Bagaimanapun juga jumlah memberi keuntungan. Dia belum mempersiapkan kuda-kuda ketika seorang lain menghantam wajahnya dengan batu bata. Napasnya tercekat. Tubuhnya jatuh di atas tanah.

Categories: Uncategorized

immortal

December 27, 2010 Leave a comment

Bagian 14

Di sela-sela pergantian jam pelajaran, Ibnan menyempatkan diri menyelinap keluar menuju perpustakaan. Dia berpapasan dengan beberapa guru yang baru selesai mengejar, berganti ke kelas lain atau menuju ke ruang guru karena tidak ada lagi jam mengajar. Ibnan beruntung tidak bertemu wali kelasnya. Dia tidak ingin menemui orang itu sekarang. Ada sesuatu yang harus dikerjakannya, dan itu akan membantu dia percaya kebenarana mana yang akan dia pegang.

Beberapa siswa berkeliaran di depan perpustakaan. Dua siswi duduk di teras depan sambil menikmati cemilan, sepasang kekasih bersiap-siap masuk ke perpustakaan: perempuannya melepas sepatu sementara si laki-laki memegangi buku yang akan dikembalikan, tiga siswa di sudut luar bangunan sedang berbincang entah tentang apa.

Ibnan melepaskan sepatu lusuhnya, masuk ke dalam perpustakaan sederhana itu. Di dalam ruangan terdapat tiga rak bertingkat empat bersandar di dinding, membentuk leter U, sengaja menyisakan ruang kosong di tengah-tengah ruangan untuk menyimpan meja dan kursi tempat siswa berdiskusi. Di dekat pintu masuk terdapat meja petugas perpustakaan. Di belakangnya terdapat tedapat dua lemari besar tempat menyimpan beberapa buku tebal yang bukan termasuk mata peajaran sekolah. Ibnan mengincar salah satu buku dalam lemari itu.

Dia menghampiri meja petugas perpustakaan, menunggu giliran setelah dua orang di depannya selesai. Petugas perpustakaan itu, seorang ibu berusia pertangahan empat puluhan dengan tubuh gempal dan berkacamata, menengadah saat Ibnan menghampirinya tanpa menyerahkan buku untuk dikembalikan atau dipinjam.

“Ada apa?” tanya petugas itu.

“Buku di lemari itu boleh dipinjam, Bu?”

Dia membalikkan badan, mengamati koleksi buku di dalam lemari. “Boleh saja. Tapi buku-buku itu khusus disediakan untuk guru karena sebagian besar isinya teralu berat untuk anak SMA.”

Ibnan tersenyum. “Saya ingin meminjam salah satunya. Untuk pengetahuan tambahan saja.”

“Boleh,” ibu itu mengangguk. “Cari sendiri kartu perpustakaanmu.”

Karena perpustakaan sekolah itu masih menggunakan proses sirkulasi manual, kartu perpustakaan milik siswa disimpan meja petugas perpustakaan. Di sana disediakan dua tempat penyimpanan yang dibagi ke dalam 24 sekat, mewakili keseluruhan kelas yang ada di sekolah itu. Tempat pertama digunakan untuk kartu milik siswa yang sedang tidak meminjam, tempat satu lagi untuk kartu ilik siswa yang sedang meminjam. Pengaturan itu memudahkan petugas dalam mendata siswa yang terlambat mengembalikan buku untuk kemudian didenda sesuai hari keterlambatan.

Ibnan mencari di tempat pertama, di sekat dengan tulisan XI IPA 1. Dia mengeluarkan seluruh kartu yang ada di sana. Dia menyodorkan kartu miliknya begitu kartu itu ditemukan, sisanya kembali disimpan di kotak penyimpanan.

“Buku yang mana?”

Ibnan menunjuk sebuah buku dengan cover berwarna hijau yang lumayan tebal di tingkat ketiga. Dia menyebutkan judulnya. Petugas perpustakaan itu mengambil kunci dari laci di bawah mejanya, beranjak untuk membuka lemari itu, kemudian menarik buku yang disebutkan oleh Ibnan. Pintu lemari ditutup kembali.

“Buku ini?” dia memastikan.

Ibnan mengangguk. “Ada beberapa topik di dalamnya yang ingin saya pelajari.”

Petugas perpustakaan itu manggut-manggut. Dia mengisi kolom-kolom yang tersedia, menyerahkan buku itu ke tangan Ibnan. “Nah, kau sudah boleh membawanya. Banyak pengetahuan yang akan kau dapat, dan itu bisa menjadi nilai tambah bagimu.”

“Tentu saja, untuk itulah buku ditulis dan perpustakaan didirikan.”

Petugas perpustakaan itu tersenyum lebar. “Selamat membaca, Nak. Semoga kau menikmati dunia baru yang akan kau temukan di dalam buku ini.”

Ibnan menerima buku itu. “Terima kasih, Bu. Saya yakin saya akan menikmatinya.”

Ibnan meninggalkan perpustakaan. Misi rahasia akan segera dimulai. Dia harus melakukanya sendiri, karena kesendirian bisa membuat pikirannya menyusup lebih dalam ke pusat kebijaksanaan yang sulit dijangkau. Ketenangan akan membantu mempercepat proses berpikir, kesunyian bisa mengendapkan pengetahuan hingga melekat di ubun-ubun.

Guru sudah berada di kursinya ketika Ibnan masuk ke dalam kelas. Dia menyembunyikan buku di balik badannya, melangkah masuk sambil sedikit membungkuk untuk memberi hormat dan menunduk agar tidak terjadi kontak mata. Dia langsung memasukan buku itu ke dalam tas begitu tiba di tempat duduknya.

Guru berdiri di depan kelas, memulai pelajaran dengan sapaan kepada seluruh siswa. Dia menanyakan pelajaran pertemuan sebelumnya sebelum memberi materi pelajaran baru. Saat beberapa siswa ditanyai, Nita mencoba melirik melewati punggungnya ke kursi paling belakang. Sulit juga melihat tanpa membalikkan punggung. Dia tidak bisa meraih Ibnan dengan pandangan matanya. Untuk dapat mengubah sikap seseorang, kita harus menanamkan ide itu di benaknya. Dan agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan. Kalimat itu diungkapkan Anggun padanya tadi malam. Dia harus mencobanya karena Ibnan sudah mengalami banyak perubahan positif. Kecuali satu, tentu saja, dan itulah yang harus ditanamkan pada Ibnan…

“Nita?” panggil sang guru.

Nita tergugah. Dia menatap bingung ke arah gurunya, meminta penjelasan. “Ya, Pak?”

“Kau melamun, Nak. Kau tidak mendengar pertanyaan Bapak?”
Nita melirik Tika, memohon agar teman sebangkunya itu memberi tahu. Tika memalingkan mungka, berpura-pura tidak tahu. Dia tidak mau menanggung resiko ditegur gurunya karena membantu Nita. Sikap itu membuat Nita cemberut.

Sang guru menghampiri meja Nita. Kedua siswi itu langsung merasa tidak nyaman. “Kau tidak fokus. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eh, anu… itu… a…”

Guru itu membalikkan badannya menuju tempat duduknya. Kepalanya menggeleng seraya menggumamka kata-kata yang tak jelas. Sementara di belakangnya, Nita sadar dia telah membuat kesalahan. Mengingat posisi ibunya yang cukup berpengaruh di sekolah ini, dia tahu gurunya itu akan melaporkan kejadian hari ini. Bahkan untuk kesalahan sekecil itu dirinya akan mendapat kuliah tentang semangat belajar, kekuatan pikiran dan konsentrasi, menghormati guru, dan hal-hal semacam itu.
Di belakang, Ibnan tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Nita.

[***]

Pembicaraan kali ini hanya antara Sri Nuryani dan Samir di ruang Bimbingan dan Konseling. Dia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, meminta agar staff lain tidak mengganggu sementara keduanya berbicara empat mata. Keduanya duduk berhadapan, terpisah oleh meja interogasi yang bebas dari alat tulis apapun.

“Saya ingin situasinya diperjelas.”

“Apa maksudmu?”

“Ini masalah privasi, Bu. Seseorang telah merampok rahasia pribadi saya, menyebarkannya ke pihak luar tanpa kofirmasi, juga tanpa bukti yang kuat.”

“Kau sudah mengakuinya kemarin, bukan?”

“Pengakuan apa?” Samir angkat bahu.

Sri Nuryani geram. “Jangan mempermainkanku, anak muda. Kemarin kau menjawab pertanyaan kami—kepala sekolah—dengan jawaban ya. Tiba-tiba saja sekarang kau ingin menyangkalnya? Itu hanya akan menambah daftar kebusukanmu saja.”

“Saya menjawab sesuai dengan substansi pertanyaan…”

Sri menggelengkan kepalanya. “Oh, tidak. Jangan bermain masalah logika dan bahasa denganku. Tidak akan banyak membantu. Kau tidak bisa menghindar hanya dengan permainan kata-katamu. Aku tahu kau seorang penulis, dan karenanya kau lebih pandai memanipulasi kata-kata.”

Samir terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa Ibu tidak mencoba melihat posisi saya sebagai seorang korban ketimbang sebagai tertuduh? Mungkin itu bisa lebih membantu ibu memahami apa yang sedang terjadi.”

“Itu terdengar seperti memohon belas kasihan.”

“Tidak masalah bagi saya apapun sebutannya. Saya ingin tegaskan sekali lagi, situasi yang sebenarnya adalah saya seorang korban dari tetangga yang tidak bisa menjaga aib tetangganya. Apalagi tetangga itu pernah menginginkan sesuatu dari saya yang tidak bisa saya berikan karena saya tidak sanggup memenuhinya.”

Telinga staff BK itu berdiri. Pernyataan Samir menarik perhatiannya karena tidak diungkapkan dalam rapat tertutup kemarin. Dia mencondongkan tubuh sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. Suaranya terengar pelan. “Bisa kau perjelas?”

“Apa?”

“Bagian terakhir pernyataanmu barusan.” Sri mencoba mengulang sebisanya. “Pernah menginginkan sesuatu dari saya bla bla bla…”

“Amin pernah meminta saya untuk menikahi putrinya,” Samir meneruskan. “Beberapa kali, malah. Sampai membuat saya jengkel.”

Sri kembali menegakkan tubuhnya seraya menatap Samir lekat-lekat. Satu fakta baru yang disampaikan dari salah satu pihak bukanlah bukti kuat, tapi fakta itu membuatnya harus menelaah dari berbagai sisi. Samir mengatakan sesuatu tentang keluarga Amin mungkin untuk membela diri dan menghindari tuduhan yang sudah diakuinya kemarin. Tapi pengakuan itu tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat kejadian kemarin pun diawali berita dari satu pihak saja. Bukti itu memang sangat kuat karena berasal dari tetangga sekaligus penanggung jawab rumah Samir.

“Apa kau sedang berusaha mengalihkan perhatian?”

Bahu Samir melorot. Sejujurnya dia lelah mengatakannya, tapi dia harus tetap pada pendirian itu untuk menyelamatkan posisinya. “Situasinya, Bu, situasinya. Bisakah kita mencoba kemungkinan, sekedar mencoba saja antara kita berdua, untuk menempatkan saya pada posisi seorang korban?”

Guru senior itu menggigit bibir. “Kau mulai membuatku bimbang. Tidak. Hampir saja aku tertipu rayuanmu, ” tegasnya.

“Ayolah, Bu. Saya mohon. Kenapa ibu tidak mau memberi kesempatan sedikitpun?” Samir memelas. “Saya kira tidak ada ruginya.”

“Aku punya dua alasan,” suara Sri Nuryani penuh tekanan. “Pertama, kemarin kau mengakuinya, jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk mendengar alibi apapun lagi darimu. Kedua, kau mengungkapkan bahwa Amin pernah memintamu untuk menikahi putrinya, padahal pernyataan itu bisa saja pengalih perhatian untuk menjerumuskan keluarga Amin.”

“Maksud ibu, saya menjerumuskan keluarga Amin karena dendam setelah dia menyebarkan aib saya?”

Sri mengangguk sambil tersenyum tipis.

Samir menggeleng. “Kejadiannya terbalik, Bu.”

“Cukup!” sela staff BK.

“Tidak, Bu,” bantah Samir. Tubuhnya merapat ke meja dalam posisi siap berdebat. “Saya tidak bisa membiarkan ini terjadi.”
“Tapi kau sudah mengakuinya kemarin.”

“Baiklah,” kata Samir. “Kalau toh Ibu berkeras tentang jawaban saya kemarin, tolong ibu ingat-ingat lagi pertanyaan apa yang diajukan kemarin. Lalu, pertimbangkan bukti yang diajukan oleh putri Amin sebagai saksi kunci. Dia menguping pembicaraan saya. Hanya dia, tidak ada siapapun lagi. Apakah itu berarti sesuatu bagi ibu?”

Sri Nuryani mendengus, merasa kepasitasnya sebagai seorang guru senior digugat dengan pertanyaan itu. “Tentu saja. Dia saksi.”

“Bukan itu,” sela Samir. “Bagian dari metode ilmiah untuk memverifikasi data, melakukan crosschek informasi dari berbagai sumber untuk memperkuat kebenarannya. Secara teoritis satu sumber tidak cukup sebagai pembuktian, kecuali observasi menunjukkan bukti yang mendukung sumber itu.”

“Kau meracau.”

“Saya ingin Amin, atau Nurjanah, atau siapapun yang merasa berani menghadapi saya, datang ke sekolah untuk mendiskusikan masalah ini. Tempat ini netral, terdapat pihak ketiga yang bisa membantu menyelesaikan masalah. Kita lihat siapa yang bisa mengajukan bukti paling kuat.”

“Kau menantangku atau meragukan kapasitasku?”

“Dua-duanya benar sekaligus salah,” jawab Samir penuh keyakinan. “Saya menantang dan meragukan kapasitas, tapi bukan ibu yang saya ragukan. Ada beberapa orang di luar sana yang saya ragukan.”

“Keyakinanmu patut diacungi jempol. Baru kali ini aku melihatmu keras kepala seperti ini.”

Samir menelan ludah saat mengakui kebenaran kalimat seniornya. Memang selama ini dia tidak pernah berdebat dengan siapapun, memilih untuk duduk diam, kemudian datang beberapa hari setelah perdebatan sambil mengajukan solusi. Dia menyebutnya metode menahan napas: ambil napas dalam-dalam, tahan selama beberapa detik, lalu hembuskan. Dalam bahasa sederhana, itu disebut mencerna informasi untuk menghindari solusi asal dan terburu-buru.

Dia meminta kepastian.

Sri menggeleng. Dia tidak bisa memberi kepastian kepada guru muda itu. Bukan karena dia tidak mau, tapi ada kemungkinan Amin atau Nurjanah sendiri menghindari undangan mereka. Lagipula, Nurjanah terlihat rapuh sebagai gadis desa sederhana sementara Samir seorang guru yang pernah mengenyam pendidikan strata satu, di mana diskusi dan debat menjadi makanan sehari-hari. Keadaan itu tidak akan berimbang.

Lantas apa?

“Aku tidak janji, tapi akan mengusahakan sebaik mungkin. Sekarang, ada baiknya kau kembali ke kelas. Murid-muridmu pasti gelisah menunggu kau tidak datang.”

Samir bangkit, sedikit membungkuk untuk memberi hormat, kemudian berujar, “Saya rasa mereka akan gelisah jika saya hadir di kelas.”

Bagian 15

Samir berjalan sendiri melewati gerbang sekolah saat bayangan tubuhnya sama dengan tingginya yang sebenarnya. Di belakangnya, di tengah-tengah lapangan upacara, beberapa orang anggota Paskibra sedang melakukan latihan rutin baris-berbaris. Dia meninggalkan sekolah dengan setumpuk pikiran yang tak terelakan. Sebagian besar guru di sekolah sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menghindarinya, terlihat dari senyum kaku mereka, atau cara mereka memandangnya. Beberapa siswa sudah memberanikan diri menemui kepala sekolah untuk menyampaikan aspirasi mereka. Tuntutan dari garda depan putih abu itu jelas: depak guru Fisika itu dari sekolah.

Dalam kebimbangan yang menyelimutinya, Samir masih berharap bahwa takdir akan menunjukkan jalan terbaik baginya. Mungkin akan sulit dan lama, tapi pada akhirnya kebenaran tetap akan muncul—entah kebenaran versi siapa.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Samir tidak menyadari ada orang lain yang menguntit. Orang itu mengendap-endap di belakang Samir. Orang itu mempercepat langkahnya agar bisa menyusul si target.

“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, kalau Anda tidak keberatan,” bisik si penguntit saat dia sejajar dengan Samir.

Samir terkejut melihat Ibnan muncul di sampingnya, membisikan sesuatu seperti seorang agen intelijen sedang menghubungi kontaknya. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Tidak di sini,” jawab Ibnan, masih dengan suara berbisik. “Ikuti aku.”

Sepuluh menit kemudian, mereka berada di tribun gelanggang olahraga Kerkof. Keduanya duduk ditemani dua gelas es kelapa muda sambil menyaksikan beberapa anak mengenakan celana abu-abu bermain basket. Meskipun hari semakin sore, tampaknya mereka enggan pulang ke rumah.

“Ini tentang pertanyaan yang aku ajukan tempo hari,” Ibnan memulai. “Pertanyaan tentang ‘apakah wajar jika orang seperti aku jatuh cinta?’”

Samir sempat was-was muridnya itu berniat menginterogasi tentang berita yang telah menyebar di sekolah. Rupanya anak itu berniat membicarakan hal lain. “Aku rasa aku sudah menjawabnya.”

“Saat itu Anda tidak menanyakan padaku pada siapa aku jatuh cinta,” Ibnan melanjutkan. “Terhadap orang tertentu aku tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa aku mencintai dia. Ada banyak batasan yang tidak bisa dilanggar, ada banyak garis yang tidak paralel menimbulkan persimpangan.”

Samir menahan napas mendengar ungkapan remaja penyendiri itu. “Lagi-lagi kau mengungkapkan dengan cara yang berbeda. Berbelit-belit, agak sulit dimengerti kecuali bagi orang cerdas tipe tertentu.”

“Aku bukan orang pintar, Pak.”

“Aku tidak mengatakan kau pintar, aku bilang kau cerdas.”

“Lupakan,” tepis Ibnan sambil memasang wajah malas.

“Ya… ya… aku bisa menangkap maksud perkataanmu. Ada banyak garis yang tidak paralel. Mungkinkah ini kisah cinta terlarang?”

Ibnan menggeleng. “Bahkan aku tidak bisa meyakinkan diri sendiri apakah yang kurasa ini sebuah cinta atau hanya ilusi. Aku tidak tahu.”

Samir tersenyum. Dia mengulurkan tangan untuk memeluk pundak Ibnan. “Kau tidak yakin pada dirimu sendiri. Situasi seperti ini hanya akan membuatmu semakin tidak berdaya di hadapan orang yang kau cintai.” Keduanya bertukar pandang. “Lalu, kalau boleh tahu, siapa orang yang kau cintai itu?”

Ibnan menelan ludah. Tenggorokannya tercekik. Tidak satupun kata dari nama indah itu keluar dari mulutnya. Sang wali kelas menanti dengan sabar. Kelas pada dirinya sendiri, dia malah mengacak-acak rambutnya sambil menggeram.

“Apa aku mengenal orang itu? Apa kau malu jika ternyata aku mengenalnya?”

“Itu… aku…” dia menatap Samir. “Anda tidak akan tertawa, kan, jika aku menyebutkan namanya?”

Satu hal yang dipahami Samir dari anak itu: Ibnan adalah Samir di masa SMA. Mengenal bagaimana dirinya dulu, Samir tahu Ibnan pun tidak jauh beda. Anak itu pasti memiliki perasaan rendah diri akibat kondisi internal keluarga. Samir sadar akan hal itu, dia tidak boleh mengecewakan corner boy.

“Katakan padaku, dan aku jamin mulutku akan tertutup rapat.”
Ibnan menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tubuhnya terlihat lebih rileks sekarang. Dia pun buka suara. “Ni… ta… Fa… di… lah…”

Oh my God!

Sekarang Samir memahami alasan kenapa Ibnan sempat ragu mengatakan nama itu. Tidak ada garis yang paralel. Lebih rumit dari bangun ruang tiga dimensi dengan puluhan sekat. Benar kata Ibnan, ada banyak batasan yang tak bisa ditembus. Nita Fadilah, putri bungsu Sri Nuryani. Mendengar nama guru senior itu disebut, semua siswa di sekolah gentar. Bukan karena guru itu keras, tepai lebih karena kharismatiknya. Bahkan superstar kalangan putih abu belum tentu mendapat ijin untuk mendekati si bungsu.

“Anda tidak mengatakan sesuatu?”

“Jujur saja, aku tertegun. Kau mengambil pilihan dengan resiko kegagalan tinggi. Kau sendiri tahu siapa orang tua Nita, bagaimana ibunya begitu berwibawa di sekolah.” Samir melihat raut muka kecewa muridnya. “Tidak, tidak,” cepat-cepat dia mengoreksi pernyataannya. “Tidak banyak orang yang mau mengambil keputusan beresiko tinggi. Hanya orang bodoh, atau malah orang yang terlampau cerdas yang tidak peduli pada sebarapa banyak kegagalan akan mereka dapatkan. Jadilah Colombus, berlayarlah menuju dunia baru yang gemerlap!”

Ibnan mengertukan kening. “Membawa nama Colombus ke dalam pembicaraan ini sepertinya berlebihan.”

Samir terkekeh. Mereka jeda sejenak dari percakapan untuk masing-masing menikmati es kelapa muda. “Omong-omong tentang Colombus, kau tahu kenapa dia berani berlayar untuk mencari dunia baru?”

“Kalau tidak salah dengar, seseorang bernama Amerigo Vespuci menemukan rute menuju dunia baru itu. Berdasarkan rute itulah Colombus berani berlayar.”

“Rute, informasi, pengetahuan, ilmu. Ilmu pengetahuan yang agung telah membimbing para pelaut itu menuju dunia baru. Jika kau ingin mendapatkan cintamu—bahkan cinta yang mustahil kau dapatkan—raihlah dengan pengetahuanmu.”

Telinga Ibnan berdiri mendengar nasihat wali kelasnya. Keningnya berkerut. “Sejak kapan cinta diraih dengan pengetahuan?”

Samir tahu apa yang akan dikatakannya mungkin terdengar konyol. Tapi dia tidak ragu sedikitpun karena orang yang ada di sampingnya memiliki memiliki pemikiran yang jauh lebih gila dari dia. “Jangan salah, anak muda. Cinta tidak selamanya tentang perasaan. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan pernah mendapatkan cinta.”

Butuh beberapa detika bagi Ibnan untuk mencerna kalimat terakhir itu. Agak ganjil, sedikit tidak masuk akal, sulit dipahami. Dia menatap Samir, memohon penjelasan.

“Lihatlah dirimu, dan temukan jawabannya di sana. Dan, lihatlah dengan mata hati, karena kebenaran seringkali bersembunyi dari kejaran mata lahiriah.”

Lihatlah dirimu, Ibnan mengulangi dalam hatinya. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan mendapatkan cinta. Seolah mendapat pencerahan, mata Ibnan berbinar. Sekarang dia memahami apa yang dimaksud oleh gurunya itu. Tidak masuk akal, memang. Tapi nasihat filosofis seperti tiu tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah sesuai aslinya.

“Lalu, apakah Anda diperbudak perasaan sampai-sampai Anda memutuskan untuk menjadi seorang gay?”

[***]

Amin menyempatkan diri mampir di rumah seorang pemuka agama di kampungnya. Di rumah itu dia diterima oleh istri sang ustadz. Dia dipersilahkan duduk di ruang utama sambil menunggu orang yang akan ditemuinya dipanggil di kebun belakang rumah. Amin memperhatikan seisi rumah sambil berpikir apa saja yang akan dia katakan. Dia harus mengatakan hal tersebut sehalus mungkin, tanpa kesan provokasi. Dia tahu orang yang ditemuinya berpengetahuan luas, tidak akan mudah terpancing.

Ustadz Abdul Bashar muncul dengan tergesa-gesa dari pintu belakang, masih mengenakan kaos dan celana panjang berkebun. Ustadz itu lebih muda beberapa tahun daripada Amin, tapi pancaran wajahnya menegaskan kewibaan yang sangat kuat. Janggut pendek tipis menghiasi dagunya disertai kumis yang baru beberapa hari dicukur. Dia mengucapkan salam kepada Amin. Amin bangkit untuk menyambutnya seraya mengulurkan tangan.

“Maaf, tangan saya masih basah,” kata Ustadz Bashar.

“Tidak apa-apa, Ustadz.”

Pemuka agama itu mempersilahkan Amin untuk duduk.

“Mohon maaf kalau saya mengganggu pekerjaan Ustadz.”

“Ah, tidak apa-apa,” sahut Ustadz Bashar. “Saya hanya membersihkan rumput liar di belakang agar terlihat lebih rapi.” Istri ustadz itu datang membawa baki berisi dua gelas teh manis dan satu kotak kue. Setelah menaruhnya di meja, dia kembali ke belakang.

“Begini Ustadz,” Amin memulai, suaranya pelan. “Ada hal yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan perilaku yang menyimpang. Saya ingin meminta pendapat dari Ustadz, seandainya ada seseorang di kampung kita yang mengalami perilaku menyimpang, apa yang harus kita lakukan?”

Ustadz Bashar tersenyum menanggapi pertanyaan itu. “Tentu saja kita harus mengajaknya kembali ke jalan yang benar, Pak. Bukankah kita diperintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebenaran?”

“Jika kita tidak bisa mengubahnya?”

“Kita hanya bertugas memberi peringatan, mengajak, memberi tahu apa yang kita tahu tentang agama. Perkara dia mau berubah atau tidak, itu urusan dia dengan Allah.”

Amin bergumam.

“Memangnya ada apa, Pak? Siapa yang perilakunya menyimpang?”

Amin memaksakan diri tersenyum. Pemuka agama itu sudah masuk ke dalam permainannya. Dia harus menambah umpan yang lebih besar agar dapat memancing ikan yang lebih besar. Tapi tidak perlu terburu-buru, hanya akan merusak keseluruhan rencana yang sudah berjalan lancar ini. Dia perlu mengulur waktu agar Ustadz Bashar semakin penasaran.

“Kalau tidak salah ada ayat Al-Quran yang menceritakan perilaku zaman dulu di mana laki-laki menyukai laki-laki…”

“Kisah Nabi Luth,” Ustadz Bashar memotong.

“Apa yang terjadi pada mereka?” Amin bertanya seolah-olah dia tidak tahu.

“Allah membinasakan mereka dengan hujan batu dari langit karena mereka mengabaikan peringatan yang disampaikan Nabi Luth. Bahkan mereka mengejek Nabi Allah itu, berniat mengusirnya dari kampung. Itulah balasan bagi mereka yang tidak taat pada aturan Allah.”

Amin menampakkan wajah prihatin. “Mengerikan sekali.”
Ustadz Bashar masih belum memahami pembicaraan Amin yang terkesan melompat-lompat. “Memangnya kenapa dengan kisah Nabi Luth itu?”

Amin menengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua yang mendengar. Dia mencondongkan tubuhnya. Sikap itu menarik perhatian Ustadz Bashar untuk ikut mencondongkan tubuh. “Ada seorang warga kita yang mempunyai perilaku menyimpang seperti umat Nabi Luth, Ustadz.”

Pemuka agama itu tercengang. Dia menghepaskan tubuhnya sambil mengusap wajah. Mulutnya menggumamkan kalimat istighfar. Berita itu sama saja dengan petir di tengah siang bolong, saat hari cerah. Menggelegar. Ustadz Bashar menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Seorang laki-laki dengan perilaku menyimpang berada di kampungnya dan dia membiarkan laki-laki itu begitu saja.

“Siapa dia?” tanyanya setelah keterkejutannya hilang.

Amin terlihat ragu-ragu mengungkapkan nama itu.

“Katakan saja, Pak Amin. Kita tidak boleh membiarkan situasi seperti ini berlangsung lebih lama.”

Kali ini Amin terlihat sumringah. “Maksud Ustadz, kita akan mengusirnya?”

Pemuka agama itu mengibaskan tangannya. “Hus, tidak secepat itu, Pak. Pertama-tama kita harus menyadarkannya, membimbing dia kembali ke jalan yang benar.”

“Tapi, Ustadz, bukankah umat Nabi Luth dihancurkan gara-gara penyimpangan mereka?”

“Itu karena mereka tidak mau kembali ke jalan yang lurus.”

“Saya yakin orang ini pun tidak akan mau. Setahu saya tidak ada cara untuk mengembalikan perilaku menyimpang seperti itu.”

“Apapun bisa terjadi kalau kita punya kemauan, bukan begitu?” Ustadz Bashar tersenyum tulus. “Allah melarang kita berputus asa terhadap rahmat-Nya. Kita tidak akan tahu sebelum mencoba.”

Keadaan tidak sesuai dengan rencana. Pancingan dengan umpan yang lebih besar tidak menghasilkan ikan yang besar. Umpannya habis, ikannya tidak tertangkap. Amin mengalami kebuntuan. Lebih dari itu, rencananya memprovokasi pemuka agama untuk mengusir Samir dari kampung mereka ternyata tidak berhasil. Pemuka agama itu memilih memberi kesempatan si pendosa bertobat ketimbang langsunf mendepaknya.

“Sekarang, tolong beri tahu saya siapa orangnya. Saya harus menemui dia untuk mengajaknya kembali ke jalan lurus sebelum dia melenceng terlalu jauh.”

Dengan berat hati Amin menyebutkan nama itu. Ustadz Abdul Bashar berjanji akan menemui yang bersangkutan malam ini.

[***]

Amin menyibakkan tirai penutup jendela depan rumahnya. Dia mengintip di celah sempit itu. Ustadz Abdul Bashar sedang mengetuk pintu rumah kontrakan Samir. Sesaat kemudian wajah Samir muncul. Keduanya bersalaman, lalu menghilang ke dalam rumah. Amin kembali menutup tirai.

“Ustadz Abdul Bashar sudah masuk ke rumah itu,” Amin mengabarkan.

“Bagaimana Pak?” tanya istrinya. Semetara Nurjanah duduk di kursi memeluk lutut.

“Kita hanya bisa menunggu.”

Bagian 16

Lima kali aku menolaknya saat SMA dulu. Meskipun sebenarnya alasan penolakanku untuk kebaikan dia, tapi aku tidak pernah mengatakan hal itu padanya. Dia sakit hati karena aku… dia mengalami penyimpangan karena mengalami penolakan yang menyakitkan… olehku…

Jangan-jangan… akulah penyebab semua ini?

Nada membuka matanya. Suara memekakan telinga berasal dari lokomotiv dan benturan roda dengan rel membuatnya tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Nada menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sambil menegakkan kembali posisi tubuhnya di atas kursi. Di sampingnya Rani nampak tidur pulas. Satu pasangan muda duduk kursi di sebrangnya. Keduanya asyik berbincang sementara penumpang lain terlelap dalam mimpi masing-masing.

Tidak hanya suara-suara yang dihasilkan oleh kereta yang membuatnya tidak bisa tidur. Pikiran yang tidak bisa dikendalikan membuat tubuh tidak berada pada posisi terbaik. Dia tidak bisa diam begitu saja di sana sementara pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan seseorang di tempat lain.

Nada kembali ke Garut setelah menghubungi kedua orang tuanya untuk menjelaskan panjang lebar situasi yang sedang dia hadapi. Kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa mengingat kegelisahan Nada benar-benar nyata, dan meski mereka melarang gadis itu percuma saja karena dia tidak akan bisa dihentikan. Keduanya tidak mau melihat anak mereka tertekan dihantui perasaan bersalah. Mereka tahu satu-satunya cara untuk menghilangkan tekanan itu dengan menyingkirkan sesuatu yang menggangu pikiran putri mereka. Kembali ke tempat masalah terjadi dan menyelesaikannya.

Sulit memang. Masa lalu kelam yang dialami Samir ditambah penolakan darinya membuat laki-laki itu berubah drastis, memutar haluan. Faktor yang paling berpengaruh pastilah penolakan itu. Sebelum dia menolak Samir, Samir masih menyukainya—menyukai perempuan.

Cinta adalah kemewahan yang tidak pernah aku dapatkan.
Trauma masa lalu ditinggalkan ayah yang lebih memilih pergi dengan perempuan lain. Harga diri Samir jatuh, perkembangan mentalnya menyimpang. Sakit hati ditolak oleh perempuan yang dicintainya semakin memperburuk keadaaan. Mindset Samir terbentuk berdasarkan penolakan Nada dan perbuatan ayahnya.
Nada memegang keningnya. Rudal jarak jauh menghantamnya sekarang. Setelah sakit hati mendengar penolakan dan pengakuan Samir, kini dia dihantui perasaan bersalah. Pasti ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua ini meskipun sembilan tahun sudah berlalu sejak penolakan itu. Dia memandang ke luar jendela, menyaksikan kegelapan malam yang diterangi cahaya indah buatan manusia. Cahaya itu melesat pergi secepat kereta yang ditumpanginya bergerak menuju tempat tujuan. Jalur kereta yang terletak di pedesaan, kawasan hutan, diselingi pemukiman penduduk membentuk pola konstan: gelap, terang; gelap, terang.

Kegelapan memudar digantikan cahaya; cahaya redup dikalahkan kuasa kegelapan.

Aku yang memulai, aku juga yang harus menyelesaikan.

Setelah kemarin mereka tertahan karena Rani tidak mendapat ijin dari atasannya, malam ini mereka berdua meninggalkan Kebumen dengan tekad kuat. Keduanya menyamakan misi: menyelamatkan seseorang demi cinta. Bersama Rani yang siap membantu di sampingnya, Nada akan memulai perjuangan untuk mengembalikan orang yang pernah mencintainya—yang dia cintai. Paling tidak, bagi dia, ketika dulu dia pernah mengecewakan guru muda itu, dia ingin mengganti kesalahannya dengan memberi bantuan sukarela ini.

Sambil menyandarkan kepalanya di jendela kereta, Nada menyanyikan lagu dengan suara pelan.

When I see your smile
Tears run down my face I can’t replace
And now that I’m strong I have figured out
How this world turns cold and it breaks through my soul
And I know I’ll find deep inside me I can be the one

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

It’s okay. It’s okay. It’s okay
Seasons are changing
And waves are crashing
And stars are falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I’ll be the one

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

Cuz you’re my, you’re my, my, my true love, my whole heart
Please don’t throw that away
Cuz I’m here for you
Please don’t walk away and
Please tell me you’ll stay, stay

Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I’ll be okay
Though my skies are turning gray

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heave

[***]

“Ibu tidak yakin dengan pandangan ibu sendiri?”

Sri Nuryani mengangguk.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah, Nak. Ibu tahu Nurjanah tidak berbohong meskipun dia punya motif untuk melakukannya. Dia bukan orang yang bisa mengarang cerita seperti itu. Dia terlalu lugu untuk menghadapi akibat perbuatannya menyebarkan cerita bohong.”

Anggun menatap ibunya. Memang ada keraguan terpancar di mata sang ibunda. Dia tergerak untuk mengetahui lebih dalam kasus yang sedang beredar di sekolah ibunya. Kasus yang membuat guru senior seperti ibunya begitu bimbang.

“Bukannya membantah tuduhan dengan menunjukkan bukti yang lebih kuat, Samir malah memaksa ibu untuk melihat kembali permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Dia meminta ibu menempatkannya di posisi sebagai korban pelanggaran privasi, bukan sebagai tertuduh.”

“Dia tidak punya bukti kuat,” Anggun memberi komentar. “Tapi desakannya pada ibu menunjukkan bahwa dia ingin membuktikan dirinya tidak bersalah.”

“Bahkan dia bersikeras mengenai hal itu padahal selama ini ibu tahu dia tidak pernah berani berdebat secara langsung.”

Anggun tersenyum tipis. “Begitulah tingkah para penjahat. Selalu berteriak paling keras bahwa dirinya tidak bersalah.”

Sri Nuryani memelototi putri sulungnya. “Dia bukan penjahat, Sayang. Dia orang yang mengalami penyimpangan seksual. Dia tidak akan mengakuinya karena budaya negara kita tidak mendukung perilaku seperti itu. Agama mengecam keras. Tidak mungkin dia mengaku.”

“Kalau begitu kenapa ibu menjadi ragu?”
Sri mendesah panjang. Dia memijat-mijat keningnya sambil memikirkan alasan kenapa dia ragu. Tidak ada alasan yang bisa dia temukan. Sepertinya itu hanya perasaan saja. Subyektifitas seringkali tidak bisa didukung logika. Kalaupun ini merupakan perasaan pribadinya, Sri tidak mengerti kenapa dia meragukan jawaban Samir sekaligus mempercayai kesaksian Nurjanah. Dua perasaan saling berlawanan berperang dalam dirinya.

Anggun menggeser posisi duduknya. Dia merangkul bahu ibunya dengan lembut. Dia mendekap ibunya. “Seperti ada sesuatu dalam diri Pak samir yang membuat penilaian ibu tidak objektif. Tapi itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pada akhirnya kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Ibu harus terus mencarinya.”

Sri mengelus kepala Anggun. “Tentu saja, Sayang. Ibu tidak akan berhenti mencari kebenaran meskipun kita tidak memiliki kebenaran absolut.” Dia berhenti sejenak. “Tentang objektifitas, ibu rasa kau benar. Sepertinya sesuatu dalam diri anak muda itu mempengaruhi ibu.”

“Ibu tidak berpikir macam-macam, kan?”
Mata Sri membelalak. “Tentu saja tidak,” dia membantah, lalu mencubit kedua pipi Anggun. “Memangnya ibu ini perempuan apa?”

Anggun tertawa sekaligus meringis, meminta ibunya melepaskan cubitan itu. Dia mengusap pipinya yang berubah kemerahan. “Sakit,” rengeknya.

“Anak manja. Usiamu sudah 20 tahun masih saja seperti ini.”
“Itu karena ibu memanjakanku,” dia membela diri.

“Itu karena aku menyayangimu, menyayangi adikmu. Ibu tidak ingin perkembangan psikis kalian terganggu jika…”

Anggun menanti kalimat ibunya yang terhenti. Sri seperti tersengat listrik seribu volt, mendadak mematung dengan mulut menganga. Pasti ada gagasan baru masuk ke dalam pikirannya. Gagasan yang selama ini terlupakan padahal merupakan jawaban dari kasus yang dihadapinya.

“Ibu kenapa?” tanya Anggun sambil menggoyangkan bahu ibunya.

“Samir mengalami penyimpangan karena masa lalu yang dialaminya mengganggu perkembangan mental. Sesuatu yang bersifat psikis.”

“Apakah itu berarti sesuatu?”

“Kita harus membantunya,” kata Sri Nruyani tiba-tiba. “Dia menjadi seorang gay bukan karena keinginannya. Keadaan memaksa dia menjadi seperti itu. Kita harus membantunya dengan menciptakan situasi yang mendukung pemulihan mentalnya.”

Anggun menggeleng. “Itu tidak mudah, Bu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan keadaan mental seseorang. Lagipula, kenapa ibu menjadi tertarik untuk membantunya?”
Staff BK itu tidak menjawab.

“Subjektifitas,” gumam Anggun. “Sudah kuduga ada sesuatu dalam diri guru muda itu.”

“Dia seseorang yang berdedikasi, Sayang, juga memiliki kompetensi di atas rata-rata. Sulit untuk mempercayai dia sebagai seorang gay.” Sri kembali terdiam. Dia menatap putri sulungnya. “Bukti kuat yang dia minta. Sekarang ibu tahu. Dia memang tidak pernah terlihat membawa pasangan, atau bersama dengan seorang perempuan dalam situasi khusus. Tapi dia pun tidak pernah memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan sebagai seorang gay.”

“Bisa saja dia menyembunyikannya. Bukankah orang-orang seperti itu lihai menyembunyikan keburukan mereka?”

“Ibu berpikir hal lain,” tepis Sri. “Apakah kau yakin dengan kemampuan psikologimu?”

Anggun mengerutkan kening. Pertanyaan ibunya tidak masuk akal. Terksesan ingin mengalihkan topik pembicaraan. “Tentu saja, bu. Aku kuliah jurusan psikologi, sudah smester tujuh. Bagaimana mungkin aku tidak menguasai satu saja topik dalam psikologi.”

“Ibu senang kau begitu percaya diri. Kalau begitu, bantu ibu.”

Anggun menggelengkan kepala, semakin bingung dengan permintaan ibunya.

Bagian 17

Di depan pintu rumah berdaun ganda itu Ibnan tertegun. Tidak menyangka—tidak percaya, lebih tepatnya—dirinya sedang berdiri di depan pintu rumah Nita Fadilah, putri bungsu Sri Nuryani, guru matematika terbaik sekaligus satff Bimbingan dan Konseling di sekolahnya. Dia berharap guru senior itu akan bersikap diplomatis ketimbang menetapkan satu keputusan telak tentang hubungan mereka.

Jangan banyak berpikir tentang cinta. Kau akan menderita kalau memikirkannya terlalu banyak. Ungkapkan atau kau kehilangan dia untuk selamanya. Nasihat dari Samir Israr Rasyid, wali kelasnya yang sedang ditimpa kasus mengerikan mengenai penyimpangan seksual. Hal itu pulalah yang mendasari Ibnan memberanikan diri menemui Nita di rumahnya pada hari minggu. Alih-alih mengatakan perasaannya di sekolah, rumah adalah tempat yang lebih aman. Orang tua dan kakak perempuannya kemungkinan akan berkumpul di hari minggu. Baginya itu bisa menjadi nilai tambah, di mana dia bisa menerima lebih banyak masukan tentang hubungan percintaan.

Lagipula, mengatakan di depan orang tua bahwa kita mencintai putri mereka—meminta ijin membina hubungan dengan putri mereka—dirasa lebih terhormat daripada menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.

Cinta tidak selamanya tentang perasaan. Jika kau terus diperbudak perasaan, justru kau tidak akan pernah mendapatkan cinta.

Ibnan mengepalkan tangan, mengumpulkan kekuatan di otot-otot tangannya untuk menekan bel di samping pintu. Tetap saja tangan itu terasa berat untuk diangkat. Terjadi perang besar di tangan Ibnan: yang satu ingin menghalangi yang lain. Dia memblok pikirannya untuk menghentikan peperangan itu. Sesaat pikirannya kosong. Setelah tersadar kembali, gerakan tangannya lebih lancar.

Bel bergema ke seluruh ruangan. satu kali, tidak ada reaksi. Dua kali, masih tidak ada. Ketiga, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa diikuti dua ceklikan keras kunci pintu. Wajah seorang ibu berusia akhir tiga puluhan yang penuh keringat muncul dari balik pintu. Pakaiannya basah di beberapa bagian. Sekilas seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu tapi teralihkan oleh kedatangan tamu.

Ibnan mengerutkan kening. Dia tidak mengenal orang itu. Dia pernah bertemu dengan kakak Nita, tapi bukan itu. Lagipula kakak Nita masih muda.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya ibu itu melihat orang asing tertegun di depan pintunya.

“Ini kediaman Ibu Sri Nuryani, kan?”

Orang itu mengangguk. “Ada apa ya?”

“Anu… saya salah satu murid Ibu Sri, juga teman sekelas Nita. Kalau boleh tahu, Nita ada di rumah?”

“De Nita ada di rumah,” katanya sambil melirik ke belakang. “Lebih baik kamu masuk dulu, biar saya panggilkan dia.”

Ibnan tersenyum mendengar keramahan perempuan yang membuka pintu itu. Dia masuk sementara orang itu menunggu untuk menutup pintu. Setelah Ibnan duduk, orang itu berlalu dengan langkah tergesa-gesa, menghilang di balik pintu lain menuju ruang lain di rumah itu.

Ibnan memperhatikan sekeliling ruangan. Tempat di mana dia berada tidaklah terlalu besar. Berisi satu set furnitur: dua sofa panjang dan dua sofa untuk satu orang saling berhadapan, terpisah oleh meja kaca setinggi lutut di tengah-tengahnya. Di dinding ruangan menempel tiga foto yang diatur sedemikian rupa: foto keluarga di tengah, foto wisuda Sri Nuryani dan Zamhuri di kanan kirinya. Di sisi lain dinding terdapat hiasan berupa gambar Ka’bah yang dikelilingi oleh Asmaul Husna. Di sudut ruangan terdapat pintu yang tadi digunakan ibu itu menuju bagian lain di dalam rumah.

Setelah hampir dua menit menunggu, Nita muncul dari balik pintu itu. Inilah pertama kalinya Ibnan melihat Nita tidak mengenakan seragam sekolah. Ada kesan berbeda yang ditangkapnya. Dalam pakaian non-formal seperti itu Nita tampak lebih sederhana meskipun kehidupan ekonomi keluarganya di atas rata-rata. Ibnan tidak bisa melepaskan tatapannya dari Nita yang sedang berjalan ke arahnya dengan malu-malu.

Nita duduk di kursi di seberang Ibnan. “Hai,” Nita menyapa dengan pelan. “Mendadak sekali datang ke rumah. Pasti ada sesuatu yang sangat penting sampai-sampai kau nekad datang ke sini.”

Ibnan tertunduk malu. Saat dia hampir menjawab, ibu yang membukakan pintu untuknya muncul membawa dua gelas minuman dan dua kotak makanan kecil. Ibu itu meletakkannya di meja, memberi isyarat kepada Ibnan dan Nita melalui anggukan, kemudian pergi.

“Terima kasih, Bi.”

Ibnan memperhatikan punggung ibu itu saat berlalu, kemudian melirik Nita untuk meminta penjelasan.

“Ayahku menjadi dosen di Bandung, pulang seminggu sekali, bahkan terkadang sebulan sekali. Sementara ibu sibuk di sekolah. Kakakku mengerjakan tugas akhir kuliah, sementara aku hanya menangani bagianku sendiri. Sisanya, ibu menyerahkan pekerjaan kepada pembantu.”

Ibnan manggut-manggut. Wajar saja. Kedua orang tuanya pegawai negeri, hanya punya dua orang putri. Mereka punya dana berlebih untuk menggaji satu pembantu yang diambil dari salah satu tetangga mereka yang tidak punya pekerjaan.

“Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu, tapi aku perlu tahu alasanmu sampai datang ke rumah.”

Memikirkan pembantu itu, Ibnan hampir lupa pada pertanyaan yang diajukan Nita tadi. Jantungnya berdegup kencang begitu dia menyiapkan pernyataan untuk Nita. Saking kerasnya, suaranya bertalu-talu memenuhi ruangan. Ibnan kehilangan konsentrasi karena hal itu. Dia menggelengkan kepala untuk mengusir gangguan itu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nita dengan nada prihatin.
Ibnan mengangguk. “Aku baik-baik saja. Hanya saja… aku… kau tahu… apa yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu di kelas…”

Mata Nita membelalak mendengar Ibnan mengatakan hal itu. Dia kembali teringat kejadian di dalam kelas saat dia hendak mengembalikan sapu tangan Ibnan. Akulah yang bersalah karena menyukaimu, karena jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya aku cintai.

“Aku benar-benar minta maaf jika hal itu mengganggumu, tapi…” Ibnan menatap Nita yang masih terdiam, “kau tahu? Aku tidak bisa terus menerus menyimpannya dalam hatiku. Aku tidak ingin menderita karena ketakukan, aku tidak ingin membohongi diri sendiri. Jujur saja, aku bukan orang yang terbiasa hidup dengan cinta, dan karena itu aku ingin merasakannya paling tidak sekali saja dalam hidupku. Aku tidak bisa menunggu, aku harus mengejar cinta yang aku inginkan.”

Nita menelan ludah mendengar pengakuan Ibnan. Dalam satu hal kakaknya benar mengenai Ibnan. Corner boy memang menginginkan dan membutuhkan cinta setelah dicampakkan oleh ayahnya. Siswa penyendiri itu mengatakannya di hadapan Nita, yang bisa berarti bahwa dia meminta Nita untuk memberinya cinta yang dia butuhkan. Terbersit kebimbangan dalam benak Nita. Posisinya sangat tidak menguntungkan. Seseorang mengharapakan dia membantu, tapi dia tidak cukup tahu bagaimana cara membantu orang dengan kebutuhan khusus seperti itu.

Agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan.
Demikian yang dikatakan kakaknya, mahasiswi Psikologi Unpad. Kalimat itu meluncur ketika dia berdiskusi dengan kakaknya, ketika dia menyatakan bahwa dia ingin membantu corner boy keluar dari belenggu mematikan bernama kesendirian. Keinginan itu tulus adanya. Tapi ternyata, ketika kesempatan untuk membantu tiba, hatinya malah terombang-ambing oleh ketakutan akan kegagalan memenuhi janjinya.

Nita dididik oleh dua orang akademisi tingkat tinggi yang mengajarkannya untuk selalu membuat penghitungan sepuluh langkah ke depan sebelum langkah pertama diambil. Dia diajarkan untuk meminimalkan kegagalan dengan perencanaan matang. Sejauh ini dia memang tidak pernah mengalami kegagalan dalam menjalani kehidupannya. Kedua orang tuanya bergerak di bidang pendidikannya, maka pendidikan pula yang menjadi prioritas Nita.

“Maksudmu, kau ingin kau jadi… pacarku?”

Jantung Ibnan meledak seiring keluarnya pertanyaan dari mulut Nita. Tulang belulang yang menopang tubuhnya hancur berantakan. Tidak ada rangka, tidak ada otot. Tidak ada kekuatan untuk sekedar menegakkan posisi tubuhnya. “Aku tidak mengatakan kau harus menjadi pacarku. Aku hanya… aku…”
“Ibu tidak akan mengijinkan aku pacaran, kau pasti tahu itu.”

“Aku tahu. Karena itu aku memberanikan diri datang ke rumahmu untuk menjelaskan segala sesuatunya pada orang tuamu.” Ibnan berhenti sejenak, menarik napas agar dirinya kembali terkontrol. “Aku harus mengatakan kepada mereka perasaanku yang sebenarnya. Aku tahu kau memiliki kepentingan lain, orang tuamu menginginkan kau menjalani pendidikan yang baik. Aku pun setuju dengan pemikiran mereka. Aku hanya ingin mereka tahu.”

“Tentu saja mereka harus tahu,” Nita menimpali. “Usiaku baru enam belas tahun. Aku masih bergantung pada mereka dalam memutuskan sesuatu.”

“Kalau begitu, kenapa tidak kau panggil saja mereka.”

Nita menggeleng. “Ayah tidak pulang minggu ini. Sementara ibu berangkat bersama kakak ke rumah Pak Samir.”

Mendengar nama itu disebut, perhatian Ibnan teralihkan. Wali kelas yang sedang mendapat masalah. Bahkan Sri Nuryani harus menyusulnya ke rumah untuk membahas masalah tersebut. Dia tidak akan lupa bagaimana Nita menangis di dalam kelas karena tidak percaya pada berita itu. Bahkan dirinya pun menetaskan air mata dalam perjalanan pulang.

“Ada perkembangan baru tentang Pak Samir?”

“Aku tidak tahu. Aku masih tidak percaya Pak Samir orang seperti itu.”

“Kau akan percaya jika tahu alasannya.”

“Memangnya apa?”

Ibnan menahan diri untuk menjawab. Dia memilih membisu alih-alih menceritakan rahasia yang dipercayakan wali kelasnya kepadanya. Aku mengatakannya padamu karena aku percaya. “Entahlah,” kata Ibnan. “Aku hanya berpikir setiap orang punya alasan kenapa dia bersikap seperti itu. Seringkali kita baru memahami orang lain setelah kita mendengar penjelasan darinya.”

Sebuah alasan. “Tadi malam aku menguping percakapan ibu dan kakak. Ibu mengatakan penyimpangan yang terjadi pada Pak Samir diakibatkan oleh masa lalunya. Penyimpangan itu bersifat psikis. Karena itu dia mengajak kakak menemui Pak Samir dengan harapan bisa membantunya.”

“Penyimpangan bersifat psikis,” Ibnan mengulangi, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memegang kening, memusatkan perhatian pada sesuatu yang ingin diingatnya. “Apa kau tahu alamat rumah Pak Samir?” tanya Ibnan tiba-tiba.

“Tidak. Tapi ibuku punya buku berisi data semua guru yang mengajar di sekolah kita. Aku rasa alamat Pak Samir ada di dalamnya.” Dia menatap Ibnan, penasaran kenapa corner boy menanyakan alamat itu.

“Ambilkan buku itu, tuliskan alamat Pak Samir. Aku harus menyusul ke sana.” Suara Ibnan terdengar tegang.

“Memangnya untuk apa?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku harus pergi ke rumahnya.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Apa?” Ibnan terlonjak kaget.

“Aku akan menuliskn alamat Pak Samir untukmu dengan syarat kau mau membawaku ke sana.”

“Tapi… tapi… aku…”

“Kau bisa mengendarai sepeda motor?”

“Aku pernah mengendarai sepeda motor beberapa kali.”

“Bagus. Sepeda motor kakaku ada di belakang. Kita bisa menggunakannya.”

Ibnan tidak percaya melihat perubahan drastis pada diri Nita. Dia lupa begitu saja pada apa yang dikatakan Ibnan. Semangatnya menggebu-gebu, seperti sudah lama ingin bertemu dengan seseorang yang dirindukan. Apa boleh buat. Ibnan tidak bisa menolak syarat yang diajukan Nita karena tidak punya pilihan lain sejauh ini. Ibnan harus melupakan sejenak tentang Nita, tentang perasaannya. Ada pekerjaan besar yang harus dia lakukan: pekerjaan yang menuntut lebih banyak keberanian dibanding mengungkapkan perasaan kepada Nita.

[***]

Nada dan Rani menyusuri jalan setapak kecil yang diapit rumah-rumah penduduk. Tidak jauh dari tempat mereka berjalan membentang pegunungan dan hutan asri. Kawasan itu masih berbentuk seperti aslinya, dengan sedikit lahan gundul dijadikan lahan bercocok tanam para petani. Mereka tiba di sebuah rumah sederhana bercat putih, dibatasi pagar besi setinggi dada dengan pintu kecil di tengah-tengah. Rumah itu terlihat sepi tanpa aktivitas. Seorang guru muda tinggal di sana tanpa pendamping. Kesepian.

Nada membuka pintu pagar itu. Rani menyusul masuk. Dia mengetuk pintu, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya orang yang dia kenal membuka pintu.

Samir tertegun sejenak di ambang pintu. “Oh, hei. Kau kembali.”
“Hanya itu sapaanmu padaku?”

Samir harus menyembunyikan perasaan girang setelah Nada kembali datang ke rumahnya. Sesuatu pasti membawa sekretaris redaksi itu kembali. Entah apa. Yang jelas Samir merasa ini bukan waktu yang tepat bagi temannya itu untuk kembali. Masalah di sekolah belum selesai. Dia kesulitan menangani kasus itu.

“Kau tidak mempersilahkan kami masuk?” tanya seorang perempuan.

Samir tidak asing dengan wajah itu. Dia pernah melihatnya di suatu tempat di masa lalu. Bukan hanya melihat, mereka pernah melakukan bisnis gelap dalam proyek merebut hati Nada. Perempuan yang bersedia menjadi kurir baginya. “Rani?”

Rani tersenyum tipis. “Tega sekali kau melupakan perempuan paling berjasa ini.”

Samir tersipu mendengar teguran itu. “Ah, itu… maafkan aku. Sudah lama kita tidak bertemu jadi…”

“Ya, aku tahu,” Rani memotong. “Ada banyak hal berubah. Termasuk kau. Well, kulihat kau lebih dewasa dengan beberapa kerutan di dahimu.”

“Itu artinya dia bertambah tua,” sela Nada.

Samir mengangkat bahu menanggapi ocehan kecil dua temannya. Dia menatap jauh ke seberang rumahnya. Sekilas, tidak terlalu jelas, dia melihat tirai jendela depan rumah Amin tersibak. Seseorang pasti menguntit pertemuan mereka. “Aku kira kalian ingin masuk ke rumah sederhana ini.”

“Kau membiayainya dengan gajimu sendiri. Sesederhana apapun rumah ini, kebanggannmu ada di dalamnya.”

“Hei, sejak kapan kau menjadi sok filosofis seperti itu?”

“Aku belajar psikologi, ibu sekretaris. Tentu saja Filsafat mempengaruhi pemikiranku.”

“Ayolah, teman-teman,” Samir menyela. “Masuk atau aku tutup kembali pintu rumahku?”

Rani cengengesan demi mendengar ancaman itu. Dia melewati pintu mendahului Nada begitu Samir memberi ruang. Saat Nada melewati Samir, keduanya sempat bertukar pandang selama beberapa detik. Ada harapan terpancar di mata Nada, sementara Samir menunjukkan kekhawatiran. Begitu Nada masuk, dia menutup pintu sambil memastikan apakah penguntit di rumah Amin masih berada di sana.

Samir pergi ke dapur sementara Nada dan Rani duduk beristirahat. Mereka meletakan tas punggung di lantai. Tas milik Rani lebih berat karena dia membawa serta beberapa literatur sebagai referensi ketika mengamati penyimpangan pada diri Samir. Guru muda itu datang sambil membawa dua gelas air putih, meletakkannya di atas meja, lalu duduk di kursi yang berhadapanlan langsung dengan Rani.

“Hanya ada air putih. Tidak biasa menerima tamu, makanya tidak ada persiapan.”

Rani mengambil gelas itu dan meminum air hingga setengahnya. “Aku haus sekali. Perjalanan ini melelahkan. Apalagi aku datang dengan paksaan.” Dia menyeka mulutnya yang terasa basah.
“Kau merugikan dirimu sendiri dengan menerima paksaan itu.”

Rani menatap Nada yang duduk di kursi yang menghadap ke arah lain. “Sahabatku menelpon, mengatakan akan mampir di Kebumen padahal sudah lima tahun dia melupakan kampung halamannya. Dia memaksa aku menjemputnya di stasiun tengah malam karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Permintaan tolong, lebih tepatnya. Dan sebagai sahabat, aku tidak bisa membiarkan dia mematung tanpa jalan keluar.”

Samir menatap Nada tidak percaya. “Kau memaksanya datang ke sini? Untuk apa?”

“Hanya untuk memastikan bahwa aku bisa memperbaiki segala sesuatu yang telah terjadi akibat ketololanku di masa lalu.”

“Oh, sekarang giliranmu yang bicara ngawur,” kata Samir.

“Dia tidak ngawur, Pak Guru,” tukas Rani. “Boleh aku panggil kau Pak Guru? Ku dengar kau jadi seorang guru di sini.”

“Asalkan kau nyaman mengatakannya.”

“Baiklah, aku merasa nyaman.” Rani sedikit mencondongkan. Dagunya bertumpu di kedua tangan; kedua sikunya bertumpu di paha. “Perjalanan panjang ini sangat melelahkan, tapi akan semakin melelahkan jika aku menunda pernyataan alasan kami datang ke tempat ini. Saat tiba di rumahku, dia mengatakan segala sesuatu yang memaksanya memintaku pergi bersama dia ke sini. Alasan yang sederhana tapi tidak masuk akal.”

“Kau,” kata Nada pelan sambil melirik Samir.

“Ya, kau, Pak Guru. Aku rasa kau sudah tahu bahwa dia sesungguhnya mencintaimu di masa lalu tapi tidak bisa menjalin sebuah ikatan dengan alasan tertentu.”

Samir mengangguk. “Selalu ada alasan, meskipun tidak masuk akal.”

“Dan ketika dia menyusulmu sampai ke tempat ini, dia memiliki itikad baik untuk memulai segala sesuatunya dari awal. Dia bersedia memberi apa yang tidak bisa dia berikan di masa lalu. Sayangnya kau menolak dia karena…”

Samir menahan napas mengantisipasi kalimat Rani yang mengambang. Kedua bertukar pandang selama beberapa detik. Rani merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia membuang muka. “Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi untuk perkara besar itulah aku berada di sini.”

Samir menatap Nada, lalu Rani. “Jadi, kau sudah tahu?”

Rani menggeleng. “Sejujurnya, aku ke sini untuk mencari tahu, bukan karena aku sudah tahu. Sekedar mempromosikan gelarku, aku lulus dari Psikologi UGM. Meski tidak cum laude seperti rekan kita yang satu itu, aku yakin aku memiliki kompetensi memadai untuk melakukan analisis terhadap dirimu.”

Samir memaksakan diri tertawa mendengar penjelasan Rani. Tampak lucu baginya seorang teman semasa SMA yang kini menjadi psikolog datang kepadanya atas permintaan teman untuk melakukan analisis penyimpangan dalam dirinya. Tidak—dia tidak membutuhkan psikolog ataupun psikiater. Meskipun program studinya Pendidikan Fisika, Samir adalah maniak psikologi karena mempelajari teori psikologi membuatnya lebih memahami perbedaan dirinya dengan orang lain. Semasa kuliah dia melahap banyak buku psikologi di perpustakaan universitas, dan dia merasa yakin tidak membutuhkan kehadiran Rani.

Lagipula, bukanlah penyimpangan yang terjadi padanya melainkan kebohongan.

“’Aku berhasil mematikan rasa itu, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta, dan membuang hasratku terhadap perempuan’, itulah yang kau katakan padaku waktu itu. Mematikan rasa, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta karena seseorang pernah menyakitimu. Mekanisme pertahan diri untuk tetap mempertahankan keseimbangan ego.”

“Jadi karena itu kau membawa seorang psikolog?”

Sementara terjadi percakapan alot antara Nada dan Samir, diam-diam Rani memperhatikan penulis berbakat itu. Sejauh ini dia belum menemukan apapun yang berkaitan dengan penyimpangan seksual dari gerak-gerik Samir. Dalam beberapa kasus gerak tubuh bisa memberikan petunjuk, namun kali ini dia tahu itu tidak cukup. Harus ada observasi dengan serangkaian tes dan wawancara agar bisa diketahui diganosa yang paling tepat.

Perhatian mereka teralihkan oleh suara derit pintu pagar. Ada orang lain memasuki halam rumah kontrakan Samir. Dia berdiri untuk mencari tahu siapa tamunya. Sebelum mencapai pintu, dia sudah mendengar suara seseorang yang dikenalnya mengucapkan salam. Suara itu tidak asing baginya karena pemilik suara adalah orang yang dia hormati. Dia tidak akan melupakan suara berwibawa milik salah seorang yang menyidangnya di ruang kepala sekolah, milik seorang guru yang berdebat dengannya di ruang BK.

Samir membuka pintu. Sri Nuryani melempar senyum sambil menggandeng putri sulungnya.

Categories: Uncategorized

immortal

December 11, 2010 Leave a comment

Bagian 10

Dani mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Nada yang langsung melesat begitu turun dari angkot. Dia berhasil meraih tangan Nada.

Nada geram. “Ada apa lagi?”

“Bisakah kau menungguku? Kita harus bicara.”

“Kau ingin bicara apa lagi?”
Terik mentari, polusi hasil pembakaran kendaraan bermotor, teriakan dari para kondektur, suara mesin meraung-raung; semuanya berakumulasi membentuk genangan bensin yang memicu meledaknya amarah. Terminal Bis Guntur terasa seperti neraka bagi Nada dengan kehadiran Dani.

“Aku ingin minta maaf karena telah mengecewakanmu.”

“Kau sudah mengatakannya tadi, dan aku sudah memaafkanmu.” Nada berbalik,
tapi Dani kembali menahannya.

“Aku mintaa maaf jika kedatanganku ke sini membuatmu marah.”

Nada menghela napas sambil berkacak pinggang. Dia membuang muka, memperhatikan apapun di kejauhan asalkan itu bukan wajah Dani. “Satu-satunya hal bodoh yang membuatku marah adalah pukulanmu terhadap Samir. Kekanak-kanakan sekali.”

Dani menunduk mengakui perbuatannya. “Aku tidak bisa menahan diri karena merasa kau telah disakiti.”

Nada memalingkan pandangannya kepada Dani. “Apa katamu?”

“Aku tidak bisa membiarkanmu disakiti, Nad,” Dani menegaskan.

“Memangnya apa yang kau tahu sampai bisa mengambil kesimpulan seperti itu?”
Dani menyerah pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Meskipun situasi sedang kacau balau, dia harus memanfaatkan setiap detik kebersamaannya dengan Nada untuk membuat Nada tahu bahwa perasaan dia telah berubah. “Sejujurnya, aku…”

“Bandung, Bandung, Bandung…” kondektur bis berteriak. “Bandung beragkat!”

“Aku pergi sekarang,” kata Nada tanpa menghiraukan kalimat Dani yang belum selesai.

Dani memukul kepalanya berkali-kali karena kesal. Niat hatinya masih belum tersampaikan. Dia harus menunggu. Tidak, dia tidak boleh menunggu. Bisa itu akan berangkat. Jika dia diam saja di sana, dia akan ditinggalkan oleh Nada. Tidak ingin tertinggal oleh bis yang sudah hampir mencapai pintu keluar. Dia berteriak sambil melambaikan tangan, meminta bi situ meunggu. Terlihat olehnya Nada sedang mencari tempat duduk di dalam bis.

Dani berhasil melompat ke dalam bis tepat saat pintu belakangnya mencapai gerbang. Dia berjalan mencari Nada, berharap tidak ada penumpang lain yang duduk bersamanya. Tapi, ketika di sudah mencapai kursi terdepan, tidak ada satupun wajah dari penumpang yang ada di sana dikenalnya. Ada sesuatu yang salah. Dia yakin tadi melihat Nada berjalan di dalam bis.

Lalu, ke mana dia?

Dani panik. Bis sudah berada jauh di luar area terminal, mulai mempercepat lajunya. Bahunya melorot. Untuk kedua kalinya, Nada pergi tanpa meninggalkan jejak. Tapi perjuangan belum berakhir. Dia bisa menunggu di terminal tujuan sambil melihat setiap bis yang dating dari Garut. Dia yakin bisa menemukannya.

[***]

Nada tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil meloloskan diri dari Dani. Saat Dani masuk lewat pintu belakang, Nada melompat keluar dari pintu depan, kemudian melesat menuju beberapa angkot yang sedang diparkir di pintu keluar terminal. Dia menyembunyikan dirinya selama beberapa menit, lalu keluar.

Setelah merasa yakin, dia masuk kembali ke dalam terminal untuk menunggu keberangkatan bis berikutnya. Di dalam terminal, dia bertanya kepada seorang petugas berseragam DLLAJ tentang jalur alternatif selain terminal Cicaheum. Petugas itu memberi dua laternatif. Pertama, naik bisa menuju Terminal Leuwipanjang lalu naik angkot ke Stasiun Bandung. Pilihan kedua, dia bisa turun di stasiun Cicalengka untuk kemudian naik kereta local menuju Stasiun Bandung.
Nada memilih alternatif yang kedua.

Empat puluh menit kemudian, bis berikutnya berangkat. Dia melompat masuk sambil menyiapkan diri melalui perjalanan pulang dalam kesendirian. Pergi dari tempat ini, lupakan semua yang terjadi. Demikian harapan Nada. Meski dia tidak yakin dia bisa melakukannya.

Buktinya, baru beberapa menit perjalanan, dia kembali memikirkan percakapan yag terjadi tadi malam antara dirinya Samir.

Aku tahu tidak akan ada perempuan yang tertarik pada pecundang sepertiku. Sejak saat itu aku belajar untuk menekan perasaanku sampai benar-benar tidak tersisa sedikit pun.

Sembilan tahun berpisah, Samir telah berubah menjadi seorang gay.

Di dalam bis itu dia hampir menangis. Dunia berputar begitu cepat baginya. Cepat dan tak terkendali. Setiap orang memiliki pilhan bagaimana harus menjalani hidupnya, tapi pilihan yang diambil Samir tampak tidak masuk akal. Itu seperti misi bunuh diri. Hanya karena ditolak oleh seorang perempuan, dia mengubah orientasi hidupnya berlawanan dengan norma agama dan norma budaya.
Kesalahan orang tua dalam mengasuh anak berpengaruh besar terhadap perkembangan mental. Jika kesalahan orang tua dalam mengasuh bisa seburuk itu, apalagi perceraian akibat salah satunya memilih hidup dengan orang lain. Keputusan itu sama saja dengan menganggap orang yang ditingaalkan tidak berharga untuk dicintai.

Inferioritas seperti itu pernah terlihat dalam diri Samir saat SMA dulu. Orang itu selalu menyendiri, menghindari kumpulan dengan kelompok tertentu seperti remaja pada umumnya. Terkadang suaranya tertahan saat berbicara; tanda bahwa dia tidak punya cukup kepercayaan diri untuk sekedar berhadapan satu lawan satu dengan orang lain.

Nada memandang keluar melalui jendela. Lika-liku jalan dengan tebing di sisi kanan dan kiri yang bisa roboh kapan saja. Sama seperti hidup manusia yang tidak lurus. Hidup penuh resiko, hidup dengan penuh petualangan baru, hidup dengan bebagai pengalaman berharga yang membuat hati menjadi kaya. Samir telah melewati berbagai hal yang membuat hidupnya berbeda dengan orang lain. Dia berbeda, dan dia mengakuinya dengan penuh keberanian pada Nada. Sulit untuk mengakui diri berbeda karena itu artinya aka nada banyak cemooh dan cibiran dari orang-orang di sekitar.

Berpikir tentang itu, tiba-tiba Nada mengkhawatirkan keadaan Samir. Konsekuensi dari jalan hidup yang dipilih Samir sangat rumit. Akan berakibat pada banyak hal, termasuk karir. Negara ini tidak akan mentolerir orang-orang seperti Samir dan akan cenderung menyisihkan mereka. Pada posisi seperti ini, meskipun Nada sendiri tidak setuju dengan jalan hidup seperti Samir, dia harus belajar menerima keadaan orang lain—menerima perbedaan karena tak satupun manusia diciptakan sama.

Nada yakin apa yang terjadi pada Samir tidak melulu karena kesalahannya memilih jalan. Sebagian besar teori Psikologi bertumpu pada hubungan orang tua-anak di masa pertumbuhan mereka. Luka menyakitkan di masa lalu tentang kepergian ayahnya yang memilih perempuan lain pasti sangat membekas. Perkembangan mentalnya terganggu, lalu terjadilah penyimpangan seksual…

Penyimpangan…

Perkembangan mental…

Psikologi…

Itu dia!

Penyimpangan seksual, termasuk di dalamnya homoseksualitas, termasuk ke dalam masalah psikologi karena berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Bagi Nada, itu berarti bahwa penyimpangan yang terjadi pada Samir bisa diluruskan kembali, meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu-satunya alasan dia menyusul Samir ke Garut, meninggalkan pekerjaannya di Yogyakarta dengan resiko dipecat, adalah untuk membayar kesalahan di masa lalu. Tekad itu tidak akan berubah hanya karena orang yang dituju sudah berubah. Masih ada cara untuk mengembalikan dia; masih ada cara untuk membuatnya kembali seperti semula.

Bis yang ditumpangi Nada memasuki tanjakan curam Nagreg. Tanjakan curam ini terkenal ke seluruh Indonesia, terutama saat musim mudik. Bahkan untuk mengurangi resiko kecelakaan di tanjakan panjang itu, telah dibuat Jalur Lingkar Nagerg yang sudah mulai dioperasikan. Panjang dan curam. Nada tahu jalan yang akan dilaluinya dalam memperbaiki situasi akan seperti tanjakan ini. Bukan hanya menelan banyak korban, bahkan mungkin dirinya sendiri menjadi korban.

Nada mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sudah dua hari ponsel itu dimatikan. Hari ini dia menyalakannya kembali karena harus menghubungi seseorang yang bisa membantunya menyelesaikan masalah ini.

Bagian 11

Rani memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket untuk menutupi bagian tubuhnya yang kedinginan. Kepalanya terasa berat, matanya lengket. Hanya beberapa detik waktu yang dibutuhkan sebelum segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi tidak berarti. Kebisingan perlahan-lahan hilang. Cahaya memudar berganti kegelapan total. Tidak ada lagi udara dingin yang menyakiti kulitnya. Hanya kedamaian yang terasa.

Sampai terusik oleh denting bel.

Rani terlonjak kaget. Kesadarannya kembali waspada. Tubuhnya yang mulai melemah kembali pada posisi siaga penuh. Kegelapan yang menyelimuti berganti cahaya terang. Kebisingan yang hilang menyerbu kembali. Perlahan-lahan Rani membuka matanya.

Seseorang mengumumkan melalui pengeras suara bahwa kereta api Malabar akan segera memasuki Stasiun Kebumen. Akhirnya datang juga, batin Rani. Dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke jalur satu agar terlihat oleh Nada. Siang tadi dia mendapat telepon mendesak dari teman lamanya, Ajeng Qotrunnada Sofia. Perempuan yang bekerja sebagai sekretaris redaksi itu memaksa dijemput di Stasiun Kebumen karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tidak biasanya Rani keluar dari rumah selewat pukul 9 malam. Malam ini, demi seorang sahabat, dia rela kedinginan di stasiun sampai pukul setengah sebelas malam.

Cahaya terang dari lampu sorot kereta mulai terlihat. Gemuruh di rel semakin terdengar. Beberapa penyedia jasa angkutan yang masih bertahan di stasiun menyerbu masuk untuk menyambut siapa pun penumpang yang turun. Kereta semakin dekat, kecepatannya semakin menurun. Rani bisa merasakan getaran di lantai dan hembusan angin di udara saat gerbong-gerbong itu melintas. Kereta berhenti total.

Pintu kereta terbuka. Beberapa orang yang turun dari gerbong langsung disambut para penyedia jasa angkutan. Hanya sedikit orang yang turun di stasiun ini, dari sedikit orang itu Rani menemukan teman lamanya. Perempuan itu menolak tawaran para penyedia jasa angkutan, dan malah menghampiri Rani.

Nada mengulurkan tangan, mencium pipi kanan dan kiri Rani. Dia memeluk Rani sejenak. Setelah merasa puas, dia melepaskan pelukannya. “Kau terlihat lelah.”

“Aku merelakan diriku kedinginan di stasiun pada pukul setengah sebelas malam hanya untuk menjemputmu. Aku tidak bisa mengabaikan teman yang menelpon dengan cara mengatakan ada sesuatu mendesak yang harus diceritakan, dan membutuhkan bantuanku.” Rani terdiam. Dia menatap Nada. Seketika itu juga dia tidak lagi merasakan kantuk dan dingin yang menyerangnya. “Kau juga kelelahan, Sayang. Sebaiknya kita bergegas pulang. Tunda dulu urusan pentingmu itu.”

“Sayangnya urusanku tidak bisa menunggu.”

“Memangnya kau mau membicarakan masalah penting itu di sini?”

Nada menggeleng.

“Kalau begitu ikut aku tanpa harus mengeluarkan komentar.”

Dua puluh menit kemudian mereka duduk di dalam kamar Rani ditemani susu panas dan satu toples biskuit. Nada sudah membersihkan dirinya, mengganti baju dengan baju milik Rani karena dia tidak membawa banyak persediaan pakaian ganti. Orang-orang di rumah Rani sudah terlelap sehingga sedikit kemungkinan seseorang menguping pembicaraan penting mereka.

“Kau berkeras memintaku menemuimu. Sejak kau lulus lebih dulu dari Fakultas Ilmu Budaya, kau bahkan tidak pernah menemuiku. Sekarang mendadak datang sambil membawa kabar yang tidak enak didengar. Sepertinya masalah serius?”

Nada tersipu malu mendengar pernyataan sabahatnya. Memang, dia dan Rani satu kampus beda fakultas, dan Nada lulus lebih cepat dari Rani. Sementara Rani masih mengerjakan tugas akhir, Nada sudah sibuk bekerja. Keduanya hampir tidak punya waktu, bahkan saat Rani resmi menerima gelar sebagai psikolog, Nada tidak datang untuk memberi selamat.

“Ini sangat serius. Jujur saja hanya kau orang yang terpikir bisa membantuku.”

“Kenapa berpikir aku bisa membantumu?”

“Pertanyaan bodoh. Tentu saja karena kau temanku. Dan, bidang yang kau tekuni bisa membantuku memecahkan masalah serius ini.”

“Ceritakanlah. Kita lihat apakah aku bisa berbuat sesuatu untuk membantumu.”

“Aku rasa kau masih ingat tentang Samir.”

“Tentu saja. Aku tidak akan lupa orang yang selalu menitipkan cerpen padaku agar diteruskan padamu. Memiliki kesulitan berkomunikasi lisan tapi berbakat dalam dunia menulis.”

“Aku baru saja bertemu dengannya.”

“Apa?” Rani menggeleng tidak percaya. “Anak itu memang populer menjelang akhir masa sekolah, tapi tetap saja tidak banyak orang yang mengenalnya secara pribadi. Tidak ada yang tahu di mana dia berada.”

“Kau pikir aku berbohong?” tantang Nada sambil memasang tampang cemberut.

“Bukan begitu. Aku hanya terkejut kau bisa menemukan dia.”

“Bukan aku yang menemukan dia, tapi tulisannya yang menemukan aku.”

Rani tertawa. “Bahasamu seperti seorang penyair saja.” Dia mengangkat tangan seperti orang yang berusaha menjangkau langit. Suaranya dibuat seperti sedang pembaca puisi romantis, mengulangi apa yang baru saja dikatakan Nada. “Bukan aku yang menemukan dia, tapi tulisannya yang menemukan aku.”

Nada meraih salah satu tangan Rani kemudian menariknya sampai rani tersentak. “Kau ingin mendengarkan ceritaku atau ingin meledekku?”

“Aku mendengarkan ceritamu,” sahut Rani dalam sisa tawanya.

“Kalau begitu berhentilah tertawa,” pinta Nada. Dia melepaskan tangan Rani. “Dia mengirimkan naskah ke kantor penerbit di mana aku bekerja. Awalnya akau ragu itu dia, tapi biodata yang disertakan dalam naskah menunjukkan kesamaan dengan orang yang pernah aku kenal. Aku ingin menemuinya agar bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kau sendiri tahu bagaimana perasaanku sebenarnya pada dia. Berhubung aku sedang bertengkar dengan atasanku, aku memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu kantor.”

“Bodoh. Kau bisa dipecat.”

“Aku bisa mencari kerja di tempat lain.”

“Percaya diri sekali.”

“Kembali ke Samir,” sela Nada. “Aku menyusulnya berdasarkan alamat pengirim yang tertera pada amplop. Mengejutkan sekali melihat siswa pendiam itu mengenakan pakaian rapi di tengah-tengah ruang para pejuang garda depan pendidikan.”

“Memangnya apa pekerjaan dia?”

“Guru. Bisa kau bayangkan?”

Rani menggeleng, lebih karena terkejut daripada menjawab pertanyaan Nada. “Aku kira tadi kau mengatakan tulisannya menemukanku. Bukankah itu artinya dia seorang penulis?”

“Tentu saja dia menjalani keduanya: menjadi guru yang pandai menulis.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

Nada mendesah panjang. Terlihat jelas bahwa dia enggan membahas hal itu. Tapi justru di sanalah poin penting yang harus disampaikan kepada Rani agar Rani bisa membantunya. Dia berusaha menguatkan hatinya memulai cerita menyayat hati itu. Dia harus sangat kuat untuk bisa mengubah keadaan yang telah bergulir seperti bola salju ini.

“Dia baik-baik saja. Sikapnya sedikit berbeda, lebih lugas. Tugas sebagai guru pasti telah mempengaruhinya untuk bisa berkomunikasi dengan lancar agar bisa diterima murid-muridnya. Yang mengejutkan, dia masih hidup menyendiri tanpa pasangan.”

“Bukankah itu bagus untukmu? Kau menyusul dia ke sana untuk menuntaskan apa yang tidak tuntas di masa lalu, mengorbankan pekerjaanmu sendiri di Yogyakarta.”

Nada menggeleng. “Tidak bagus jika kau tahu alasan dia masih hidup melajang.”

Jawaban Nada memancing rasa penasaran Rani. Laki-laki itu pernah muncul sebagai pecundang dalam kehidupan sahabatnya, menarik hati sahabatnya, meskipun kemudian tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagai pasangan muda di masa SMA. Sudah sembilan tahun berlalu, laki-laki itu masih melajang. Jika bukan karena setia menunggu Nada, alasan apa yang membuatnya bertahan melajang?

“Alasan itu pula lah yang membawaku kembali ke Kebumen untuk meminta bantuan, mengabaikan perintah atasan yang menyuruhku untuk segera kembali ke Yogyakarta. Kau tahu? Rasanya sudah lama aku tidak berada di sini berbincang berdua denganmu tentang cinta.”

“Tahan dulu pembicaraan nostalgianya. Kau harus mengatakan padaku alasan Samir masih melajang, alasan kenapa kau mengabaikan perintah atasanmu pulang ke Yogyakarta dan malah pergi ke Kebumen?”

Nada menatap mata temannya. Dia membisu selama beberapa detik, menggigit bibir, kemudian menggelengkan kepala. Kedua tangannya menutupi wajah yang ditekuk. Dia bisa merasakan sentuhan tangan Rani di pundaknya, mendorong dia untuk kembali duduk tegak. Rani memberi isyarat agar dia memeberi tahu alasan Samir masih melajang.

“Dia seorang gay.”
Rani menutup mulutnya yang menganga dengan tangan. Matanya tidak berkedip menatap teman lamanya itu. Dia menahan diri untuk beraksi secara berlebihan. Apa yang dikatakan Nada harus dicerna agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dia mengulang berkali-kali kalimat tadi dalam hatinya, berharap menemukan kesalahan. “Dia seorang gay.”

Nada menengadah seperti orang yang sedang membiarkan wajahnya tersapu air hujan. “Sulit untuk menerimanya, tapi itulah yang dia katakan.”

“Dia seorang gay,” Rani kembali mengulangi. Dia pasti shock dan berusaha menepis berita itu.

“Karena itulah aku menemuimu. Kau seorang psikolog. Kau lebih memahami situasi seperti ini dibandingkan aku.” Nada menggoyangkan tubuh Rani yang masih tertegun. “Aku mohon tolong dia. Aku tahu ada jalan keluar untuk membantunya kembali menjadi orang normal.”

“Kau keliru,” kata Rani. “Melakukan terapi bukanlah tugas psikolog, itu tugas psikiater. Aku rasa aku tidak bisa membantumu.”

“Aku mohon, Ran,” Nada merengek. “Dulu aku mencintainya, tapi tidak bisa memberi dia kebahagiaan yang dia harapkan. Sekarang aku bersedia, tapi dia mengalami trauma berat yang membuatnya menjadi pibadi berbeda. Paling tidak pergilah denganku untuk menemui dia dan cari tahu separah apa situasinya. Sisanya serahkan padaku.”

“Kau gila?”

“Aku frustasi—mungkin juga gila. Tapi aku yakin dia masih bisa berubah.”

“Bukan itu,” tukas Rani. “Mengajakku menemui Samir adalah ide gila. Aku punya pekerjaan di sini. Tidak mungkin aku pergi…”

“Demi seorang sahabat,” potong Nada.

Rani memejamkan mata. Permintaan tidak masuk akal dari sahabatnya membuat dia harus mengambil keputusan sulit. Demi sahabat. Demi cinta seorang sahabat terhadap orang yang dicintainya.

Cinta, cinta, cinta.

Bisakah kita menghentikan omong kosong tentang cinta?

“Kau sahabatku,” kata Rani saat membuka mata. “Dia juga temanku. Aku setuju untuk pergi.”

Nada bersorak sambil memeluk Rani erat-erat. Rani berusaha melepaskan diri dari pelukan Nada yang membuatnya merasa sesak.

“Kau tidak boleh senang dulu. Kalau aku dipecat dari pekerjaanku, kau harus menyediakan dana untukku sampai aku menemukan pekerjaan.”

[***]

Setelah Nada tertidur pulas, Rani mengeluarkan kembali beberapa literatur yang dia miliki mengenai perilaku-perilaku menyimpang dari lemari penyimpanan di kamarnya. Dia menemukan beberapa buku, membawanya ke tempat tidur. Dia duduk di samping tubuh Nada yang terbaring. Saat itu dia menatap wajah kelelahan Nada, sahabatnya itu pergi jauh ke Garut menyusul orang yang pernah mencintainya, untuk kemudian sakit hati karena orang itu mengalami penyimpangan. Terlanjur pergi dari pekerjaannya di Yogyakarta, perempuan itu malah mampir di Kebumen, tempat asalnya yang sudah ditinggalkan selama lima tahun, untuk membujuk dia ikut ke Garut menemui Samir.

Paling tidak pergilah denganku untuk menemui dia dan cari tahu separah apa situasinya.

Rani tersenyum pahit mengingat kembali kalimat itu. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu mencari tahu—selalu ingin tahu. Meskipun permintaan Nada hanya sebatas menganalisis situasi, Rani merasa dia tidak bisa membiarkan kasus ini berlalu begitu saja dari hadapannya. Lima tahun kuliah di jurusan Psikologi sudah cukup memberinya arahan untuk selalu mempertajam naluri keingintahuan. Meskipun kapasitasnya sebagai psikolog hanya terbatas pada serangkaian tes kejiwaan, dia tidak ingin berhenti sampai di sana berkaitan dengan Samir. Dia tahu sahabatnya yang sedang terlelap tidur mencintai laki-laki itu dari sisi yang tidak biasa: laki-laki pendiam yang menyimpan ketulusan. Karena itu sang sekretaris memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk menemui sang pujaan hati.
Karena telah bersedia menolong, Rani memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Bekerja tidak boleh setengah-setengah, karena cara kerja seperti itu tidak akan pernah memberitahu kita seberapa tanggung kita telah berubah. Itu benar. Rani merasa dirinya tertantang untuk menguji sebarapa jauh batas kemampuannya. Setelah lulus kuliah dia hanya menghadapi rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja. Dia butuh tantangan seperi yang sering dia dapatkan dulu dalam diskusi ilmiah di kelas. Dengan begitu dia merengkuh dua pulau dalam satu kali dayung.

Bahkan menjelang pagi, dia masih terjaga dengan tumpukan buku di sampingnya.

Demi sahabat, demi cinta.

Cinta lagi, cinta lagi.

Bagian 12

Ruangan kepala sekolah sudah diset untuk keperluan mendadak. Tiga meja yang biasa digunakan di kelas diletakan memanjang, saling menyambung. Enam kursi tersedia di balik ketiga meja itu. Satu meter di depan meja itu disediakan satu kursi. Ada dua kursi lagi, sejajar dengan kursi tadi, tapi berada di samping. Akan ada rapat tertutup yang melibatkan beberapa orang.

Kabar miring itu sudah tidak terbendung lagi di hari kedua. Penyebarannya sudah menyentuh para pegawai teras. Kepala sekolah segera mengambil tindakan—bukan keputusan. Dia harus menetralisir keadaan sebelum keadaan kacau di dalam sampai ke luar sekolah. Berdasarkan informasi yang diberikan Sari Nuryani kemarin siang sebelum dia pulang, bapak kepala sekolah memutuskan untuk menggelar rapat darurat dengan agenda mendengar kesaksian dan klarifikasi dari pihak yang bersangkutan.

Sri Nuryani, dengan ketajaman pikiran dan kecermatannya dalam memilah informasi, berhasil menemukan sumber pertama informasi ini. Dia merenung di ruang Bimbingan dan Konseling selama beberapa menit untuk mendefinisikan masalah yang sedang beredar di kalangan putih abu. Definisi itu dibagi ke dalam beberapa kata kunci. Bukannya mencari siapa yang pertama menyebarkan di kalangan siswa, analisis Sri lebih tertuju kepada siapa orang yang bisa dikonfirmasi mengenai Samir. Satu-satunya orang yang cukup mengenal Samir adalah Amin. Sri berniat menemui Amin untuk meminta konfirmasi ketika sebuah gagasan terlintas dalam benaknya. Berita tentang Samir sangatlah vital dan bersifat pribadi. Siapa lagi yang bisa mengatakan hal pribadi tentang Samir selain orang yang hidup dengannya?

Binggo!

Niat hati mencari telur, ayam penghasil telur yang didapat.

Hot news itu sampai ke telinga Samir tadi pagi ketika dia tiba di sekolah. Nita mendatanginya di ruang guru dengan wajah tertekuk. Sapaan Samir tidak dijawab. Dia hanya menyodorkan secarik kertas yang dilipat rapi kemudian pergi tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Samir tertegun. Penasaran dengan isi kertas itu, dia membukanya.

For God’s sake!

Samir tidak mengedipkan mata demi membaca tulisan di dalam kertas itu. Terdiri dari beberapa kalimat yang menunjukkan kekecewaan, atau mungkin permintaan klarifikasi. Kalimat terkakhir membuat Samir mengerti kenapa muridnya itu membisu, kenapa muridnya tidak mau bicara dan malah memberikan selembar kertas berisi tulisan tangannya.

Saya tidak percaya Bapak seorang gay.

Kertas di tangan Samir bergetar. Tatapannya tepaku ke arah kertas itu, tapi itu hanya berupa tatapan kosong. Pikirannya berlari meninggalkan tubuhnya, pergi jauh ke sebuah rumah kecil di desa. Di sana rahasia itu terungkap beberapa malam yang lalu. Di sana semua berawal. Tapi tidak mungkin bisa bocor sampai ke sekolah karena itu hanya percakapan dua orang saja!

Sekolah…

Dua orang di dalam rumah…

Tetangga…

Amin Sudrajat…

Samir membiarkan kertas itu jatuh ke meja sementara dirinya merebahkan tubuh di sandaran kursi. Desah napasnya terdengar keras. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, menggerakan kedua tangannya ke atas kepala. Berkali-kali dia mengumpat dalam hati. Dia menggeleng-gelengkan kepala untuk menepis kegelisahan yang mulai menjalar di dalam tubuhnya. Dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Beberapa guru yang sudah datang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Histeria itu belum sepenuhnya hilang ketika Sri Nuryani muncul dari balik pintu. Riasan yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang dialami Sri. Langkahnya berat, terdengar dari hentakan hak sepatu membentur lantai. Dia berhenti di meja Samir, kemudian bicara dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Pertemuan penting di ruang kepala sekolah setelah jam pelajaran usai. Aku harap kau punya argumentasi kuat untuk membela dirimu.”

Samir mendongak. Sri Nuryani langsung meninggalkannya tanpa memberi dia kesempatan untuk mengatakan apapun.

Terjadilah.

[***]

Kepala Sekolah duduk di kursi paling tengah, didampingi Ketua Komite Sekolah yang sengaja diminta hadir untuk menyampaikan pandangannya, dua staff Bimbingan dan Konseling, Kepala TU dan sekretarisnya. Si tertuduh duduk di satu kursi di depan keenam orang itu. Dari sekian banyak pikiran yang memenuhi kepalanya, yang paling dia pikirkan adalah kehadiran informan pertama di ruangan itu. Dia yakin prang-orang penting di hadapannya harus menghadirkan orang itu sebagai saksi kunci. Kalau bukan Amin, mungkin Nurjanah. Siapapun di antar keduanya yang hadir, dia sudah mempersiapkan benteng kokoh untuk melindungi dirinya dari serangan itu.

Kepala sekolah yang pertama kali membuka suara. “Sangat disayangkan terjadi kericuhan yang tidak diinginkan di sekolah kita tercinta ini. Selalu ada hal tak terduga dalam hidup, dan kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Aku mengakui dedikasimu di sekolah ini, pengabdianmu untuk murid-muridmu, tapi aku tidak bisa menutup mata dan telinga mengenai keadaan di sekolah yang aku pimpin. Aku belajar untuk tidak mudah percaya pada apa yang nampak di permukaan, begitu juga kau—aku yakin akan hal itu. Karena itu kehadiranmu di sini, pembicaraan kita di sini, akan sangat menentukan apakah tegangan permukaan menunjukkan adanya gejolak di permukaan paling dasar.”

Sri Nuryani berbicara sebagai staff Bimbingan dan Konseling. “Aku tidak bisa mengabaikan informasi yang mengalir begitu cepat di kalangan siswa. Tapi bukan caranya yang menjadi permasalahkan—isinya. Aku khawatir sebagian kalangan menyimpulkan dengan cara yang salah—menghasilkan kesimpulan yang salah. Sebelum itu terjadi aku mengusulkan untuk menghadirkanmu di sini, beserta beberapa orang yang rasanya patut untuk hadir.”

“Saya mengerti kenapa saya duduk di sini sekarang,” ungkap Samir. Suaranya pelan tapi mantap. Dia menatap Sri Nuryani. “Saya terkejut pagi ini murid kesayangan saya datang memberikan selembar kertas berisi tulisan yang membuat saya hampir menangis. Dia tidak ingin mempercayai apa yang dia dengar, dan saya bersyukur ada orang yang masih mau percaya pada saya sebelum saya mengucapkan apapun.” Dia berhenti sejenak, kemudian menatap kepala sekolah. “Saya ucapkan terima kasih karena Anda bersedia mendengar penjelasan saya tanpa menjatuhkan asumsi tak berdasar. Sebagai tanda hormat saya atas kebaikan Anda, saya bersedia bekerja sama agar semua ini menjadi kembali seperti semula.”

“Baiklah. Langsung ke pokok permasalahan,” Kepala Sekolah kembali bicara. “Ada berita mengejutkan yang membuat sekolah bergejolak. Aku sendiri gerah mendengar berita itu. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, demikian peribahasa mengatakan. Satu titik saja. Satu titik itu sudah jatuh namun kita bisa mengeruknya secepat mungkin sebelum melebur.”

“Kami di sini memerlukan pengakuanmu. Pengakuan jujur dan semua selesai,” Sri menambahkan.

“Saya tidak bisa mengaku jika tidak tahu apa yang dituduhkan pada saya.”
Ketua Komite sekolah tertawa mendengar jawaban itu. Wajah tuanya terlihat lebih cerah ketika tertawa. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk tangan kanannya. “Jawaban yang cerdas, anak muda. Boleh aku tahu dari mana kau berasal?”

“Saya lahir dan besar di pelosok Kebumen, Pak. Mendapat gelar sarjana dari UIN Malang.”

“Terima kasih,” sahut ketua Komite. “Dan sekarang kita harus mendiskusikan apa yang sedang beredar mengenai dirimu. Jujur saja, anak muda, aku tidak melihat sedikit pun wajah culas dalam dirimu, tapi aku tahu penampilan bisa menipu. Bantahlah tuduhanku: kau seorang gay?”

Hening.

Samir memberanikan diri menatap ketua Komite Sekolah berusia awal enam puluhan itu. “Saya tidak akan membantah secepat itu. Tapi, ijinkan saya bertanya, dari mana gerangan Anda mendapat informasi itu?”

“Ah, anak muda. Kau membuatku berpikir keras.” Dia memberi isyarat kepada Sri Nuryani untuk menjawab.

Sri Nuryani mengangguk pelan. Tatapannya menghujam kepada tertuduh. “Kemarin putriku datang ke ruang BK dalam keadaan menangis. Mengejutkan! Dia menangis karena mendengar seorang guru yang disayanginya digosipkan mempunyai kelainan seksual. Dia tidak tahu dari mana berita itu berasal. Aku hanya punya satu orang untuk dikonfirmasi dan dia mengakuinya.”

Samir memberi anggukan pelan sebagai tanda agar seniornya itu melanjutkan.
“Aku menginterogasi petugas kebersihan itu. Dia mengaku bergosip di pagi hari di kantin sekolah bersama dua orang sesama petugas kebersihan. Saat itu memang terlihat beberapa siswa berkeliaran di sekitar kantin. Dia tidak tahu kalau siswa-siswa itu menguping.”

“Kau harus menanggapinya,” sela ketua Komite Sekolah.

“Saya sedang berpikir, Pak. Beri saya waktu.” Dia memejamkan mata. “Ini situasi sulit bagi saya. Meski versi saya agak berbeda. Bukan masalah apa isi pesannya, tapi bagaimana pihak pertama itu mendapat informasinya. Di sini saya melihat ada batasan tertentu yang telah dilanggar. Saya merasa dirugikan. Lebih dari itu, dia tidak mendiskusikan dengan saya terlebih dahulu dan malah membuat sekolah geger.”

“Kami membutuhkan jawabanmu,” Kepala Sekolah mengingatkan. “Ya atau tidak?”
Samir menggigit bibirnya. “Bagaimana jika saya menolak menjawab?”

“Itu hakmu,” sela Komite. “Tapi itu artinya kau membiarkan dirimu berada di posisi abu-abu yang jelas merugikan. Sebagian besar siswa, semua siswa maksudku, sudah mendengar berita itu dalam waktu kurang dari empat jam. Hari ini giliran ruang guru tidak berhenti bergemuruh. Besok?” ketua Komite mengangkat bahu.

“Mereka akan mendesakmu, bahkan mungkin melakukan tindakan provokatif. Siswa jaman sekarang sudah punya nyali untuk melakukannya,” kata Sri Nuryani. “Katakan ya, maka kami akan mengurus segala sesuatunya untukmu, atau katakan tidak dan kita akan meredakan ketegangan di kalangan bawah.”

“Apakah itu artinya saya akan didepak jika mengatakan ya?”

Ketua Komite dan Kepala Sekolah bertukar pandang tanpa mengeluarkan suara. Komite memberi isyarat kepada Kepala Sekolah untuk menjawab. Dia menatap tertuduh, berbicara setenang mungkin. “Posisimu berada di bawah tanggungan negara, anak muda. Kau punya serangkaian digit angka, yang dengan angka itu negara mengenalmu. Dalam hal ini, selain keputusan dari birokrat kalangan atas atau pengajuan dari dirimu sendiri yang dietujui oleh mereka, kau tidak akan ke mana-mana. Aku tidak bisa menjamin, tapi secara administratif begitulah aturannya.”

“Tolonglah, Pak Guru. Kau sudah bilang bahwa kau bersedia bekerja sama.”

“Ini perkara besar, Pak. Saya tidak bisa menangani ini sendiri dan saya perlu waktu.” Suara Samir bergetar, wajahnya menunjukkan kebingungan dan kegelisahan. “Saya tersudut, dihantam oleh dua pukulan telak: satu menghancurkan citra saya, satu merusak kepercayaan saya sebagai tetangga dan rekan kerja. Yang terpikir dalam kepala saya justru informan itu. Kenapa dia bisa mendapatkannya dan untuk apa dia menyebarkannya sebelum dia mengkonfirmasi kepada saya.” Samir melirik Sri Nuryani. “Ada celah yang bisa membuat saya bebas dari tuduhan. Motif orang itu.”

Staff BK itu melirik atasannya untuk meminta persetujuan. Kepala sekolah mengangguk pelan. Sri branjak dari kursinya, melangkah menuju pintu. Beberapa detik ruangan hening sebelum akhirnya Sri datang bersama bersama seorang perempuan muda yang dikenal Samir.

“Nurjanah,” bisiknya pelan, tertegun melihat putri petugas kebersihan ada di sini. Nurjanah duduk di kursi yang telah disediakan.

“Kalau yang kau maksud meminta kehadiran saksi, kamu sudah mempersiapkannya.”
Nurjanah menundukkan kepala. Jelas sekali dia tidak berani menatap langsung ke arah Samir. Cara duduknya memperlihatkan kegelisahan yang sedang bergejolak. Tangannya bergetar; dia memainkan jari-jarinya agar getaran itu tidak terlihat. Di sampingnya, Sri Nuryani berdiri sambil memegang pundaknya.

“Kami sengaja menjemputnya,” ungkap staff BK itu. Kedua tangannya menyilang di dada. Posisi siap tempur.

Samir mempertahankan posisinya sebisa mungkin. Hatinya bergejolak, menuntur dirinya menembakkan artileri berat ke arah Nurjanah. Tidak, dia tidak boleh melakukan itu sebelum perempuan lugu itu memberinya penjelasan.

“Certikanlah.”

Nurjanah memulai cerita sambil tetap menundukkan kepala. Awal cerita dimulai dengan suara pelan, terputus-putus. Sri Nuryani terpaksa mengulanginya dengan suara yang lebih keras agar semua orang bisa mendengar. Beberapa orang yang hadir manggut-manggut tanpa memberi komentar. Samir sendiri menatap tajam ke arah Nurjanah, berusaha sebaik mungkin mendengar cerita itu untuk menemukan celah untuk membongkar pertahanan Nurjanah.

Cerita selesai. Sri Nuryani maju menghalangi Nurjanah dari pandangan Samir. “Pertanyaan pertama. Siapa perempuan yang diceritakan Nurjanah? Dia menginap di rumahmu padahal kalian belum memiliki ikatan sah.”

“Dia teman SMA. Sengaja datang dari Yogyakarta untuk membicarakan sesuatu. Dia tidak punya siapa-siapa di sini, jadi saya meminta dia menginap di rumah saya dengan ditemani Nurjanah agar tidak terjadi salah paham.”

“Jawabanmu harus lebih spesifik lagi. Membicarakan sesuatu terlalu umum untuk orang yang datang sejauh itu.”

“Bukan bermaksud mengelak, tapi pembicaraan ini benar-benar pribadi.”

Mata Sri Nuryani membesar seperti mengeluarkan cahaya. “Ceritakan!” suara Sri tegas.

Samir mengangkat bahu seraya memutar bola matanya. “Baiklah… baiklah… kami berteman sejak SMA. Dia datang padaku untuk memberikan apa yang tidak bisa dia berikan padaku dulu…”

“Artinya?” Sri memotong.

Samir mendesah, menundukkan kepala. Interogator senior itu mulai membuatnya jengkel. Dia menengadah. “Dulu dia menolak cinta saya. Sekarang dia berubah pikiran dan bersedia menerima cinta saya.”

“Dan kau menolaknya?”

Samir membuang muka, enggan menjawab pertanyaan itu.

“Alasanmu menolak dia karena kau memiliki penyimpangan seksual?”

Samir tidak bergeming.

“Ya atau tidak, anak muda!” suara Kepala Sekolah menggelegar.

Samir memejamkan mata, berusaha mendinginkan kepalanya sebisa mungkin sebelum memutuskan apakah dia harus menjawab atau bertahan membisu. Sudah cukup cinta masa lalunya menderita karena pengakuan itu, murid kesayangannya terluka karena rahasia mengerikan itu. Dia tidak ingin melukai orang lebih banyak lagi. Dia teringat pada pernyataan Sri Nuryani beberapa saat yang lalu. Jika dia mengaku semuanya akan diurus oleh mereka. Meski Kepala Sekolah mengatakan keputusan berada di tangan birokrat, dia yakin dirinya akan didepak. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu. Ajeng Qotrunnada Sofia. Nada benar, Tuhan lah yang mengirimkan dia kembali pada Samir, memicu serangkaian kejadian tak teralakan di sini. Artinya, Tuhan memang mempunyai rencana untuk mengungkap rahasia ini. Samir tahu dia tidak bisa melawn arus; dia harus mengikuti skenario agung Tuhan seperti yang pernah dikatakan oleh Seneca. Apapun jawabannya, sekarang sudah tidak berpengaruh. Citra dirinya sudah hancur. Tidak masalah jika dia harus didepak. Tidak masalah. Hidup tidak akan berhenti hanya karena kehilangan satu pekerjaan.
Dia menegakkan kepala, menatap atasan yang menanti jawabannya. “Ya. Saya menolak cinta teman saya dengan alasan yang disebutkan Ibu Sri.”

Guntur menggelegar di siang bolong. Suaranya yang memekakkan telinga memporak-porandakkan seisi ruangan. Siapapun yang ada di dalam ruangan itu berharap bisa menutup telinga untuk menangkal pengakuan menyakitkan itu. Mereka ingin mendengar jawaban sejak tadi, bahkan memaksa, tapi begitu jawab itu keluar sikap mereka seolah-olah tidak mengharapkan jawaban itu muncul. Kontardiksi yang menarik. Samir menyeringai puas. Untuk kesekian kalinya dia meledakkan gendang telinga orang lain.

Apa peduliku dengan konsekuensi?! Berita itu sudah terlanjur menyebar. Aku hanya bisa mempercepat penyebarannya.

“Satu pertanyaan,” Samir memecah keheningan. “Apa alasan yang bersangkutan menyebarkan cerita yang dia dengar dengan cara tidak sopan itu kepada orang lain? Mohon jawab dengan jujur. Saya yakin jawaban itu akan membantu saya menunjukkan pada Anda semua bahwa saya duduk di sini sebagai korban, bukan sebagai tertuduh.”

[***]

Setelah semua orang meninggalkan kelas, Nita menghampiri Ibnan di sudut ruangan. tidak ada orang di sana, di luar pun sudah sepi. Nita melangkah pelan, ragu-ragu dengan keputusannya menghampiri siswa pendiam itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika Ibnan menyadari kedatangn Nita dan menatapnya. Nita tesentak. Langkahnya terhenti. Dia kebingungan. Tatapan Ibnan entah kenapa membuat dirinya gugup.

“Seharusnya kau pulang dengan teman-temanmu yang lain.”

“Itu… aku… mmm…” tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Nita selesai sebagai kalimat.

“Kau bisa mendapat masalah jika ibumu tahu kau berdua denganku di dalam kelas.”
Nita menggelengkan kepalanya. “Ibuku sedang rapat penting,” sahutnya, kali ini lebih lancar.

“Siswa lain bisa memergoki dan melaporkanmu pada ibumu.”
Nita menggigit jempol tangan kananya sambil berusaha menghindari kontak mata dengan Ibnan.

“Kalau kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi.” Ibnan mengambil tas di atas meja lalu bangkit.

“Tidak, tunggu!” sergah Nita.

Ibnan tertegun. “Apa?”

“Itu… anu… aku…” Nita kembali gagap.

“Hei, bisakah kau bicara dengan jelas,” tegur Ibnan.

Nita memejamkan matanya, mengumpulkan keberanian. Dia menelan ludah. “Terima kasih,” katanya. “Terima kasih sudah memberiku sapu tangan.”

“Aku yakin kau tidak menggunakannya. Mana mungkin kau mau memakai barang pemberian dari siswa rendahan sepertiku.”

Nita menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu. Kau memberiku sapu tangan, dan aku mengartikan hal itu secara simbolik. Kau tidak ingin aku menangis, kan?”

Ibnan memandang jauh ke luar jendela. “Percaya diri sekali.”

“Yang penting aku sudah berterima kasih,” kata Nita. Dia melepaskan tasnya, mengeluarkan sapu tangan itu, menyodorkannya ke arah Ibnan. “Terima kasih.”

Ibnan melirik sapu tangan itu, kemudian menatap Nita. “Bawalah. Aku pikir kau masih membutuhkannya.”

Perlahan-lahan Nita menarik tangannya. “Kau marah padaku?”

“Tidak. Untuk apa?”

“Karena aku putri seorang guru sementara kau bukan.”

Ibnan memaksakan diri tersenyum. “Entahlah. Aku tidak yakin.”

“Tapi itu bukan salahku,” Nita membela diri. “Aku tidak minta dilahirkan sebagai putri dari seorang guru senior yang dihormati di sekolah ini.”

“Aku tahu. Tapi bukan itu alasan utama aku marah padamu.”

“Lalu apa? Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan padamu.”

“Tidak,” tepis Ibnan. “Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak bersalah. Akulah yang bersalah karena menyukaimu, karena jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya aku cintai.”

Mata Nita membelalak, hampir meloncat keluar dari tempatnya. Dia yakin telinganya masih berfungsi. Dia tidak salah mendengar. Tapi itu tidak mungkin. Siswa pendiam yang itu memang dia perhatikan, tapi itu untuk alasan yang berbeda. Nita ingin berteman dengan Ibnan yang selalu sendiri seolah-olah tak memiliki teman. Nita ingin si corner boy tertawa bersama yang lain, atau paling tidak bersama dirinya. Hari ini, saat dia belum mengutarakan keinginannya, Ibnan lebih dulu mematahkan pertahanannya.

“Sudahlah, lupakan.” Ibnan melangkah. Saat melewati Nita yang masih tertegun, dia berbisik. “Wali kelas kita sedang mendapat masalah. Kau harus memikirkan cara untuk membantunya, jangan memikirkan perkataanku.”

Ibnan berlalu meninggalkan Nita yang mematung tak berdaya di dalam kelas.

Bagian 13

Samir duduk bersila di atas kursi di ruang tengah tempat dia dan Nada pernah berbincang. Keputusan menyakitkan yang membuatnya terjebak di tengah pusaran angin ribut yang meluluhlantahkan apapun di sekitarnya. Tangan kanan Samir memegang gelas setengah isi air putih. Dia mengangkat gelas itu tepat di depan matanya, memperhatikan dengan seksama air putih yang bergoyang di daalamnya.

Benda yang paling lembut bisa menembus benda yang paling kuat.

Air, karena kelembutannya, bisa menembus kerasnya bebatuan, bahkan membelah batu karang sekalipun. Kelebihan lainnya, air bisa mengikuti bentuk tempat di mana dia berada.

Samir menggigit bibir, menahannya agar tidak bergetar. Siang tadi dia berhasil menahan amrahanya, meskipun sebagian besar orang menangkap keliru jawaban yang diberikanya sehingga akan berakibat fatal pada karirnya sebagai seorang pendidik. Konsekuensi dari jawaban itu masih akan berlanjut entah sampai kapan, dan dia harus mempersiapkan antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Dia menurunkan kakinya ke lantai yang dingin seraya meletakkan gelas di meja. Pikirannya terarah ke Nurjanah. Perdebatan tidak seimbang antara dirinya dengan Nurjanah tidak bisa dilanjutkan. Sri Nuryani mendapat perintah dari atasannya untuk melindungi saksi kunci mereka. Nurjanah dibawa keluar saat Samir membutuhkan penjelasan

Penjelasan.

Samir heran kenapa Nada tidak meminta penjelasan panjang lebar padanya seperti orang-orang penting di sekolah. Nada justru jatuh pingsan, mungkin terlalu berat untuk menerima kenyataan itu. Dia memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dengan alasan sederhana tapi masuk akal, meskipun bagi Samir bisa saja itu hanya taktik untuk menghindar darinya. Wajar saja. Siapa juga yang mau berteman dengan seorang laki-laki yang tidak berselera pada perempuan?

Terpikir olehnya untuk menghubungi Nada melalui telepon kantor. Hanya saja ini urusan pribadi. Tidak etis rasanya menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan yang benar-benar pribadi. Keinginan untuk menyusul Nada ke Yogyakarta, seperti yang Nada lakukan untuk menemuinya, terganjal dengan kasus di sekolah. Jika dia pergi di saat situasi bergejolak seperti sekarang, kepergiannya akan dianggap sebagai pelarian dari masalah. Situasinya akan lebih bertambah buruk.

Samir menghela napas. Dia bangkit dari kursi menuju tempat tidurnya untuk merenungkan kembali perjalanan hidupnya selama ini.

[***]

Putra bungsu Amin tiduran di atas tikar, kepalanya berada di pangkuan ibunya. Amir sendiri duduk di samping sang istri, menatap layar kaca yang menampilkna sinetron di televisi swasta yang tidak kunjung selesai meski sudah melewati beratus-ratus episode, cerita terus menerus diperpanjang meski jelas-jelas tidak bermutu. Tapi sebagian besar rumah menonton tayangan seperti itu.

Nurjanah duduk di atas kursi di belakang mereja. Lututnya terlipat, satu tangan memegang remote. Dia tidak memperhatikan dengan seksama cerita di layar. Telinganya seperti teredam oleh sesuatu sampai-sampai suara yang dihasilkan televisi itu tidak terdengar. Ketika sinetron di sela iklan, Amin meminta Nurjanah mengganti saluran, layar tidak kunjung berganti. Amin dan istrinya menoleh untuk mencari tahu. Rupanya anak mereka mematung seperti zombie.

Amin duduk di samping putrinya. Dia merebut remote itu. Gerakan tersebut memicu kembali kesadaran Nurnajah. Dia tersentak kaget, mengusap-usap dadanya.

“Kenapa kau melamun?”

“Ini tentang Samir, Pak.”

“Kau masih memikirkan dia?”

“Bukan itu. Tapi… bagaimana kalau seandainya dia marah pada Nur dan melakukan sesuatu yang buruk?”

Amin bertukar pandang dengan istrinya. “Dia benar, Pak,” kata istrinya. “Bagaimana kalau sampai dia melakukan sesuatu terhadap keluarga kita?”

“Dia tidak akan berani,” tepis Amin. “Siapa dia sampai berani melakukan hal itu? Dia hanya tamu di sini. Kita bahkan menyediakan rumah kontrakan untuknya.”

“Dia terlihat sangat marah tadi siang,” sela Nurjanah. “Sepertinya dia ingin menyerang Nur, tapi dihalangi oleh Ibu Sri.”

“Yang benar?” ibu Nurjanah khawatir

Nurjanah semakin meringkuk di kursi. “Nur melihatnya, Bu.”

“Kita harus bertindak, Pak.”

Amin mengangguk. “Ya. Kita harus bertindak sebelum terjadi sesuatu.”

“Usir saja dia dari rumah itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Bukankah Nur sudah menemukan caranya,” sahut si istri

Mata Amin berbinar. Ide itu tidak terpikir olehnya sejak awal. Dia malah sibuk membicarakan rumor itu di sekolah, sementara di tempat tinggalnya sendiri terlewatkan. Kepala sekoah sudah mendapat jawaban dari Samir, dan ada kemungkinan guru muda itu akan didepak dari sekolah dalam jangka waktu enam bulan. Sebelum itu, Amin bisa lebih dulu mengusirnya. Dia bisa menghasut warga sekitar tentang kebusukan yang disembunyikan Samir yang bisa mencemari kampung mereka. Amin yakin bisa menyulut amarah warga, lebih mudah daripada memprovokasi pihak sekolah karena terhalang birokrasi yang rumit.

[***]

Nita duduk menghadap kakaknya di atas tempat tidur di kamar kakaknya. Dia memeluk guling, menatap kakak perempuannya untuk meminta petunjuk. Usia kakaknya empat tahun lebih tua, artinya punya pengalaman empat tahun lebih banyak daripada Nita—bisa berarti ribuan pengalaman lebih atau mungkin lebih banyak lagi. Paling tidak kakaknya pernah mengalami masa-masa SMA yang bergejolak, penuh lika-liku persabatan dan cinta, atau ketidakpastian dalam pencarian jati diri. Nita ingin memanfaatkan kelebihan pengalaman kakaknya agar dia tidak mengambil langkah keliru.

“Kau ingin berteman dengan dia, sementara dia mengatakan dia menyukaimu?”
Nita mengangguk. “Dia mengatakannya dengan cara yang sedikit menyinggung masalah status Nita sebagai putri dari guru senior sementara dia bukan siapa-siapa.”

“Orang itu memiliki perasaan rendah diri yang kuat,” Anggun berkomentar.

“Dia memang penyendiri,” Nita membenarkan. “Nita dengar dia ditinggalka ayahnya sejak masih kecil. Ayahnya pergi dengan perempuan lain, meninggakan keluarga mereka.”

“Mungkin dia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.”

“Entahlah.”

“Coba pikir,” kata Anggun. “Orang yang seharusnya mendapat kasih sayang dan bimbingan dari ayah, justru ditinggakan dan disia-siakan. Anak kecil dalam situasi itu ketika tumbuh sebagai remaja akan menemukan kenyataan bahwa dirinya tidak berharga untuk dicintai siapapun. Dia akan merujuk pada kejadian masa lalu di mana ayahnya meninggakan dia dan keluarganya demi perempuan lain.”

Nita tertegun mendengar penjelasa itu. “Maksud kakak?”

“Orang itu cenderung menunggu seseorang datang mencintainya ketimbang mengejar orang yang disukainya untuk membuktikan bahwa dia berharga bagi orang lain.”

“Tapi dia yang mengatakan pada Nita kalau dia menyukai Nita.”

“Dia menyangkalnya, bukan? Mengatakan bahwa dia tidaklah pantas menyukaimu, atau alasan semacam itu. Itu artinya dia merasa dirinya tidak berharga. Terlebih dia selalu sendiri di dalam kelas. Situasi itu membuatnya merasa semakin tidak berharga.”

Nita menunduk menatap guling yang dipeluknya. Hatinya miris mendengarkan penjelasan Anggun. Dia mulai merasakan bagaimana penderitaan psikis Ibnan. Kesepian, tidak punya panutan, tidak mendapat perhatian, tidak dihargai. Satu-satunya hiburan bagi corner boy adalah pujian dari beberapa guru tentang peningkatan prestasi belajarnya akhir-akhir ini.

“Paling tidak dia beruntung karena tidak sampai menjerumuskan dirinya ke dalam dunia gelap obat-obatan terlarang. Kalau hanya masalah kepercayaan diri, kau bisa membantu dia lebih mudah ketimbang membantu dia keluar dari kecanduan obat-obatan.”

“Maksud kakak, Nita harus membantu dia?”

Anggun mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut adiknya. “Adik baik, membantu sesama itu perbuatan yang mulia. Kau sendiri yang bilang ingin berteman dengannya.”

“Tapi, kak, Nita tidak tahu apa yang harus Nita lakukan.”

“Kau hanya belum siap.”

“Lalu?”

“Mulai sekarang biasakan dirimu menyapa dia, menemani dia kalau perlu, berbincang hal-hal tidak penting. Ya semacam itulah.” Anggun menerawang untuk mengingat-ingat pelajaran penting yang pernah dia dapat. “Untuk dapat mengubah sikap seseorang, kita harus menanamkan ide itu di benaknya. Dan agar bisa menanamkan ide itu pada seseorang, kita harus benar-benar memahami orang itu secara keseluruhan.”

Nita menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan gagasan itu. “Nanti teman-teman menyangka Nita pacaran dengan dia.”

Anggun terkekeh. “Apa salahnya kalau kau pacaran dengan dia?” Dia memegang pundak adiknya. “Ketika kau bisa memahami dia, saat itulah cinta bisa muncul, meskipun kau tidak pernah jatuh cinta padanya. Perasaan cinta yang tanpa didahului perasaan jatuh cinta ituah yang bisa tumbuh menjadi cinta sejati.”

“Memangnya bisa?”

“Tentu saja, adik kecil. Ayah dan ibu mencintaimu tanpa jauh cinta padamu, mengerti? Dan itulah cinta yang sebenarnya.”

Nita termangu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Cinta tanpa perasaan jatuh cinta. Bagi anak baru gede seperti dia kalimat itu terau tinggi untuk dipahami sampai ke akar-akarnya. Contoh yang diberikan oleh Anggun sedikit membantu untuk memahami logika itu. Seandainya dia memutuskan untuk benar-benar membantu Ibnan, dan kelak dia bisa memahami Ibnan apa adanya, bisa jadi dia akan menemukan cinta seperti yang dikatakan kakaknya.

Orang bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Lalu, bagaimana rasanya cinta tanpa perasaan jatuh cinta?

Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah menjalaninya. Dan Nita sudah mengambil keputusan penting dalam hatinya.

[***]

Di bawah lampu kamar yang buram, Ibnan meneliti ulang persamaan-persamaan yang diperoleh dari analisis gerak menggunakan Hukum II Newton. Setelah tiga kali mengulangi, dia masih keliru mendapatkan hasil akhir. Selalu tidak sesuai dengan jawaban yang sudah disediakan di lembar soal. Dia memutuskan untuk berhenti karena matanya sudah terasa perih.

Ibnan meletakan pensil di atas buku tulisnya, menutup buku itu, menyimpannya di samping tas punggung miliknya. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kapuk yang tidak memakai ranjang. Cat dinding kamarnya sudah memudar, bahkan beberapa bagian sudah mengelupas seperti kulit pohon yang diiris. Dia menatap langit-langit kamar yang tertutup bilik bambu.

Entah bagaimana caranya, bilik bambu itu bisa menayangkan bayangan wajah Nita Fadilah, seorang siswi kelas XI IPA 1 yang juga seorang putri dari guru senior di sekolah. Wajah itu menunduk untuk menghindari pandangan langsung. Terkadang suaranya tidak jelas, terkadang lancar seperti semburan air mancur.

Ibnan berpikir mengenai pernyataannya siang tadi. Dia tahu Nita tumbuh di lingkungan keluarga harmonis yang serba terbuka, di mana komunikasi adalah kunci kebersamaan keluarga. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Nita meneritakan kejadian tadi siang kepada ibunya. Bagaimana kelak dia ketika bertemu dengan Ibu Sri Nuryani di sekolah? Hanya bisa menunduk malu, itu sudah pasti. Kalaupun guru senior itu mempunyai sikap toleran, orang yang tidak memandang pihak lain berdasarkan status, dia yakin Ibu Sri tidak akan mengijinkan putrinya berpacaran dengan alasan usia dan pendidikan. Usia mereka baru enam belas tahun. Apa yang akan dilakukan anak usia enam belas tahun kalau mereka sudah diijinkan pacaran? Mungkin merusak moral dirinya sendiri.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengampun memaafkan kita semua.

Ibnan memaksa dirinya untuk berpikir realistis. Orang berpendidikan seperti itu pasti lebih mementingkan pendidikan bagi anaknya ketimbang membiarkan anaknya berduaan dengan laki-laki yang bahkan tidak tahu siapa dirinya. Padahal kaidah umum orang bijak mengajarkan untuk mengenali diri sendiri sebelum mengenal orang lain. Bisa saja itu berarti seseorang harus bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebelum memikul beban orang lain. Artinya, Ibnan tidak memenuhi kualifikasi untuk memikul tanggung jawab itu.

Sudahlah, dia mendesah. Aku punya prioritas lain.

Dia memejamkan matanya.

[***]

Dani tertegun mendengar pemberitahuan dari orang tua Nada bahwa putri bungsu mereka belum kembali ke Yogyakarta. Yang lebih mencengangkan lagi, dia diberitahu bahwa Nada mampir di Kebumen untuk kemudian kembali lagi ke Garut. Masalah belum terselesaikan, dan Nada tidak akan pulang sebelum masalah itu benar-benar selesai.

Dani pamit pada orang tua Nada, menolak ajakan mereka untuk mampir sebentar sekedar minum teh. Pikirannya sedang kacau, kegiatan seperti itu tidak akan membantu. Dia butuh tempat agar bisa melampiaskan tekanan yang menyerang dirinya. Tiba-tiba saja sesuatu yang berhubungan dengan Nada membuatnya merasa menderita. Kenyataan bahwa sekretaris itu berniat kembali ke Garut untuk menyelesaikan masalah membuktikan bahwa laki-laki itu memang punya sesuatu yang membuat Nada terpesona. Bahkan setelah tahu laki-laki itu gay, Nada tetap menemuinya.

Dani ingin berteriak. Betapa dia menderita memikirkan Nada. Padahal biasanya Nada tak lebih dari sekedar teman bercerita. Situasinya bergerak dengan sangat cepat.

Inilah cinta.

Hanya dalam sekejap, seseorang dibuat gila olehnya.

Dani bertekad. Aku akan membuktikan bahwa aku layak untukmu.

Categories: Uncategorized

immortal (lanjutan)

December 3, 2010 Leave a comment

Bagian 6

Di salah satu sudut ruang guru terdapat meja dan kursi khusus yang disediakan mereka yang mempunyai kepentingan tertentu dengan satu atau dua orang murid. Tempat itu memang terbuka, tidak menyediakan privasi bagian interogasi-interogasi guru terhadap muridnya, atau keluhan-keluhan yang dilontarkan murid kepada gurunya untuk diselesaikan. Samir sudah mempersiapkan kemungkinan itu. Dia memilih waktu setelah pulang sekolah, sekitar 45 menit sampai 60 menit setelah bel pulang berbunyi.
Awalnya Samir ragu Ibnan mau menunggu selama itu untuk menemuinya. Dia berpikir Ibnan lebih memilih untuk pulang daripada menghadapi interogasi wali kelasnya atas perbuatan-perbuatan yang tidak dia lakukan, atau nasihat-nasihat panjang berkaitan dengan nilai-nilai akademis yang tidak menarik perhatiannya. Guru muda itu ragu karena dia tahu muridnya itu tak lain adalah bayangan masa lalunya.
Sepuluh menit berlalu sejak waktu yang ditentukan. Dia memperhatikan arlojinya. Sudah dia duga. Beberapa buku dimasukan ke dalam tas. Keputusan sudah diambil. Muridnya tidak datang. Dia sendiri memilih untuk pulang, merenung di dalam kamarnya untuk memancing pemikiran-pemikiran lain yang akan dia tuangkan ke dalam teks.

Buku terakhir sudah masuk ketika terdengar ketukan di pintu masuk. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Sepenggal kepala menyembul di balik daun pintu, mecari sesuatu, atau mungkin seseorang yang akan ditemuinya.

“Masuk,” kata Samir. Dia bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut tamu mudanya itu—usia anak itu baru 16 tahun. Wajah kaku itu dipenuhi tanya yang tak diungkap, hanya menuruti apa yang akan diberikan padanya. Samir menarik kursi, meminta Ibnan untuk duduk. Dia duduk di kursi satunya lagi, di depan Ibnan. Keduanya kini terpisah meja kecil—meja yang biasa ada di kelas.

“Aku harap tidak mengganggu waktumu,” Samir berbasa basi.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Ibnan Wahdani. Mulutnya masih terkatup sementara kepalanya menggeleng.

“Aku kira kau tidak akan datang.”

Ibnan menatap wali kelasnya. Dia melihat sorot mata gurunya yang penuh harap agar dia bicara. Dia mengalah. “Awalnya memang tidak berniat datang,” ungkap Ibnan pelan. “Aku tidak terbiasa berbicara dengan guru karena tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Bagi mereka aku hanyalah salah satu dari sekian murid bodoh yang beruntung karena bisa sekolah, bahkan beberapa dari mereka mempertanyakan bagaimana mungkin aku bisa berada di kelas IPA.”

Senyum kecil tersungging di bibir Samir.

“Tiba-tiba saja ada seorang guru, kebetulan wali kelasku, mengatakan bahwa dia peduli dan ingin membantu. Jujur saja aku tidak tertarik dengan tawaran itu. Tapi guruku itu berhasil membujukku dengan satu kalimat telak.”

Senyum di wajah Samir bertambah lebar. Jawaban anak ini jujur dan lancar. Lebih dari itu substansinya luar bisa. Ada sesuatu yang tersembunyi dala diri anak ini yang harus dia keluarkan. Sesuatu yang mungkin bisa mengangkat dirinya ke puncak performa.
“Dengan sombongnya dia berkata padaku beberapa hari yang lalu: ‘ketika melihatmu aku seperti melihat diriku di masa lalu. Aku tahu kau memiliki kemampuan yang ingin kau tunjukkan, tapi kau tidak punya kepercayaan diri untuk melakukannya karena tidak ada yang percaya bahwa kau bisa. Aku percaya dan aku akan membuka jalan untukmu.’” Ibnan berhenti sejenak untuk menunggu apakah gurunya akan memberi komentar atau tidak. Rupanya tidak. Dia melanjutkan. “Aku tidak peduli pada masa lalunya, aku peduli pada kepercayaannya.”

“Sepertinya gurumu itu orang yang hebat.”

Ibnan mengangkat bahu. “Anda tidak perlu membangga-banggakan diri sendiri seperti itu.” Dia memandang jauh melalui jendela yang terbuka. “Ya, Pak. Aku akui Anda memang hebat.”

“Terima kasih.”

Setelah itu keheningan melanda ruangan selama beberapa detik. Periode kebisuan yang biasa terjadi untuk membiarkan pikiran menemukan apa yang harus dikatakan satu kepada yang lainnya. Sementara itu, melalui celah-celah jendal, terdengar suara berisik puluhan siswa yang sedang menjalani aktivitas ekstarkulikuler.

“Aku pikir kau memang layak untuk masuk IPA,” Samir mengomentari salah satu penyataan muridnya. “Kau sudah masuk di sana, artinya kau layak. Mungkin orang berprasangka terhadapmu, dan kau merasa terganggu pada prasangka itu. Tapi pelajaran pentingnya bukan itu.”

“Apa?”

“Pikiranmu tajam dalam beberapa hal, meskipun payah dalam analisis aljabar dan lambat dalam operasi aritmatik. Kecepatan bukan segalanya, ketepatan lebih penting. Kendali psikologis menentukan ketepatan pikiranmu.”

Ibnan tertegun mendengar semua itu. Sedikit yang bisa dia pahami dari pernyataan gurunya. Dia terpaksa mengatakan sesuatu agar dia bisa mengikuti arah pembicaraan itu. “Terima kasih untuk pujiannya.”

“Kau harus mampu mengendalikan dirimu agar mampu mengembangkan potensi dalam dirimu.”

Ibnan tertawa pelan, tawa yang dipaksakan. Ayah Ibnan pergi bersama perempuan lain saat usianya baru 6 tahun. Dia dibesarkan oleh ibunya, bersama dua adiknya, dengan susah payah. Terkadang saudara-saudara ibunya membantu, tapi tidak sering karena mereka pun perlu mengurusi keluarga mereka. Perjuangan keras ibunya menghidupi mereka menjejalkan ide-ide pesimis dalam pikiran Ibnan. Dia tidak pernah mengenal teori apapun tentang potensi diri. Dia tidak memerlukannya. Yang dia perlukan adalah ijazah yang akan mengantarkannya ke tempat kerja.

Dan sekarang seorang guru membual kepadanya tentang potensi diri.

“Maafkan aku, Pak. Bukan maksudku untuk meremehkan Anda. Tapi Anda tahu aku hanyalah anak broken home yang tidak memerlukan potensi. Aku tidak akan punya waktu memikirkan hal itu karena aku harus memikirkan masa depanku dan kedua adikku.”

“Karena itulah kau harus memiliki kemampuan agar kau bisa menjadi tulang punggung mereka.”

“Maksud Bapak?”

“Pernahkah terpikir olehmu hal apa yang paling ingin kau lakukan?”

Ibnan memberikan jawaban yang paling pertama terlintas di kepalanya. “Bekerja untuk membantu ibu dan adikku. Aku anak pertama dan aku bertanggung jawab setelah ayahku kabur bersama pelacur itu.”

“Terpikirkah pekerjaan seperti apa yang kau inginkan? Atau pekerjaan apa yang bisa kau kerjakan?”
Kali ini butuh waktu beberapa detik untuk menjawab. “Entahlah. Tapi aku bisa melakukan pekerjaan apapun karena aku akan mempelajarinya setelah aku mendapatkannya.”

Samir tersenyum penuh kemenangan. “Di sanalah poin pentingnya. Sebelum kau mendalami suatu pekerjaan, pelajarilah apapun yang paling bisa kau lakukan sejak sekarang. Usiamu baru 16 tahun, kau masih punya banyak waktu untuk menemukan potensimu.”
Ibnan menyerap nasihat itu baik-baik, menyimpannya secepat mungkin sebagai pesan berharga yang akan dia ingat suatu hari nanti. Pendekatan itu memberinya jalan untuk tidak sekedar pergi sekolah. Ada hal lain yang diajarkan di sekolah meski tidak masuk ke dalam kurikulum. Tidak hanya di sekolah, pelajaran itu bisa didapatkan di manapun.

“Tapi kenapa?” katanya tiba-tiba. Seketika itu pula Samir melihat keraguan di wajah Ibnan. “Kenapa mau repot-repot mengatakan ini padaku di sini padahal Bapak bisa mengatakannya di dalam kelas? Lebih dari itu, kenapa Bapak percaya padaku?!” suaranya meninggi. Ibnan menuntut penjelasan.

“Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah keintiman psikologis selalu lebih berhasil mempengaruhi pola pikir seseorang. Untuk pertanyaan kedua, aku rasa aku pernah mengatakannya padamu.”

Ibnan menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah mendengarnya.”
Samir mencondongkan tubuhnya ke meja. Sambil menekan meja dia berbisik kepada muridnya. “Aku sama denganmu.”

“Itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sama di sebelah mananya?”

Samir mendesah. Dia mengedarkan pandangan untuk memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Perhatiannya kembali pada Ibnan. Tatapan keduaya beradu. “Ayahku meninggalkan aku untuk menikah dengan wanita lain saat usiaku 10 tahun. Aku belajar untuk menjadi seorang laki-laki tanpa kehadiran laki-laki paling penting dalam hidupku. Lalu aku menemukan diriku dalam kesendirian, sama seperti aku menemukan dirimu di tempat duduk di sudut kelas empat bulan yang lalu.”

Mata Ibnan membelalak. Satu rahasia telah terkuak, dibongkar begitu saja dihadapan orang yang seharusnya tidak layak mengetahuinya. Dor! Itu sama saja dengan menarik pelatuk padahal moncong senapan mengarah ke kepala sendiri. Itu bunuh diri! Ibnan merasa dadanya sesak, tubuhnya seperti dihimpit sepuluh Gunung Cikuray sekaligus.

“Aku mengatakannya padamu karena aku percaya, kau ingat?”

Ibnan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan gurunya itu. Pikirannya terlalu kacau.

Samir tahu konsekuensinya. Perkiraan matang sudah disusun. Paling-paling interogasi dari beberapa murid usil, gosip-gosip berkeliaran di bawah permukaan. Tidak, guru-guru lain tidak akan bermasalah dengan statusnya, toh dia sekarang adalah seorang pria dewasa berusia 26 tahun yang harus merangkai masa depan ketimbang menyesali masa lalu. Seorang pria yang sudah mampu mengurus diri sendiri tanpa kehadiran ayahnya.

Terdengar ceklikan pintu. Seorang staff TU muncul dari balik pintu, memberi tahu Samir ada seorang perempuan mencari dirinya. Perempuan itu tidak menyebutkan nama, hanya mengatakan teman semasa SMA. Samir tidak curiga, tidak bisa menebak siapa di antara sedikit teman yang dikenalnya bisa melacak dia sampai ke tempat ini. Dia meminta meminta petugas itu untuk mengantar sang teman ke atas. Kemudian dia mengalihkan perhatian kepada anak broken home yang masih tidak percaya itu.

“Lain kali kita lanjutkan. Aku ada tamu.”

Ibnan mengangguk. “Terima kasih,” katanya kepada Samir tapi pandangannya tertuju pada meja. “Terima kasih karena bersedia memperhatikanku, karena mau percaya padaku. Aku akan menjaga rahasia Anda.” Ibnan beranjak tanpa pamit, bahkan untuk sekedar menatap wajah gurunya sebelum pulang. Baru beberapa meter, langkahnya terhenti. Kali ini berbalik dan menatap Samir.

“Boleh tanya sesuatu?”

Samir mengangguk.

Sejenak Ibnan terlihat ragu, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “Apakah wajar jika orang seperti aku jatuh cinta?”

Samir terkekeh. “Jangan banyak berpikir tentang cinta. Kau akan menderita kalau memikirkannya terlalu banyak. Ungkapkan atau kau kehilangan dia untuk selamanya.”

Senyum tipis terlihat di wajah Ibnan. Jawaban itu cukup jelas baginya. Sangat jelas, malah. Karena cinta bisa menjadi milik siapa saja, termasuk untuk seorang anak yang cintanya digantikan oleh perempuan lain. Ibnan berbalik, melangkah pergi seraya melambaikan tangan tanda perpisahan.

Samir menggelengkan kepala. Dasar tidak sopan.

Di tangga, Ibnan berpapasan dengan seorang perempuan muda. Orang itu asing baginya, tapi dai yakin itulah tamu yang sedang mencari wali kelasnya. Perempuan muda, teman dari masa SMA. Jangan-jangan? pikir Ibnan. Keduanya bertukar pandang saat Ibnan berada satu anak tangga di atas perempuan itu. Keduanya saling melewati—satu naik, satu turun.

Satu lagi rahasia dari sang guru muda akan terkuak.

[***]

Setelah terjebak kemacetan di hampir dua jam di sekitar pusat kota, Nada berhasil sampai di terminal Cicaheum. Di sana dia mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Satu jam kemudian dia mencari bis tujuan Garut. Beberapa orang di dalam terminal mengarahkannya ke dalam salah satu bis yang masih kosong, baru tiga orang termasuk dirinya yang ada di dalam bis. Dia hampir mati kebosanan menunggu bisa penuh untuk berangkat. Baterai mp3 player miliknya sudah habis. Baterai Li-ion itu bisa diisi ulang, tapi dia tidak menemukan tempat seperti itu di dalam tempat seperti ini.

Bis akhirnya berangkat, membawa harapannya yang membumbung seiring semakin dekat dengan tujuannya. Orang yang ditujunya berada di sebuah sekolah yang beralamat di Koropeak, sebuah nama wilayah di salah satu ruas jalan Ahmad Yani. Dia tidak tahu di mana letaknya, ini kunjungan pertama dia. Menghubungi Samir melalui telepon sekolah tidak hanya akan mengganggu pekerjaannya, tapi juga merusak kejutan yang akan dia berikan pada teman SMA itu.

Begitu tiba di terminal Guntur, dia beristirahat sejenak. Dia membutuhkan air minum untuk mengisi cairan tubuhnya, serta beberapa makanan ringan untuk mengisi masa istirahat singkatnya. Sambil membeli kedua hal tersebut, dia menanyakan alamat sekolah tersebut kepada pemilik warung. Pemiliknya bilang hanya perlu satu kali naik angkot, dengan harga yang sudah ditentukan. Kelak di dalam angkot dia hanya perlu menujukkan alamat tersebut kepada sopir angkot: itu adalah alamat sekolah dan sopir angkot yang melalui jalur itu pasti mengetahuinya.

Nada melintasi gerbang sekolah itu, tapi tidak tahu harus ke mana. Dia memasuki ruang Tata Usaha, menanyakan seorang guru bernama Samir Israr Rasyid. Orang yang ditanya mengenal nama itu, tapi ragu yang bersangkutan masih di sekolah atau sudah pulang. Petugas itu mencari ke ruang guru dan menemukannya. Dia menyampaikan pesan kepada orang itu, kemudian kembali dan memberi tahu si pencari untuk menemui teman lamanya di ruang atas.

Nada berterima kasih. Dia menuju tangga yang ditunjukkan oleh petugas itu. Saat menaiki tangga itu dia melihat seorang siswa, yang entah kenapa memicu ingatan tertentu dalam pikirannya. Siswa itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu. Bukan karena wajahnya mirip orang itu, tapi karena raut mereka, tatapan mereka, sinar wajah yang terpancar. Dia melewati siswa itu menuju tujuannya.

Pintu terbuka. Dua kawan yang lama tidak berjumpa itu saling menatap, sama-sama tidak percaya bisa kembali bertemu setelah berpisah selama sembilan tahun.

 

Bagian 7

Dinding yang mengitari ruangan itu runtuh. Atapnya menghilang entah ke mana, tapi sinar mentari yang terang itu tidak menyengat. Dengan satu atau lain cara sesuatu menghalangi pancaran ultraviolet menembus permukaan kulit. Lantai keramik putih berubah warna; bukan hanya berubah warna tapi juga berubah bentuk. Tidak ada keramik putih, yang ada hanyalah hamparan rumput hijau yang menyegarkan mata. Meja-meja dan kursi-kursi tidak lagi tampak seperti meja dan kursi, mereka menjadi tumbuhan yang sedang berbunga, serbuk sarinya beterbangan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Dedaunan kering berhamburan, terbang di jalur yang terletak di antara dua manusia yang saling pandang tanpa suara. Kupu-kupu berkeliaran memamerkan keindahan sayap-sayap mereka, para lebah penghasil madu hinggap di atas kelopak bunga yang terus bergerak karena angin sepoi-sepoi.

Dengan cepat waktu bergulir mundur membawa Samir menuju perpustakaan sekolah. Dia bisa melihat sepasang anak SMA berbincang dengan kaku. Dia juga bisa mendengar apa yang keduanya perbincangkan. Suara itu menggema di dalam perpustakaan, melesat keluar melewati lorong waktu. Suara miliknya sendiri di masa lalu menggema: Bisakah aku menuliskan namaku di hatimu?
“Hai,” suara perempuan membuyarkan seluruh lamunan indah itu. Suaranya pelan, lebih karena gugup ketimbang faktor gender.
Samir tertegun di tengah-tengah ruangan. Dia belum sampai ke mejanya setelah pertemuan dengan Ibnan ketika perempuan yang mengaku teman semasa sekolah itu masuk. Keduanya bertukar pandang dan Samir seperti terhipnotis. Tubuhnya berhenti bergerak, bahkan mungkin degup jantungnya juga berhenti.

“Na… Na… Na…” suaranya terputus-putus.

Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk. Dia melangkah mendekati laki-laki yang mati suri itu. Suara sepatunya yang pelan terdengar menghentak keras di ruangan besar itu. Dia mengamati seluruh ruangan. Tidak jauh beda dengan tempat kerjanya: meja-meja yang berantakan berisi tumpukan kertas atau dokumen. Tapi ada aura yang membedakan ruangan itu dengan tempat kerjanya. Ruangan itu terasa memiliki kekuatan magis bernama aura akademis. Nada merindukan saat-saat seperti pertempuran akademis yang sudah hampir empat tahun dia tinggalkan.

Keduanya berdiri berhadapan di tengah-tengah ruangan, terpisah dua petak keramik, saling memandang satu sama lain selama beberapa detik.

Samir tidak bisa mengedipkan mata. Berkali-kali batinnya menolak untuk percaya, cenderung menganggap apa yang dia alami tak lebih dari sekedar mimpi. Dia tahu itu bukan mimpi karena sejak tadi pagi dia tidak tertidur. Senyum yang ditujukkan perempuan itu padanya membuat dia semakin ini bukan mimpi.

“Aku kira tadi petugas TU memberi tahu kalau ada teman yang mencariku,” kata Samir tanpa memalingkan pandangannya. Kalimatnya lebih lancar sekarang.

“Tentu saja dia benar.”

Samir menggeleng. “Kau bukan temanku.”

“Tega sekali berkata begitu pada orang yang sudah jauh-jauh datang ke sini,” Nada mengeluh.

“Kau tamu spesial untukku.”

“Terima kasih. Itu membuatku merasa lebih baik.”

Sunyi.

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Tidak,” tukas Samir. “Tahan dulu. Aku tahu apa yang kau butuhkan.” Dia beranjak menuju meja kerja untuk mengambil tasnya.“Ayo,” ajaknya kepada Nada. “Aku rasa kau harus mandi agar terlihat lebih cantik.”

[***]

Naskah ini berasal dari Garut. Mungkin inilah teman sekolah yang dimaksud oleh orang tua Nada.

Apa yang diungkapkan Mutia kepadanya membuat Dani menggelengkan kepala. Pergi jauh meninggalkan pekerjaan hanya demi seorang teman SMA? Pasti lebih dari sekedar teman sampai-sampai Nada merelakan posisinya digantikan orang lain. Samir Israr Rasyid, demikian nama pengirim yang diberikan oleh Mutia. Nama itu jelas nama laki-laki. Ketika nama itu diungkap, Dani paham kenapa sekretaris redaksi itu memutuskan untuk pergi.

Tujuan utama perjalanan ini adalah permintaan maaf. Namun, ketika tahu Nada menyusul seorang laki-laki, timbul rasa penasaran dalam diri Dani. Laki-laki macam apa yang membuat Nada melakukan hal bodoh dalam hidupnya? Saat itu, entah kenapa muncul perasaan cemburu dalam dirinya. Semacam perasaan dongkol karena perempuan yang dekat dengannya pergi ke tempat laki-laki lain. Untuk apa seorang teman cemburu? Kecuali jika dia bukanlah teman biasa.

Batin Dani bergejolak. Apakah aku jauh cinta pada dia? Jika ya, kenapa tidak dari dulu perasaan ini muncul? Tentu saja tidak, karena kehadiran seseorang akan terasa berharga saat orang itu tidak ada.

Kali ini misi Dani berubah. Dia tidak hanya harus bertemu dengan Nada, tapi juga bertemu dengan laki-laki bernama Samir untuk membuktikan apakah laki-laki itu layak mendapatkan Nada atau tidak. Kalau perlu, dia akan membawa Nada pulang dan melamarnya begitu mereka kembali ke Yogyakarta.

Atas saran dari Mutia, Dani mengejar keberangkatan kereta api Argo Wilis tujuan Bandung yang berangkat pukul 12.30. Berbekal alamat yang diberikan Mutia, dia bersiap untuk menjemput Nada.

[***]

Cahaya kuning di panggung utama semakin memudar, layar hitam turun perlahan-lahan, satu babak dalam drama kehidupan manusia selesai untuk digantikan dengan babak lainnya. Para aktor yang telah bemain habis-habisan sepanjang babak pertama pasti merasa kelelahan, memilih untuk tidak ikut bermain di babak berikutnya. Sementara pada pemain babak berikutnya melakukan pemanasan, para aktor babak pertama bersiap-siap untuk keluar dari teater.

Samir tahu Nada baru saja menempuh perjalanan jauh, entah dari mana, dia belum menanyakan dan Nada sendiri belum bercerita. Dia membawa Nada ke rumah kontrakannnya, menyuruh dia membersihkan diri. Sementara itu dia menemui Nurjanah dan ibunya, menjelaskan situasinya kepada mereka, lalu meminta bantuan seperlunya. Saat kembali ke rumah dia mendapati Nada sudah mengenakan baju lain.

Rambut Nada masih basah, sebagian terurai sampai ke dada, sebagian lagi ke punggung. Rambutnya agak bergelombang di ujung. Bagian depan rambut itu mengarah ke sisi kanan, hampit menutupi matanya. Wajahnya sudah terlihat lebih cerah, meski tidak putih—kuning langsat lebih tepatnya. Matanya hitam menyala, menambah pesona perempuan itu. Di atas semua itu, bagi Samir, tidak ada perubahan mencolok pada Nada. Di matanya Nada tetaplah seorang gadis desa sederhana yang pernah satu sekolah dengannya, meskipun mungkin sekarang sudah menjadi orang sukses di kota besar.

Ketika itu juga dia menyuruh Nada untuk istirahat untuk memulihkan tenaganya, cerita bisa disimpan untuk malam hari. Salah satu dari dua kamar kosong di rumah itu sudah dirapikan dan Nada langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal.
Malam ini, sesudah menyantap makan malam yang dikirim Nurjanah, keduanya duduk di ruang utama rumah itu. Samir merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, kedua tangannya diletakkan di lengan kursi. Di hadapannya, terpisah oleh meja, Nada duduk sambil menyilangkan paha dan tangan kanannya menunpu dagunya di atas paha itu. Dia mengenakan sweater dan celana training biasa sebagai pakaian santainya. Di depan mereka dua gelas teh panas mengepul di tengah udara dingin pedesaan.

Pembicaraan diawali dengan saling bertanya kegiatan setelah lulus. Sementara Nada dan keluarganya hijrah ke Yogyakarta, Samir merantau ke Malang, kuliah di universitas negeri berbasis islam di sana. Nada sendiri mengambil Sastra Nusantara di perguruan negeri terbaik di Yogyakarta, lulus dengan pujian ditambahkan olehnya dengan nada bercanda. Samir lulus dengan predikat di bawah Nada dan kembali ke kampung halaman di Kebumen, namun hanya bertahan beberapa bulan sebelum pergi tanpa tujuan. Tuhan yang baik menghempaskannya ke sebuah sekolah di Kabupaten Garut, dan di sinilah sekarang dia berada.

“Jujur saja, aku penasaran kau bisa menemukanku,” katanya setelah meneguk teh yang semakin dingin itu. “Sembilan tahun sejak terakhir kali kita bertemu, tidak ada kontak, dan tiba-tiba kau muncul di sekolahku, bukannya di rumahku, yang artinya kau tahu apa pekerjaanku.”

“Berterima kasihlah pada-Nya, Sam. Dia benar-benar mengirimkan malaikat-Nya untukmu.” Samir hanya melempar senyum. Nada melanjutkan. “Aku terkejut kau bekerja sebagai guru. Maafkan aku, tapi dulu kau sama sekali tidak pandai bicara. Jangankan di hadapan banyak orang, berdua denganku saja kau seperti tercekik.”

Samir mengangkat bahu, enggan menanggapi seperti apa dia dulu.

“Sebenarnya aku punya alamat rumahmu, tapi alamat sebuah instansi lebih mudah ditemukan. Jadi aku memilih datang ke sekolahmu.”

“Itu belum menjawab pertanyaanku,” dia mengingatkan.

“Oh, maaf.” Kini Nada merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. “Bukan bermaksud sombong. Sekarang aku bekerja sebagai sekretaris redaksi sebuah penerbit buku di Yogyakarta. Hampir tiga tahun. Jujur saja, pekerjaanku penuh tekanan dan saat seperti itulah aku tahu indeks prestasi yang didapat saat kuliah tidak banyak membantu. Aku banyak melakukan kesalahan dalam pekerjaan, bahkan mendapat peringatan pemecatan. Kemarin pagi hidupku berubah—aku merasa hidupku berubah. Aku menerima naskah baru dengan nama pengirim yang mengingatkanku kepada seorang teman SMA. Nama itu tidak biasa, lebih dari itu orangnya pun cukup eksentrik. Aku masih bisa mengingat teman itu dengan baik.”

Samir menatap perempuan itu di bawah lampu neon 20 watt yang menerangi ruangan itu. Jawaban Nada terlalu meyakinkan untuk dibantah. Selama ini tidak ada satupun teman yang tahu di mana keberadaannya. Kalau yang dimaksud Nada adalah naskah yang dia kirim lima hari lalu, artinya naskah itu sudah sampai ke penerbit, dan berkat naskah itu seorang teman lama menemukannya.
Samir tiba-tiba tersenyum. Dia teringat ada titik tertentu yang menyamakan kejadian di masa lalu dengan kejadian masa kini.

“Lagi-lagi tulisan mempertemukan kita.”

Nada mengangguk setuju. “Sudah kubilang ketika membaca nama itu pikiranku langsung tertuju padamu. Bagaimana mungkin aku lupa pada seorang siswa pecundang yang memberiku cerita pendek melalui teman dekatku? Yang lebih konyol lagi, si pecundang itu berkeras ingin menjadi kekasihku.”

Samir terkekeh, kemudian diikuti suara tawa Nada. Nada bisa melihat wajah si penulis memerah di bawah siraman cahaya lampu. “Hei, itu sudah lama berlalu. Tidak perlu dibahas. Seperti yang kau bilang, waktu itu aku memang bertingkah konyol.”
“Kau pasti tahu apa yang dikatakan Aristoteles tentang sebuah kebiasaan?”

“Bidang studiku Pendidikan Fisika, tapi kebetulan pernah mendapat mata kuliah Filsafat Ilmu.” Dia memutar otaknya untuk menerka-nerka kalimat mana yang dimaksud Nada. Dia mencoba salah satu yang diingatnya. “’Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Karena itu keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan.’ Itukah yang kau maksud?”

Nada terkesan dengan sisi akademis siswa yang semasa sekolahnya tidak banyak bicara itu. “Sepertinya kau mendapat nilai A untuk mata kuliah itu. Ya, itu yang aku maksud.”

“Sayangnya, sejauh ini aku tidak memahami maksudmu.”

“Itu karena kau sudah melupakan aku,” kata Nada penuh tekanan.

“Hei, ayolah. Kita semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya ada sedikit waktu untuk larut dalam kenangan masa lalu.”
Raut wajah Nada menunjukkan dia tidak setuju dengan Samir. “Kukira aku spesial bagimu.”

Kening samir mengerut. Kedatangan Nada ke tempatnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengajukan ratusan pertanyaan, kini Nada berbicara dengan bahasa-bahasa yang samar. Sulit untuk menerjamahkan kalimat seperti itu, salah tanggapan bisa berakhir luka di hati salah satu dari mereka. Samir tahu itu. Dia memilih untuk menunggu lawannya bicaranya menjelaskan.
“Seperti yang kau bilang, tulisan mempertemukan kita kembali,” Nada melanjutkan. “Dulu kita berkenalan karena kau terlebih dulu mengirimkan cerita pendek padaku melalui temanku. Kau mulai rutin membuatkan cerita untukku. Setelah beberapa kali barulah kau mengatakan maksudmu membuat semua cerita itu. Kau ingin aku menjadi kekasihmu.”

“Aku memintanya sampai lima kali, dan lima kali pula kau menolak permintaanku,” Samir menambahkan.

“Itulah maksudku menyinggung Aristoteles. Lima kali kau melakukannya. Itu sudah cukup untuk menanamkan dirimu di dalam sini,” tunjuk Nada pada dadanya sendiri. “Kau berkesan bagiku, Sam. Karena kau pernah menanamkan kesan itu.”

“Dulu kau tidak menerima permintaanku,” ujar Samir dingin. “Sekarang kau mengatakan aku berkesan bagimu.”

“Tentu saja. Sesuatu akan meninggalkan kesan setelah sesuatu itu tidak ada. Kita semua setuju akan hal itu.”

“Lalu kenapa dulu kau menolakku?” tanya Samir. Apa yang dikatakan Nada memicu kembali rasa sakit hati Samir bertahun-tahunlalu. Dia bisa saja meledak, melampiaskan semua kekesalan dalam hati yang lama dipendamnya. Tapi sejak dulu dia tidak pernah dendam pada Nada. Dia sakit hati, tapi hatinya terlalu sering mengalami kesakitan sampai menganggap kejadian itu bukan hal besar yang harus dipermasalahkan.

“Aku punya alasan,” sahut Nada datar. “Pertama, saat itu bukan hanya kau yang menyatakan perasaan padaku. Empat orang selain dirimu, kalau kau mau tahu. Akan jadi beban moral bagiku jika menerima salah satu dan menolak yang lainnya. Akan terjadi konfrontasi fisik, mungkin. Yang jelas aku memilih untuk tidak memilih.” Samir hampir saja berkomentar ketika Nada mengangkat salah satu tangannya untuk meminta Samir diam. “Alasan kedua, dan ini merupakan pertimbangan terbaikku untukmu. Dulu aku melihat betapa rapuhnya dirimu. Kau berharap menjadi pasanganku agar ada seseorang yang menopangmu. Aku tahu aku lebih sibuk dengan sekolahku, karenanya akan lebih sering mengabaikanmu. Kesimpulanku, kau akan lebih menderita menjalin hubungan denganku.”

“Jika tidak dicoba mana bisa tahu.”

“Hadapilah kenyataan; itu sudah bertahun-tahun lalu.”

Awalnya Samir tertegun, tapi kemudian mengangguk. “Ya… ya. Aku sudah melupakannya.”

“Begitu juga aku,” Nada menimpali. “Sampai kedatangan naskah atas namamu kemarin.”

“Aku memilih penerbit itu atas saran temanku. Aku tidak tahu kau bekerja di sana,” ungkap Samir.

“Tidak masalah siapa yang memberitahumu. Aku bersyukur ini terjadi karena akhirnya aku bisa membalas hutang yang harus aku bayar.”

“Seingatku, aku tidak pernah memberimu pinjaman,” tukas Samir seraya diikuti tawa kecil.

Nada memaksakan diri tersenyum. “Kau tidak meminjamkan uang, tapi aku pernah membuatmu sakit hati. Aku ingin memperbaiki diriku, belajar untuk memberikan apa yang tidak bisa aku berikan padamu dulu.”

“Sejak dulu aku sudah memaafkanmu, dan aku sudah melupakan semua itu.”
Nada membisu sejenak. Dia menatap laki-laki di seberangnya. Seorang guru muda yang telah banyak berubah. Orang itu tidak lagi pendiam, tidak hanya mengutarakan apa yang ada di pikirannya melalui tulisan. Dia pasti telah belajar banyak selama proses perkuliahan sebelum terjun menjadi seorang guru. Tubuhnya pun bertambah tinggi, meski pun tetap kurus seperti dulu. Rambutnya tidak lagi berantakan seperti dulu, tapi tersisir rapi dan hitam mengkilat.

“Kalau begitu, bisakah kita menjalin hubungan seperti yang pernah kau harapkan dulu?”

 

Bagian 8

Samir memejamkan matanya sambil berharap dirinya bisa memasukkan kedua gelas di atas meja ke dalam telinga untuk mencegah kalimat permohonan itu sampai di telinganya. Satu kalimat yang dibentuk dari 12 kata yang sebenarnya bisa disingkat menjadi 3 kata saja. Tidak, dia tidak peduli jumlahnya. Yang dia pedulikan adalah substansi kalimat itu. Empat, sepuluh, dua belas tidak ada bedanya karena baginya kalimat seperti rudal jarak jauh berhulu ledak nuklir.

Dia sudah berusaha menghindar dari pertanyaan yang bermaksud sama kemarin malam, diajukan oleh seorang pria paruh baya yang memberinya kontrak rumah. Pria itu cukup bijak  untuk tidak meneruskan percakapan. Situasinya berbeda jauh sekarang. Orang di hadapannya bukanlah pria tua bijak, tapi bukan pula orang yang bisa diabaikan begitu saja tanpa penjelasan mengingat pengorbanannya untuk sampai di tempat itu tidak mudah. Lebih dari itu, perempuan ini terobsesi untuk memperbaiki situasi di masa lalu dengan menawarkan kebaikan yang tidak bisa diberikannya semasa dulu.

Manusia akan lelah jika terus menerus lari dari kenyataan, dan pastinya bangkai akan semakin berbau busuk jika disimpan terlalu lama. Tebar wewangian di atas bangkai untuk sekedar menghilangkan baunya, dan kubur dalam-dalam untuk menghilangkan wujud dan bau. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah karena kebohongan hanya kan menyakiti diri sendiri, juga orang lain. Hasil akhirnya jauh lebih buruk ketimbang kejujuran yang menyakitkan.

“Maafkan aku, Nad,” Samir angkat bicara. Kepalanya tertunduk menatap kosong ke arah meja. “Maafkan aku jika harus mengecewakanmu setelah menepuh perjalanan jauh ini. Aku tahu kau berharap banyak tapi aku takut aku tidak bisa memberi sesuai yang kau harapkan.”

Secepat awan mendung menutup terang mentari, wajah Nada tiba-tiba berubah kuyu. Jawaban Samir belum selesai, dia tahu itu. Tapi itu sudah cukup untuk memberitahunya merpati putih yang sudah melesat hingga ke bulan harus terjun bebas tanpa sayap menuju permukaan bumi.

“Bagaimana bisa kau bicara seperti itu?” mata Nada menatap tajam. Dia merasa pandangannya mulai kabur karena butiran air mulai menerobos keluar dari pupil. Dia tertegun tidak berdaya: merpati putih tanpa sayap yang jatuh menghantam permukaan bumi.
“Aku bisa mengatakannya karena kau pun pernah melakukannya padaku.”

Bibir Nada bergetar. “Kejam sekali.”

Samir mencondongkan tubuhnya, berbicara dengan nada penuh tekanan. “Aku tidak kejam, Nad. Aku hanya berusaha bersikap realistis. Aku tidak memberimu harapan karena aku tidak mau kau berharap. Aku bukan lagi orang yang dulu kau kenal. Aku sudah berubah.”

“Semua orang memang berubah.”

“Ini bukan sesuatu yang bisa ditolerir olehmu, bahkan oleh orang-orang di sekitarku.”

“Bicaralah dengan jelas, Samir Israr Rasyid,” sembur Nada. Suaranya meninggi.

“Sudah sangat jelas: aku berbeda dengan diriku yang dulu.”

“Itu pembelaan yang lemah.”

Samir tahu pembelaan itu belum cukup untuk membuat Nada percaya. Alasan semacam itu terlalu umum, terlalu biasa. Sementara dia bertahan dengan komitemannya untuk tidak memberitahukan lebih dari ini… kecuali Nada tidak mau menyerah. Dia akan memutuskan kapan saat yang tepat untuk mengaku. Bahkan dia berharap tidak perlu mengaku agar rahasia itu tetap tersimpan dalam lemari besi berkunci ganda dalam hatinya.

Satu tetes air mata telah bergulir di pipi Nada. Meski begitu napasnya masih teratur, emosinya masih stabil. Dia belum memahami keseluruhan cerita yang disodorkan oleh Samir, karena itu dia harus tetap terkontrol. Tidak boleh ada kesalahpahaman dalam situasi seperti ini atau merpati putih itu tidak akan bertahan hidup lagi.

“Katakan padaku, Sam. Aku menunggu jawabanmu,” terdengar suara Nada yang mencoba menguatkan dirinya. “Katakan padaku apakah kau tidak lagi mencintaiku seperti dulu kau berusaha mati-matian mengejarku?” air mata kembali bergulir di pipi Nada.

Samir memejamkan matanya, berharap saat terbangun nanti dia mendapati ini hanyalah salah satu mimpi buruknya. Bukan, ini bukan mimpi. Dia membuka mata dan wajah Nada yang memohon penjelasan masuk dalam bidang pandang matanya. Dia menghela napas panjang. “Aku tidak lagi mencintaimu, Nad,” ungkapnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. “Maafkan aku. Segalanya sudah berubah.”

Nada tertegun mendengar jawaban itu. Batinnya ingin berteriak keras, tapi raga yang menampungnya sudah tidak punya semangat bahkan untuk sekedar bergerak. Ini terlalu menyakitkan, terlalu pahit. Tidak, dia tidak bisa menyalahkan Samir sepenuhnya karena guru muda itu tidak bersalah. Wajar jika cinta kepada seseorang bisa pudar. Sembilan tahun lebih waktu yang cukup untuk mengobati luka dan membangun hidup baru dengan cinta baru.

Cinta baru!

Bodoh! Nada mengutuk dirinya sendiri. Kenapa tidak pernah berpikir ke sana? Dia melupakan sama sekali kemungkinan itu ketika memutuskan untuk menyusul Samir ke Garut. Emosi positif, kegembiraan karena menemukan teman lama, dan kesibukannya mencari jalur menuju Garut membuat dia lupa bahwa orang yang dicarinya mungkin sudah lupa padanya, mungkin sudah memiliki pasangan, atau bahkan mungkin sudah berkeluarganya. Meskipun nyatanya Samir masih tinggal sendiri mengontrak sebuah rumah, guru muda itu mengaku sudah tidak lagi mencintainya.

“Kenapa?” dia bertanya. “Kenapa kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau sudah menemukan orang lain sebagai pendampingmu?”
Samir sudah menduga pertanyaan itu akan dilontarkan Nada. Jika dia mengatakan ya, kemungkinan besar Nada akan meminta pertemuan dengan orang yang bersangkutan. Jika dia mengatakan tidak, Nada akan mendesaknya untuk menjelaskan alasan perubahan dirinya. Dua-duanya pilihan sulit.

“Bukan,” jawab Samir singkat. Dia sudah memutuskan: kejujuran adalah jalan terbaik.

“Lalu apa?”

“Aku lebih tidak suka mengatakan alasannya.”

“Kau harus mengatakannya, Pak Guru. Kau mendidik muridmu untuk menyertakan alasan setiap kali mereka mengambil keputusan, atau setiap kali mereka memberi jawaban. Sekarang pun kau harus memberikan alasanmu.”

“Ini tidak semudah yang kau kira,” tukas Samir.

“Jangan menghindar dariku,” Nada tidak mau kalah. “Aku sudah mengatakan alasan kenapa dulu aku menolakmu. Bahkan untuk itu aku harus menempuh perjalanan panjang dengan resiko kehilangan pekerjaan. Aku sudah berkorban sebanyak itu untuk meminta maaf padamu.”

“Kau mengatakan alasanmu setelah semua itu berlalu selama sembilan tahun,” protes Samir dengan suara yang agak tinggi.

“Apa bedanya sekarang dengan sembilan tahun lagi? Kalau toh ujung-ujungnya kau tetap menolak, kenapa harus menunggu selama itu?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.”

“Aku mencintaimu, Sam, tapi aku tidak bisa memberimu ikatan karena aku tahu itu justru akan menyakitimu.”

“Mulia sekali.”

Nada menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisannya bertambah keras. Dia tidak bisa menahannya lagi. Lebih baik menangis melampiaskan segala kekecewaan. Menunggu Samir mengatakan alasannya hanya buang-buang waktu dan itu tidak akan mengubah keadaan. Dia sudah ditolak oleh orang yang dia tolak sebanyak lima kali sembilan tahun yang lalu. Meski alasan penolakannya dulu untuk kebaikan orang itu, tapi orang itu tidak mau mengerti.

Di seberang Nada, guru muda itu tidak bisa—tidak tega—membiarkan tamunya menangis. Dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjongkok di samping kursi Nada. Dia meraih tangan Nada, menjauhkan keduanya agar bisa melihat mata Nada yang sudah basah. Satu tangannya dia gunakan untuk menyeka air mata yang terus bergulir. “Aku mohon berhentilah menangis.”

Nada menatap mata teman masa lalunya itu. Tatapannya memancarkan kemarahan. “Kau meminta aku berhenti menangis sementara kau sudah menyakitiku.”

“Aku sudah meminta maaf.”

“Bukan itu,” tukas Nada. Kalimatnya di sela oleh isakan. “Kau tidak mau memberi tahu alasanmu tidak lagi mencintaiku hanya karena aku pernah melakukan hal yang sama padamu. Itu namanya balas dendam, dan itu membuatku sakit. Jika kau memaafkanku atas apa yang pernah aku lakukan dulu, seharusnya kau tidak membalas perbuatanku.”

“Aku tidak bermaksud membalas dendam.”

“Kau sudah melakukannya.”

“Baiklah… baiklah…” Samir menyerah kalah. Dia bangkit dari samping kursi, menarik salah satu kursi mendekati kursi Nada. Sekretatris redaksi itu tidak mau menyerah, membuat Samir kewalahan menanganinya. Dia tahu tidak lama lagi rahasia itu harus diungkapkan, bangkai busuk itu akan ketahuan. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dan memang tidak berniat menahannya lebih lama lagi. Amin berkali-kali mendesaknya untuk menikahi Nurjanah. Suatu hari nanti dia tidak akan bisa berbohong lagi pada petugas kebersihan itu. Tapi ternyata waktunya lebih cepat dari yang dia duga, dan orang yang akan pertama tahu tentang sisi gelap dalam dirinya adalah orang yang pernah dia cintai.

Ironis.

“Sembilan tahun lalu aku mencintai seorang perempuan tapi dia menolakku berkali-kali. Aku terlalu rapuh dan menjadikan pengalaman itu sebagai acuan dalam hidupku. Tapi aku tidak pernah menyimpan dendam pada perempuan itu karena kau tahu akulah yang tidak berharga untuk dicintai.”

Nada menelan ludah mendengar cerita yang diungkapkan secara dramatis itu.

“Aku tahu tidak akan ada perempuan yang tertarik pada pecundang sepertiku. Sejak saat itu aku belajar untuk menekan perasaanku sampai benar-benar tidak tersisa sedikit pun. Aku berhasil mematikan rasa itu, melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta, dan membuang hasratku terhadap perempuan. Cinta adalah kemewahan yang tidak pernah aku dapatkan, karena itu aku tidak lagi berharap akan mendapatkannya dari perempuan manapun.”

Nada menahan napas demi mendengar kalimat terakhir itu. Lehernya seperti tercekik. Tidak ada oksigen yang masuk. Kepalnya mulai berputar-putar tak karuan.

“Sekarang kau mengerti kenapa aku tidak bisa mencintaimu lagi?”

Nada tidak bisa mendengar pertanyaan itu. Telinganya berdengung keras, kepalanya berputar semakin hebat, lampu neon di atasnya terlihat meredup, oksigen yang dia butuhkan tidak kunjung mengalir.

“Karena aku seorang gay,” lanjut Samir.

Satu kalimat itu mengakhiri segalanya.

Dunia gelap bagi Nada.

[***]

Nurjanah hampir saja memutar kenop pintu rumah kontrakan Samir ketika dia mendengar sedang ada percakapan serius antara dua teman yang lama tidak berjumpa itu. Dia tidak ingin mengganggu. Ketika memutuskan untuk berbalik meninggalkan pintu itu, langkah kakinya tertahan mendengar permohonan yang diucapkan oleh perempuan bernama Nada itu.

“Kalau begitu, bisakah kita menjalin hubungan seperti yang pernah kau harapkan dulu?”

Pertanyaan itu kurang lebih sama dengan pertanyaan selalu dia tanyakan dalam hatinya untuk guru muda itu. Pertanyaan itu kemudian disalurkan pada ayahnya yang semakin dekat dengan sang pujaan hati. Namun ayahnya selalu membawa jawaban yang sama, dengan berbagai alasan yang berbeda setiap waktunya. Maka, Nurjanah penasaran bagaimana jawaban Samir terhadap teman sekolahnya itu.

Dia menguping percakapan mereka selanjutnya, sambil berharap degupan jantungnya tidak benar-benar kencang hingga sampai terdengar melintasi pintu. Setiap kata dia cermati, setiap kalimat dia pahami. Percakapan itu berlangsung alot, saling tuding, saling membela diri tentang apa yang pernah terjadi di masa lalu. Percakapan mereka hampir berubah menjadi pertengkaran sebelum berubah dan diganti oleh suara tangis perempuan. Percakapan digantikan oleh suara yang lebih lembut, lebih pelan.Itu memaksanya memasang telinga tajam-tajam.

Matanya terbuka lebar, hampir melompat dari tempatnya. Dia menutup mulut yang menganga dengan tangannya. Dadanya semakin berdebar kencang. Sebuah rahasia penting telah diungkapkan, dan itulah alasan kenapa guru muda itu selalu menolaknya berulang kali. Seketika itu juga perasaan jijik menjalar di sekujur tubuh Nurjanah. Berkali-kali dia meminta melalui ayahnya, berkali-kali itu pula ditolak dengan alasan yang berbeda. Tapi semua alasan yang pernah diungkapkan Samir—belajar menjadi guru yang baik, dan sebagainya—itu semua bohong! Dan kebohongan itu menyakitkan baginya.

Nurjanah berang. Dia harus melakukan sesuatu. Harus. Ada balasan yang setimpal untuk orang yang sudah menolaknya dengan kebohongan. Pikirannya berpacu dengan aliran darah yang dipompa secara cepat oleh jantungnya. Dia menemukan rencana yang bisa membuat guru muda itu merasakan penolakan yang pernah dirasakannya.

Samir akan menerima balasan atas kebohongan dan rahasia gelap yang baru saja diakuinya.

 

Bagian 9

Nada tidak menyentuh sedikit pun sarapan pagi yang dihidangkan oleh Samir. Hatinya terlanjur berantakkan. Merpati putih itu tidak hanya jatuh dari langit setelah kehilangan kedua sayapnya, tapi juga hancur berkeping-keping dihantam meteorid seberat ribuan ton. Setelah terjatuh pingsan, Nada mendapati dirinya terbangun di dalam kamar bersama Nurjanah, orang yang membawakan makan malam untuk mereka. Saat itu dia ingin melarikan diri, tapi rencana itu bukan saja tolol tapi juga sama dengan misi bunuh diri. Dia berada di salah satu pelosok di Kabupaten Garut tanpa mengenal akses transprotasi. Itu akan menyulitkannya, membuatnya tersesat, bahkan mengumpankan diri pada psikopat jalanan tengah malam.

Di meja makan dia hanya menatap kosong ke arah piring, mengaduk-aduk isinya menggunakan sendok tanpa sekalipun menyuapnya. Padahal di sampingnya, Samir makan dengan lahap. Dia menoleh ke arah Samir, menatapnya selama beberapa detik. Benarkah laki-laki ini seorang gay? Sudahlah, lupakan saja. Kenyataan itu terlalu sakit untuk dipikirkan. Ada hal penting lain yang harus dia lakukan. Hari ini juga dia harus kembali ke Yogyakarta karena tidak mungkin terus tinggal di tempat ini. Tujuannya sudah tercapai meski luka yang didapat.

“Siang ini aku berangkat ke Bandung. Atasan menyuruh aku pulang untuk urusan penting.” Nada berpikir sejenak. “Kalau tidak salah ada kereta tujuan Malang berangkat pukul 15.30 dari Bandung. Aku akan naik kereta itu.”

Sendok yang sudah diambang mulut Samir berhenti. Dia menurunkan kembali sendok itu untuk kemudian menoleh pada Nada. “Secepat itu? Kau kan baru tiba kemarin siang.”

“Memangnya alasan apa yang bisa membuat aku tingal di sini satu hari lagi?”

“Paling tidak kau istirahat dulu.”

“Sudah kubilang atasanku menyuruh aku pulang. Dia membutuhkanku. Lagipula tujuanku menemuimu sudah terlaksana…” kalimat Nada mengambang. “Dan berakhir menyakitkan,” sambungnya dengan suara bergetar.

“Maafkan aku atas kejadian tadi malam.”

Nada menghela napas. Dia tidak ingin membalasa tatapan Samir yang terarah padanya. Dia meninggalkan kursinya. “Aku harus berkemas.”

“Ijinkan aku mengantarmu,” Samir menawarkan diri.

“Tidak usah,” sahut Nada dari kamarnya. “Aku sudah merepotkanmu dan tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Kita berangkat bersama dari sini, kau turun di sekolah. Sisanya biar aku sendiri.”

Samir menghela napas. Selera makannya sudah hilang. Dia meneguk sedikit air kemudian beranjak untuk bersiap-siap menuju sekolah. Dia hendak menemui Nurjanah untuk membereskan rumah, namun langkahnya tertahan di pintu. Seorang laki-laki asing berdiri di depan pintu pagar rumah kontrakan Samir.

[***]

“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu,” jawab Nada dengan sinis. Melihat wajah Dani membuatnya teringat kejadia beberapa malam yang lalu di restoran kecil itu. Kini Nada berada di antara dua laki-laki yang sudah menyakiti perasaannya.

“Aku ingin meminta maaf padamu, karena itu aku menyusulmu.”

“Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”

“Aku menelpon orang tuamu.”

“Mereka tidak tahu aku di sini.”

“Aku mendapat alamat ini dari Mutia.”

Nada menggigit bibir. Dia lupa bahwa setiap naskah yang masuka kan terlebih dahulu masuk ke dalam database melalui computer bagian informasi di lobi.

“Bisakah kita bicara di dalam saja?” sela Samir. “Tidak enak bagiku membiarkan dua tamu berbincang sambil berdiri di luar rumah.”
Dani menoleh ke arah Samir. Dengan tatapan seksama, dia memperhatikan guru muda itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apa yang dipikirkannya benar-benar jauh dari kenyataan. Bagi dia, laki-laki yang ditemui Nada tidak lebih dari pria kampung dengan berbusana udik dan wajah pas-pasan.

“Lebih baik jangan ikut campur. Ini antara aku dan Nada,” ancam Dani.

Nada tercengang. “Kau gila! Seharusnya kau yang tidak ikut campur. Kami berdua punya urusan yang lebih penting.”

“Aku menyusul ke sini untuk menjemputmu, Nad. Untuk apa kau tinggal bersama laki-laki ini?”

“Maafkan aku,” Samir menyela. “Kalau yang kau maksud kami memiliki hubungan di luar pernikahan, kau keliru.”

Dani menatap Samir dengan penuh kebencian. Hampir saja dia melangkah untuk menerjang Samir sebelum Nada menghalangi jalannya. “Tutup mulutmu, orang udik. Kau sama sekali tidak pantas untuk Nada.”

Plak!
Satu tamparan keras mendapat di pipi Dani. Rahang Nada mengeras. Dia berusaha mengendalikan amarahnya agar tidak meledak lebih keras lagi. Sudah cukup beban yang menimpanya tadi malam, dia tidak ingin menghabiskan energinya untuk pertengkaran yang sia-sia. “Pulanglah!” jari Nada menuding ke arah pintu pagar.

“Aku tidak akan pulang tanpamu.”

“Kalau begitu aku yang pergi.” Nada berbalik, tapi langkahnya terhenti.

Dani mencengkram erat tangan Nada. “Kau harus tetap di sini sampai kau menjelaskan kenapa kau berada di rumah laki-laki itu.”

“Itu bukan urusanmu,” sahut Nada tanpa memandang Dani.

“Tapi kau tinggal di dalam rumah dengan seorang laki-laki…”
Nada menyentakkan tanganya sekuat tenaga hingga terlepas dari cengkraman Dani. Dia kembali berbalik menghadap Dani, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir beradu. “Kalau kau berpikir aku menggadaikan diriku padanya, kau keliru,” suara Nada berbisik tapi penuh tekanan. ” Orang itu gay, dia tidak akan melakukan apapun terhadapku.” Nada beranjak ke dalam rumah tanpa peduli pada Dani yang menganga, kemudian menabrak bahu Samir yang berdiri di pintu.

Hanya tinggal Samir dan Dani. Keduanya saling memandang. Yang satu penuh pertanyaan, yang satu penuh kebencian. Yang penuh kebencian menghampiri yang penuh pertanyaan, melayangkan tangannya.

“Dia mencintaimu, mengorbankan pekerjaannya untuk menemuimu. Tapi kau menyia-nyiakan pengorbanannya! Dasar tidak tahu diri!”

Samir mengerang sambil memegang pipinya yang dihantam bogem Dani. Dia memejamkan mata menahan sakit. Belum sempat berpikir apa yang terjadi, laki-laki asing itu mengangkat kerah bajunya.

“Jangan coba-coba merebut Nada dariku,” ancam Dani dengan suara berbisik, “atau kuremukkan wajahmu.”

Samir menyeringai menanggapi ancaman itu.

Satu pukulan lain hampir saja mendarat di pipinya. Refleks tangan Samir lebih cepat. Kepalan tangan Dani ditahan oleh cengkraman tangan Samir. Secepat kilat Samir memuntir tangan Dani ke belakang punggungnya, membuat Dani mengerang kesakitan, jauh lebih keras dari erangan Samir. Suara itu memancing Nada kembali ke luar.

“Ada apa lagi ini?!” tanyanya ketika melihat Samir mengunci satu tangan Dani. “Lepaskan dia, Samir. Kalian seperti anak kecil saja!”

Samir mendorong Dani sampai hampir tersungkur di tanah. Dia kembali memegang pipinya yang masih berdenyut akibat pukulan tak terduga tadi. Dia menatap Nada saat hendak mengambil tas di dalam rumah. “Sepertinya orang yang bertingkah seperti pacarmu itu tidak tahu sopan santun.”

Nada angakt bahu. “Kau bisa mengajarinya, kalau kau mau.”

[***]

Satu celah kecil terbuka dan bendungan yang tebal itu meledak begitu saja untuk kemudian mengalirkan seluruh air menuju samudera yang luas. Apapun yang dilewatinya terkikis habis, hanyut tanpa mampu memberi perlawanan barang sedetik pun. Bukan hanya menghanyutkan tapi juga menarik perhatian banyak orang. Mereka yang berdiri jauh dari jangkauan hanya menjadi penonton, bergidig melihat kengerian itu, dan beruntung mereka tidak memiliki tampungan sebesar itu untuk dibendung.

Secepat meluncurnya air, secepat itu pula berita buruk menyebar. Pertama-tama di kalangan bawah sekolah. Seorang sumber berita dengan senang hati membagi-bagikan pengetahuan rahasia yang dimilikinya. Dia tidak berharap dikenal oleh kalangan lainnya, dia hanya tidak tahan lama-lama menahan diri. Ocehannya menggebu-gebu. Penonton yang menyaksikannya terpaku.

“Masya Allah,” gumam ibu pemilik kantin yang terletak di pojok sekolah. Matanya yang bulat hampir teloncat keluar. “Jadi karena itu dia selalu menolak permintaanmu.”

Amin mengangguk. Asap rokok mengepul dari tangan kanannya. “Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus diusut tuntas,” lanjutnya bersemangat.

“Memangnya mau diapakan?” tanya petugas kebersihan muda yang biasa dipanggil Odoy.

“Adukan ke kepala sekolah. Minta dia mengusir orang itu dari sini. Atau semacam itu.”

“Hus,” tepis Aceng, petugas kebersihan lain yang usianya hampir sama dengan Amin. “Harus ada bukti kuat. Kita tidak bisa seenaknya mengadukan dia begitu saja. Penjahat yang sudah bersalah saja masih diberi kesempatan membela diri.”

“Tapi dia bisa menjadi aib bagi kita, bagi sekolah,” sela ibu pemilik kantin. Apa jadinya sekolah ini kalau ketahuan ada gurunya yang memiliki kelainan seperti itu?”

“Tapi Pak Aceng benar, Bu. Kita harus punya bukti. Bapak kepala sekolah itu orang berpendidikan, paling tidak mengerti hukum. Bisa-bisa kita yang dimarahi karena menyebarkan berita bohong.”

Amin terlihat berpikir keras. Rupanya kemenangan tidak semudah yang dia bayangkan. Balas dendam tidak bisa terwujud begitu saja. Apa yang dikatakan dua rekannya memang masuk akal. “Putriku bisa jadi saksi,” cetusnya.

Pria bernama Aceng itu menggaruk dagunya. “Itu bagus. Lebih bagus lagi kalau lebih dari satu, akan lebih kuat.”

“Satu sudah cukup,” sergah Aceng.

“Kalau orang menuduh berzina kan harus empat orang, Pak,” ungkap ibu pemilik kantin, diikuti anggukan Aceng.

Mata Odoy berbinar seperti orang yang baru mendapat uang tunai dari dalam sabun mandi. “Kenapa tidak bawa sekalian saja perempuan itu. Itu, teman yang dating dari jauh itu.”

Aha!

Amin merasa dirinya bodoh. Celah berharga seperti itu luput dari perhatiannya. “Otakmu pintar juga. Seharusnya kau jadi pengacara saja, jangan jadi tukang sapu di sekolah.”

Pembicaraan yang dilakukan saat matahari sepenggalah naik itu tidak luput dari perhatian beberapa siswa yang sedang berkeliaran. Mereka pergi ke kantin disela-sela pergantian jam pelajaran. Beberapa ada yang ijin pergi ke toilet kemudian mampir di kantin. Isi pembicaraan yang mereka dengar memang buruk, tapi sisi buruk itulah yang menjadikan beritanya layak untuk diperbincangkan.

Kalian pikir bagaimana acara-acara gosip bisa laku?

Saat itu ada lima siswa yang menguping: dua dari kelas XI, tiga dari kelas X. Telinga kedua siswa kelas XI itu berdiri ketika nama guru yang mengajar di kelas mereka disebut-sebut. Yang kelas X, karena tidak mengenal guru itu, baru bereaksi ketika keburukan sang guru disebutkan. Dua kelompok siswa itu pergi dengan dia pikiran yang berbeda: yang satu bertanya-tanya mengenai kebenaran informasi itu, yang satu penasaran siapa guru yang memiliki kelainan itu. Satu-satunya hal yang menyamakan kedua kelompok itu adalah tujuan mereka: berita ini layak disebarkan!

Satu mulut ke mulut lainnya, satu kelas ke kelas lainnya. Dalam waktu kurang dari empat jam berita itu sudah tersebar di kalangan putih abu, belum menyentuh korps pegawai berkerah. Tidak masalah. Pasukan putih abu sudah cukup untuk menghancurkan citra pribadi yang bersangkutan. Guru sama halnya dengan orang tua bagi siswa. Mereka tentu marah jika orang tua mereka membohongi mereka dan menyembunyikan keburukannya dari mereka.

“Dasar penipu!”

“Dasar guru bejad!”

“Benarkah apa yang kalian katakan?”

“Yang mana sih orang nya?”

“Baru tahu ada guru seperti itu di sekolah ini.”

“Pecat saja! Guru seperti itu hanya menjadi aib bagi kita.”

Nita bergegas menemui ibunya di ruang konseling setelah memberitahu melalui pesan singkat mengenai kabar yang sedang beredar di kalangan siswa. Ruangan konseling terpisah dari ruang guru, letaknya di belakang ruang kepala sekolah. Wajah panik Nita muncul di balik pintu. Sri Nuryani menyuruhnya untuk masuk dan duduk di sofa di ruang tunggu.

“Ada apa, Sayang?” tanya Sri Nuryani saat duduk di samping Nita. Dia menggenggam tangan putri bungsunya itu.

“Pak Samir, Bu. Seisi sekolah sedang membicarakan Pak Samir,” ungkap Nita. Dia hampir menangis saat melanjutkan kalimatnya.

“Pak Samir seorang gay, Bu. Begitu kata mereka.”

Sri Nuryani menahan napas demi mendengar kabar itu. Lehernya tercekik. Petir menyambar di siang bolong, guntur yang mengikutinya menggelegar memekakkan telinga. Ini gila! Dia menatap kosong ke arah putrinya yang sudah mengucurkan air mata.

“Dari mana kamu tahu berita ini?”

“Semua siswa sedang membicarakannya, tapi Nita tidak tahu dari mana asalnya.”

Sebagai orang berpendidikan yang sudah malang melintang, dia tahu dirinya tidak boleh mengambil kesimpulan secepat itu. Terkejut, itu hal yang wajar. Tapi terbawa arah oleh hembusan angin tak berpangkal bukanlah pilihan bijak. Semasa kuliah dulu dia pernah diajarkanmenggunakan metode ilmiah, setelah menjadi guru dia mengajarkan metode itu kepada murid-muridnya. Meskipun situasi ini bukan permasalahan dalam ilmu pengetahuan, metode itu tetap saja berlaku meski dengan bahasa yang beda. Ilmuan menyebutnya hipotesis, ahli hokum menyebutnya praduga tak bersalah. Ilmuan harus melakukan observasi, para ahli hukum akan melakukan penyelidikan.

Sri Nuryani bangkit dari kursinya. Aliran informasi ini harus segera dibahas mengingat integritas institusi yang ditempatinya dipertaruhkan. “Kembalilah ke kelas. Usahakan untuk tidak ikut campur urusan ini. Ibu akan menemui kepala sekolah untuk membahas ini.”

Nita beranjak untuk memeluk ibunya. Dia masih menangis. Secara refleks Sri Nuryani mengelus kepala Nita. “Sudahlah, Sayang. Jangan bersedih. Semoga ini hanya karangan orang-orang kurang kerjaan.”

Nita melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata sebelum berkata kepada ibunya, “tolong bantu Pak Samir, Bu. Dia guru yang baik. Nita yakin dia tidak mungkin seperti itu.”

Sri Nuryani tersenyum lembut. “Akan ibu usahakan. Sekarang ibu harus pergi. Kembalilah ke kelasmu.”

[***]

Nita bukan satu-satunya orang yang terpukul mendengar berita itu. Seorang laki-laki menggeram di tempat duduk di sudut kelas. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal di atas meja. Urat nadi di tangannya menyembul keluar seperti hendak mengoyak kulitnya.

Brak!

Beberapa orang yang masih tersisa di kelas terkejut mendengar suara benturan keras itu. Mereka mendelik ke arah sumber suara. Rupanya corner boy, begitu istilah mereka untuk pria penyendiri itu, menghantam meja dengan kedua tangannya yang masih terkepal. Tidak ada yang menegur, hanya gerutuan pelan. Selang beberapa detik kemudian Nita masuk ke dalam kelas dalam keadaan menangis. Dari tempat duduknya, Ibnan memperhatikan setiap gerak Nita.

Dia tahu penyebab Nita menangis, dan itu membuat amarahnya kembali naik. Satu-satunya orang yang percaya padanya ternyata tak lebih dari orang kotor penuh dengan kebohongan. Dia tertipu, dengan polosnya dia percaya pada guru muda itu.
Kita memiliki masa lalu yang sama, kata wali kelasnya itu kemarin. Kalimat itu membuatnya terbujuk untuk percaya. Orang yang pernah mengalami hal yang sama bisa lebih memahami bagaimana situasi tersebut. Dia merasakan semangat menyala dalam dirinya karena itulah pertama kali sejak ditinggal ayahnya ada laki-laki dewasa yang mau berbagi dengannya.

Itu kemarin. Segalanya berubah dengan cepat hari. Berita yang membuat kuping panas itu menyebar tak terkendali di kalangan putih abu, termasuk dirinya. Kabar ini membuatnya berpikir, jangan-jangan dia dibujuk untuk percaya dan kelak dijadikan korban pelecehan seksual. Mungkin hal itu pulalah yang membuat Pak Samir begitu memperhatikan perkembangannya. Seperti sedang memainkan game balas jasa: aku sudah memberi padamu, giliranmu memberi padaku.

Persetan dengan permainan balas jasa! Ibnan mengumpat dalam hatinya. Dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu. Langkahnya sempat terhenti ketika melewati tempat duduk Nita. Dia mengeluarkan sapu tangan dari tasnya, menaruh sapu tangan itu di atas meja Nita, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia melangkah sambil menundukkan kepala di sepanjang koridor, bahkan sampai melintas keluar dari pintu gerbang.

Dalam diam, perlahan air matanya terurai.

Categories: Uncategorized

IMMORTAL

November 26, 2010 Leave a comment

Bagian 2

“Berapa kali harus aku katakan padamu? Jangan pernah mencatat hal-hal penting di lembaran kertas!” bentak Hasan, pimpinan redaksi yang marah karena janji temu dengan salah satu penulis senior batal. Pembatalan itu karena hal sepele: Ajeng Qotrunnada Sofia, sekretarisnya, menulis janji temu itu di selembar kertas yang menghilang entah ke mana, dan dia lupa janji temu itu tadi malam. Pembatalan itu berakibat fatal: penulis senior marah besar karena dibiarkan menunggu dan merasa janjinya diingkari.

“Maafkan saya, Pak,” kata Nada pelan sambil membungkukkan setengah badan. “Sepertinya saya tidak sengaja membuang kertas itu ke dalam tempat sampah.”

Hasan mencondongkan tubuhnya ke tepi meja. Dia menatap tajam ke arah Nada yang tertunduk malu. “Maaf katamu? Berapa kali kau melakukan kesalahan yang membuatku malu seperti ini? Lalu seenaknya saja kau meminta maaf?”

Dalam hatinya Nada mengakui hal tersebut. Bukan hanya sekali ini dia melakukan kesalahan. Sebagian besar kesalahannya terjadi akibat kebiasaan menuliskan sesuatu yang penting pada lembaran kertas, bukannya mencatat di buku atau note blok atau di kalender. Sesekali dia melakukan kesalahan menuliskan jam rapat dewan redaksi sehingga atasannya datang terlambat dan mendapat teguran keras.

Bodohnya lagi, tadi malam dia malah menghabiskan waktu dengan Dani yang justru berakhir dengan kesimpulan menyakitkan.
“Anda tidak bisa berkata seperti itu, Pak. Saya tahu saya melakukan banyak kesalahan yang membuat Anda berada pada posisi sulit. Tapi Anda tidak bisa mengabaikan permintaan maaf dari seseorang.”

Pria berusia empat puluh tahun itu menajamkan padangannya. “Apa salahnya jika aku tidak menghargai permintaan maafmu? Sikapmu sendirilah yang membuat aku tidak bisa menerima permintaan maaf itu. Semua ini kembali padamu,” tuding Hasan.

“Saya salah, dan saya sudah minta maaf. Tapi Anda membuat situasinya menjadi lebih rumit karena tidak menerima permintaan maaf saya.”

“Maksudmu, aku juga bersalah?” bisik Hasan penuh tekanan. “Kau menyalahkanku? Demi Tuhan, sekretaris macam apa kau ini?”
Nada terkejut mendengar kalimat itu. Dia merasa seperti direndahkan. Kesalahannya memang buruk, tapi itu bukan berarti atasannya juga tidak melakukan kesalahan. Dia tidak bisa menerima sikap Hasan yang merasa paling benar.

“Kita semua pernah melakukan kesalahan, Pak. Apa bleh buat, kita manusia yang penuh keterbatasan.”

“Jangan berceramah di depanku,” sergah Hasan. “Aku tahu semua manusia melakukan kesalahan. Hanya saja kau sudah berlebihan. Kau sama seperti keledai bodoh yang terperosok pada lubang yang sama puluhan kali.”

Nada menahan napas demi mendengar pernyataan keras atasannya. Dia tidak terima dengan sebutan keledai bodoh itu. Rahangnya mengeras saat menggeram pelan. Otot-otot tangannya menyuruh dia bergerak, melemparkan tumpukan kertas di tangan ke muka atasannya. Dia  bisa membayangkan reaksi atasanya menerima perlakuan seperti itu.

“Keluar dari ruanganku!” teriak Hasan, jarinya menuding ke arah pintu. “Aku harus memberimu peringatan keras agar melekat dalam kepalamu. Sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku tidak segan-segan menyuruh orang lain yang lebih berpengalaman untuk mengambil alih posisimu.”

Nada menghela napas. Dia selamat, tapi hanya satu kesempatan tersisa untuknya. Satu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Dia pun tidak ingin membantah lebih banyak lagi. Yang dia butuhkan adalah udara segar atau alunan musik lembut untuk menenangkan dirinya. Dia membungkuk untuk memberi hormat, lalu keluar dari ruangan atasannya.

Telepon di meja Nada berdering begitu dia tiba di meja kerjanya. Dia meletakkan tumpukan kertas yang dibawanya. Satu tangannya yang lain terulur untuk menjangkau telepon.

“Ya?”

“Petugas dari kantor pos membawa satu naskah untuk dipertimbangkan atasan kita.” terdengar suara Mutia, salah seorang staff di lobi kantor. “Sebentar lagi aku akan mengantarnya ke ruanganmu.”

“Terima kasih sudah memberi tahu,” sahut Nada. Gagang telepon diletakan kembali. Dia membereskan beberapa dokumen yang berserakan di atas mejanya sambil menunggu kedatangan Mutia.

Ajeng Qotrunnada Sofia, demikian namanya, bertugas sebagai sekretaris redaksi. Lulus dengan pujian dari salah satu universitas top di Yogyakarta membuatnya langsung diterima sebagai sekretaris redaksi dari perusahaan penerbit buku di kota itu. Di usia yang muda, tidak mudah menjadi seorang sekretaris. Tugasnya sehari-hari lumayan berat, termasuk menginventarisir berbagai tawaran naskah yang masuk sebelum diajukan pimpinan redaksi. Tekanan pekerjaan seperti itulah yang membuatnya berkali-kali melakukan kesalahan.

Ketukan pintu terdengar. Dia menyuruh siapapun yang mengetuk untuk masuk. Rupanya Mutia. Perempuan itu menyodorkan amplop berwarna cokelat besar dan tebal, juga agak berat.

“Sepertinya ada penulis baru yang ingin menjajal kemampuannya,” kata Mutia saat memberikan amplop itu.

Nada menerimanya seraya memaksakan diri tersenyum. Bagaimanapun juga, peringatan keras dari Hasan masih melekat dalam benaknya. “Itu bagus. Artinya mereka mempercayai kita.”

Mutia melirik ke seberang ruangan, melintasi jendela pemisah ruangan Nada dengan ruangan atasannya. Dia melihat atasannya a yang sedang mondar-mandir sambil menelpon dengan ekspresi penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi. “Tampaknya dia sedang tidak baik.”

Nada mengangkat bahu. “Aku menghancurkan relasinya, tentu saja dia tidak baik.”

Mutia terkekeh. “Terkadang kau begitu hebat sampai membuat atasan kita kalang kabut.”

“Sudahlah, Mut. Aku sedang tidak ingin memicarakannya sekarang.”

“Kalau begitu, selamat bekerja.” Mutia pamit meninggalkan ruangan. “Jaga dirimu, jangan sampai dia menerkam saat kau lengah,” sambung Mutia sebelum menutup pintu.

Nada meletakkan naskah itu di atas mejanya. Dia merebahkan diri sejenak di sandaran kursi. Kata-kata yang dilontaskan Hasan berdengung kembali di kepalanya, melesat-lesat seperti pesawat jet sedang memburu kawanan teroris. Dia membuka laci mejanya, mengeluarkan headphone, meyambungkan headphone itu ke CPU, kemudian memutar beberapa lagu yang bisa menenangkan dirinya. Mulutnya ikut bernyanyi ketika lagu Your Guardian Angel dari The Red Jumpsuit Apparatus diputar media player komputernya. Alunan musik terbukti mengalihkan perhatiannya. Beberapa penilitian ilmiah membuktikan pengaruh music terhadap bayi, terhadap suasana hati. Tapi, alih-alih mempercayai teori rumit mengenai kerja otak yang berhubungan dengan musik, Nada meyakini inti teori itu adalah pengalihan perhatian: ketika kau mendengarkan musik, pikiranmu akan tertuju pada lagu; masalah terlupakan dan tubuh menjadi rileks.

Sambil mendengarkan lagu, dia memeriksa naskah yang baru tiba itu. Saat melihat alamat pengirim yang tertera di belakang amplop, Nada tertegun mendapati huruf-huruf yang terangkai menjadi sebuah nama yang dikenalnya. Nama yang khas, nama yang mengingatkannya pada seorang pecundang yang pernah dia kenal di sekolah. Seseorang yang selama sembilan tahun ini menghilang dari hidup Nada, lalu datang tiba-tiba melalui satu bundel tulisan.

Tuhan memang tidak bisa ditebak.

Dia mengerjapkan matanya untuk memastikan pandangannya tidak keliru. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Nama itu tetap sama seperti pertama kali dia melihatnya. Dia tahu matanya masih normal, bahkan dia tidak membutuhkan alat bantu penghilahatan untuk melihat nama itu. Tapi sesuatu yang datang di masa lalu membuatnya tidak yakin pada apa yang dia lihat. Apa mungkin dia? Pikirnya. Seketika itu pula bayangan masa lalu melesat-lesat dalam matanya, seperti lorong waktu yang sedang bekerja setelah disetting menuju waktu tertentu.

Seorang siswa menghampiri Nada yang sedang menyelesaikan tugas di perpustakaan. Siswa itu duduk di seberang Nada. Dia menatap siswa itu. Tiba-tiba keduanya terjebak dalam suasana kaku yang tidak bisa dijelakan. Sebagai perempuan, Nada menunggu laki-laki itu mengatakan sesuatu padanya. Tapi laki-laki itu malah tertunduk malu, menggerak-gerakkan kaki di bawah meja.

“Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Nada memberanikan diri bertanya lebih dulu.

Laki-laki itu masih gugup. Jari-jari tangannya tidak berhenti bergerak. “Aku… itu…” dia mencondongkan tubuhnya kemudian membisikan sesuatu yang membuat Nada tertegun. “Bisakah aku menuliskan namaku di hatimu?”

Nada tersadar dari lamunan singkat itu. Dia melirik ke ruangan Hasan. Pimpinan redaksi itu sedang membenamkan diri di kursinya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan. Nampaknya pimpinan redaksi itu sedang menenangkan pikiran setelah mendapat pukulan telak akibat keteledoran Nada. Kesalahan yang mendatangkan pertengkaran, juga peringatan pemecatan bagi Nada. Tentu saja pria itu bosan dengan kesalahan yang berulang-ulang, seperti halnya manusia jenuh pada rutinitas mereka. Harus ada sutu waktu dalam hidup untuk menetralisir suasana. Harus ada satu waktu di mana segala permasalahan tentang pekerjaan yang membosankan dilupakan sepenuhnya.

Dia menatap alamat pengirim pada amplop, lalu melirik ke arah ruangan Hasan. Amplop, ruangan Hasan. Amplop, ruangan Hasan. Apa peduliku dengan dia, umpat Nada dalam hati. Kalaupun dipecat, aku masih bisa mencari pekerjaan lain.
Dia membuka file Microsoft Word baru, mengetikan alamat yang tertera pada amplop. Di bawah alamat itu, dia menuliskan nama dan alamat institusi tempat temannya bekerja. File itu dicetak. Sementara menunggu hasilnya keluar, Nada membuka fasilitas internet yang dimiliki kantornya. Dia mencari tahu jadwal keberangkatan kereta. Dia mengambil hasil print out di sudut meja kerjanya, kemudian menuliskan jadwal yang dia perlukan.

Nada menyeringai.

Bagian 3

Samir Israr Rasyid berjalan keluar dari ruang kelas, diikuti para siswanya yang berhamburan. Di udara terdengar suara menggema ke seluruh area sekolah melalui pengeras suara yang dipasang di setiap kelas dan di sudut-sudut tertentu lingkungan sekolah. Waktu istirahat tiba, sejenak untuk melepaskan kepenatan selama hampir tiga jam terjebak di dalam ruang kelas. Bukan hanya siswa yang butuh istirahat. Para guru pun membutuhkannya. Mereka perlu menenangkan diri, mengganti strategi pembelajaran yang tidak berhasil diterapkan di kelas sebelumnya.

Samir menyusuri koridor, melewati beberapa siswa yang berkerumun di depan kelas masing-masing. Beberapa siswa yang mengenalnya melemparkan senyum. Dia membalasnya, meski dia merasa senyumnya itu kaku. Beberapa lagi menyalaminya. Sebagian ada yang menanyakan masalah tugas. Dia menjawab seperlunya, kemudian bergegas melewati anak tangga menuju ruang guru yang terletak di lantai dua.

Ruangan yang panjang itu masih lenggang. Hanya ada tiga orang guru yang sedang mengoreksi tugas siswa di meja masing-masing. Ada sekitar tiga puluh meja disusun sedemikian rupa, satu meja untuk satu orang guru. Dia melangkah menuju mejanya, berharap bisa merebahkan tubuhnya untuk meredakan kepenatan di kepalanya.

Saat itu dia terpikir tentang nasib naskahnya. Lima hari yang lalu dia mengirimkan naskah itu ke sebuah penerbit di Kota Yogyakarta. Pemilihan penerbit itu atas saran dari salah seorang rekannya yang pernah mengirimkan naskah ke sana dan diterima. Dia berharap tulisan miliknya bisa tembus, paling tidak itu bisa jadi penghasilan tambahan baginya. Meski dia menyadari usaha pertama tidak akan langsung membuahkan hasil. Bagaiamana pun juga kegiatan menulis yang selama ini dia jalani adalah untuk meengekspresikan diri. Dan karena itu merupakan ekspresi diri, tidak semua orang bisa menerima ekspresi dirinya.

Dua orang siswi menghampiri meja Samir. “Bapak memanggil saya?” tanya salah satu dari mereka. Namanya Nita.

Samir mengangguk. Dia membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas, menyodorkan kertas itu kepada Nita. “Beritahukan kepada teman-temanmu untuk mengerjakan soal-soal ini. Besok dikumpulkan.”

“Soalnya di tulis atau di-foto copy?”

“Lebih baik foto copy. Soal yang asli kembalikan pada Bapak.”

Nita mengangguk, kemudian meninggalkan Samir sendirian. Sebagai wali kelas XI IPA 1, dia punya pekerjaan berat menangani keempat puluh siswanya. Dia berkeinginan memajukan murid-muridnya dalam mata pelajaran yang ditakuti oleh hampir seluruh siswa: Fisika. Itu tugas yang sulit. Pola pikir mereka sudah terpasung dan faktor itulah yang menghancurkan derajat ilmu Fisika. Padahal, kalau dipikir ulang, tidak ada satupun dari mata pelajaran di sekolah yang bisa dengan gampang andai tidak dipelajari. Untuk itu dia memberikan banyak pekerjaan rumah kepada murid-muridnya di XI IPA 1 dengan harapan mereka terbiasa melatih ketajaman pikiran mereka.

Tapi, kalau dirunut lagi ke belakang, dia sendiri bukanlah orang yang menyukai pelajaran itu saat di sekolah. Dia tidak termasuk siswa cemerlang, bahkan mungkin tidak dikenal di sekolah jika bukan karena menjuarai lomba menulis resensi. Satu trofi untuk sekolah sudah cukup membuat namanya terukir di sana. Sebagian besar siswa menganggap dia sombong karena jarang bergaul. Tentu saja bukan karena sombong, hanya kesulitan berkomunikasi. Ketika lulus, entah kenapa dia memutuskan menjadi Guru Fisika. Dia memang ingin menjadi guru, tapi Guru Fisika?

Takdir Tuhan tidak bisa ditolak.

“Bagaimana naskahmu?” suara seorang perempuan separuh baya membuyarkan lamunan Samir.

Dia menoleh. Rupanya Sri Nuryani, guru senior di sekolah itu, juga orang tua Nita. “Oh, Ibu,” katanya sambil tersenyum. “Saya sudah mengirimkannya ke penerbit lima hari yang lalu. Mungkin tiga bulan lagi baru ada kabar.”

Sri Nuryani duduk di mejanya. Meja itu terpisah satu meja dari meja Samir, di samping kanannya. Tidak ada orang di meja yang memisahkan mereka. “Baguslah. Semoga bisa masuk penerbit. Sebagai seorang pengajar kita harus bisa memacu kreativitas, salah satunya dengan menulis.”

“Saya hanya menjalani apa yang saya sukai,” ungkap Samir.

“Kecintaanmu pada menulis bisa menjadi nilai tambah bagimu. Menulis itu tidak mudah, perlu mengolahnya dengan pikiran yang matang. Lebih dari itu, menulis menunjukkan siapa dirimu. Karena itu kau tidak boleh sembarangan dalam menulis.”

Samir mengangguk mantap menyambut nasihat itu. “Hanya orang arogan yang mengatakan menulis itu mudah, kecuali itu tulisan komersil yang hanya akan bertahan paling lama dua tahun. Sulit, memang, tapi saya berusaha untuk tidak menjadi seperti itu. Saya ingin mengikuti jejak para pemikir besar yang karya-karyanya bertahan hingga berabad-abad.”

Sri Nuryani mengangkat alis. Wajahnya berbinar mendengar gagasan hebat guru muda itu. “Suatu saat kamu bisa melakukannya.”
“Mudah-mudahan,” Samir menimpali. Dia memandang kertas-kertas ulangan yang belum diperiksa di atas meja Sri Nuryani kemudian teringat pada tugas yang diberikan pada Nita. “Tadi saya memberikan pekerjaan rumah untuk anak-anak XI IPA 1, termasuk Nita, tentu saja. Beberapa soal Fisika. Mungkin ini terdnegar kejam, tapi saya berusaha menanamkan kebiasaan itu kepada murid-murid saya.”

“Itu bagus,” guru senior itu berkomentar. “Aku pun melakukan hal yang sama pada murid-muridku. Kami para guru menyebutnya metode pencil and papper.”

“Seperti pesan Ammer Sommerfeld pada Werner Heissenberg,” Samir menimpali.

Sri Nuryani penasaran. “Oya?”

Dengan lancar Samir mengucapkan pesan yang dimaksud.

Sri Nuryani menyetujui hal itu. Dia kemudian mengalihkan perhatian pada buku-buku miliknya. Beberapa kertas ulangan belum dia periksa padahal mereka sudah menanyakan hasilnya. Dia mendesah berat menghadapi pekerjaannya.

Waktu istirahat hanya beberapa menit lagi. Setelah ini tidak ada jam mengajar untuk Samir. Dia berpikir di mana dia akan menghabiskan waktu sampai jam sekolah berakhir. Dia bisa saja pulang, tapi dia sudah berjanji kepada Nita dan beberapa temannya untuk memberikan sedikit bimbingan selepas pulang sekolah.

Dia bangkit, memberi tanda kepada guru seniornya bahwa dia hendak keluar. Dia menuruni tangga menuju ruang tata usaha di lantai satu, berharap bisa menemukan inspirasi dalam tumpukan koran yang tersedia di sana.

[***]

Satu matahari di puncak kepala sudah cukup untuk mengubah susunan gen dalam kromosom di tengah inti sel manusia, apalagi Sembilan? Sebagian besar orang memilih untuk menghindari radiasi ultraviolet itu demi kepentingan kesehatan, juga kecantikan. Di daerah tertentu, meski terik mentari begitu menyengat, suasana di dalam ruangan bisa sangat dingin meski tanpa bantuan alat pendingin. Daerah-daerah seperti itu biasanya berada di perbukitan, dikelilingi deretan pegunungan.

Demikian pula yang dirasakan Samir. Kegiatan di dalam kelas setelah pulang sekolah saat matahari berada di puncak menjadi alternatif untuk menghindari panas. Sebagian besar kursi di ruangan kelas itu sudah diangkat ke masing-masing meja. Hanya ada enam kursi yang masih di bawah, menandakan enam siswa yang mengikuti jam tambahan pelajaran Fisika.

Tangan kanan Samir menggenggam boardmarker. Dia menghadapi murid-muridnya sebelum mulai menulis. Satu per satu dia menatap keenam orang itu, mengidentifikasi mereka. Nita, sang juara kelas; Tika, teman sebangku Nita; Diah, pesaing utama Nita dalam perebutan juara kelas; Risty, punya semangat tinggi meski tidak masuk dalam anggota lima besar; Budi, atlet basket sekolah yang tergila-gila pada Fisika.

Masih ada satu orang lagi. Dia duduk di sudut, tempat biasa dia duduk selama jam belajar sekolah.
“Tidakkah kau berminat untuk duduk di depan?” itu lebih terkesan sebagai bujukan ketimbang pertanyaan. Seketika itu pula kelima orang lainnya menoleh ke belekang.

“Saya merasa lebih nyaman duduk di tempat ini,” sahutnya tanpa ekspresi.

“Kau bisa mendengar suaraku?” Samir meyakinkan.

“Sangat jelas.”

“Baiklah, kalau kau memang merasa nyaman di sana dan bisa mendengar suaraku.” Samir berbalik menghadapi papan tulis. Dia menulis sebuah pertanyaan yang dilengkapi dengan gambar sebagai bantuan untuk mempermudah analisis. Dia kembali menghadapi murid-muridnya begitu selesai menulis soal. “Ini hanya salah satu soal sederhana dalam Ilmu Fisika yang rumit. Sebegitu rumit sampai sebagian besar anak sekolah tidak menyukainya, bahkan cenderung menghindarinya.”

“Bagi saya Fisika menyenangkan, Pak,” sela si atlet basket.

Samir tersenyum mendengar deklarasi salah satu muridnya. “Dalam banyak hal, kita tidak bisa menghindar dari fisika. Untuk membangun gedung, para konstruktor menggunakan penghitungan mekanika statik, di mana fokus utamanya adalah kelembaman.”
Kening Risty berkerut saat mendengar kata terakhir diucapkan. Dia mengacungkan tangan. “Apa yang dimaksud dengan kelembaman?”

“Sebuah konsep sederhana yang berlaku secara universal,” sahut Samir. “Kelembaman bisa diartikan sebagai kemampuan sebuah benda untuk mempertahankan posisinya. Hal sederhana seperti itu harus diperhitungkan untuk menjaga sebuah bangunan dengan ketinggian tertentu bisa tetap berdiri kokoh.”

“Bukankah itu tugas untuk arsitek?” Tika bertanya.

“Arsitek yang merancang isi gedung, fisikawan yang membuat gedung itu berdiri kokoh.”

“Konstruksi jembatan,” kata Diah. “Pesawat terbang, kapal laut, jadwal perjalanan kereta api; itu semua hanya sebagian kecil dari konsep dasar fisika yang berpengaruh dalam kehidupan.”

“Jangan lupakan elektronika,” sambung Budi dengan penuh semangat. “Elektronika adalah salah satu produk fisika di mana listrik menjadi jantung bagi dunia modern.”

“Terima kasih, teman-teman—boleh aku panggil teman-teman?”

Mereka semua mengangguk setuju, kecuali satu orang di sudut yang tidak bereaksi terhadap apapun.

“Kembali ke soal yang sudah aku tulis di sana,” tunjuk Samir ke arah papan tulis. “Itu adalah soal mekanika sederhana namun terkesan rumit. Kesan, itulah yang membuat fisika begitu menakutkan. Kalian berasumsi sebelum kalian merasakan, lalu membuat keputusan untuk tidak terlibat dalam kesulitan.”

Nita, yang sejak tadi membisu, menggerakkan pensil di tangannya secepat mungkin. Dia membuat analisis sederhana di atas bukunya, mencari berbagai kemungkinan jawaban.

“Sekilas, orang akan menganggap soal ini rumit. Padahal seseorang yang duduk di sudut sana bisa mengerjakanya dalam waktu kurang dari satu menit.”

Semua orang kembali menoleh ke belakang.

“Aku tidak yakin,” jawabnya dingin.

“Konsep dasarnya memang sederhana,” sela Nita. Kali ini perhatian tertuju ke arahnya. “Sifat fisisnya lebih mudah dianalisis jika menggunakan konsep energi potensial dan energi kinetik untuk kemudian.”

“Hukum konservasi energi,” sahut Budi mendahului gurunya.

“Ketinggian,” sambung Diah. “Lintasan dalam soal berbentuk setengah lingkaran. Itu bisa dianggap sebagai ketinggian, di mana jari-jari lingkaran bisa dianggap sebagai ketinggian. Dengan demikian konsep energi potensial berlaku.”

Samir tersenyum bangga. Dia mengepalkan kedua tangan seperti seorang pelatih yang sedang memberi semangat pada atlitnya yang sedang bertanding. “Lebih cermat lagi!” suaranya menggema di tengah ruangan sepi itu, menyebar menuju seluruh penjuru sekolah. “Ada beberapa konsep sederhana yang belum kalian temukan!”

“Energi kinetik,” Risty mengulangi apa yang sudah dikatakan Nita. “Partikel bergerak dari keadaan diam.”

“Hubungan energi kinetik dengan energi potensial. Pada ketinggian maksimum kecepatanya nol; saat ketinggian minimum, kecepatan mencapai maksimum.”

Samir mengacungkan dua jempol untuk Nita. “Terima kasih. Tepuk tangan untuk kalian semua.” Budi bertepuk tangan sambil bersorak seperti baru saja mencetak tiga angka dalam kondisi kritis. Risty dan Tika bertepuk tangan karena kekaguman mereka terhadap diskusi rumit itu. Wajah Diah berbinar setelah hatinya dipenuhi perasaan puas karena naluri ilmuannya terangsang. Nita merasa lebih bebas karena situasi informal seperti ini member keleluasaan lebih banyak untuk belajar ketimbang jam-jam sekolah.
“Aku sudah mengatakannya pada kalian. Soal ini bisa dikerjakan dalam waktu kurang satu menit. Kalian bisa mengindetifikasi beberapa fenomena fisis dari partikel yang bergerak itu. Tapi kenapa kalian masih kesulitan menyelesaikanya?”

“Kesan, mungkin. Seperti yang Bapak bilang tadi,” jawab Diah.

“Malas berlatih,” si atlet basket bekomentar.

“Tidak pernah belajar,” kali ini Risty yang bicara.

“Kesalahan sistem, mungkin,” Nita mengira-ngira.

“Operasi aljabar dan aritmatika,” kata sebuah suara di belakang. Semua orang menoleh ke sana. Siswa di sudut kelas itu akhirnya berbicara juga. “Fisika dibangun di atas sekumpulan fenomena fisis, dan dia membutuhkan matematika sebagai fondasinya. Karena itulah kenapa selalu ada matematika dalam fisika tapi tidak pernah ada fisika dalam matematika.”

Mendadak ruangan menjadi hening seolah semua suara tersapu ke dalam lubang hitam. Bahkan suara hembusan angin terdengar jelas ketika mereka membisu. Semua orang tercengang, lebih karena tidak percaya siswa di sudut itu mau berkomentar padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun mengungkapkan pendapat, baik itu di ruang kelas maupun saat tugas kelompok. Bahkan Samir tertegun mendengar jawaban itu.

“Kau mengungkapkannya dengan cara yang tepat, Nak,” puji Samir, memecah keheningan. “Fisika menjadi hidup karena persamaan matematis yang menyertai fenomena fisisnya. Terkadang di sanalah kita mengalami kesulitan.” Samir melirik sejenak pada Nita. “Bahkan aku lebih membenci matematika daripada fisika.”

Bahkan Nita yang merupakan putri dari seorang guru matematika mengangguk setuju dengan pernyataan Samir.

Bagian 4

Nada memandang keluar jendela taksi yang membawanya menuju Stasiun Tugu. Sambil menopang dagu dengan tangan, dia memikirkan perdebatan dengan kedua orang tuanya terkait keputusan konyol itu. Orang tua mana yang rela melepaskan putri bungsu mereka pergi jauh sekedar mencari seorang laki dari masa lalu? Bahkan dengan ancaman pemecatan dari atasannya setelah melakukan kesalahan besar kemarin malam, anak bungsu itu tetap pergi.

“Apa kata orang nanti kalau kamu pergi mengejar laki-laki? Bukankah seharusnya dia yang datang menemuimu kalau dia mencintaimu,” kata sang ayah memulai pidatonya. “Meskipun kamu hidup di jaman modern, kamu harus tetap memperhatikan batasan tertentu. Ini bukan lagi tentang cinta, ini tentang kehormatanmu sebagai seorang perempuan.”

“Kehormatan apa, ayah?” tanya Nada selembut mungkin agar tidak menambah amarah ayahnya.

“Tempat yang akan kamu tuju jauh, Nak. Kamu tidak punya siapa-sapa di sana. Bagaimana kalau kamu tersesat dan tidak bisa pulang.” Kali ini giliran ibunya yang khawatir.

Nada berusaha meredakannya. “Nada sudah 26 tahun, bu. Bukan lagi anak kecil yang tidak tahu harus berbuat apa saat sendirian di sebuah tempat asing.”

“Tetap saja ayah tidak terima. Hubungi dia, suruh dia menemui ayah di sini. ”

Nada tidak bisa memberitahu bahwa dia akan memberikan kejutan kepada temannya itu. Jika dia menghubungi orang itu lewat telepon, dia tidak bisa melihat ekspresi yang dia harapkan. Dia mencari cara lain, cara yang biasanya berhasil dilakukan oleh anak-anak saat permintaan mereka tidak dipenuhi.

Pembiokotan!

Nada ngeloyor pergi menuju kamarnya, membanting pintu sekeras mungkin agar kedua orang tuanya tahu bahwa dia marah. Dia memanfaatkan posisinya sebagai anak bungsu. Selama ini Nada selalu melakukan apapun yang dikatakan orang tuanya, terlebih lagi ibiunya. Bahkan larangan untuk mengontrak rumah dan tinggal sendiri pun dipatuhi Nada. Sejauh ini dia belum meminta imbalan, dan inilah saat untuknya meminta balas jasa.

Cara itu licik, tapi berhasil.
Dia berangkat setelah ibunya membujuk sang ayah agar mengizinkan dia pergi beberapa hari atau mereka akan kehilangan si bungsu selamanya. Tiga hari atau selamanya? Tentunya tiga hari.

Semakin mendekati stasiun, pikirannya teralihkan oleh tempat tujuan dan orang yang akan dituju. Perasaannya berbunga-bunga, diiringi hentakan jantung yang cepat. Bahagia bercampur tegang. Bagaimana pun juga inilah perjalanan jarak jauh pertamanya tanpa ditemani siapapun.

Garut? pikirnya. Dia sempat tertegun ketika membaca isi biodata itu tadi siang, sebelum akhirnya meyakinkan diri sendiri bahwa si pengirim naskah adalah temannya di masa lalu. Tidak lain karena pada kolom tempat dan tanggal lahir, di sana tertulis nama kota dan tanggal yang sangat dikenal oleh Nada. Perasaan haru kembali menyusup ke dalam hatinya. Matanya berbinar, mulutnya seolah ingin bersorak. Saat membaca kolom pekerjaan, dia kembali terdiam.

Guru? Anak pendiam itu jadi guru? Pikir Nada tidak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hidup benar-benar misterius!
Seperti apa dia sekarang?

Pertanyaan itu terlintas dalam benak Nada. Tentu saja dia penasaran. Seandainya Samir tahu bahwa yang menerima naskahnya adalah Nada, dia pun pasti akan penasaran terhadap Nada. Rasa penasaran menuntut untuk dipuaskan. Rasa ingin tahu harus disalurkan. Hanya ada satu jalan untuk melakukannya: menyusul Samir ke Garut.

Itu ide gila!

Tapi dunia cinta memang gila.

Taksi melewati Tugu, ikon Kota Yogyakarta, sebuah monumen mistis yang berada pada satu garis lurus Merapi-Keraton-Laut Kidul. Begitu taksi berhenti di areal parkir stasiun, dia membayar tarif dan bergegas turun menuju tempat penjualan tiket. Satu tiket Lodaya Malam tujuan akhir Bandung meluncur ke tangan Nada.

[***]

Di rumah sederhana itu Samir tinggal, salah satu desa di wilayah Kecamatan Sukawening. Rumah itu milik saudari Amin, salah satu petugas kebersihan di sekolah Samir. Saudari Amin menjadi TKW, sementara suami dan anak-anak pemilik rumah berada di kampung halaman mereka di Garut bagian selatan. Jadilah rumah itu dikontrakan kepada Samir. Amin sendiri tinggal di depan rumah itu bersama istri dan dua anak, terpisah oleh jalan setapak kecil selebar satu meter. Dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota.

Salah satunya, Nurjanah, sering membantu Samir membersihkan rumah jika dia tidak sempat melakukannya. Perempuan itu berusia dua puluh tahun, wajah lugu khas pedesaan. Senyumnya menawan. Amin melarang anaknya pergi merantau ke kota karena khawatir dengan keadaan kota. Jadilah dia terjebak di sana menunggu arjuna membawanya pergi.

Samir sedang mempelajari catatan mengenai salah satu murid yang paling dia perhatikan. Dia menemukan keganjilan pada siswa itu ketika pertama kali masuk sebagai wali kelasnya. Perasaan itu begitu dia kenal karena dia pernah mengalaminya dulu. Muridnya itu butuh bantuan dan dia menawarkannya. Sejak saat itu secara berkala dia memperhatikan berbagai catatan mengenai anak itu dari semua guru yang mengajar di kelasnya. Catatan itu memberikan gambaran adanya perubahan positif pada siswa itu.

Pintu rumahnya diketuk. Kemudian terdengar suara Amin yang sudah sering didengarnya. Dia bergegas menuju pintu untuk mempersilahkan Amin masuk. Amin datang sambil membawa segelas kopi yang masih mengepul. Dia masuk, kemudian duduk di kursi di ruang utama rumah itu. Sebuah ruangan sederhana yang hanya berisi satu kursi panjang dan tiga kursi pendek mengitari sebuah meja kayu.

Samir mengikutinya. Dia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Amin.

“Mau kopi?” pria berusia pertengahan lima puluhan itu menawari Samir. “Kalau mau, biar kusuruh Nurjanah membuatkan untukmu.”

Samir menggeleng sambil tersenyum. “Tidak usahlah, Pak. Malu aku merepotkan dia terus.”

“Tidak usah malu. Kau adalah tamu di sini, harus diperlakukan dengan baik.”

“Tapi saya sudah tiga tahun di sini, Pak. Saya sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri.”

Mendengar kalimat itu, Amin tersenyum. Sorot matanya menunjukkan dia memiliki gagasan yang bagus. “Jujur saja, Nak, usiamu sudah cukup untuk memiliki pasangan. Kau jauh dari orang tuamu, kau tinggal sendiri, kau sibuk bekerja. Harus ada seseorang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.”

Samir mengerti arah pembicaraan itu. “Saya tahu itu. Saya pun terkadang merasa kerepotan. Tapi saya masih mampu menangani semua ini sendiri.”

“Tidakkah terpikir olehmu untuk menikah?”

Pertanyaan itu menusuknya. Jawabannya mudah, antara ya atau tidak. Tapi alasan dari jawaban itulah yang sulit untuk diungkapkan. Tidak semua orang mengerti jawaban yang akan diungkapkannya. Terkadang dia sendiri tidak mengerti kenapa dia memilih jalan hidup itu.

Samir menghela napas. “Saya sudah memikirkannya, hanya saja saya harus memikirkan hal lain terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memulai hidup baru.” Dia berhenti sejenak, menatap wajah petugas kebersihan itu untuk mengetahui reaksinya. “Itu sesuatu yang sulit bagi saya. Saya yakin suatu hari nanti saya harus memutuskan, tapi tidak sekarang.”

“Kamu tidak boleh menunda-nunda, tidak baik,” katanya. Dia mengambil gelas yang ditaruhnya di atas meja, kemudian menyeruput kopi di dalamnya.

“Ada sesuatu yang membuat saya harus menunda,” Samir membela diri.

Amin menatap anak muda di hadapannya. “Memangnya kau tidak tertarik pada perempuan? Putriku, Nurjanah, banyak yang memperebutkan dia untuk jadi kekasihnya. Sementara kau, setiap hari dia ada di hadapanmu, tidak sedikit pun kau menunjukkan ketertarikanmu.”

Dada samir berdegup kencang. Dia khawatir sisi gelap dalam dirinya terungkap, membuat dia dipermalukan di hadapan banyak orang. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia harus menemukan alasan untuk menghindar secepat mungkin. Dia tidak menemukan alasannya. Ketakutan mulai mengerubungi dirinya.

Amin menyadari keanehan itu. Dia kembali meletakan gelas di atas meja. “Apa yang terjadi denganmu?”

Samir menggeleng. “Tidak ada,” katanya gugup.

“Dasar anak aneh,” Amin mencibir. Suasana hening sejenak. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka. Amin mencoba mencari cara membujuk Samir untuk menikahi putrinya. Bagi dia, meskipun Samir tidak setampan dan segagah Bertrand Antolin, tapi kejujuran yang nampak di wajah pemuda itu menarik perhatiannya. Terkadang guru muda itu begitu hemat kata sehingga memancing rasa penasaran orang: apa yang sedang ada dalam pikirannya. Lebih dari itu, posisinya yang sudah diakui sebagai pegawai negeri dengan gaji tetap setiap bulan bisa menjamin kehidupan rumah tangga seandainya mereka berdua menikah.

“Saya masih harus banyak belajar menjadi guru yang baik, mengurus murid-murid agar mereka bisa sukses di kemudian hari. Jujur saja itu tugas yang berat.”

“Itu memang tugas yang berat. Karena itu guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa.”

Itu dulu. Sekarang, jangankan disebut pahlawan tanpa tanda jasa, sebgian guru muda bahkan tidak punya wibawa, hanya asal menjadi guru agar menjadi PNS. Mereka mengabaikan kompetensi sebagai guru, lebih mengandalkan keuangan mereka untuk memuluskan jalan menjadi seorang PNS, hanya demi tunjangan pensiunan. Yang lebih tragis, dalam sinetron-sinetron tidak bemutu buatan anak bangsa sendiri, sosok-sosok guru direndahkan. Mereka digambarkan sebagai sosok tidak berdaya yang menjadi bahan ledekan siswa-siswanya.

Sungguh tidak tahu diri!

“Kau butuh seseorang untuk memikul beban berat itu,” kata Amin dengan suara yang lebih pelan. Dia mulai serius. “Kenapa kau tidak menikahi putriku saja?”

Samir menatap petugas kebersihan itu untuk beberapa saat. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan kosong tanpa makna. Kemudian ketakutan kembali menyebar dalam dirinya. Apa yang harus aku  katakan? Dia berpikir untuk waktu yang lama. Jawabannya adalah tidak ada. Dia hanya harus diam.

Amin mengambil gelasnya, menyeruput isinya, kemudian bangkit. “Sudahlah. Kalau kau tidak bisa menjawabnya, lain kali saja. Sebaiknya kau selesaikan pekerjaann-pekerjaanmu, jangan sampai besok terlambat ke sekolah.” Amin pamit, lalu pergi meninggalkan Samir sendiri di rumah itu.

Sepeninggal Amin, Samir tertegun. Dia tidak menyangka pertanyaan itu akan diajukan padanya. Pertanyaan tak terduga yang menusuk dirinya, menggoyang sisi gelap dari masa lalu yang bertahan hingga kini di dalam dirinya, yang selama ini berhasil dia sembunyikan. Ada banyak konsekuensi yang menyertai hal itu, dan dia tidak ingin itu terjadi padanya. Dia harus menutupi semua itu. Bukankah pakaian diciptakan untuk menutupi bagian tubuh yang tidak layak? Wajar rasanya jika dia berbuat baik untuk menutupi bagian dirinya yang tidak pantas dikenal. Meskipun dia tahu bagian gelap itu tidak akan bertahan lama.
Samir beranjak dari tempat duduknya. Amin benar. Dia harus kembali pada pekerjaannya. Menjadi seorang guru bukan tugas yang mudah, dan dia tidak boleh berleha-leha.

Bagian 5

Hampir delapan jam berlalu sejak keberangkatan Lodaya Malam dari Yogyakarta. Kereta itu sudah memasuki wilayah Bandung, kurang dari 15 menit lagi tiba di tujuan akhir. Nada mempersiapkan dirinya. Dia bangkit dari kursi kemudian menuju toilet. Dia harus membersihakn wajahnya setelah tertidur selama beberapa jam di dalam kereta. Selain itu dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Kulitnya terasa lengket; dia ingin mandi. Tapi itu tidak mungkin. Dia harus menunggu sampai tiba di tempat tujuan.
Dia menatap wajahnya di cemin buram di toilet kereta. Wajah putihnya tersapu kelelahan akibat perjalanan panjang. Tidak masalah. Toh dia yakin Samir bisa mengenalinya meski wajahnya dalam keadaan kusam sekalipun. Dia kembali ke tempat duduk, mengambil tas dari bagasi, membereskan mp3 player yang sejak malam dia pakai, memasukkannya ke dalam tas. Dia mengeluarkan jaket dari dalam tasnya, menegenakan jaket itu, lalu kembali duduk menunggu kereta memasuki stasiun Bandung.

Kereta berhenti di jalur dua.

Para penumpang beranjak dari tempat duduk mereka, bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang malah sudah berdesakan di pintu, menunggu giliran untuk keluar. Karena ini stasiun terakhir, Nada tidak memaksakan diri untuk langsung turun berdesakan dengan penumpang lainnya. Dia memilih untuk menunggu sampai lorong pintu kosong, kemudian melompat keluar.
Selamat datang di Kota Bandung, kata Nada kepada dirinya sendiri. Dadanya berdegup kencang. Perjalanan pertama yang dia lalui sendirian. Lebih dari itu dia tidak punya siapa-siapa di sini, tidak mengenal seorang teman pun. Dia harus melaluinya sendiri.
Pertama-tama, jangan pernah tunjukan bahwa kau dalam kebingungan. Menyatulah dengan keramaian seolah-olah kau adalah bagian dari arena itu.

Nada berjalan menuju Pintu Keluar Ktara, demikian yang tertulis di papan penunjuk arah.
Kedua, jangan tanya alamat, atau jalur menuju tempat tujuan kepada penyedia jasa angkutan. Kecuali kau ingin mereka membawamu berputar-putar tanpa arah dan menarik tarif tinggi untuk layanan itu.
Berbekal fakta itu, dia memilih bertanya pada salah satu pedagang koran dan majalah beberapa meter sebelum pintu keluar. Dia mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh ibu penjual koran itu. Beberapa kali dia mengulangi instruksi tadi agar tidak terjadi kesalahan. Dia juga menanyakan berapa perkiraan ongkos yang perlu dia keluarkan agar tidak membuang uang secara percuma. Setelah yakin, dia pamit pada pedagang koran itu, tak lupa membeli satu koran agar ibu itu tidak merasa dirugikan. Dia melintasi menuju pintu selatan stasiun Bandung, bukannya pintu utara seperti tujuan awalnya, mencari angkot yang akan membawanya ke pusat kota—alun-alun. Dari sana dia akan mencari bis kota menuju terminal Cicaheum, lalu melanjutkan perjalanan ke Garut.

[***]

Mentari pagi sudah menampakan diri di horizon, tanda bagi manusia untuk memulai aktifitas mereka. Embun sisa penurunan suhu tadi malam mulai menguap seiring kembali memanasnya suhu di bumi. Anak sekolah, ibu rumah tangga, petani, guru; semua orang beranjak dari tempat peristirahatan mereka untuk menikmati hidup yang indah ini.

Samir sudah berpakaian rapi: celana panjang bahan berwarna gelap dipadu kemeja lengan pendek cokelat bergaris-garis, ikat pinggang dengan gesper sederhana menguatkan lingkaran celananya. Tas kerjanya sudah dipenuhi beberapa buku pelajaran dan berkas-berkas penting yang harus dibawa ke sekolah. Dia membuka pintu dan mendapati Nurjanah baru saja masuk melewati pintu pagar rumah.

Nurjanah mendekat ke arah Samir dengan perlahan-lahan. Terlihat wajah malu-malu. Dia sengaja menghindari tatapan langsung dengan Samir. Dia memainkan jari-jari tangannya untuk menghilangkan kegelisahan, tapi justru semakin terlihat bahwa ada sesuatu dalam pikirannya.

“Kau kenapa?”

Cepat-cepat Nurjanah menggeleng. “Tidak… tidak ada apa-apa. Aku hanya… anu… itu…”

“Tolong sekalian kuras bak mandinya. Aku belum sempat membersihkannya,” Samir memotong.
Nurjanah mengangguk pelan. dia memberanikan diri menatap guru muda itu. Seorang pria sederhana yang tidak banyak tingkah dan tidak banyak bicara, laki-laki yang membuatnya penasaran kenapa tidak memperebutkan dirinya seperti para pemuda lain dikampung.

“Jangan memandangku seperti itu,” tegur Samir. “Aku merasa tidak nyaman.”

“Oh, itu… anu… maaf.”

“Sudahlah. Aku harus berangkat ke sekolah. Jangan lupa bak mandinya. Sekalian kalau ibumu sudah pulang dari pasar, taruh saja titipanku di dapur dengan tagihannya. Aku akan membayar setelah pulang dari sekolah.”

Nurjanah kembali mengangguk.

“Maaf merepotkanmu,” katanya dengan nada menyesal.

Nurjanah menggeleng seraya tersenyum. “Tidak… tidak apa-apa. Toh aku juga tidak bekerja.”

Setelah memastikan semua hal yang dia butuhkan diberitahukan kepada Nurjanah, Samir beranjak dari rumahnya. Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan besar, jalan setapak yang terasa panjang seiring pikiran-pikiran yang merasukinya. Dia merasa tegang begitu melihat Nurjanah. Perasaan itu yang menghantuinya, merasa bersalah karena sepertinya perempuan itu, seperti halnya ayahnya, berharap bisa bersanding di pelaminan bersamanya.

Dia tidak habis pikir kenapa orang yang telah memberinya kontrakan rumah itu tidak menikahkan putrinya dengan orang lain saja. Banyak yang memperebutkan dia untuk jadi kekasihnya, demikian kata Amin tadi malam, kalau dia tidak salah ingat. Kenapa tidak menerima saja salah satu dari mereka? Entahlah. Dia tidak perlu repot-repot menanyakannya. Dia punya pekerjaan lain yang harus dilakukan.

[***]

Dani Prasetya berjalan pelan saat melintas di depan ruang kerja Nada. Dia ingin memastikan temannya baik-baik saja setelah pertengkaran di restoran kemarin malam. Staff desain grafis itu belum sempat minta maaf kemarin. Dia menunggu agar Nada lebih tenang. Barulah hari ini dia bermaksud melakukannya.

Mata Dani menangkap sosok perempuan yang berbeda di tempat yang sama. Tidak ada sekretaris muda nan cantik yang dia kenal, yang ada hanyalah seorang ibu berusia pertengahan puluhan mengenakan kacamata sedang terpaku pada monitor. Dani menajamkan pandangannya melintasi jendela ruangan, berharap menemukan kesalahan dalam pandangannya. Perempuan di dalam ruangan itu menoleh ke arah Dani. Ketahuan memperhatikan orang lain, Dani berpura-pura mengikat tali sepatunya. Dia bangkit, sejenak melirik kembali ke dalam ruangan, kemudian pergi sambil bersiul.

Pikirannya dipenuhi tanda tanya. Tidak biasanya Nada bolos kerja. Mungkin ada urusan keluarga, atau bahkan mungkin sakit. Dani terus mengira-ngira sambil berjalan menuju lobi kantornya. Ketika tiba di meja lobi, dia melihat Mutia sedang melayani tamu yang hendak bertemu dengan salah satu staff kantor. Begitu tamu itu pergi kea rah yang ditunjukkan Mutia, Dani menghampirinya.

Dia menangkupkan tangan di atas meja lobi. Tatapannya tertuju pada Mutia. “Siapa perempuan di ruang sekretaris redaksi? Sepertinya dia orang baru.”

Mutia mendongak. “Dia memang orang baru. Baru dating beberapa menit yang lalu. Orang itu menggantikan posisi Ajeng Qotrunnada Sofia yang mangkir entah ke mana.”

Dani mengerutkan kening. “Mangkir katamu?”

“Ini hari pertama dia tidak masuk tanpa pemberitahuan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Mungkin ancaman pemecatan dari Pak Hasan membuat dia pergi.”

“Tidak mungkin, Nada bukan orang seperti itu.”

“Aku tahu Nada bukan pecundang seperti itu. Tapi itulah kemungkinan yang paling besar karena sehari sebelum dia pergi…” Mutia tidak meneruskan kata-katanya.

“Apa?” Dani penasaran melihat wajah petugas lobi itu mencoba mengingat sesuatu.

Mutia memusatkan perhatiannya ke arah monitor. Dia membuka kembali informasi yang masuk ke dalam database perusahaan kemarin. hanya ada satu informasi masuk ke prusahaan mereka. Sebuah naskah dari penulis baru yang hendak mengadu peruntungan. Mutia mengingat kembali bagaimana situasi kemarin. Nada baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda dia akan pergi dari atasannya. Berarti ada sesuatu dalam naskah itu yang membuat Nada merelakan pekerjaannya digantikan orang lain.

Tapi kemudian Mutia menepis pemikirannya. Bagaimana mungkin seseorang bisa pergi meninggalkan pekerjaannya hanya karena sebuah naskah. Sejujurnya, dia sendiri merasa penasaran kenapa Nada tiba-tiba menghilang.

“Hei,” suara Dani menggugah lamunan Mutia. “Kau kenapa?”

Mutia menggeleng. “Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu.”

“Apakah itu berkaitan dengan Nada? Kalau ya, katakana padaku apa yang kau pikirkan.”

“Kenapa aku harus memberi tahumu?”

Dani menelan ludah saat mendengar pertanyaan itu. Kenapa? Tentu saja karena dia harus minta maaf. Mau tidak mau dia harus menceritakan kejadian memalukan kemarin malam kepada Mutia agar bisa mendapatkan informasi sekecil apapun tentang Nada.

“Ada kejadian antara aku dan Nada kemarin malam, dan aku belum sempat meminta maaf.”

“Kau dan Nada? Kemarin malam?”

“Hei, hei, kau tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak… ah sudahlah. Beritahu aku apa yang kau pikirkan,” tepis Dani. “Aku harus menemui dia untuk meminta maaf.”

Mutia mengangkat bahu. Hampir saja dia mengatakan apa yang dipikirkannya ketika terlintas ide lain dalam benaknya. “Hubungi saja orang tuanya. Tanyakan kepada mereka ke mana Nada pergi.”

“Kenapa tidak kau saja yang menghubungi mereka?”

Mutia memelototi Dani.

“Baiklah, baiklah. Berikan aku nomor yang bisa dihubungi.”

Mutia mengetikan serangkaian perintah pada keyboard, menekan mouse beberapa kali, mengambil secarik kertas dari laci di bawah meja, mengambil ballpoint di atas meja, kemudian menuliskan serangkaian digit angka. Dia menyodorkan kertas itu kepada Dani.
Staff desain grafis itu menerimanya sambil melemparkan senyum. Dia menjauh dari meja itu, mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi nomor yang baru saja diberikan Mutia. Suara lembut dari seorang ibu paruh baya menyambut. Terjadi percakapan selama beberapa menit yang diselingi dengan ekspresi terkejut di wajah Dani. Cepat-cepat dia pamit menutup telpon, lalu kembali ke meja Mutia.

“Dia pergi dari rumah tadi malam, menyusul teman sekolahnya yang kini tinggal di Garut.” Mendengar kata Garut, Mutia baru sadar bahwa perkiraannya benar. “Aku pikir aku harus menyusulnya juga.”

“Kau gila! Tempat itu jauh.”

“Nada bisa pergi ke sana, kenapa aku tidak?”

“Dia memiliki alamat, sementara kau tidak. Bagaimana dengan itu?”

Dani menghela napas. Apa yang dikatakan Mutia ada benarnya. Dia tidak bisa begitu saja menyusul Nada tanpa tahu di mana lokasi Nada setepatnya. “Aku bisa menelpon dan menanyakan di mana dia berada.”

“Pak Hasan menyuruhku melakukan hal yang sama tadi. Berkali-kali aku mencoba, tapi tidak bisa. Sepertinya ponsel Nada mati.”
Dani mulai kehabisan akal. Dia berpikir untuk menyerah dan menunggu sampai Nada kembali dari Garut. Saat itu dia akan menemui Nada dan meminta maaf.

“Apa kau benar-benar ingin menemui dia?”

“Apa maksudmu?”

“Sepertinya kau sangat berharap bertemu dengan Nada.”

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku harus meminta maaf padanya.”

“Ceritakan padaku kenapa kau harus meminta maaf padanya.”

Dengan enggan, Dani balas bertanya. “Kenapa aku harus menceritakannya padamu?”

Mutia menyeringai. “Agar aku bisa memberimu alamat yang dituju oleh Nada.”

Categories: Uncategorized

immortal

November 21, 2010 Leave a comment

PROLOG

“Sebagai permulaan,” suara Rani menggema seolah sedang berpidato di auditorium kampus, “aku merujuk pada ungkapan Francis Bacon. Tidak ada kaitannya dengan masalah kita, tapi apa yang diungkapkan Bacon adalah petunjuk yang tidak bisa diabaikan.”

Tidak ada satupun yang berkomentar. Mereka tidak tahu ungkapan mana yang dimaksud, mengingat banyak ungkapan yang disadur dari filosof Inggris itu. Rani tidak mau repot-repot menjelaskan. Itu hanya akan buang-buang waktu.

Ada lima orang di dalam ruang tamu sederhana di rumah kontrakan itu. Empat orang perempuan, satu laki-laki. Satu-satunya laki-laki dalam ruangan itu menjadi pesakitan, disidang oleh empat perempuan sekaligus. Empat lawan satu; bukan pertandingan yang seimbang. Laki-laki itu hanya bisa terdiam mendengar dirinya dibombardir tanpa henti.

“Aku mengenal sedikit mengenai orang ini sewaktu SMA dulu. Seorang remaja broken home yang selalu menutup diri.”

Anggun teringat percakapan dengan adiknya beberapa malam yang lalu. Kejadiannya kurang lebih sama. “Berarti, ini hanya masalah pola pengasuhan?”

Rani mengangkat bahu. “Pola pengasuhan mungkin hanya salah satunya.” Dia kemudian melirik sahabatnya, sang sekretaris redaksi yang masih membisu. “Penolakan lain oleh lawan jenis. Itu memperkuat efeknya.”

“Maksudmu?”

“Perempuan itu pernah menolaknya, kurang lebih sebanyak lima kali. Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?Ada beberapa lagi teori rumit yang dijabarkan para ahli psikoanalisis,” Rani melanjutkan, “seperti ketakutan akan kastrasi, fantasi Oedipal… lupakan saja. Kita hanya perlu menimbang beberapa faktor psikologis lain yang lebih sederhana dan jauh lebih berpengaruh. Bisa saja dia takut menikah karena melihat kehancuran keluarganya, atau takut akan hubungan dengan lawan jenis karena pernah menimbulkan frustasi dan memalukan.”

“Mengingat penjabaranmu tadi, aku rasa situasinya tidak sesulit yang dibayangkan. Pernah mengalami masa lalu kelam setelah ayahnya meninggalkan mereka, lalu di masa SMA mengalami penolakan berkali-kali. Dia pasti menekan perasaannya sampai ke alam bawah sadar.”

“Manusia didorong untuk mereduksi tegangan, begitu kata Freud, dan represi adalah salah satu mekanisme pertahanan terbaik.”

“Lebih dari itu, inferioritas nampaknya mempengaruhi kehidupan masa remajanya. Bukankah inferioritas bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap aspek kehidupan?”

“Ingatanmu tentang kompleks inferioritas Adler sangat tajam, nak,” Rani tersenyum bangga.

“Adler maupun psikoanalisis lain pasti sangat membantu dalam kasus ini. Tapi itu belum cukup,” Anggun menambahkan. “Menekan pengalaman menuju alam bawah sadar berarti melibatkan fungsi otak. Karenanya fungsi kognitif menjadi faktor paling penting dalam hal ini.”

Percakapan yang meliuk-liuk itu terus berlanjut. Dari empat orang perempuan yang ada di sana, hanya dua yang terus saling melempar argumen. Dua lainnya membisu. Sementara itu, si laki-laki berharap percakapan keduanya selesai karena dia memiliki pembelaan yang harus diungkapkan. Percakapan itu memang berhenti, bukan karena mereka kehabisan argumen. Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Pintu rumah itu didobrak…

Bagian 1

Nada berhenti mengunyah makanan di mulutnya ketika mendengar permintaan tidak masuk akal dari Dani. Seketika itu pula dia menjatuhkan sendok dan garpu. Dentingan yang terjadi antara sendok-garpu dengan piring menarik perhatian beberapa pengunjung restoran itu. Mereka semua memandang ke sudut ruangan tempat suara berasal. Keduanya kikuk, melemparkan senyum kepada semua orang untuk menegaskan tidak ada kejadian buruk yang terjadi.

Setelah semua orang kembali menikmati makan malam mereka, Nada mencondongkan tubuhnya ke meja. Suaranya berbisik. “Jangan konyol, Dani. Bagaimana mungkin kau tega membohongi keluargamu dengan cara seperti itu? Apalagi ibumu.”

Wajah gusar Dani terlihat jelas dalam temaram lampu di sudut restoran. “Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sudah berjanji pada ibuku seminggu yang lalu, dan sekarang semuanya berantakan. Dara pergi dariku, mencampakkan aku begitu saja padahal ibuku sangat ingin bertemu dengan dia.”

Nada memejamkan mata sejenak sebelum berkata, “dan kau memintaku untuk menjadi Dara di depan keluargamu? Demi Tuhan, ide gila macam apa itu?!” Nada murka, tapi suaranya ditahan sepelan mungkin.

“Sudah kubilang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” sergah Dani mempertahankan volume suaranya. “Aku sedang kalut, pikiranku kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.”

Nada menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi sambil tetap menatap tajam pada laki-laki itu. “Konyol,” Nada mendesis. “Kau ini seorang laki-laki, seharusnya bisa mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dibanding sundal yang sudah mencapakkanmu itu.Lihat sekelilingmu, banyak perempuan lajang yang menunggu pangeran impian mereka. Kenapa tidak memilih salah satu dari mereka?”

Dani menggeleng dengan wajah putus asanya. “Hanya kau orang yang terpikir olehku.”

“Kalau kau bermaksud merayuku, seharunya kau menggunakan kalimat yang lebih persuasif.”

“Aku mohon, Nad. Tolonglah aku.”

Mata Nada waspada seperti kucing hutan sedang memburu mangsa. Kemurkaan Nampak di wajahnya. “Aku tidak bisa membantu orang yang sudah melecehkanku.”

“Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura bodoh,” tepis Nada dengan sinis.

“Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu.”

“Pikirkan saja sendiri.”

“Ayolah, Nad…”

Merasa terus diprovokasi, Nada akhirnya meledak. “Bagaimana mungkin kau meminta aku berpura-pura menjadi orang yang mencintaimu di hadapan orang tuamu, padahal aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapmu?!”

Teriakan Nada lebih dari keras untuk kembali menarik perhatian para pengunjung. Beberapa dari mereka berhenti berbincang demi mendengarkan pertengkaran itu. Sebagian mendadak berhenti mengunyah. Mereka yang agak jauh dari tempat duduk Nada mengangkat kepala agar pandangan mereka bisa sampai ke lokasi pertengkaran. Dua pelayan laki-laki bersiaga seandainya benar-benar terjadi pertengkaran; pandangan keduanya tidak lepas dari Nada dan Dani.

Jelas sekali Nada tidak peduli lagi pada situasi di sana. Setiap mata tertuju padanya, tapi itu bukan masalah bagi dia. Tidak ada satupun di antara mereka yang mengenalnya, juga mengenal Dani. Artinya, tidak ada pembicaraan heboh di kantor besok pagi. Berbeda dengan Dani yang menciut, berusaha menyembunyikan dirinya. Seandainya dia bisa membalikkan meja, dia tentu akan menggunakannya untuk membuat benteng pertahanan yang melindungi wajahnya dari jepretan fotografis mata manusia.

Nada bangkit dari kursinya. “Aku tidak mau berpura-pura menjadi orang lain, apalagi berpura-pura menjadi sundal murahan.” Dia berbalik meninggalkan Dani sendiri yang semakin terbenam di atas meja. Langkahnya cepat diikuti setiap pasang mata yang ada di sana. Dia berjalan menuju kasir, menanyakan total pembayaran. Kasir yang masih tercengang itu memberitahunya. Dia membayar semuanya, termasuk makanan Dani, kemudian bergegas menuju pintu keluar.

Begitu melewati pintu, ponsel di tas tangan Nada berdering. Awalnya dia enggan mengangkat dengan asumsi Dani menelpon untuk minta maaf. Tapi prasangka seringkali terbukti salah jika kita tidak benar-benar mengetahui keseluruhan informasi. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya. Wajahnya tercengang melihat nomor yang memanggil.

Itu nomor salah satu orang penting dalam bisnis tempat Nada bekerja.

Ada masalah.

Nada geram pada dirinya sendiri. Melupakan janji penting adalah hal terbodoh yang dilakukan oleh seorang sekretaris.

Categories: Uncategorized